MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
UCAPAN TULUS


__ADS_3

Sudah siang Kristal belum juga keluar kamar, melihat Dwi yang tersenyum mengantarkan makanan dan ingin pamit pergi.


"Bagaimana kondisi kamu Kris?"


"Ini pertengkaran terlama kami, kak Muti tidak menemui Kris." Kepala Kristal tertunduk, sesekali melihat ke arah pintu.


"Maafkan aku," ucap Dwi merasakan kasihan melihat masa lalu Kris yang sebenarnya menyakitkan.


"Kristal memang wanita jahat, aku harap kamu mengerti."


Senyuman Dwi terlihat, mengusap tangan Kris yang meremas bajunya. Dwi tahu Kris sebenarnya tidak sejahat ucapan, tapi rasa sakit yang dalam membuatnya memilih menyakiti daripada disakiti.


"Nona Kris, jangan hakimi diri sendiri. Tidak ada yang lebih besar cinta kecuali mencintai diri sendiri. Jika Nona membenci diri sendiri, maka orang lain tidak punya alasan untuk suka." Air mata Dwi menetes, dia tahu rasanya tidak memiliki keluarga.


Genggaman tangan Kris terbuka, tangannya terluka bekas gigitan. Dwi mengambil obat langsung mengobati dan menceritakan kondisi Mutiara.


Muti jatuh di kamar mandi, tapi berpura-pura tidak terjadi apapun. Dia hanya tidur menyelimuti tubuhnya, dan tidak mengatakan jika ada rasa sakit.


Ada benturan di kepala Muti, Ilham sudah mengeceknya saat tertidur. Han juga ada di sampingnya menemani.


Kristal langsung berdiri, berlari keluar kamar menuju kamar Muti. Han baru saja keluar mengantarkan makanan.


"Muti baik-baik saja, jangan khawatir." Han menutup pintu.


Kris langsung mendorong Han menjauh, masuk ke dalam kamar melihat Muti masih tidur. Keningnya dikompres menggunakan air hangat.


Perlahan Kris membuka penutup kepala Muti, tangan Muti langsung memukul dan menutup kembali kepalanya.


"Kak Han, Muti malu!" Teriakan Muti menggema, menutup keningnya.


Suara tawa Kristal langsung pecah, Muti membuka matanya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Kris masih saja tertawa melihat kening Muti benjol sangat besar, merah dan kebiruan. Kedua tangan menutup mulut, berusaha menghentikan tawanya.


Selimut terbuka, Muti mengambil guling memukuli Kristal yang masih saja tertawa tidak ingin berhenti.


"Kristal!" Rambut Kris dijambak-jambak.


"Iya ampuh, kening kenapa?" Kris sudah tergeletak di lantai masih tertawa.


Muti memukuli lagi, Dwi langsung berlari mengambil guling melihat Muti langsung menangis menutup wajahnya.


Pintu terbuka, Han masuk bersama Ilham melihat Muti menangis. Nenda juga masuk langsung memeluk Muti yang meminta semua orang keluar.


Tirta menutup mulut Kris yang tidak ingin berhenti tertawa, Muti sudah semalaman menahan malu, dan sekarang ditertawakan.


"Jidat kak Muti benjol, waktu kecil dia juga pernah membenturkan kepalanya agar pingsan demi tidak sekolah, sekarang benar-benar pingsan." Kris tertawa lepas, Tirta juga menahan tawa melihat Muti yang menutupi keningnya.

__ADS_1


Suara lembut Panda terdengar, mengusap air mata Muti dan melihat keningnya yang sudah mengempis tidak seburuk saat malam.


Nenda juga membujuk Muti untuk makam, jangan terlalu memikirkan keningnya yang pastinya sembuh.


"Muti malu."


"Dulu kamu tidak malu, membenturkan kepala."


"Beda cerita, kamu lihat ini besar sekali." Rambut Muti disingkirkan menunjukkan keningnya.


Tawa Kristal kembali terdengar, Tirta juga ikut-ikutan tertawa karena lucu melihat kening sudah benjol.


"Kak Han juga tertawa?"


Alhan menggelengkan kepalanya, Han sudah puas tertawa saat malam. Kamar mandi berantakan dan banyak air berhamburan.


Saat Muti tidur, Han melihat kening benjol bahkan bibirnya juga bengkak, tapi saat pagi sudah kempes diobati mengunakan salep.


"Kak, Muti mau pakai poni. Malu." Bibir Muti monyong.


"Besok juga sudah hilang, lain kali jika jalan di toilet hati-hati." Han mengulurkan tangannya meminta Muti keluar untuk makan.


"Makan di sini."


Han menajamkan pandangannya, tempat tidur digunakan untuk tidur. Jika ingin makan, sebaiknya di ruangan makan, kecuali tidak bisa bangkit lagi.


Kristal juga langsung berjalan keluar, menarik tangan Muti yang masih menutup keningnya.


"Kak Muti masih marah?"


"Apa aku punya waktu untuk marah? lihat ini jidat." Muti mengusap perutnya lapar.


Kris tersenyum, memeluk Muti dari belakang meminta Muti mengecek suhu tubuhnya yang semalaman panas.


Tangan Muti menyentuh kening, leher lalu mendorong Kristal yang suhu tubuhnya sudah normal.


Makan siang fokus menatap Muti, mulutnya mengunyah tangannya tetap di jidat. Kristal tidak melihat Dwi lagi saat makan siang.


"Kalian lanjutkan makannya, Nenda keluar sebentar."


Ilham juga meminta makan lebih dahulu, ingin menyusul Bundanya sebentar. Menepuk pundak Han dan Tirta.


Di depan pintu Dwi sudah memegang kopernya, memeluk Nenda yang menangis karena Dwi memutuskan untuk kembali ke panti asuhan.


"Dwi akan menyempatkan waktu untuk berkunjung."


"Maafkan apapun yang menyakiti hati kamu."

__ADS_1


Senyuman Dwi terlihat, mengusap punggung Nenda. Mengatakan jika dirinya baik dan tidak tersinggung sedikitpun bahkan meminta maaf jika ada salah.


"Nenda jaga kesehatan, hubungi Dwi selalu."


"Iya Sayang, kamu hati-hati di jalan." Nenda melepaskan Dwi yang harus kembali.


Ilham menahan Dwi, menundukkan kepalanya meminta maaf karena dia belum sempat mengucapkan maaf dan terima kasih.


"Maafkan kedua putriku, dan terima kasih sudah menjaga Kristal semalaman saat demam."


"Sama-sama Tuan, kirim salam untuk Muti. Dia anak baik dan ceria, saya permisi." Senyuman Dwi terlihat langsung melangkah pergi.


Mutiara dan Kristen melihat Dwi melangkah pergi ke dalam mobil yang akan mengantarnya, menatap Muti dan Kris dari jendela langsung melambaikan tangan.


Muti tersenyum, melambaikan tangannya. Berbicara tanpa mengeluarkan kata-kata, meminta Dwi berhati-hati.


Air mata Dwi menetes, cukup lega melihat Muti dan Kris sudah berdiri bersama dan tidak bertengkar lagi.


Kristal langsung keluar, melewati nenek dan Papanya, mengetuk kaca mobil yang sudah tertutup.


Perlahan jendela terbuka, Dwi sudah mengusap air matanya. Tersenyum melihat Kristal yang menatapnya tajam.


"Sebutkan nominalnya, aku transfer langsung. Berapa biaya perawatan kamu menjaga aku semalaman?" Kris membuka ponselnya meminta Dwi menyebutkan nomor rekening.


Dwi langsung menunjukkan ponselnya, Kris langsung scan akun bank Dwi memintanya menulis nominal yang diinginkan.


Tanpa bicara Dwi mengambil ponsel Kris, langsung mengetik nominal yang dia inginkan dan mengembalikan kepada Kristal.


"Biayanya murah, tapi rasa ikhlas aku lebih besar."


"Aku sudah mengirimkan ke rekening kamu, dan kita tidak punya hutang." Kris langsung meninggalkan mobil.


"Kristal, jangan pernah sakit. Kamu harus bahagia." Dwi langsung pamitan.


Kris membalik badannya, mendekati Dwi yang masih tersenyum manis. Kris menunjukkan senyumannya.


"Aku tidak memiliki temen, mereka datang hanya untuk mendapatkan transfer. Karena keberadaan aku juga karena bayaran. Kamu satu-satunya orang yang meminta jumlah yang sedikit."


"Kamu bukan tidak memilikinya, tapi kamu takut jika ditinggalkan. Kris, semua orang membutuhkan uang, tapi kita bisa kehilangan segalanya karena uang. Aku pergi sekarang." Dwi menutup pelan jendela mobil.


Kris mengetuk ulang, melangkah mundur menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih setulus hatinya karena Dwi sudah merawatnya.


Kris juga meminta maaf atas ucapannya, dan tindakannya yang memang tidak sopan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2