
Senyuman Muti terlihat, langsung pergi meninggalkan Han dan Kristal yang sedang berbicara berdua.
Kristal duduk di pinggir ranjang menunggu Han menggunakan baju, mata Kristal berkeliling melihat foto pernikahan Muti dan Han.
Alhan mengerutkan keningnya, duduk di atas meja rias sambil memperhatikan tangan Kristal yang meremas bajunya.
"Kenapa kak Han duduknya jauh sekali?" Kris menghela nafasnya.
"Berdua bersama kamu di kamar ini membuat aku tidak nyaman."
Kepala Kristal tertunduk, meminta maaf kepada Han karena apa yang dulu Han khawatirkan menjadi kenyataan.
"Kak, tolong bantu Kristal." Kris meneteskan air matanya.
Alhan langsung tertawa, dia mengenal baik Kristal sejak mereka muda hingga akhirnya ada perbedaan membuat keduanya renggang.
"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan menyakiti Muti? aku mengenal kamu Kris, aku tahu besarnya ego, dan ambisi kamu." Han menatap tajam Kristal yang menangis sesenggukan.
"Di sini Kris yang tersakiti."
"Lalu, apa yang kamu inginkan? cepat atau lambat aku, kamu dan Muti akan terpisah dan hubungan kita akan terpecah kembali sama seperti lima tahun yang lalu." Alhan menghentikan ucapannya, menarik nafas panjang.
Sikap egois Kristal yang tidak ingin mengalah dan merasa jika tersakiti dan dirugikan, akan membuatnya kehilangan.
Han tidak akan melepaskan Mutiara, Kristal tidak akan membiarkan Muti dan Han bersama karena bagi Kris dia juga berhak bahagia, sedangkan Mutiara akan pergi meninggalkan Han dan Kristal.
"Menurut kamu benar tidak dugaan aku?"
Kris menganggukkan kepalanya, dia sadar jika sikap egoisnya akan menyebabkan kehilangan saudaranya. Bahkan sebelum orang mengetahui Muti hidup.
Kris menyadari resikonya, tapi hatinya tidak bisa bohong. Alhan dan Muti akan bahagia, sedangkan dirinya harus menanggung malu dan mengandung tanpa suami.
"Kak, jujur Kris tidak ingin hamil. Kita gugurkan anak ini, Kris akan pergi dari sini dan kak Han dan Muti bisa bahagia." Kris menyentuh perutnya.
"Apa kamu pikir dengan melakukannya keadaan bisa berubah? kita kamu dan Muti akan hidup dalam rasa bersalah, dan tidak ada yang akan bahagia." Nada bicara Alhan mulai naik, tidak habis pikir dengan keegoisan Kristal yang semakin besar.
Tatapan mata Kristal kosong, dia kehabisan cara untuk mengatasi masalah kehamilannya dan pastinya akan dirinya.
"Kris, aku tanya satu hal. Apa kamu mencintai aku?" Han menyipit matanya.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin dicintai seperti kak Han mencintai Muti. Kris iri karena kak Han bisa merasakan cinta, dan mendapatkan wanita baik."
"Kamu mempercayai kak Han."
Kris menganggukkan kepalanya, Han mendekati Kris mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Kristal.
Han meminta Kris kembali ke moments bahagia saat bertemu Muti, tidak menjadikan kehamilannya beban.
"Aku tahu kamu sulit membuka pintu untuk Tirta, karena Maminya. Kamu tidak sendiri, kita jaga dan besarkan anak ini penuh cinta. Dia memiliki Daddy dan dua Mommy." Han menghapus air mata Kristal, memintanya untuk tersenyum dan jangan stres.
Alhan akan menganggap anak yang Kris kandung anaknya, dan mereka akan menutupi soal Muti untuk sementara waktu sampai menemukan solusi lagi.
Saat ini yang paling penting, bayi yang Kris kandung harus sehat dan mereka bisa hidup tenang.
"Lalu bagaimana jika dia lahir?"
"Aku akan memikirkannya, tapi kamu harus ingat jika wanita yang aku cintai Muti."
"Kak Han tidak akan mencampakkan kami." Kris meminta Han berjanji untuk menjaga anaknya.
Alhan memberikan jari kelingkingnya, dan memastikan untuk melindungi. Apapun yang terjadi Han tidak akan membiarkan Kris dan anaknya tersakiti.
"Kita juga harus menangkap Jenny, bahkan Cherly sekalipun." Kris menghapus air matanya.
Mutiara terdiam dibalik pintu, langsung melangkah perlahan ke arah kamarnya. Langsung lompat ke atas tempat tidur merasakan sesak dadanya.
Mendengar ucapan Han yang tidak akan mengungkap soal dirinya, membuat hati Muti hancur karena dirinya hidup hanya bayang-bayang Kristal.
Saat Kris melahirkan, semua orang tahu jika Han Ayahnya, dan saat Muti diakui akan tersebar menghacurkan rumah tangga saudaranya.
Air mata Muti menetes, keputusan baik menurut Kris dan Han belum tentu baik bagi Muti, tapi dia tidak punya hak untuk membantah.
"Apa aku juga egois? kenapa kak Han tidak meminta Kris bersama Tirta, bagaimanapun dia membutuhkan sosok ayah kandung? apa aku dianggap sangat bodoh sehingga kalian melakukan ini?" Muti mengigit bibirnya yang mengeluarkan darah.
Mutiara memahami perasaan Tirta yang mungkin sama hancurnya seperti dirinya, tapi mereka berdua tidak bisa menghentikan, karena keputusan Han tidak sepenuhnya salah.
Anak yang dikandung Kris tidak bersalah, dan dia berhak mendapatkan cinta dari orang-orang sekitarnya.
"Kak Muti, kak Han menunggu di kamar." Kris mengusap rambut Mutiara sambil tersenyum.
__ADS_1
Muti memejamkan matanya, berpura-pura tidur mengabaikan panggilan Kristal yang menawarkan makan karena Muti belum makan sama sekali.
"Muti, ayo kita makan."
"Tidur kak Han, mungkin Muti kelelahan karena menghadapi Jenny, dan Rayan." Kris menggenggam jari-jemari Muti.
Alhan menghela nafasnya, langsung keluar kamar meninggalkan Muti dan Kris.
Kristal melihat pipi Muti berair, mengusapnya pelan merasakan sesak dadanya karena Muti menangis sampai tertidur.
"Maafkan Kris ya kak, jangan pernah pergi meninggalkan Kris. Kita besarkan anak ini bersama-sama." Kris langsung menyelimuti Muti.
Suara pintu tertutup, Muti menarik selimutnya langsung menangis dalam diam. Suara tangisan Muti dibekap menggunakan bantal agar tidak ada yang mendengarkannya.
"Kenapa tidak katakan saja?" Muti meremas dadanya.
Jika Kristal mencintai Han, Muti rela pergi meninggalkan mereka dan menganggap semuanya baik.
"Kenapa kalian menahan aku disini dengan perasaan yang menyakitkan?" Muti langsung berlari ke kamar mandi, menguyur tubuhnya menggunakan air.
Ucapan neneknya dahulu ada benarnya, jangan pernah pergi ke kota karena hanya akan menemukan rasa sakit.
Jangankan menyebut kota, neneknya bahkan tidak mengizinkan Muti untuk belajar banyak hal karena kepintarannya hanya digunakan untuk menyakiti.
"Seharusnya Muti mendengarkan nenek, mungkin sekarang Muti bisa berlari dan tertawa meksipun hidup kekurangan." Muti mengusap air matanya menahan sakitnya.
Menyesal sudah terlambat bagi Muti, dia hanya harus hidup dengan berpura-pura baik-baik saja dan terlihat seperti orang bodoh.
"Ayo kuat muti, kamu bisa bertahan. Meksipun hidup bersembunyi, kamu bisa lebih kuat lagi. Ini takdir aku, dan harus diterima." Muti tersenyum terpaksa, karena dia harus terlihat biasa saja di depan Kristal dan Alhan.
Muti memutuskan untuk mengikuti apapun permainan keduanya, satu-satunya cara yang Muti lakukan agar tidak tersakiti dengan mengubur rasa cintanya kepada Han.
"Aku tidak boleh mencintai dia, tidak boleh. Ayo Muti sadar diri, kamu hanya pengganti. Lupakan dia, jika tidak ingin tersakiti." Muti mengusap dadanya agar lebih kuat lagi.
****
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya