
Semuanya berlari kencang, Han langsung mencari Muti yang sudah penuh lumpur. Tirta bukan menolong Kristal tetapi tertawa terbahak-bahak melihat Kris yang menjadi manusia lumpur.
Muti masih sempat memukul Kristal, Ilham langsung memisahkan keduanya. Han juga langsung melangkah mundur melihat Muti yang kotor.
"Kristal bodoh, rem pastinya di sepeda bukan di tangan kamu."
"Kak Muti yang mengatakan di tangan, itu namanya setang." Kris berjalan sambil tersenyum melihat tubuhnya.
Kristal langsung berlari ke tengah lapang, lompat-lompat sambil berputar-putar melepaskan lumpur di tubuhnya.
"Ini menyenangkan." Kris lompat lagi ke lumpur, lalu naik lagi dan lompat lagi.
Air mancur hidup, Kris tersenyum langsung mandi di air yang biasanya digunakan untuk menyiram tanaman.
Mutiara juga langsung berlari kencang, membersihkan tubuhnya dengan air membuang lumpur.
Kris lompat lagi ke lumpur, mencari siput dan mengumpulkannya. Muti hanya menatap adiknya yang terlihat sangat bahagia.
"Kak Muti apa ini bisa dimakan?"
"Biasanya bisa, kamu mau?"
Kris menganggukkan kepalanya, mengumpulkan lebih banyak lagi. Dwi langsung berjalan mendekat membantu Muti membersihkan siput.
"Panda, Kristal mendapatkan ular." Kris mengangkat tinggi.
Tirta langsung berlari, diikuti oleh yang lainnya panik. Saat melihat hewan yang ada di tangan Kris langsung tertawa melihatnya.
"Bukan ular Kris sayang, tapi belut. Hati-hati licin."
Kepala Kris mengangguk, menggendong ular yang dia maksud memberikan kepada Muti.
"Kamu tidak geli Kris?" Han merinding melihatnya.
Kejahilan Muti terlihat, langsung ingin melemparkan belut ke arah suaminya. Han langsung melangkah mundur karena geli.
Kristal masih mencari ular, dibantu oleh Tirta yang juga turun ke sawah untuk menemani Kris yang sempat menangis karena belut licin.
"Kenapa kak Tirta turun? tidak takut." Tatapan Kris malu-malu melihat ke arah Tirta yang sudah membuka bajunya hanya menggunakan baju dalaman.
"Sebenarnya takut, tapi jika bersama kamu apapun menjadi berani."
Kebahagiaan terlihat sekali di wajah Kris, menyentuh wajah Tirta yang terkena lumpur.
Alhan berdiri jauh, hanya menatap Kris dan Tirta becanda, dan melihat istrinya tertawa bersama Papa dan Dwi.
__ADS_1
Nenda melangkah mendekati Han yang takut dengan belut, memilih menjauh daripada dia jatuh di sawah.
"Terima kasih, kamu yang pernah menyelamatkan mereka berdua." Nenek tersenyum, mengusap matanya yang merah.
Seandainya Alhan marah dan mengusir Muti dan Kris, saat mengetahui jika keduanya kembar dan sudah menipunya. Mungkin hidup Kris dan Muti sudah kacau.
Jika tidak ada Han yang selalu berdiri di belakang keduanya, mungkin tidak akan kuat dan hancur bersamaan.
"Nenda salah, Han kuat karena ada mereka. Dulu aku hanya pria jahat yang lumpuh, Muti merawat dengan baik, Kris juga membantu perusahaan. Keduanya berbagi tugas menggunakan satu nama." Jika Han mengingatnya senyum-senyum sendiri, karena dua orang berbeda karakter hidup di satu nama.
Nenek tersenyum, Kris dan Muti ternyata si kembar yang kompak, jahil juga sangat lucu.
"Kenapa kamu mencintai Muti? padahal mengenal Kristal lebih lama." Nenek sangat penasaran dengan alasan Han.
Cukup lama Han diam, dirinya juga tidak mengerti secara tiba-tiba Muti ada dihatinya. Mengenal Kristal sejak kecil membuat Han terbiasa. Dan sangat mengenal kebiasaan-kebiasaan baik dan buruknya Kris.
Berbeda dengan Mutiara, Han merasa tidak mengenal sama sekali. Apapun yang dia lakukan terasa asing.
"Asing? lalu kenapa jatuh cinta?"
"Han merasakan nyaman, hati rasanya tenang. Dan perlakuannya membuat bahagia." Tangan Han menyentuh dadanya yang masih merasakan hal yang sama.
Awalnya Han marah juga terkejut saat mengetahui ada dua Kristal, dan membiarkan keduanya melakukan sesuka hati.
"Aku sebenarnya berniat jahat nek, tapi seiring berjalannya waktu beginilah kehidupan kami. melihat pertengkaran keduanya yang mirip kucing sama tikus. Bertengkar, satu menit kemudian baikan." Suara Han teriak terdengar langsung memeluk nenek karena Kris melempar belut.
Muti langsung menendang Kristal, berlari ke arah Han yang masih memeluk erat panik membayangkan belut di kakinya.
"Kak Han, jangan peluk Nenek kuat-kuat." Muti menarik lengan.
"Buang dulu belutnya!" Han langsung berlari kencang meninggalkan lapangan, tidak memperdulikan teriakan Muti.
Suara tawa terdengar melihat Alhan yang lari kencang tanpa peduli kakinya pernah sakit.
"Kak Han lucu." Kris melihat ke arah Papanya yang menatap wajah Dwi.
"Sebaiknya kita pulang, sudah hampir magrib." Ilham membawa belut dan keong.
"Tuan biarkan saya yang membawa."Tangan Dwi ingin mengambil, tapi ditahan oleh Ilham langsung melangkah bersama Tirta.
Bahu Dwi ditahan oleh Kristal, langsung menatap mata Dwi yang menunjuk senyuman tidak mengerti tatapan tajam Kristal.
"Siapa kamu? pembantu lain tidak ada di sini hanya kamu yang mencari perhatian."
"Maaf Nona Kris, saya hanya menjalankan perintah dari nyonya besar untuk membantu." Dwi menjelaskan yang sebenarnya, meminta maaf jika Kris tidak menyukai keberadaannya.
__ADS_1
Tawa sinis Kris terlihat, dia sangat mengenal wanita seperti Dwi yang sengaja memanfaatkan neneknya untuk mendekati Papanya.
Wanita yang malas bekerja selalu mencari jalan mengait orang kaya untuk menjadi sumber keuangannya.
"Aku tidak akan tinggal diam, jika kamu berani mendekati Panda." Kris mendorong Dwi memintanya menyingkir.
Senyuman Dwi masih terlihat manis, meksipun air matanya sudah menetes. Kristal salah paham kepadanya.
"Maafkan aku, sungguh pikiran kamu salah. Tenang saja, saya tidak mungkin mendekati Panda kamu."
"Kita lihat saja, wanita seperti kamu suka menjilat ludah sendiri." Tatapan Kris sinis langsung melangkah pergi.
Muti mengerutkan keningnya, memanggil Dwi dan Kris agar cepat pulang. Kris langsung merangkul kakaknya meninggalkan Dwi di belakang.
"Kak Dwi, cepat."
"Duluan saja Muti." Tangan Dwi hanya melambai meminta Muti pergi.
Suara tawa Kris dan Muti terdengar, saat tahu Muti ke rumah Nenda, Kris langsung mengamuk kepada Han ingin langsung pergi.
Seluruh barang masih ada di mobil, Han sampai meninggalkan pekerjaan langsung berangkat.
"Kris, kak Muti ingin mencarikan Panda pasangan hidup, karena kita berdua tidak bisa selalu menemani Panda." Muti bicara sangat pelan.
"Setuju, dia harus wanita terhormat."
"Seandainya, kak Dwi belum menikah mungkin dia calon yang cocok." Mutiara menatap Kris yang berhenti melangkah.
"Apa? Dwi. Dia seorang janda kak! Kristal tidak akan pernah setuju jika dia mendekati Panda."
Kris menjelaskan alasannya, karena Kris tahu wanita seperti Dwi hanya ingin harta dan bukan tulus mencintai Papanya.
Mutiara tidak sependapat dengan Kristal, baginya Dwi perempuan yang baik dan terhormat.
"Aku tidak akan pernah setuju." Kris menabrak bahu Muti.
"Apa hak kamu?"
"Status kita sama, kak Muti tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan Kris. Wanita kamu hanya gila harta."
"Kamu juga menghina aku!? ya kami orang kampung gila harta, lalu apa bedanya sama kamu?" Mata Muti menatap tajam.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1