MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KECELAKAAN


__ADS_3

Mendapatkan kabar kedua Putrinya di kantor polisi membuat Ilham pusing, hampir subuh dan tidak ada yang bisa dihubungi.


Saat bangun tidur, Han hanya mengirimkan pesan untuk menjemput Muti Kris di apartemen, tapi belum sempat Ilham pergi Iskandar sudah datang ke rumahnya.


"Pa, Dwi ikut."


"Kamu di rumah saja Dwi, jaga Lily. Hubungi aku jika ada sesuatu." Ilham langsung mengeluarkan mobil, pergi bersama Iskandar untuk ke kantor polisi.


Saat tiba di kantor, polisi belum mengizinkan untuk bertemu. Menunggu saat matahari terbit.


Mobil Han tiba di kantor polisi saat sudah siang, Tirtan juga keluar mobil bersama Ayahnya yang langsung menemui Ilham.


"Bagaimana keadaan Kris dan Muti?" Han langsung memaksa untuk masuk.


"Tunggu setengah jam lagi Han." Ilham menjelaskan, jika polisi belum mengizinkan.


"Kalian langsung masuk, Ayah akan bicara dengan kepala kepolisian." Ayah Tirta langsung menghubungi orang dalam untuk membantunya.


Tatapan Han tajam, melihat Muti dan Kris masih tertawa di dalam penjara. Bermain berdua saling mencubit telinga.


Tidak ada beban sama sekali, Nathalie dan Cherly masih tidur karena lelah, usia tidak bisa mengikuti anak muda seperti Muti dan Kris yang masih kuat.


"Anak nakal, berada di dalam penjara bisa tertawa?" kepala Iskandar geleng-geleng, terheran-heran melihatnya.


Alhan duduk mendengarkan kasus istrinya, menunjukkan rekaman CCTV yang saling menjatuhkan.


Jantung Han bekali-kali hampir melayang, melihat tembakan yang mendekati Kris dan Muti, bahkan Cherly juga hampir menjadi korban.


Keempat wanita belum bisa dibebaskan, karena masih dalam proses penyelidikan. Dikarenakan ada korban jiwa, maka kasus akan semakin lama.


Kepala Han menggeleng, dia tidak bisa membiarkan istrinya berada di dalam penjara. Tirta juga sama tidak setujunya jika istrinya berlama-lama di dalam penjara.


"Lepaskan mereka berempat." Kepala kepolisian tersenyum melihat Tirta.


Mendapatkan perintah dari atasan langsung, Kris, Muti, Cherly dan Nathalie langsung dibebaskan.


Kening Ilham berkerut melihat pria yang bisa dengan mudah membebaskan padahal kasus cukup serius, karena penyerangan menyebabkan satu orang meninggal.


"Kenapa kamu bisa ada di sini Gio?" Ilham menatap pengusaha terkenal di negara sakura.

__ADS_1


"Kamu juga kenapa bisa ada di sini?"


Keduanya sama binggung, tapi berusaha mengabaikan pertemuan yang tidak diduga, karena ada hal yang lebih penting.


Suara berisik terdengar, Muti dan Kris sudah tertawa merapikan rambut untuk pulang, mandi air hangat dan tidur panjang.


"Astaghfirullah Al azim." Tirta terkejut, langsung menyingkirkan rambut kristal.


Tatapan Tirta kaget, melihat leher Kris merah membiru bekas cekikan. Alhan juga melihat luka yang sama di leher Muti, bahkan lebih parah dari Kristal.


"Sialan! apa ini Muti?" Han berteriak marah.


Melihat istrinya terluka, Han langsung memukul meja polisi. Istrinya terluka, bukan dilarikan ke rumah sakit, tapi dimasukkan penjara.


Kemarahan Han membuat Muti takut, bukan hanya Han yang marah. Ilham sama kecewa melihat kondisi kedua Putrinya.


Cherly dan Nathalie langsung cepat keluar, diikuti oleh Muti dan Kris yang tidak ingin tekena imbasnya.


Suara teriakan Arnas terdengar, dirinya tidak terima melihat Kristal bisa bebas dengan mudahnya. Kondisi Arnas semakin memburuk, bahkan menyayat tangannya sendiri meminta keadilan untuk Maminya.


Kepanikan semakin besar, Han berhenti marah melihat kehebohan untuk melarikan Arnas ke rumah sakit, karena berlumur darah ingin bunuh diri.


Langkah Kris terhenti, menatap Arnas yang tangannya dibungkus kain dan ingin dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Tubuh Kris dan Arnas terpental, Kris langsung tergeletak menatap langit biru. Senyuman Kris terlihat, penglihatannya mulai sayup.


"Kristal." Tirta langsung mengangkat kepala Kris yang sudah tidak sadarkan diri.


Tubuh Kris langsung diangkat, darah menetes dari tangan bahkan bekas darah ada di jalanan. Kondisi Arnas sama buruknya langsung dimasukkan ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.


Air mata Muti menetes, tangannya gemetaran melihat adiknya terbang di atas mobil lalu menggelinding di bawah, berlumuran darah.


Tangan Han langsung menutup mata Muti, tubuh Mutiara langsung terkulai lemas dan jatuh pingsan.


"Larikan ke rumah sakit Han." Panda masuk mobil bersama Kris, memeriksa kondisi Putrinya yang terlihat buruk.


Bantuan pertama dilakukan, Ilham mengusap wajah Kristal yang sepenuhnya sudah tidak sadarkan diri.


Ilham menghubungi rumah sakit, meminta ruang operasi. Kristal mengalami luka cukup parah di bagian kepalanya.

__ADS_1


"Sayang bangun, kenapa kamu harus seperti ini Kris." Air mata Tirta menetes mencium tangan Kristal yang penuh darah.


"Kamu berhasil menghindari senjata, tapi tidak dengan kecelakaan ini Kris. Kenapa emosi kamu tinggi sekali Nak? tidak bisa kamu percaya Papa untuk menyelesaikan masalah ini." Air mata Ilham juga menetes melihat kondisi Putrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Kris langsung dilarikan ke ruangan operasi. Tangan Ilham ditahan, dia tidak mungkin kuat melihat langsung kondisi Kris.


Tirta meminta dokter terbaik untuk menyelematkan istrinya, Ilham tetap memaksa masuk untuk mengawasi kondisi Kristal.


Mutiara juga dirawat, kondisi tubuhnya langsung drop. Saat sadar langsung mencari adiknya, jika teringat kecelakaan Kristal langsung tidak sadarkan diri.


Berkali-kali terus terulang, Han sampai takut melihat kondisi Muti yang mencari keberadaan Kristal.


"Sayang jangan seperti ini, Kris pasti baik-baik saja." Kepala Han tertunduk, memeluk Muti yang sadar langsung mencari Kris.


"Aku ingin bertemu Kristal."


"Sabar, Kris pasti bangun. Percaya sama kak Han, Kristal pasti baik-baik saja." Alhan mencoba menahan Istrinya yang memberontak minta dilepaskan infusnya.


Dwi langsung menangis histeris, memeluk Mutiara yang masih terus memanggil Kristal. Perasaan Muti yang hancur, karena kondisi Kristal yang drop di ruangan operasi.


Batin Muti bisa merasakan jika adiknya dalam keadaan tidak baik, kepala Muti menggeleng jika dirinya tidak bisa bertahan tanpa Kristal.


"Kris, jangan tinggalkan aku." Muti menarik infus, langsung melepaskan pelukan Dwi berjalan sempoyongan untuk menemui adiknya.


Han hanya mengikuti langkah Muti, tanpa Han mengatakan ruangan. Mutiara langsung tahu langkah kakinya, memukul pintu ruangan operasi meminta Kristal keluar.


Suara tangisan semakin terdengar, Nathalie sampai beberapa kali pingsan, Cherly hanya bisa menangis melihat kondisi Kris dan Muti yang sama-sama tersakiti.


Mata Tirta juga merah, hanya bisa diam menahan air matanya menatap pintu ruangan agar segera selesai dan istrinya baik-baik saja.


"Ini salah aku, semua karena aku." Cherly mengusap air matanya.


"Tidak ada yang salah, ini ujian untuk kita." Dwi langsung melangkah mendekati Muti yang menangis histeris.


"Bagaimana kondisi Arnas? dia juga harus mati." Muti menatap tajam Han.


"Kamu cukup diam sayang, aku yang akan melakukannya jika sampai Kris memburuk. Dia tidak boleh hidup." Han meneteskan air matanya, mengusap wajah istrinya yang banjir air mata.


"Tadi masih tertawa berdua, tapi sekarang Kris di dalam, Muti di sini."

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2