
Suara keributan terdengar, Muti dan Kristal berdebat kembali hanya karena makan sarapan, tapi sudah kesiangan.
"Kak, ayo kita jalan-jalan ke mall." Kris tersenyum meminta Muti keluar menunjukkan dirinya.
"Kamu yakin, bagaimana jika kita bertemu Bunda? bisa juga bertemu banyak orang."
"Kita abaikan saja, sudah waktunya Kak Muti muncul." Kris tersenyum memohon.
Muti menganggukkan kepalanya, langsung bergegas ke kamar untuk menggunakan baju kembar, ber-make dan menggunakan sendal kembar.
Kristal tertawa melihat mereka berdua yang sangat mirip, apalagi jika menggunakan baju kembar.
"Ayo kita berangkat bersenang-senang, melupakan masalah sejenak."
"Let's go, kita pergi." Muti mengandeng tangan Kris untuk berjalan pelan.
Tatapan Kristal kesal, dirinya yang hamil, tapi Muti yang meringis kesakitan merasakan tidak nyaman.
Mobil yang Kris kendarai meninggalkan kediaman, melihat kota yang sangat damai seperti hubungan dua saudara yang mudah bertengkar, mudah juga berbaikan.
"Kak, maafkan Kristal yang bersikap kasar. Hati Kris juga sakit karena sudah melukai hati kak Muti, mulai sekarang Kris akan belajar mengendalikan diri." Senyuman Kristal terlihat menggenggam tangan Muti.
"Sudah dimaafkan, aku juga salah karena tidak bisa menjaga ucapan. Maafkan kak Muti juga yang sudah membuat kamu marah." Muti menepuk tangan Kris.
Keduanya sepakat jika bertengkar, tidak boleh lebih dari satu jam, dilarang memukul dan menjelekkan saudara.
Mobil tiba di mall, Kris dan Muti langsung keluar saling gandeng melihat mall yang ramai.
"Wow, besar sekali. Ini pertama kalinya Muti ke tempat seperti ini." Tatapan mata Muti sangat mengagumi, langsung melangkah bersama Kristal untuk berbelanja.
Kristal tidak melepaskan tangan Muti, melangkah bersama melihat area bermain untuk bersenang-senang.
Keduanya bermain sambil tertawa, meksipun tidak memiliki kenangan masa kecil setidaknya keduanya bisa menghabiskan waktu bersama.
"Kita tidak bisa naik itu, karena Kris sedang hamil."
"Tidak masalah, nanti kita naik jika kamu sudah boleh." Muti memeluk adiknya yang terlihat bahagia.
Kristal dan Muti melambaikan tangannya melihat anak-anak yang bermain di depan mereka.
"Kak, seandainya kita bisa menghabiskan waktu kecil bersenang-senang seperti mereka." Kris mengusap air matanya.
"Kenapa menangis? kita sekarang bisa melakukannya." Muti mengusap air mata adiknya, mengusap kepala Kris.
Selesai menikmati permainan, langsung lanjut lagi berbelanja. Muti menunjukkan kartu yang Han berikan, Kristal langsung tersenyum licik untuk menghabiskan uang Alhan.
"Baju di sini murah tidak Kris? kita jangan membeli yang mahal, murah saja yang penting bermanfaat." Muti menunjuk baju kembar untuk mereka berdua, langsung masuk ruang ganti bergilir.
__ADS_1
Berjam-jam memilih baju membuat Kris lapar, memesan makanan dan langsung melahapnya menatap Muti yang masih sibuk memilih baju.
"Ini bagus tidak?" Muti membuka mulutnya menyantap makanan yang Kris suap.
"Enak tidak?"
Muti menganggukkan kepalanya, langsung menyerahkan kartunya untuk membayar seluruh belanjaan mereka.
"Ayo kita makan, Muti lapar."
Kristal dan Muti kewalahan membawa belanjaan, memasukkan ke dalam bagasi mobil sambil tersenyum.
Keduanya lanjut makan, menikmati makanan luar. Kristal mengajari Muti menggunakan sumpit, dan mencoba makanan luar.
Muti bisa mencerna semua makanan, karena dia memang tidak memilih jika soal makan.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Kris menguap besar.
"Apa langit mendung?" Muti menatap ke atas penuh bintang, melihat jalanan penuh lampu.
Kristal mengerutkan keningnya, melihat ke arah Muti yang masih kebingungan melihat perubahan cuaca.
"Kak Muti membawa ponsel?" Kris memeriksa tasnya.
Mutiara menggelengkan kepalanya, langsung berjalan ke arah parkiran yang sudah sepi.
"Matilah kita kak, sekarang sudah jam dua belas lewat. Kenapa kita bisa lupa waktu?" Kris mengerutkan keningnya, mereka bisa terkena masalah.
Kristal takut sekali pulang ke rumah, karena Han pasti marah besar karena pergi tanpa izin, dan tidak bisa dihubungi karena keduanya tidak membawa ponsel.
Sepanjang perjalanan, Muti dan Kristal deg-degan karena panik jika sampai Han marah dan lepas kendali.
"Kris aku takut pulang."
"Sama, Kris juga takut. Tetapi jika tidak pulang, lebih gawat lagi, semoga kak Han tidak murka." Kris menarik nafas panjang.
"Muti alasan apa?"
Kris tersenyum, dia bisa menghindari Han dengan alasan perutnya keram membutuhkan istirahat, dan sudah pasti Han akan luluh.
"Kak Muti terima nasib."
"Tega sekali kamu Kris, aku juga punya alasan bagian ini masih sakit." Muti meringis, jika teringat Han memaksa masuk membuat Muti menangis menahan sakit.
"Bisa saja kak Han minta dilayani tujuh hari tujuh malam." Kristal langsung tertawa lepas mengejek Muti.
"Turunkan saja di sini." Muti langsung menangis, tidak ingin melakukan hubungan lagi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Kris meninggalkan mobil jauh dari rumah, barang belanjaannya juga ditinggalkan.
Keduanya berlari masuk lewat pintu belakang, Alhan tidak terlihat sama sekali di dalam rumah.
"Yes, kak Han belum pulang kerja." Muti sudah mengecek kamar dan mereka bisa aman.
"Kak Han belum pulang? mustahil." Kris meminta Muti mengambil ponsel mereka.
Muti melempar kedua handphone di ranjang, karena Han, Tirta, Mommy Daddy sudah menghubungi sampai ratusan kali.
Pesan masuk juga puluhan, panggilan tidak berhenti masuk membuat Muti dan Kris memijit pelipisnya.
"Kak Muti angkat."
"Tidak mau, takut." Muti mematikan ponselnya.
Kristal mengigit bibir bawahnya, melihat panggilan dari Nathalie langsung mematikan.
Muti mengambil ponsel Kristal, menjawab panggilan Nathalie yang mengumpat Kristal karena pergi keluar tanpa seizin Han.
Han datang ke rumah dalam keadaan marah-marah, bahkan menghacurkan vas mahal milik Nathalie, melakukan ancaman untuk membuat Daddy Kris angkat kaki dari perusahaannya.
Muti mempertanyakan keberadaan Han, Nathalie memberitahukan jika Han sudah kembali beberapa jam yang lalu.
Kris mengigit bibirnya, mendengarkan ucapan Han soal Kristal, bahkan kemarahan yang juga memutuskan menemui Della.
[Kamu baik-baik saja Kris, Han sangat marah.]
[Bagaimana aku bisa baik jika tahu kak Han marah.]
[Kamu kenapa pergi? jika ada masalah pulang ke rumah.]
Muti mematikan panggilan secara sepihak, memberanikan diri menghubungi Han, tapi tidak dijawab lalu menghubungi Tirta yang juga tidak menjawab.
"Sekarang kita sebaiknya mandi lalu tidur, kunci kamar agar kak Han tidak masuk."
"Muti, kamu tidak tahu jika kak Han marah besar sangat menakutkan." Kris merinding hanya sekedar membayangkan.
Kristal mengirimkan pesan kepada Tirta jika dirinya sudah pulang, bersama Muti dengan selamat.
Keduanya pasrah menunggu Han pulang, menerima kemarahan Han yang pastinya menakutkan.
"Mutiara!"
"Mati aku." Muti melipat tangannya memohon saat melihat Han berdiri dihadapannya.
Kristal langsung berjongkok, jalan jongkok untuk melarikan diri setelah mendengar teriakan Han yang menggema
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira