MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
REBUTAN


__ADS_3

Kepala Alhan berdenyut, Kristal menuruni tangga melihat Bundanya yang melangkah mundur.


Mutiara juga turun, berdiri di samping Adiknya yang sudah meneteskan air matanya melihat kemarahan Bundanya.


"Apa maksudnya Bunda? salah Kris apa Bunda?" Air mata Kristal menetes, membasahi pipinya.


"Kenapa bisa ada dua? ini tidak mungkin. Kristin sudah meninggal." Tatapan mata tajam, tidak percaya jika Kristal dan Kristin tinggal di satu rumah.


"Tante Della sebaiknya pulang, ini sudah malam. Kristal dan kamu Muti kembali ke kamar." Han meminta Muti membawa Kristal masuk.


Kepala Della menggeleng, langsung menarik Kristal membuat Han langsung menahannya, karena Kris sedang hamil.


Baju Kristal disobek, tatapan Della melihat ke arah Muti yang langsung menarik bajunya melihat punggung Kristal dan Muti.


Alhan langsung berteriak kuat, mencengkram kuat lengan Della yang menyakiti Muti. Han tidak menghormati Della sebagai orang yang lebih tua jika bersikap kasar kepada istrinya.


"Kak Han jangan sakiti Bunda." Kristal memukuli Han meminta melepaskan Bundanya yang meringis kesakitan.


Suara tangisan Kristal terdengar, Han melepaskan. Kris langsung memeluk Bundanya yang terduduk di lantai.


"Kak Han tidak boleh seperti itu!" Kris berteriak.


Della langsung menendang Kristal sampai terjungkal, Muti dan Han langsung panik melindungi Kristal yang meringis kesakitan.


Senyuman Della terlihat, menarik Muti untuk ikut dengannya. Tatapan Kristal penuh kesedihan, karena Bundanya meminta Muti ikut dengannya.


"Lepaskan! aku tidak punya ibu dan ayah. Aku hanya punya Kristal." Muti menatap tajam, membentak dan menepis tangan Bundanya.


"Aku yang melahirkan kamu Kristin?" Della juga berteriak memohon Muti ikut dengannya.


"Lalu bagaimana dengan Kristal Bunda? kenapa Bunda benci sama Kris?"


"Pertanyaan yang sama, kenapa kamu membenci putri kandung kamu?" Muti menatap tajam.


"Bunda akan menjelaskannya, sekarang Kristin ikut Bunda." Della mengusap kepala Muti yang menatap sinis.


Han menarik tangan Muti, tidak ada yang berhak atas Muti kecuali dirinya. Tidak peduli Della ataupun keluarga Iskandar, Muti sudah tanggung jawab Han.


"Apa maksudnya kamu? dia istri kamu."


"Istriku Muti, dan Tante tidak punya hak atas keduanya." Han menghubungi kepolisian untuk membawa Della dan bawahan pergi dari rumahnya.


Beberapa orang berbadan besar masuk, Della memerintah untuk membawa Muti pergi bersamanya. Han dan Kristal saling pandang.

__ADS_1


Kristal langsung berdiri, memeluk Muti erat. Bundanya tidak boleh membawa Kakaknya.


"Aku tahu siapa kamu Han? kaki kamu masih lemah, dan baru saja bisa berjalan. Tidak mungkin kamu bisa menghentikan aku." Della menarik tangan Muti.


Alhan dan Kristal menahan Muti, tangisan Kristal histeris memohon agar tidak dipisahkan untuk kedua kalinya.


Han mengambil senjata, menembak ke atas rumahnya. Jika Della tetap memaksa membawa Muti, secara terpaksa Han akan menembak.


"Kalian memaksa masuk rumah kami, dan melakukan kejahatan." Han memeluk Muti dan Kristal.


"Aku ibu kandung mereka, apa kamu berani melakukannya?"


"Anda yang mengatakan jika aku lemah, tapi demi melindungi istri dan adikku jika harus membunuh juga Han siap." Alhan tersenyum sinis, tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.


Mutiara menatap penuh amarah, tidak ada ibu yang tega menyakiti salah satu putrinya. Muti tidak percaya jika dia lahir dari rahim wanita yang tidak punya hati.


"Kristin, ayo ikut Bunda. Han tidak bisa melindungi kamu."


"Aku Mutiara, bukan Kristin! aku jelaskan sekali lagi, Muti, Han dan Kris akan saling melindungi. Kami tidak takut dengan kalian." Muti menatap tajam, meminta Della pergi.


Suara pertarungan di depan rumah terdengar, Della menatap bawahannya terlempar ke dalam rumah.


Beberapa orang yang ingin menyerang Han langsung berbalik arah, pertarungan di depan mata terlihat.


Tatapan mata Tirta melihat Della sangat tajam, bibirnya mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.


"Anda yang harus berhati-hati, karena kami tidak akan tinggal diam." Tirta menatap sinis.


Kristal langsung terduduk lemas, menangis memeluk lututnya. Mutiara juga meneteskan air matanya memeluk adiknya yang gemetaran.


"Jangan menangis, ada kak Muti di sini. Kita tidak akan berpisah lagi." Muti memeluk erat adiknya sambil menangis.


"Salah Kristal apa kak?" Kris memeluk erat.


Han menatap Tirta, mengucapkan terima kasih karena sudah membantu mereka mengusir Della dan bodyguardnya.


"Kalian baik-baik saja, aku hanya lewat sepulang bekerja dan mendengar keributan." Tirta menatap Kristal yang sangat terpukul.


"Kris, kamu baik-baik saja?" Han mengusap kepala kedua wanitanya.


"Kristal, kenapa kamu menangis? dulu saat pertama kita bertemu kamu juga terlihat terpukul, tapi sangat pintar menutupi luka. Kamu wanita yang ceria, meskipun pundak memikul beban." Tirta mengulurkan tisu, tangan Kris langsung mengambil dan membersikan ingus.


Mutiara meneteskan air matanya melihat Tirta, mengucapkan terima kasih, Tirta sudah meyelamatkan mereka.

__ADS_1


"Hai Muti, kenapa kamu menangis? saat pertama bertemu kamu wanita yang sangat pemarah, galak dan menyeramkan." Senyuman Tirta terlihat, meminta keduanya kuat seperti dulu.


Tirta tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, di kepalanya banyak sekali pertanyaan, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa.


Dirinya tidak punya hak bertanya, tapi sekilas Tirta pernah melihat Kristal yang kuat menghadapi masalahnya dengan senyuman. Tirta juga pernah melihat Muti yang pemberani meksipun dalam masalah besar, masih berdiri kokoh.


"Kalian sendirian saja kuat, apalagi sekarang. Ada dua orang hebat yang menjadi satu, untuk saling melengkapi." Tirta menyemangati keduanya.


Han tersenyum melihat Kristal dan Muti berhenti menangis, Tirta bisa menguatkan keduanya dengan nada lembutnya.


"Kak Tirta bisa bela diri?"


"Harus, aku punya dendam kepada Han untuk memukulinya, tapi sayang dia lebih suka duduk di kursi roda akhirnya aku bertarung dengan pohon."


"Sebelum menyentuh dia, kalahkan dulu Muti." Tangan Muti sudah memukul Tirta yang meringis kesakitan.


"Maafkan aku, mengaku kalah." Tirta tertawa melihat Muti dan Kris tersenyum.


"Kamu membawa buah lagi, aku lapar." Kris menatap Tirta yang kebingungan.


Tirta langsung berlari keluar, Han melangkah melihat Tirta yang naik pohon di depan rumahnya.


"Dasar maling."


"Minta satu kak Han, nanti aku diusir. Ini buahnya sudah masak." Tirta tersenyum melangkah masuk menyerahkan satu buah mangga.


Tirta meminta maaf hanya membawa satu, besok dia akan membawa banyak buah-buahan yang sama seperti buah sebelumnya.


Mutiara mengerutkan keningnya, menatap buah mangga yang mirip dengan buah di depan rumahnya.


"Kenapa mirip punya Muti? itu ada namanya." Muti memukul kepala Tirta.


Tangan Tirta menutup mulut Mutiara, dia hanya minta satu buah demi anaknya yang sedang dikandung oleh Kristal.


Alhan hanya geleng-geleng kepala, buah mangga sudah dicoret menggunakan spidol hak milik Muti, tapi diambil oleh Tirta.


Kristal langsung mengunyah buah, tanpa mengupasnya membuat Han dan Tirta teriak. Muti sudah melangkah keluar mengambil senter menyinari buah mangga.


"Sayang jangan pelit, Tirta hanya minta satu." Han merangkul Mutiara, bernafas lega masih bisa melihat istrinya yang baru saja menangis, tertawa, bahkan marah.


Della tidak akan menyerah untuk mendapatkan Muti, Han juga tidak bisa berdiam diri. Dia harus menemukan alasan Della menginginkan Muti, tapi membuang Kristal.


***

__ADS_1


__ADS_2