
Sudah tiga hari Kristal tidak memberikan kabar, Arnas masih berusaha menghubungi Tirta meminta maaf atas perbuatan orangtuanya.
Cherly meminta Tirta menemuinya, meminta penjelasan soal Arnas yang datang sambil menangis.
Tirta menceritakan apa yang terjadi, dirinya tidak tahu apa yang Arnas rencanakan, setidaknya mereka berhasil menghacurkan Tirta.
"Ke mana Kristal? ada masalah seperti ini bukannya berjuang mempertahankan suami, tapi pergi membiarkan wanita lain hadir." Wajah Cherly kecewa, tidak menyukai sikap Kristal.
"Mi, jangan salahkan Kris. Semua ini salah Tirta." Kepala Tirta tertunduk, merindukan istrinya.
Pintu ruangan terbuka, Cherly menatap kaget saat melihat seorang wanita muncul. Menatap Tirta yang terlihat kaget juga.
"Akhirnya aku menemukan kamu Cherly, ada hal yang harus kita bicarakan."
"Soal apa? aku tidak pernah pergi ke manapun, tapi kamu yang terlambat datang. Haruskah sampai 27 tahun baru muncul setelah kamu tahu jika Tirta anak orang kaya." Cherly langsung meludah, merasakan jijik.
Tirta langsung melangkah ingin keluar, dirinya tidak peduli soal apapun kecuali Kristal. Saat ini yang paling penting Kris, dan Tirta hanya ingin menemukan istrinya.
Dibalik pintu, Arnas sudah duduk di kursi roda, menatap Tirta dengan wajah penuh penyesalan.
"Kak Tirta, maafkan Arnas." Tangan Arnas menyentuh tangan Tirta.
Tirta langsung menepis, melewati Arnas tanpa mengatakan apapun. Suara teriakan menghentikan langkah Tirta, langsung menoleh ke arah Arnas yang mengancam ingin melukai dirinya.
"Aku anggap kamu sebagai adik, tapi kamu anggap aku seperti musuh. Nas, Kris kebahagiaan pertama dalam hidupku, kenapa harus kalian hancurkan? aku tidak memiliki apapun yang kalian inginkan." Langkah Tirta mendekat, memegang pundak.
Ucapan Tirta membuat Arnas tidak percaya, Cherly yang mendengar sampai menjatuhkan ponselnya, wanita yang bersama Cherly juga sama kagetnya.
Sejak kecil Tirta anak yang sangat menjaga perasaan wanita, hanya Cherly satu-satunya yang selalu berdebat dengan Tirta, tapi dengan wanita lain Tirta sangat sopan.
"Sejak kapan kamu tahu soal diri kamu?" Cherly langsung meneteskan air matanya.
"Sejak aku kecil, aku hanya anak panti asuhan yang dibuang karena ibuku meninggal, Mami yang mengambil aku, karena ingin menjebak seorang pria. Dan dia istri muda yang membunuh ibuku, sampai kapan drama hidupku akan berakhir." Tangan Tirta menunjuk wanita di samping Cherly.
Tirta mengetahui soal Ayah kandung, tapi tidak berniat sedikitpun untuk menemuinya apalagi jika Ayahnya memiliki segalanya.
__ADS_1
Harapan Tirta hanya satu, berpura-pura bodoh dan membohongi dirinya sendiri agar masa lalunya yang kelam tidak pernah diketahui oleh siapapun, terutama Kristal.
Satu, dua, tiga bahkan banyak orang yang datang hanya karena tahu Tirta anak tunggal pengusaha kaya, tanpa ada yang mencari tahu, jika dirinya sangat tersakiti dengan masa lalu.
"Aku mohon, jangan ganggu hidupku. Kristal satu-satunya keluarga yang aku miliki, kalian tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dengan menahan Tirta." Senyuman Tirta terlihat, melangkah mundur, meminta Arnas mengingat apa yang dirinya ucapkan.
Di dalam mobil Tirta hanya bisa menangis, menghubungi ponsel Kristal yang masih tetap belum aktif.
"Ke mana kamu Kris? apa sebegitu tidak berartinya aku sampai kamu tega meninggalkan selama ini." Tirta teringat dengan panti, memutuskan menemui putranya.
Perjalanan ke panti cukup jauh, sampai akhirnya Tirta tiba di panti. Menyapa ibu penjaga, barulah meminta izin bertemu dengan putranya Krisna.
Seperti biasanya Krisna hanya duduk diam sendirian di bangku bawah pohon, Tirta tersenyum langsung duduk di samping Krisna.
"Apa kabar kamu Kris? maafkan Ayah baru datang berkunjung." Tirta mengusap kepala anak kecil di sampingnya.
Cukup lama Tirta duduk berdiam diri, mengusap air matanya yang menetes. Tirta menceritakan masa lalunya kepada Krisna, jika dirinya juga berasal dari tempat yang sama.
Bedanya Tirta sejak bayi sudah diangkat, dan jadikan mainan penghasil uang. Krisna jauh lebih beruntung, karena mengetahui wajah ibu Ayahnya, beda dengan Tirta yang tahu setelah dirinya dewasa.
"Kris, Bunda sudah tiga hari pergi dari rumah. Rasanya hati Ayah kesepian, sejak kecil sampai menikah masih ditinggalkan. Salah Ayah apa lahir ke dunia ini?" Tirta menutup matanya yang mengeluarkan air mata kesedihan.
"Ayah, jangan sedih." Tangan Krisna menyentuh kepala Tirta.
Tangan Tirta memeluk lembut Krisna yang juga menangis, sentuhan Tirta sangat lembut penuh kasih sayang.
"Bunda sayang Ayah, kakek nenek juga sayang Ayah. Jangan merasa sendiri, karena ada Krisna di sini." Tangisan Kris terdengar menyayat hati Tirta.
Senyuman Tirta terlihat, mengusap air mata si kecil yang berusaha untuk menguatkan. Tirta langsung terdiam, saat menyadari ucapan Krisna soal Bunda.
"Bunda datang ke sini?" Tirta menatap serius.
Kepala Krisna mengangguk, menunjukkan gambarnya. Ada Bunda, juga Kakek Neneknya datang.
"Bunda ke sini bersama siapa?"
__ADS_1
"Katanya Kakek dan Nenek, Bunda biasanya datang jam segini, tapi hari ini belum datang." Krisna menatap ke arah jalan.
Tirta langsung menggendong Krisna, membawanya pergi dari tempat duduk mereka. Selama tiga hari Kris berkunjung bersama wanita yang duduk di kursi roda, dan seorang pria yang terlihat mapan.
Ibu panti binggung, karena Krisna hanya bicara dengan Tirta. Kristal bekali-kali berbicara, tapi tidak pernah di respon.
"Maaf Bu, bisa saya melihat CCTV.".
"Untuk apa Tirta?" seorang pria berdiri sambil mendorong kursi roda.
Tatapan Tirta tajam, melihat pria yang sudah dia duga. Tirta menurunkan Krisna memintanya untuk pergi lebih dahulu.
"Nenek, cepat sembuh." Krisna langsung melangkah pergi.
"Di mana Kristal? apa yang kamu lakukan kepada istriku?" tangan Tirta mencengkram kerah baju pria dihadapannya.
"Kita bicara baik-baik Tirta, jangan sampai ibu melihat apa yang kamu lakukan." Tangan Tirta langsung dilepaskan.
Tatapan Tirta melihat wanita di kursi roda, memeluk boneka kecil sambil menimang-nimang.
"Siapa dia?"
Pria dihadapan Tirta, mengusap kepala wanita yang duduk di kursi roda, apa yang Tirta temukan bukan fakta yang sebenarnya.
Tidak ada yang membuang Tirta ke panti, tapi Tirta hilang saat kecil. Kebenaran baru saja terbongkar, seseorang membuang Tirta ke panti, sedangkan Cherly yang menyelamatkan.
Saat mengetahui anaknya hilang, ibu Tirta mengalami gangguan jiwa dan dirawat selama puluhan tahun, hanya Cherly yang tahu kebenaran soal Tirta dan ibu Tirta yang ada di rumah sakit jiwa.
"Mami bekerja dan mencari pria kaya hanya untuk pengobatan ibu, dan membesarkan Tirta." Air mata Tirta menetes langsung berlutut.
"Maafkan Ayah Tirta, hidup kalian berantakan karena Ayah yang gagal melindungi."
Tangisan Tirta sangat kuat sampai teriak-teriak merasakan hancur hatinya, wanita di kursi roda meneteskan air matanya melihat Tirta yang menangis histeris.
"Kenapa dunia begitu kejam?" Tirta meremas rambutnya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira