
Persiapan pesta sudah ramai, tamu undangan yang datang dari dalam maupun luar negeri. Ilham dan Dwi juga Nenda sudah menyambut tamu, Daddy Mommy juga ikut menyambut.
Cherly dan suaminya juga menyambut teman-temannya mereka, mempersilahkan duduk dan menikmati pesta.
Suasana malam yang tenang, acara pesta berada di pinggir pantai yang hias sangat indah dan mewah.
Han masih berdiri di balkon villa, menyaksikan tamu undangan yang terus menambah. Acara pesta diadakan terbuka, dan keamanan tetap ketat.
"Kak Han, Panda meminta turun." Tirta sudah menggunakan jas hitam, begitupun dengan Han yang tersenyum tipis.
Keduanya langsung turun, menyambut rekan kerja dan saling menyapa. Tirta mendampingi Han yang memang tidak banyak bicara, membantu kakaknya mencairkan suasana.
"Han, selamat atas pernikahan kamu." Seorang wanita cantik mengulurkan tangannya.
"Terima kasih." Han tidak menerima sambutan tangan.
"Tirta, happy wedding. Kamu tampan sekali."
Tirta hanya tersenyum, menolak untuk peluk karena bisa membuat istrinya marah.
Semakin malam, tamu semakin berdatangan tetapi dua pengantin wanita belum juga muncul keberadaannya.
Di dalam kamar rias, Kris ingin di make up sama persis dengan Mutiara hingga tidak ada yang bisa membedakan keduanya.
Mutiara setuju, ingin melihat reaksi Tirta dan Alhan jika melihat keduanya. Apa mungkin tidak bisa membedakan? karena keduanya bagaikan pinang dibelah dua.
MUA tersenyum melihat make up yang hampir selesai, dan terheran-heran tidak bisa membedakan yang mana Muti dan Kris.
Kristal dan Mutiara juga saling tatap, binggung melihat wajah mereka yang sangat mirip. Mutiara tidak yakin Han bisa membedakannya.
"Aku pasti kecewa sekali jika kak Han salah." Muti menatap adiknya yang tertawa kecil.
"Ayo kita berlatih, tanpa ada yang bisa membedakan." Kris dan Muti berjalan bersama, berbicara dengan nada yang sama.
Tim MUA hanya tertawa kecil melihat dua bersaudara yang ingin menjahili suaminya, dan tidak memberikan celah sedikitpun untuk orang tahu soal bedanya.
High heels yang digunakan juga sama, gaun putih yang digunakan sama, gaya rambut dan make up sama.
Mata Muti juga dipasang softlens, sehingga kecantikannya menyerupai Kristal.
__ADS_1
"Bagaimana sudah siap keluar belum?" Kris menatap kakaknya yang masih belajar berjalan menggunakan high heels.
"Siap." Muti tersenyum lebar, langsung mengulurkan tangannya kepada Kris.
Pintu ruangan hias terbuka, Muti dan Kristal melangkah bersama sambil tersenyum. Satu-persatu orang yang melihat keduanya lewat hanya bisa terdiam.
Nathalie yang melihat juga binggung, dia tidak bisa membedakan Muti dan Kris sama sekali. Tangan mommy menarik baju suaminya.
Daddy Iskandar juga terdiam, Kris dan Muti berjalan ke arah tempat pesta untuk menemui suaminya.
Suara rusuh dan tawa terdengar, Manda langsung melihat ke arah suara yang heboh ingin melihat suami yang tidak bisa mengenali istri.
Lily berdiri di depan Muti dan Kris yang tersenyum, Lily juga semakin sulit membedakan kedua kakaknya yang sangat mirip.
"Kepala Lily pusing, semakin binggung membedakan." Tangan Lily memegang kepalanya.
Kristal menahan diri agar tidak bicara, melihat adik kecilnya membuat Kris hampir bicara, karena Lily memang sejak awal tidak tahu bedanya, memanggil juga terbalik-balik.
"Kak Han, lihat ke depan." Tirta menatap Muti dan Kris menggunakan gaun yang sama, dan terlihat mirip tanpa ada bedanya.
Alhan yang sedang minum, menyemburkan minumannya. Dirinya binggung membedakan keduanya. Han tidak pernah memperhatikan detail bedanya Muti dan Kris.
"Kak Han, tahu tidak?" Tirta menyenggol kakaknya.
"Alhamdulillah tidak, bisa batal malam pertama jika salah orang." Tirta menggigit bibir bawahnya.
Han melihat dua wanita dihadapannya, berusaha fokus untuk membedakan. Dari ujung kaki sampai kepala, Han melihat pasti ada saja bedanya.
Mata Tirta melihat ke arah mata Kris dan Muti, mencoba mengingat mata istrinya yang membuatnya jatuh cinta.
Panda tersenyum melihat kedua menantunya yang kebingungan, kehabisan cara untuk membedakan.
"Kalian berdua, sudah siap memilih." Panda menepuk pundak kedua menantunya.
Suara tepuk tangan menyemangati terdengar, Kris dan Muti menahan tawa melihat suami mereka yang masih terdiam.
"Aku sudah tahu." Han dengan percaya dirinya tersenyum.
Tirta juga tersenyum, menepuk pundak kakaknya untuk maju ke depan menyambut tangan istri masing-masing.
__ADS_1
Jantung Muti dan Kris berdegup kencang, arah jalan Tirta dan Han terbalik. Demi keberhasilan penyamaran, Kris dan Muti memejamkan mata memilih diam.
Kris merasa ada yang memegang tangannya, menarik berjalan ke atas pelaminan, begitupun dengan Mutiara yang dirangkul berjalan ke tempat pelaminan.
Mata Kris langsung terbuka, melihat Tirta di sampingnya. Senyuman Tirta terlihat, langsung tertawa memeluk Kristal yang merentangkan tangannya.
Mutiara juga membuka matanya, tersenyum melihat Han yang memeluk pinggangnya tidak salah pilih sama sekali.
"Kak Han, bisa membedakan Muti?"
"Tentu Sayang, meksipun kalian kembar tetap ada bedanya." Han tersenyum menatap para tamu undangan yang sudah bertepuk tangan.
Mutiara melihat ke arah Kristal, terlihat sekali Kris bahagia. Tirta masih mengenali matanya saat pertama bertemu.
"Ada apa di mata Kris?"
"Ada aku." Tirta menatap mata dengan jarak yang sangat dekat.
Suara tawa Kris terdengar, menutup matanya tidak mengizinkan Tirta menatap lebih lama. Apalagi banyak orang yang memperhatikan mereka.
Tamu langsung memberikan selamat untuk dua pengantin, Han juga naik ke atas panggung untuk menjelaskan sesuatu.
"Selamat malam semuanya, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Mungkin sebagian kalian binggung dengan Kristal yang ada dua. Apa yang terjadi, diluar kendali kami." Han menceritakan singkat alasannya dan Kris tidak memiliki hubungan.
Han memperkenalkan nama istrinya Mutiara, dan Kristal sudah menjadi istri dari adiknya Tirta.
Pernikahan mereka sengaja diadakan bersamaan, tanpa keterpaksaan. Hanya ketulusan cinta, dan tujuan baik ingin menyatukan dua hati.
"Aku bahagia melihat Kris menikah dengan Tirta, dia pria yang bertanggung jawab juga sangat setia. Aku dan Kris memiliki hubungan baik sejak kecil, dan kami bisa hidup bersama sebagai keluarga. Selamat menempuh hidup baru Kristal adik nakal ku dan Tirta adik terbaikku." Han menundukkan, mengucapkan terima kasih untuk tamu undangan.
Mendengar ucapan Han Tirta tersenyum lebar, merangkul Muti dan Kris bersamaan. Mereka sekarang bukan hanya rekan kerja, tapi saudara dan tidak akan pernah terpisahkan.
Jika ada salah satu yang gagal, maka semua juga mengalami kegagalan.
Tirta diminta naik ke atas panggung, Han tersenyum merangkul Tirta dan memperkenalkan kepala seluruh rekan kerjanya. Tirta bukan hanya adik bagi Han, tapi rekan kerja terbaiknya.
"Bos, jangan lupakan saya." Apri melambaikan tangannya.
"Oh iya, untuk sahabat terbaikku yang jomblo akut, terima kasih untuk kesetiaannya. Bagi para wanita, boleh kenalan karena Apri sudah bosan jomblo dan siap menjadi Ayah." Han langsung tertawa melihat tatapan tajam Apri yang tidak terima diejek jomblo.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira