
Suasana ribut mendadak hening, Muti mengusap darah di hidungnya. Kris langsung berdiri menarik kakaknya untuk ke kamar mandi.
"Kak Muti ini manusia atau kanibal." Kris membersihkan darah, mengecek hidung Muti takutnya ada luka.
"Kanibal itu apa?" Muti menunjukkan giginya yang berdarah.
"Pemakan segalanya." Kris mengecek gigi Muti yang sudah goyang hampir lepas, darah berasal dari giginya.
"Itu omnivora, hewan pemakan segalanya." Muti mengatai Kristal bodoh.
Kris menghela nafasnya, masalahnya Muti manusia bukan hewan. Melihat wajah kakaknya, Kris memilih diam, membenarkan ucapan Muti agar tidak terjadi perdebatan.
Kristal mengambil sikat gigi yang belum terpakai, meminta Muti membersihkan mulutnya yang mengigit daging kotor, dan darah kotor.
Di ruang tamu masih hening, Cherly dan Nathalie masih duduk mengawasi Nila yang sudah babak belur.
Nathalie memegang kepalanya, membayangkan Muti dan Kris yang bergulat menjadi satu, membuatnya takut.
"Mulai sekarang, jangan mengusik hidup mereka jika kamu tidak ingin botak." Senyuman Nathalie terlihat menatap Cherly yang cemberut.
Kris dan Muti keluar kamar mandi, Muti sudah rapi dan tidak terlihat lagi darah. Tatapan Kris melihat Nila, langsung menendangnya seperti bola.
"Di mana Arnas dan Ibunya?" Kris tidak melihat keberadaan dua wanita yang sempat dia lepaskan.
Tangan Nathalie menunjuk ke arah kamar, Muti langsung berdiri di balik dinding, mengetuk pintu, dan membuka kenop pintu.
"Terkunci." Muti tersenyum menatap Kristal yang mendekati pintu.
Tendangan Kristal kuat, tenaganya yang sempat menurun kembali lagi. Muti membantu Kris menendang pintu.
"Keluar, sebelum aku hancurkan pintunya." Kris berteriak kuat.
Nila menatap ke arah senjata, dirinya yakin pasti kepolisian sudah mengetahui kejahatannya. Sebelum dirinya membusuk di penjara lebih baik melarikan diri.
Langka Nila berlari sangat cepat, langsung mengambil senjata mengarahkan kepada Kris dan Muti.
"Jika kalian berdua berani maju, maka salah satu akan terluka." Langka Nila mundur, masih mengarahkan senjata.
Mata Cherly menatap tangan Nila, melepaskan high heels langsung melempar tangannya. Cepat berdiri rebutan senjata.
Kristal tidak bisa mendekati, senjata kembali ke tangan Nila dan diarahkan kepada Muti. Tembakan lepas, Kris langsung memeluk kakaknya, tapi Nathalie mendorong tubuh keduanya sampai jatuh bertiga.
__ADS_1
Peluru menembus pintu, suara teriakan dari dalam kamar terdengar. Cherly membenturkan kepala Nila, mengambil senjata dan mengarahkan ke arah kepala.
"Bunuh aku Cherly." Nila berteriak kuat.
"Jangan Mami, membunuhnya tidak bisa membayar penderitaan semua orang, biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya." Kris langsung mengambil senjata.
Tendangan Kris menghantam wajah sampai Nila jatuh pingsan, Kristal mengeluarkan isi peluru.
Ayah Arnas terbangun, mendengar suara tangisan Putrinya yang memanggil Maminya. Pintu diketuk, meminta Arnas membukanya.
Darah sudah mengalir di lantai, Mami Arnas tertembak di bagian perutnya dan sudah jatuh pingsan.
Muti masih memeluk Nathalie yang kepalanya terbentur sampai berdarah. Kris menghubungi kepolisian untuk menangkap semua penjahat.
"Kalian pembunuh." Arnas berteriak kuat, menatap Kris yang masih memegang senjata.
Arnas langsung berlari ke arah Kristal, pertengkaran Kris dan Arnas terjadi lagi. Keduanya saling menjatuhkan.
Melihat Kris memukul membuat Muti menundukkan kepalanya, ada rasa kasihan melihat Arnas.
"Semua ini tidak mungkin terjadi, jika kamu tidak mengusik rumah tanggaku. Tidak ada wanita yang rela cintanya dibagi, dan menerima wanita lain hadir dalam rumah tangganya." Kris tersenyum sinis.
"Aku mencintai Tirta sebelum kamu, dan akan aku rebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Senyuman Arnas tidak kalah sinis.
"Aku bisa menghancurkan karir kamu dengan mudahnya, ingin dimulai dari mana? Kamu bisa saja gila, dan bunuh diri jika seorang Kristal sudah bertindak." Kris membisikkan sesuatu membuat Arnas langsung melangkah mundur.
Siapapun yang pernah hadir dalam hidup Tirta, kelemahannya ada di tangan Kris. Tidak ada manusia yang bersih masa lalunya.
"Jika kamu sadar ada kekurangan, seharusnya tidak mengusik hidupku." Kris langsung berdiri menatap Ayah Arnas yang sudah menangis memeluk istrinya.
Pintu apartemen terbuka, kepolisian datang meminta semuanya angkat tangan. Kristal langsung mengangkat tangannya.
"Senjata ini yang membuat wanita itu tewas, siapapun yang melakukan cari tahu sendiri. Ada sidik jari kami semua." Kris menyerahkan senjatanya.
Tangan Kris membantu kakaknya berdiri, merangkul Mommynya dan menyambut tangan Cherly untuk berdiri.
Kris menunjukkan letak CCTV, dan meminta polisi menyelidiki apa yang sudah terjadi. Siapa korban dan pelaku.
"Aku akan membalas kamu Kristal."
"Lakukanlah jika mampu, ingat ini lelaki serakah. Bukan hanya kamu yang akan membusuk di penjara, tapi beberapa dokter akan terlihat, karena kalian melakukan pembohong soal operasi Arnas." Kris memastikan jika Papanya tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Polisi meminta Kris dan yang lainnya ikut ke kantor polisi untuk diperiksa dan mempertanggungjawabkan perbuatannya mereka.
Di dalam mobil polisi, Muti hanya diam menatap Kristal yang masih santai saja.
"Apa kita akan di penjara Kris?"
"Mungkin, jika kita dinyatakan bersalah." Kris tersenyum manis.
"Tidak ada takutnya kamu Kris." Cherly menggelengkan kepalanya.
Nathalie menghela nafasnya, Kristal sudah biasa masuk kantor polisi, bahkan namanya sudah menjadi daftar atas wanita bermasalah.
Bagi Kris keluar masuk penjara, menjadi tempat bermainnya. Nathalie dan Iskandar sampai bosan ke kantor polisi.
"Terima kasih Mommy, sekarang Mommy ikut-ikutan ke kantor polisi." Kris memeluk lembut Mommynya.
"Tidak masalah sayang, asalkan putriku baik-baik saja." Nathalie memeluk Kris dan Muti.
Mutiara juga mengucapkan terima kasih, tanpa Nathalie mungkin sudah beberapa kali celaka. Muti memeluk erat sampai Nathalie melepaskan keduanya karena pinggang sakit.
"Mommy ternyata sudah tua Kris, sakit pinggang." Tangan Nathalie mengusap pinggangnya.
Panggilan masuk ke ponsel Nathalie yang baru saja diaktifkan, suaminya sudah mencari sampai ke rumah Ilham. Han juga sudah menghubungi.
Tepaksa Nathalie mengakui jika dirinya dibawa ke kantor polisi, dan akan ditahan atas kasus yang tidak bisa Nathalie jelaskan.
Mutiara, Kristal, Cherly dan Nathalie dimasukkan ke dalam penjara. Kris melarang ada yang memberikan jawaban apapun, Kris ingin polisi mencari tahu sendiri.
Keterangan yang diberikan Arnas, Nila dan Ayahnya memberatkan Kristal. Melihat lawan menjatuhkan, Kris hanya tersenyum manis tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.
"Kenapa kamu meminta kita diam Kris?" Cherly meraba jeruji besi.
Tawa Kristal terdengar, baginya hanya sedikit menyenangkan. Kris menyukai ada lawan yang bersusah payah menjatuhkannya.
"Bagaimana jika terbukti kita yang bersalah?" Muti juga merasakan takut.
"Kalian pikir aku sengaja datang dengan emosi lalu berakhir di penjara, apa kalian pikir Kristal sebodoh itu?" Kris menggelengkan kepalanya.
Kematian Ibu Arnas, sesuatu yang tidak bisa dihindari dan memang sudah menjadi takdirnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira