
Sudah satu minggu Han dan Muti jarang bertemu, saat Muti keluar kamar Alhan sudah pergi bekerja, Mutiara sudah tidur Han baru pulang.
Keberadaan Mutiara dan Kristal yang hidup bersama dalam satu nama masih aman, tidak ada satu orangpun yang mencurigai keduanya. Kris juga mengubah penampilan Muti agar menyerupai dirinya.
Rasa bosan mulai menyelimuti Kristal, dia tidak bisa berdiam diri di rumah dan membutuhkan udara segar.
"Selamat pagi Han, aku meminta izin untuk keluar rumah." Kris sudah berdiri di samping mobil Han yang ingin pergi bekerja.
"Oke, kamu hanya boleh pergi tiga jam dalam satu hari. Hubungi Apri setiap kamu pergi, jika lebih dari tiga jam tahu sendiri akibatnya." Han meminta Kris menyingkir.
Kesibukan Han di perusahaan membuatnya tidak punya waktu untuk mengurus kesehatannya, dan selalu bekerja dengan keras agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Keterbatasan yang Han miliki bisa dilengkapi oleh sekretaris pribadinya, dia selalu setia di sisi Han dari matahari belum terbit sampai terbenam.
Secara tiba-tiba ponsel Han terjatuh, kepalanya terasa sakit dan langsung menunduk. Apri langsung mendekati Han, meminta beristirahat.
"Tuan, ini sudah berlebihan. Tuan sedang dalam pemulihan, lebih baik kita kembali sebelum banyak orang yang melihat keadaan Tuan." Apri memohon satu hari saja Han beristirahat.
"Antar aku ke parkir, kamu lanjutkan pekerjaan. Aku bisa pulang bersama supir, jika ada yang bertanya berikan alasan yang masuk akal." Han menatap tajam tidak mengizinkan ada yang mengetahui keadaannya.
Han memutuskan untuk pulang, tubuhnya tidak mendukung sama sekali. Setiap hari Han mengkonsumsi obat-obatan, dan terus memaksa dirinya.
Sesampainya di rumah Han melihat Muti yang sedang merapikan kamarnya yang berantakan.
"Maaf tuan, aku bosan di kamar dan mencoba mencari kesibukan." Muti membantu Han berjalan dan duduk di atas ranjang.
"Bukannya kamu pagi-pagi sudah berdiri di luar demi mendapatkan izin untuk keluar rumah." Han belum mendapatkan laporan jika Kristal kembali.
Muti hanya tersenyum, menawarkan Han untuk minum, tapi seperti biasanya langsung ditolak.
"Ambilkan obat."
"Tuan sepertinya sudah berlebihan mengkonsumsi obat, nanti over oper ofer intinya seperti itulah." Muti coba mengingat apa yang Kristal ucapkan.
"Over dosis?" Han menatap Muti yang langsung mengangguk.
Senyuman Mutiara terlihat, mengejek dirinya sendiri yang terlihat bodoh. Mengambil makanan untuk Han yang dia cicipi lebih dulu.
Han langsung mengambil dan memakannya, meminta Muti menghubungi dokter dan meminta penambahan obat.
"Tuan, sebaiknya kurangi minum obat. Makan-makan sehat, tidur yang cukup, beristirahat jangan terlalu memaksakan diri." Muti menjelaskan sesuatu kepada Han.
Dia memang tidak tahu banyak hal soal penyakit, tapi selama sepuluh tahun dia hidup merawat neneknya yang memiliki kondisi sama seperti Han.
__ADS_1
Kondisi neneknya jauh lebih buruk, kedua kakinya lumpuh permanen. Muti bisa memprediksi jika Alhan mempunyai kesempatan untuk sembuh, selama dia fokus kepada kesembuhannya.
"Nenek bisa bertahan selama sepuluh tahun, dan meninggal karena sudah lanjut usia. Tuan bisa pulih seperti sediakala."
"Sejak kapan kamu punya nenek?" Han menatap tajam, dia tahu seluruh anggota keluarga Kristal.
Cara bicara Kristal terlihat aneh, dia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan Han, dan memilih memalingkan wajahnya.
"Siapa kamu?" Han menarik tangan Kris dan melihat kukunya.
"Aku hanya mengarang saja, tapi siapa tahu benar."
"Jadi kamu ingin menjadikan aku bahan percobaan, kamu lupa apa yang dokter katakan?" Han meminta Kris keluar, dia ingin beristirahat.
Mutiara langsung berlari keluar, menutup pintu kuat membuat Han kaget dan langsung meneriaki Mutiara yang sudah berlari kencang.
Muti menyalahkan dirinya sendiri yang mulutnya bocor, dia tidak boleh mengungkap identitasnya dan Kristal.
Di dapur Muti melihat para maid yang sibuk, melihat seseorang yang seumuran dengan dirinya dan menyapanya sambil tersenyum.
"Nona muda membutuhkan sesuatu?"
"Aku hanya membutuhkan teman bicara." Muti mempersilahkan duduk, tidak perlu bekerja terlalu keras, Muti tidak akan marah.
Para maid benafas lega, langsung menyapa Mutiara yang terlihat ramah dan baik hati. Seseorang maid takut melihat Muti, dia pernah tidak sopan masuk kamar dan mendapatkan teguran.
"Saya yang salah Nona, mohon dimaafkan."
Muti tersenyum, meminta semuanya santai saja tidak harus menghormatinya berlebihan. Perlahan Muti mulai membicarakan soal kondisi Alhan.
Awalnya tidak ada yang berani bicara, tapi salah satu maid tetua mulai membuka kejadian Kelam yang menimpa Alhan.
Dia anak yang baik dan sangat ramah, tapi lima tahun yang lalu Han mengalami kecelakaan bersama Bundanya, dan kehilangan sosok Bunda untuk selamanya.
Han mengalami kelumpuhan, satu kaki Han dinyatakan lumpuh permanen dan tidak bisa diobati lagi.
Sejak terbongkarnya perselingkuhan Papinya, sampai kehilangan Bundanya Alhan menjadi pribadi yang pendiam dan sangat dingin. Perlahan Han mulai kasar, dia tidak segan-segan menghukum dan menyakiti.
"Kasian, bagaimana dengan Papi Han?"
"Dia tinggal bersama istri muda dan putranya, tuan Han diasingkan dan hidup sendirian."
Satu hal lagi yang menjadi perebutan keluarga Jackson, Han sudah terdaftar sebagai pewaris tunggal, tapi kelicikan ibu tirinya menyatakan jika Han tidak bisa bekerja karena lumpuh, sehingga adiknya Tirta bisa naik jabatan menggantikan Alhan.
__ADS_1
"Sebenarnya hidup tuan sangat menyedihkan, seluruh orang meninggalkan karena kekurangannya."
Mutiara meneteskan air matanya, lalu bagaimana nasib dirinya yang tidak memiliki orang tua lagi, hidup sebatang kara dan tidak ada tujuan.
Muti membuat obat herbal yang selalu dia buat untuk neneknya, melangkah ke kamar Han yang tidak pernah dikunci.
Perlahan Muti menyingkirkan selimut yang menutupi kaki Han, melihat sekilas kondisi kaki yang memang terlihat buruk.
"Muti, apa yang kamu lakukan?" Kristal baru saja pulang mengintip kamar Alhan dan melihat Mutiara meraba kaki Han.
"Dari mana kamu Kristal?"
Kris menunjukkan barang belanjaannya, memperhatikan Han yang sedang tidur.
"Kris, kita harus menolong Han."
Kening Kristal berkerut, kondisi mereka saja dalam keadaan tidak baik, bagaimana bisa menolong orang lain.
Muti mengambil sesuatu dan menunjukkan kepada Kris, catatan soal kondisi Han. Mutiara tidak mengerti apa yang tertulis, tapi mungkin Kristal mengerti.
"Astaga, dia bukan hanya lumpuh, tapi sedang sakit keras. Seharusnya dia dirawat di rumah sakit." Kris menghela nafasnya melihat kondisi Han, menatap obat-obatan yang dosisnya tinggi.
"Obat apa ini?"
"Dia juga mengkonsumsi obat tidur, dan obat penenang. Apa dia mengalami stres?" Kris memijit pelipisnya tidak ingin ikut campur.
"Kita bantu Han untuk sembuh."
"Tidak, ini berbahaya. Lawan Han Maminya Tirta, dia wanita jahat dan akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan Han."
Mutiara menyentuh tangan Kristal, mungkin mereka tidak dekat, tapi Muti tidak tega melihat Han yang menderita sendirian.
"Kris, kita tidak ikut campur dalam perebutan kekuasaan, tapi setidaknya kita bantu Alhan untuk mempertahankan kedudukannya."
"Apa yang bisa kita lakukan Mutiara? Han pria jahat, aku juga bukan wanita baik yang ingin menolong orang."
"Jika kamu tidak ingin membantu, aku akan mengatakan siapa kita?" Muti terpaksa mengancam kembaran.
Han bergerak, Muti dan Kris langsung bersembunyi, saling menutup mulut jangan sampai Han melihat mereka berdua.
***
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
VOTE hadiahnya jangan lupa untuk mendukung karya baru author.
***