
Pintu apartemen Tirta terbuka, kode sandi hari ulang tahun Kristal. Wajah Kris senyum-senyum sendiri menatap wajah kekasihnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?"
"Sebesar apa cinta kamu Tirta?" Kris melangkah masuk, dan terhenti melihat isi apartemen.
Mulut Kris menganga, apartemen mewah milik Tirta sangat bersih, rapi dan seluruh barang ditata dengan sangat rapi dan berada di tempat yang menarik.
Mata Kristal berkedip-kedip, antara kagum dan tidak percaya jika pria seperti Tirta memiliki kebiasaannya yang sangat baik.
Meja tamu juga bersih mengkilat, banyak buku yang tersusun di rak. Kaca-kaca juga bersih tanpa noda debu.
Tangan Kris memegang kenop pintu, kamar Tirta juga tidak kalah rapi. Pertama kalinya bagi Kris melihat tempat tinggal pria yang luar biasa rapi dan bersihnya.
Seluruh baju, jam tangan, sepatu, jas dan barang-barang lainnya berada di tempat yang sama. Tidak ada barang yang terletak di lantai.
"Kristal, kamu mau minum apa?" Tirta mengambil gelas, mengelapnya terlebih dahulu baru menuang jus.
Kris yang melihatnya, seperti salah masuk rumah orang. Karena di luar rumah Tirta terlihat sangat berbaur.
"Kenapa kamu Kristal? jangan kesurupan di sini." Tawa kecil Tirta terdengar, menyentuh hidung Kris yang masih terdiam.
Pelan-pelan Kris membuka lemari es, dan di dalamnya penuh makanan sehat juga segala jenis sayuran, buah ada di dalamnya.
"Di dalam dan di luar rumah kamu pribadi yang berbeda." Kris duduk di samping Tirta yang sedang membaca buku.
Sekilas Tirta melihat ke arah Kristal, langsung fokus kembali ke arah bukunya. Mendiamkan Kris yang sibuk sendiri mengecek sekitar apartemen.
Tangan Tirta langsung ditarik, Kris masuk ke dalam pelukan melihat buku yang Tirta baca. Mata Kris langsung sakit melihat tulisan menggunakan bahasa asing.
"Buku apa ini?"
"Kamu mau makan sekarang, atau nanti saat bertemu Mami Papi?" Buku langsung Tirta tutup, melangkah ke rak buku menyusun kembali.
"Apa kamu memang seperti ini?" Kris melipat tangan di dada.
Tirta hanya tertawa, sejak berusia dua belas tahun Tirta sudah tinggal sendirian. Dia tidak tahu siapa ayahnya, dan jarang bertemu Maminya.
__ADS_1
Pekerjaan Tirta hanya belajar, merapikan kamarnya sampai berkali-kali mengubah model kamar.
Apartemen yang Tirta tinggali satu-satunya kenangan yang berharga, karena dia membelinya tanpa sepengetahuan Cherly.
Segala pekerjaan sudah pernah dicoba, baik pekerjaan kasar maupun perkantoran.
"Di luar aku Tirta yang ceria, tapi di rumah aku hanya seorang pemuda yang pendiam." Hembusan nafas Tirta terdengar, memejamkan matanya menghirup udara segar apartemennya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kris, dia juga tidak mengetahui jika Tirta seseorang yang sangat dingin saat di rumah.
Kristal masuk ke dalam pelukan, mencium sekilas pipi Tirta. Meminta maaf karena dirinya tidak mengenal baik.
"Kris, kamu satu-satunya yang selama ini aku kejar. Biasanya aku hanya diam apapun yang terjadi." Tirta mengeratkan pelukannya.
Suara Kristal tertawa terdengar, menghibur Tirta yang sedang sibuk masak. Tanpa membantu apapun, Kris hanya menyemangati agar makanan cepat tersaji.
Pertama kalinya Tirta mendengar di rumahnya suara keributan, hanya ada satu Kris saja sudah heboh. Rumah impian Tirta semakin bahagia saat ada buah hatinya.
"Buka mulut." Tangan Tirta menyuapkan sesuatu untuk Kris.
Mata Kris membulat, lompat-lompat sambil berputar memberikan dua jempol untuk masakan Tirta yang luar biasa enaknya.
Tirta tertawa, mengusap bibir Kris yang kotor makanan. Melihat Kris lahap makannya membuat Tirta bahagia.
"Sudah waktunya Kris bersiap-siap untuk bertemu Mami Papi."
"Kris, mungkin hasilnya tidak sesuai harapan kita." Kepala Tirta tertunduk, meletakkan sendok makannya.
Genggaman tangan Kristal erat, menyatukan jari-jemari keduanya. Kris tidak perduli apapun hasilnya, karena tujuan mereka sudah baik dengan meminta restu.
Sebagai seorang anak sudah kewajiban untuk menyenangkan orangtunya, dan meminta izin juga restu harus tetap dilakukan meksipun mendapatkan penolakan.
Kristal melangkah ke kamar, mengganti bajunya, merias sedikit wajahnya yang memang sudah sangat cantik.
Malam yang mungkin menjadi penentu hubungan anak dan ibu, Kris tidak menunjukkan dirinya yang biasanya.
Baju Kristal sederhana, tapi sangat indah di tubuhnya. Menggunakan high heels biasa, tas yang tidak bermerek.
__ADS_1
Rambut Kristal juga di kuncir, karena jika Cherly menjambak rambutnya akan tertusuk jarum kecil yang Kris letakkan di kepalanya.
Tirta juga sudah menggunakan baju rapi, tersenyum melihat Kris yang menggunakan baju biasa, tetapi masih memancarkan kecantikan yang luar biasa.
"Ayo kita pergi sayang, bismillah semoga niat baik kita diterima." Tirta merangkul Kris yang hanya menganggukkan kepalanya.
Mobil yang Tirta siapkan sudah melaju menuju restoran yang dia janjikan kepada Papinya, permintaan pertama Tirta, agar Maminya juga datang.
Sesampainya di restoran, Tirta langsung masuk ke ruangan yang di pesan secara privat. Hampir dua jam Kris dan Tirta menunggu, tapi tidak ada satupun yang muncul.
Kris menatap wajahnya di kaca, lipstiknya sudah pudar. Tetapi batang hidung Cherly belum juga muncul.
"Sayang, sebaiknya kita pulang. Mami tidak datang." Tirta masih berusaha menunjukkan senyuman.
Pintu ruangan terbuka, Kris teriak kaget. Papi Han datang dengan tatapan marah. Matanya melihat ke arah Kris yang langsung berdiri ingin mencium tangan.
Tangan Kristal langsung ditepis, ucapan pertama yang keluar dari mulut pria paruh baya dihadapannya sebuah penghinaan.
Kristal hanyalah wanita murahan, dia bahkan pernah hamil di luar nikah. Sejak awal, keluarga Han tahu jika Kris menikahi Alhan hanya untuk kemewahan.
"Hebat sekali kamu, bahkan memiliki saudara kembar untuk mengendalikan Han, sekarang menggoda Tirta juga."
"Apa maksudnya Papi? jangan pernah menghina Kristal." Suara Tirta meninggi, mendorong Papinya.
"Sadar Tirta, dia hanya wanita murahan yang tidur dengan banyak pria."
Tamparan Kristal mendarat, dirinya tidak terima dihina. Sudah cukup dulu Kris diam saja saat dipukul, sekarang dia bukan wanita bodoh yang menangis ketakutan.
"Jangan lupa jika anda juga sampah, masih ingat kekerasan yang kamu lakukan terhadap aku dan Bunda. Kris tidak melupakannya sedikitpun, tapi demi kak Han. Kristal berpura-pura lupa."
Cherly kaget mendengar kemarahan Kristal, dia mengingat jelas trauma yang membekas di kepalanya. Sampai kapanpun Kris tidak akan memaafkan, kecuali Bunda Han bisa hidup kembali.
"Jangan koreksi buruknya aku, tapi sadar diri betapa buruknya seorang Ayah dan suami yang melakukan kekerasan. Paman bukan hanya menghacurkan hati kak Han, Bunda, tapi Kris juga." Pukulan Kris kuat di dadanya yang terasa sesak.
Pukulan kuat terarah kepada Kris, Tirta langsung memeluk erat. Tamparan mendarat di wajah Cherly sampai terlempar jatuh pingsan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
vote hadiahnya ya