
Mobil taksi berhenti sesuai perintah Kristal, sebelum ke kantor Kris mampir ke rumah orangtuanya untuk mengambil keperluan.
Kedatangan Kris di sambut oleh Maminya, dan langsung menawari Kris makan bersamanya.
"Kris, ayo sini sayang."
Kristal mengabaikan langsung masuk kamarnya, mengambil koper memasukan data penting dirinya juga buku tabungan untuknya dan Muti.
Tangan Kris ditahan oleh Maminya yang binggung melihat Kristal mengemasi seluruh barangnya yang penting.
"Keluar! jangan sentuh aku."
"Apa yang kamu lakukan Kristal?"
"Melakukan apapun yang aku inginkan, lebih baik kamu tidak ikut campur." Kris menatap tajam, mendorong Maminya keluar kamar.
Kris membawa dua koper, dan langsung bersiap pergi meninggalkan istana masa kecilnya. Kris akan meninggalkan kemewahannya dan memulai hidup bersama saudara kembarnya.
Mami Kristal berteriak, tidak menyukai sikap tidak sopan Kristal yang keluar masuk rumah tanpa izin.
"Aku tidak akan menginjakan kaki ke rumah ini lagi?"
"Baguslah, seharusnya sejak dulu kamu sebaiknya pergi, anak tidak tahu diri. Kehidupan mewah kamu juga karena kebaikan aku." Tatapan tajam penuh kebencian.
"Dari awal aku menyesali hidup bersama kalian, penuh kebohongan juga keserakahan." Kris langsung melangkah pergi tanpa perduli teriakan dan caci maki mami tirinya.
Kristal juga mengambil mobil mewahnya, langsung melaju pergi ke perusahaan Papinya. Kris akan menagih janji Han yang menyerahkan saham kepadanya setelah bersedia menjadi sekretarisnya.
Sepanjang perjalanan, Kris mengawasi Mutiara yang juga sedang bekerja. Senyuman Kristal kagum meskipun kakaknya hidup susah dan jauh dari didikan.
Kris berpikir dirinya akan kesulitan mengajari Muti, tapi kenyataannya Kris juga belajar banyak hal dari saudara kembarnya.
Sesampainya di kantor Papinya Kristal langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Papinya yang sudah menunggu cukup lama, Kris hanya tersenyum sinis melihat Papinya yang terlihat banyak masalah.
"Ada apa Pi?" Kris duduk langsung membuka map yang diberikan oleh Papinya.
"Serahkan saham kamu Kris, Papi membutuhkan untuk melakukan investasi menjanjikan."
Kristal tertawa, menatap tajam Papinya yang masih saja mengikuti ucapan istri muda yang membuat perusahaan naik turun. Saat naik istri menikmati, saat turun berjuang sendiri dengan tuntutan istri.
"Pi, serahkan perusahaan kepada Kristal." Kris memberikan jaminan kepada Papinya jika perusahaan akan maju di bawah pimpinan Kris.
__ADS_1
Kristal meminta Papinya menyerahkan kepada dirinya saham perusahaan, dan ada seorang wanita bernama Mutiara yang akan menanamkan modal agar perusahaan tetap stabil juga bantuan perusahaan JK group, karena Kris juga bekerja di sana.
"Papi bisa tetap memimpin perusahaan, tapi segala kendali ada ditangan Kristal."
"Mami kamu pasti tidak akan setuju Kris."
"Kenapa harus peduli? perusahaan ini milik Papi, dan Kris anak satu-satunya yang punya hak penuh menjadi penerus." Kristal menyakinkan Papinya jika Mami tetap akan menikmati uang keuntungan perusahaan.
Senyuman Papinya Kris terlihat, menyetujui ucapan Kristal. Karena semua orang tahu betapa pintarnya Kris, dan sangat hebat dalam mengurus perusahaan, hanya saja Kris sulit diatur dan selalu membuat keributan dengan menghamburkan uang
Kris juga tersenyum, satu langkahnya untuk mendapatkan perusahaan terjawab. Dirinya dan Mutiara akan menjadi pemilik perusahaan Iskandar.
Setelah berbicara banyak hal akhirnya Muti langsung pamitan kepada Papinya untuk kembali ke rumah Han, dan melaporkan apapun yang bersangkutan dengan perusahaan.
Selesai bekerja Kris menyempatkan untuk membeli makanan, dan membawakan Muti makanan yang mungkin belum pernah Muti rasakan.
Dua kantong makanan ada ditangan, mobil Kris juga di parkir jauh dari rumah Alhan demi keamanan dan kebebasan dirinya agar bisa keluar masuk.
Saat ingin masuk Kris melihat Mutiara juga pulang bersama Han, koper Kris langsung ditinggalkan sedangkan dirinya langsung berlari kencang masuk ke dalam kamar.
Alhan terdiam melihat dua koper ada di ruang tamu, memanggil maid dan mempertanyakan pemilik dari koper.
Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya, Mutiara juga penasaran melihat dua koper besar tanpa pemilik.
"Tunggu." Muti langsung berdiri dari kursi roda.
Muti yakin pasti ulah Kristal, rasanya kepala Mutiara buntu untuk membuat alasan. Dirinya binggung harus mengatakan apa?
"Koper siapa itu Kris?"
"Punya aku, tolong bawa ke kamar." Mutiara langsung menarik koper.
Apapun pertanyaan Alhan tidak dihiraukan, Muti langsung masuk kamar meyelamatkan dua koper besar milik Kristal.
Pintu ditutup dan dikunci, Muti menatap Kristal yang masih bersembunyi. Senyuman Kris terlihat menatap saudara kembarnya yang menatap tajam.
"Kamu baik-baik saja?" Muti membantu Kristal berdiri.
"Iya. Kamu sudah makan belum?" Kris mengeluarkan makanan.
Mutiara langsung duduk melihat Kris yang masih sibuk sendiri. Muti yakin penyamaran mereka tidak akan bertahan lama, kapan ketahuannya membuat Muti takut.
__ADS_1
"Ada apa? bukannya soal pabrik berjalan lancar." Kris menyerahkan burger kepada kakaknya.
"Han bukan orang bodoh Kris, dia pasti curiga melihat perbedaan kita." Muti mengunyah makanan di tangannya, langsung keluar lagi dari mulut Muti karena rasanya yang asing.
"Apa ini?" Muti meletakkan makanan yang Kristal beli.
Kris masih diam, meletakan makanan dan langsung tiduran di atas ranjang menatap langit-langit kamar.
Muti juga tidur di samping Kris, menatap ke arah yang sama. Mata Mutiara terpejam, langsung menatap adiknya yang masih fokus melihat lampu.
"Bagaimana jika aku kembali ke desa? dan kembali menjalani hidup seperti dulu, kita bisa bertemu sesekali. Hidup seperti ini kita membohongi banyak orang." Muti mengusap rambut Kristal.
Air mata Kris menetes, sedih mendengar keputusan Mutiara yang ingin berpisah. Mereka baru saja bertemu, dan harus berpisah.
"Jangan sedih, kak Muti juga sedih." Air mata Mutiara juga menetes.
"Di mana janji kak Muti yang ingin menolong Han? katanya kita bisa berjuang bersama. Siapa peduli jika kita ketahuan?" Kris tidak minta menikah dengan Han, tidak juga minta bertemu dengan Muti, tapi takdir yang membuat mereka seperti sekarang.
Muti mengusap air mata adiknya, meminta Kristal untuk jangan menangis.
Suara ketukan pintu terdengar, Han meminta Kristal makan bersamanya. Muti memerintahkan Kristal untuk makan bersama Han sedangkan dirinya ingin beristirahat.
Kristal keluar dan hanya tersisa Mutiara yang masih duduk diam di pinggir ranjang sambil memegang perutnya, Muti hanya takut jika adiknya akan terluka jika dirinya juga ada.
Kris wanita yang sangat pintar, berbeda dengan Muti yang tidak tahu apapun. Kehadiran Muti hanya beban untuk adiknya, tapi Muti juga tidak tega meninggalkan Kristal.
Meksipun pertemuan mereka singkat, Muti sangat menyayangi adiknya dan ingin selalu bersama.
Di ruang makan Han menyerahkan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter pribadinya, Kris kebingungan karena dirinya tidak sakit.
"Mulai sekarang makan yang teratur."
Kris hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih kepada Han yang menepati janji menyerahkan saham untuk Mutiara.
"Siapa Mutiara? dia seperti penting sekali sampai kamu rela dia memiliki saham yang aku tanamkan di perusahaan Iskandar." Han menatap Kris yang hanya tersenyum.
"Dia bukan hanya penting Han, tapi dia juga keluarga aku satu-satunya."
***
Follow Ig Vhiaazara
__ADS_1
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu