MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MEMILIH PERGI


__ADS_3

Suasana haru masih terasa di dalam kamar rawat Kristal, seorang suster masuk memanggil Ilham jika Della sudah sadar.


Muti dan Kris saling tatap, mereka binggung apa yang terjadi kepada Della sehingga dia juga ada di rumah sakit.


"Kalian beristirahatlah." Ilham langsung pamit keluar diikuti oleh suster.


Kening Muti berkerut, langsung mengambil ponselnya ingin mengikuti dokter Ilham yang sudah pergi lebih dulu.


"Kris, aku pergi dulu."


"Ikut." Kristal teriak-teriak memaksa untuk ikut melihat kondisi Bundanya.


Muti langsung mengambil kursi roda, mengambil infus langsung mendorong kursi roda.


Area rumah sakit sangat besar, Kris langsung bertanya kepada suster yang lewat dan berlarian untuk mengetahui ruangan rawat Della.


"Itu kamarnya." Kris menunjuk ke arah sebuah kamar yang sangat ribut.


Muti mengintip sebentar langsung berteriak histeris sampai duduk di lantai, Kristal kebingungan melihat kakaknya terkejut.


"Apa yang terjadi kepada Della? wajahnya kenapa?" Muti berusaha untuk bangkit dan melihat lebih jelas.


Pintu langsung Muti dorong, Kris juga masuk melihat Bundanya yang tergeletak di ranjang dalam keadaan menakutkan.


Air mata Kris langsung menetes, menatap tidak percaya melihat wajah Bundanya hancur dan penuh jahitan.


Bibirnya tidak terlihat lagi, bahkan tidak bisa makan dan minum, kedua kakinya lumpuh total dan tidak bisa digerakkan lagi.


Tatapan Muti melihat wajah Della yang menyeramkan, suara tangisnya tidak terdengar. Kepala Muti hanya bisa tertunduk.


"Apa yang terjadi kepada Bunda?" Kris berusaha untuk mendekat.


Dokter Ilham mendorong pelan kursi roda Kris, mengusap kepalanya menjelaskan jika Della mengalami kecelakaan tunggal saat melahirkan diri dari kejaran polisi.


Kondisi Della memprihatinkan, karena dia tidak mungkin bisa berjalan lagi dan wajahnya juga tidak bisa pulih jika tidak operasi wajah.


Pemulihan membutuhkan waktu cukup lama, apalagi melihat tanggapan Della yang mengamuk dan tidak bisa tenang.


Air mata mengalir di pelipis mata, Della sudah diikat agar berhenti mengamuk dan mencoba mencelakai dirinya sendiri.

__ADS_1


"Bunda, jangan sedih masih ada Kristal di sini. Bunda pasti sembuh." Kris menyentuh tangan Bundanya untuk menguatkan.


Mutiara memilih untuk pergi tanpa pamitan, sepanjang jalan Muti melangkah dengan tatapan kosong dan terlihat menahan kesedihan.


Tatapan mata Muti melihat matahari yang terik, duduk seorang diri sambil memeluk lututnya yang merasakan sakitnya hati.


"Bunda, sosok seperti apa itu? Muti tidak tahu. Semua anak di dunia ini memiliki Bunda, ibu, Mama, Mommy dan banyak lagi. Aku tidak tahu rasanya memiliki sosok Bunda." Muti mengusap air matanya, mengeratkan pelukan di lututnya.


Mata Muti terpejam, menangis sendirian meluapkan rasa sedihnya yang tidak memiliki sosok Bunda.


Kristal bisa memaafkan Della yang sudah menyebabkan dia keguguran, tapi Muti tidak punya alasan untuk memaafkan dan meminta maaf.


Dia tidak minta lahir ke dunia, tapi takdir yang menentukan hidupnya sampai seberat sekarang.


"Bunda, apa Bunda tahu aku hidup di dunia ini?" Muti menggigit bibir bawahnya, merasakan dadanya semakin sesak.


"Bunda, kenapa aku lahir dengan cara sesakit ini?" Muti menerima panggilan dari Kristal.


Kris meminta Muti datang bertemu dengan Bundanya, kondisi Bunda mereka tidak baik dan terus memburuk.


[Kak Muti di mana? Bunda membutuhkan kedua putrinya.]


[Kak Muti, Kris tahu ini menyakitkan, tapi sekali saja buka hati untuk memaafkan Bunda.] Kristal langsung menangis, memohon kepada Muti.


[Maaf, Della tidak harus meminta maaf karena kami tidak saling mengenal. Apa aku harus berterima kasih karena dilahirkan di dunia ini? aku tidak minta, dan seharusnya aku tidak lahir, hati aku hancur Kris. Aku tidak punya ibu seperti anak-anak lain. Hidup dan matinya Della, bukan urusan aku.] Muti mematikan panggilan langsung berteriak sangat besar, menangis sepuasnya.


Muti masih memejamkan matanya, tubuhnya lemas karena banyak beban hidupnya. Melihat kondisi Della menyakitkan bagi Muti, tapi lebih sakit lagi saat dirinya tidak bisa memanggil Bunda.


Tubuh Muti diangkat, dokter Ilham langsung membawa Muti kembali ke dalam rumah sakit. Memasangkan infus di tangannya agar beristirahat.


"Bagaimana keadaan Muti?" Kris terlihat sangat khawatir.


"Dia hanya lelah, perasaan sedang sakit. Hubungi Han agar dia bisa menemani Muti." Dokter Ilham menatap putrinya yang masih menangis meksipun tidak sadar.


Dalam sadar ataupun tidak, hidup Muti sangat menyakitkan sehingga membuat Ilham semakin tersakiti.


"Kris kamu juga istirahat."


"Kristal ingin bertemu Bunda lagi."

__ADS_1


Kristal duduk di samping Della, menceritakan kondisi Muti yang sedang beristirahat. Mental Muti diuji berkali-kali.


"Bunda, Kristal keguguran. Kris merasa hancur Bun, tapi Kristal sadar jika kak Muti lebih hancur. Dia melihat Kris mandi darah, melihat koma, mendengar dokter menyatakan anak Kris sudah tidak ada. Pasti kak Muti ketakutan." Kris menangis sesenggukan menceritakan hancurnya hatinya.


Kris juga menceritakan jika mereka sudah tahu siapa ayah kandung mereka, dan saat tahu Muti dan Kris berhari-hari tidak bicara.


"Bunda ingin tahu apa yang ada di pikiran kami? apa dia akan mengakui kami? apa dia akan menganggap kami aib? apa dia sama seperti Bunda yang membuang kami?" Kris berteriak meluapkan hancurnya hatinya dan Mutiara.


Suara Kris mendadak hilang, hatinya tidak sanggup lagi menerima luka yang semakin menyayat hati.


"Bun, Kris merasakan sakitnya kak Muti yang ingin sekali memiliki ibu, dia hidup tanpa ayah dan ibu, saat dewasa melihat kenyataan ibu yang mengandung orang jahat. Bunda sadar tidak, hati kami hancur Bunda." Kris berdiri, memegang perutnya yang bekas ditusuk.


Mutiara sudah melepaskan Bundanya, meluapkan sakitnya sampai jatuh pingsan, Kris juga akan melakukan hal yang sama meninggalkan kebenaran soal Bundanya.


"Kris ingin bahagia Bun, sudah cukup terluka. Maafkan Kristal yang memutuskan untuk pergi, semoga Bunda cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala." Air mata Kris menetes, menarik selimut menutupi tubuh Della yang gemetaran menangis.


Langka Kris meninggalkan ruangan Della, berjalan sambil memegang perutnya. Bibir Kris bergetar menjauhi ruangan yang tidak akan pernah dia kunjungi.


Suara Kristal berteriak histeris terdengar, Tirta langsung berlari memeluk Kris yang menangis hancur.


"Kristal, tenang."


"Kris tidak kuat lagi kak Tirta, rasanya sakit sekali." Kris langsung jatuh pingsan dalam pelukan Tirta.


Tirta langsung menggendong Kris, membawanya ke ruangan dan meminta dokter memeriksa Kristal yang jatuh pingsan.


Han terdiam, melihat Muti dan Kris sama-sama tidak sadarkan diri, keduanya terbaring dengan air mata.


Dokter Ilham langsung masuk, melihat kondisi Kris. Perutnya berdarah kembali, tangan Ilham mengobati, tapi air matanya menetes membasahi pipinya.


"Bagaimana cara aku mengobati sakit kalian berdua nak? nyawa akan aku berikan agar kalian bahagia." Suara tangisan terdengar, Han dan Tirta menundukkan kepalanya.


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


VOTE hadiahnya


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2