
Suara lemparan gelas terdengar, Cherly tidak menyetujui keinginan Tirta menikahi Kristal. Sejak awal semua orang tahu jika Kris istrinya Han.
"Sampai kapanpun, mami tidak memberikan restu." Nada tinggi Cherly terdengar, tidak ingin dibantah lagi.
Keputusan Cherly tidak bisa Tirta lawan, karena dirinya sudah meminta izin secara baik-baik, tetapi tidak mendapatkan dukungan, bahkan restu.
Secara terpaksa Tirta akan melakukan dengan caranya, Tirta akan tetap menikahi Kris tanpa Maminya.
"Maafkan Tirta Mi, ini sudah menjadi pilihan Tirta. Aku harap Mami mengerti." Tirta langsung melangkah untuk pergi.
Tamparan kuat menghantam wajah Tirta, kemarahan Cherly ada di puncaknya. Karena dirinya yang sudah membesar dan memberikan kemewahan untuk Tirta.
"Mi, Tirta capek melihat kekerasan. Sejak kecil Mami hanya menunjukkan kekerasan kepada Tirta, tidak ada sedikitpun kelembutan di hati Mami." Tangan Tirta memegang Pipinya.
"Kamu bisa tidak sekali saja bisa membahagiakan Mami?" Cherly menarik baju Tirta untuk menatapnya.
Kepala Tirta hanya bisa geleng-geleng, hal yang membuat Maminya bahagia, tapi merusak kebahagiaan orang lain.
Sejak kecil Tirta berusaha untuk membahagiakan Maminya, belajar dengan rajin agar memiliki prestasi, tapi tidak sekalipun dilirik.
Hingga besar, Tirta selalu berusaha menarik perhatian Maminya, tapi hanya pukulan yang diterima.
"Mami menginginkan Tirta menguasai perusahaan, menyingkirkan kak Han. Hal seperti itu yang membuat Mami bahagia, tapi pernah tidak Mami bertanya letak kebahagiaan Tirta. Aku hanya menginginkan keluarga." Kedua tangan Tirta, menggenggam tangan Maminya erat.
Alhan sudah memaafkan Maminya Tirta, meksipun tidak bisa menerima sebagai pengganti ibunya. Han sudah menemukan kebahagiaan, dan berharap Cherly dan Papinya bahagia.
"Tirta pamit pergi Mi." Pelukan lembut masih Tirta berikan.
Cherly menahan baju Tirta, tidak mengizinkannya untuk pergi dari rumah apalagi sampai menikahi Kristal.
Keputusan Tirta sudah bulat, tidak ingin mendengar protes siapapun. Masih berpegang teguh dengan keyakinannya.
Air mata Cherly menetes melihat Tirta lebih memilih meninggalkannya, tubuh Cherly terduduk di lantai.
Keputusan yang Tirta ambil sudah pasti atas hasutan Han, Cherly langsung melangkah keluar untuk menemui Han yang merusak masa depan anaknya.
Kedatangan Cherly sudah Han perkirakan. Jika Tirta menyampaikan keputusannya, pasti Han juga akan terlibat masalah dengan Cherly yang tidak pernah mengoreksi diri.
Han masih fokus dengan meeting yang baru setengah jalan, meminta Apri mengawasi Cherly di ruangannya.
Tatapan Cherly tajam melihat foto Kris atau kembarannya di meja kerja Han, ada foto Bundanya Han yang tergantung.
Alhan benar-benar tidak menganggap Papinya lagi, karena terlihat dari ruangannya ada foto keluarga tanpa Papinya.
__ADS_1
Tangan Cherly menyentuh sebuah bingkisan foto yang belum terbuka, tanpa menunggu persetujuan pemilik, langsung membukanya.
Sebuah foto keluarga, ada pasangan pengantin. Kristal dan kembarannya, ada Han dan Tirta juga wanita tua.
"Apa dia keluarga baru Alhan?"
"Iya, itu keluarga aku. Lain kali jangan membuka milik orang sembarangan." Han meletakkan foto di dinding yang sudah disiapkan.
Alhan mempercepat meeting, karena tidak yakin jika Cherly tidak membuat kekacauan di ruangannya.
"Kenapa tidak ada foto Papi kamu?"
"Kenapa harus ada? dia memiliki keluarga sendiri." Han bicara pelan, meminta Cherly duduk, bahkan memberikan air minum.
"Kamu tidak perlu berpura-pura baik Han, aku tahu kamu licik." Cherly langsung duduk, menyingkirkan minuman.
Melihat wajah Cherly membuat Han kesal, tapi dia tidak punya pilihan kecuali bersikap santai sesuai keinginan Kristal.
Cherly yakin, Han sudah tahu tujuan kedatangannya, dan meminta Han berhenti mengganggu hidup Tirta, karena tidak akan pernah memberikan restu untuk keduanya.
Kedua bahu Han terangkat, dia tidak tahu menahu tujuan kedatangan Cherly, apalagi dengan kemarahannya yang aneh.
"Kamu sadar tidak jika menyakiti Tirta, apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu soal penyakit Tirta tidak membuat sadar." Han menggeleng tidak mengerti apa yang sebenarnya Cherly cari.
Menjodohkan Tirta bukan solusi terbaik, tapi dengan dia memilih sendiri pasangan hidupnya dan pasti sudah memiliki bayangan, jalan bahagia.
Tawa Cheryl terdengar, Han bicara seakan-akan jalanya sudah benar. Bisa menentukan bahagia orang, tanpa menyadari kesalahannya.
"Kamu pikir sekarang kamu dan istri bahagia?" Senyuman Cherly terlihat mengejek.
"Aku bahagia, dan menemukan keluarga yang sebenarnya." Han juga menunjukkan senyuman kasihan kepada Cherly yang belum menemukan kebahagiaan, karena sudah menghacurkan kebahagiaan orang lain.
Emosi Han mulai terpancing, senyuman Cherly sudah meremehkan juga penghinaan bagi Han.
"Han, siapa nama istri kamu? Kristal. Dia juga wanita yang ingin Tirta nikahi. Ada apa dengan kalian berdua yang berbagi istri?" Tawa Cherly terdengar, melihat emosi Han mulai terpancing.
"Mutiara, namanya Muti."
"Siapa ... Mutiara? Han kamu lupa siapa wanita yang kamu sebut dalam pernikahan?" Pukulan di meja terdengar, Cherly langsung berdiri.
Mencoba menasehati Cherly soal kesalahan, tapi Alhan lupa kesalahan dirinya sendiri yang sudah berzina dengan saudara kembar istrinya.
"Perbaiki pernikahan kamu, jangan ikut campur dengan kehidupan Tirta." Pintu tertutup, Cherly berlalu pergi dengan kemenangan.
__ADS_1
Tangan Alhan meremas pulpen sampai patah, ucapan Cherly tidak sepenuhnya salah. Han memang menyebut nama Kristal, tapi wanita yang dia nikahin Mutiara.
Ketukan pintu terdengar, Apri langsung melangkah masuk melihat wajah Alhan yang emosi, juga kebingungan.
"Ada apa tuan? apa saya keluar saja?" Apri melangkah ragu.
"Siapa wanita yang aku nikahi?" Han menatap Apri yang mengerutkan kening.
Apri mendengar ucapan Han, dia menyebut nama Kristal yang sebenarnya bernama Mutiara.
Awalnya Han tidak tahu, tapi sekarang memang membingungkan. Mudah bagi Han untuk mengubah nama di surat nikah, tapi ada hal yang membingungkan dirinya.
"Apri, apa menurut kamu pernikahan kami sah?"
"Mana tahu, aku juga belum merasakan menikah."
Han melempar Apri dengan pulpen, tidak mempertanyakan rasanya, tetapi statusnya.
"Apa selama ini aku zina?" Han memukul meja, mengacak-acak rambutnya.
Kepala Apri gelang-gelang, mengangkat kedua bahunya yang sama pusingnya. Melihat Han stress, Apri memilih cari aman, melangkah mundur untuk keluar ruangan.
Pintu tertutup, Alhan teriakan melihat Apri yang sudah melarikan diri. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka kembali.
"Kak Han, kenapa Apri berlari kencang?" Muti tersenyum manis, langsung memeluk Han.
Senyuman terlihat, menatap wajah Muti dengan ekspresi binggung. Han tidak mengerti hubungannya benar atau tidak.
"Kak cium." Muti memonyongkan bibirnya.
Wajah Alhan langsung menoleh ke arah lain, meminta Muti duduk di sofa dan tidak mengeluarkan banyak suara.
"Kak Han kenapa menghindar?" Muti menatap mata Alhan yang menatapnya balik.
"Muti untuk sementara kita tidur terpisah, aku harus memastikan sesuatu."
"Oh ... pisah ranjang. Baiklah, Muti pulang dulu, sekalian kita pisah rumah sampai kamu menemukan kepastian." Muti menutup telinganya tidak ingin mendengar suara Han.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1