
Bermalam-malam Muti tidak bisa tidur, hanya duduk sendirian di dalam kegelapan. Seseorang datang memberikan Muti minuman.
"Jangan banyak pikiran Nona, silahkan diminum." Maid membiarkan lampu mati agar Muti tetap bisa berdiam diri.
"Terima kasih, aku tidak haus dan lapar karena perasaan sedang gelisah." Muti meminta lampu di hidupkan.
"Jika boleh saya menemani, Nona bisa berbagi cerita."
Muti tersenyum, meminta maid duduk di sampingnya. Meksipun ragu, Dwi akhirnya tetap duduk menatap wajah cantik Mutiara.
Keduanya hanya diam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dwi bisa merasakan kekhwatiran Muti.
"Daripada berdiam diri, lebih baik sholat dan berdoa. Nanti pasti ada kemudahan." Dwi tersenyum melihat Muti yang mengedipkan matanya.
"Apa sholat?" Muti mengerutkan keningnya.
Dwi langsung meminta maaf, dia pikir Muti seorang muslim karena Papanya seorang muslim yang taat.
"Maafkan Dwi Nona, saya benar-benar tidak tahu." Kepala Dwi tertunduk merasa bersalah.
"Kamu kenapa tidak tidur?"
"Saya baru selesai sholat malam."
"Sholat malam, apa yang kamu minta?"
Dwi tersenyum, sholat malam sudah menjadi sesuatu kebiasaan Dwi. Dia hanya meminta kesehatan, kebahagiaan dunia akhirat, diberikan rezeki yang halal, dan dimudahkan segala niat baiknya.
Mutiara tersenyum, Dwi tidak memiliki permintaan khusus, dia hanya memohon sesuatu yang semua orang inginkan.
"Kamu tidak ingin menjadi orang kaya? aku dulu selalu memohon setiap malam bertemu ibu dan ayah, tapi tidak pernah dikabulkan. Saat bertemu, sesuatu yang aku sesalkan." Tatapan Muti sedih melihat ke arah air minum yang tenang.
Bagi Dwi, kaya hanyalah hiasan dunia yang bisa membuat mata tertutup. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin banyak juga tuntunan di dunia ini.
"Saya tidak ingin kaya, cukup hidup cukup dan bisa meringankan beban banyak orang. Bersedekah tidak harus kaya."
__ADS_1
"Kamu bicara seperti itu, karena tidak tahu segalanya bisa dimiliki jika mempunyai banyak uang." Muti mengingat Bundanya yang menyakiti mereka karena harta dunia.
"Doa Nona sekarang di kabulkan, bisa bertemu ayah dan ibu, tapi bukannya tuhan maha baik. Dibalik perpisahan, Tuhan mengobati rasa sakit, menunggu sampai dewasa agar bisa lebih kuat menerima kerasnya hidup." Dwi tersenyum melihat Muti, tuhan sudah merencanakan yang terbaik, tapi manusialah yang memaksa untuk mengetahui lebih dari apa yang harusnya diketahui.
Mutiara meneteskan air matanya, sejak kecil dia tidak diajarkan agama, tinggal di sebuah desa yang tidak memiliki agama.
Sejak kecil Muti sudah bekerja keras membantu neneknya hanya untuk makan, dia tidak pernah sekolah hanya melihat orang-orang yang belajar dari kejauhan.
Saat berusia sepuluh tahun, nenek Muti sakit dan dia harus bekerja lebih lagi untuk menjaga neneknya.
Setiap hari Muti berdoa, tapi tidak ada satupun doa yang terjawab. Rasanya hidupnya semakin sulit, tidak ada tawa selama bertahun-tahun.
"Aku merasa tuhan tidak adil, aku selalu melakukan kebaikan, membantu orang, bahkan bekerja tanpa bayaran."
"Nona wanita hebat, kebaikan tidak dinilai dari mana kita banyaknya berbuat kebaikan, tidak juga dilihat dari jahatnya perbuatan. Kebaikan dinilai betapa kuatnya seseorang yang diuji bertubi-tubi, tapi masih bertahan." Dwi juga meneteskan air matanya.
Dwi tahu Muti masih sangat kuat, selama bertahun-tahun bekerja dia masih bisa tertawa riang.
Air mata Muti menetes tidak berhenti, kata-kata yang keluar dari mulut Dwi menyayat hati, sekian banyak perjuangan Muti hanya mengigat keburukan dan kegagalan, dia tidak pernah menyadari sisi baik dari setiap ujiannya.
Muti tidak banyak bersyukur, dia selalu berdoa ingin sekolah, tapi dengan mudah dan cepat Muti bisa membaca, dan menulis hanya dengan mendengar dan melihat.
Tidak memiliki apapun saat awal, tapi sekarang Muti memiliki semuanya bahkan mendapatkan cinta yang tulus dari lelaki yang terpaksa dinikahinya.
"Aku tidak pintar bersyukur Dwi."
"Bukan tidak pintar, kita manusia ini sering khilaf. Suami Dwi pernah berkata, jika kamu tidak nikmat di dunia, insyaallah mendapatkannya di kehidupan yang kekal. Teruslah menjadi orang baik yang tidak merugikan orang lain." Dwi menyerahkan sebuah buku sholat kepada Muti, dan bersedia membantu jika Muti membutuhkannya.
"Apa jika Muti berdoa Allah akan mengangkat penyakit?"
"Insyaallah Nona, Allah angkat penyakit atas izinnya, jangankan penyakit derajat juga diangkat. Selama ada niat baik, hati kita bisa dibolak-balik." Dwi mengusap air matanya, meminta Muti lebih sabar lagi.
Seandainya doa tidak dikabulkan, bukan karena tidak didengar, tetapi apapun yang terjadi itulah yang terbaik.
"Terima kasih, Muti akan mempelajari buku ini."
__ADS_1
"Sama-sama Nona, jam lima nanti Dwi tunggu untuk sholat bersama, kita doakan siapapun keluarga Nona yang sakit, segera diangkat penyakitnya." Dwi meminta izin untuk pergi, mematikan lampu membiarkan Muti sendirian.
Senyuman Muti terlihat, berjalan ke arah kamarnya dan Kristal. Melihat adiknya yang terlelap tidur.
"Kris, kamu kebahagiaan pertama aku." Muti mencium kening adiknya.
"Kak Muti menyembunyikan sesuatu dari Kristal, kenapa menangis sendirian?" Kris membuka matanya, melihat Muti memegang sebuah buku.
Kris langsung duduk di pinggir ranjang, mengambil buku yang ada di tangan Muti meletakkan di atas meja.
"Ada apa kak? sebenarnya ada masalah apa sampai kak Han melarang kita pulang?"
"Kak Han sedang perjalanan bisnis, dan secepatnya kembali."
"Bohong." Kris memalingkan wajahnya, membiarkan Muti membaca buku.
Kristal tidak bisa tidur kembali, mengambil buku yang ada ditangan Muti. Keduanya saling pandang.
"Apa agama kamu Kristal?"
"Tidak tahu, apa sekarang itu penting? kita tidak pernah diajarkan agama." Kristal membaca buku yang membuatnya mengerutkan kening.
Kristal menatap Muti yang terlihat lebih tenang, matanya terpejam tapi mulutnya komat-kamit tidak tahu apa yang sedang dibacanya.
"Aku pernah belajar ini bersama Bundanya kak Han, tapi setelah Bunda pergi. Aku dan Kak Han meninggalkannya, karena doa kami tidak pernah dikabulkan." Kris memejamkan matanya melanjutkan tidur.
Senyuman Muti terlihat, menggenggam tangan Kristal. Doa pertama Muti setelah sekian lama tidak memanjatkan doa.
"Kris, aku berdoa agar kamu bahagia, disatukan dengan lelaki yang kamu cintai dan mencintai kamu." Muti masih memejamkan matanya, meksipun ada air mata yang menetes.
Kristal tidak menjawab sama sekali, air matanya langsung menetes. Sebenarnya Kristal sudah membaca pesan dari Han soal keadaan Tirta.
Han meminta Muti merahasiakan darinya, tapi Kris yang lebih dulu melihat ponsel Muti. Dan berusaha menyembunyikan apa yang tidak seharusnya dia ketahui.
"Apa kamu sakit? kenapa kamu tidak pernah mengatakannya? ini alasan kamu diam saja saat dipukul oleh Cherly agar saat kamu meninggalkan dunia tidak ada yang terluka." Kris hanya bisa bicara di dalam hatinya, merasa sakit melihat Tirta yang sedang berjuang.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira