MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MEMUTUSKAN PULANG


__ADS_3

Kedua tangan Tirta menutup telinganya, mendengar suara Maminya yang menangis tidak ingin berhenti.


"Keluar!" Suara Tirta teriak kuat, membanting buah-buahan yang ada di samping tempat tidurnya.


Cherly terdiam menatap putranya, Tirta meminta Cherly keluar. Kepalanya hampir pecah mendengar ocehan yang panjang lebar.


"Sayang, Mami hanya ingin mereka mengerti."


"Cukup Mi, tidak ada gunanya kalian menyewa dokter, perawat terbaik. Tirta tidak membutuhkannya, Saat ini aku hanya ingin sendiri." Infus dicabut secara paksa, Tirta melangkah pergi dengan tangannya yang berdarah.


Han yang menunggu di depan pintu kaget, melihat Tirta memutuskan keluar dari rumah sakit. Menolak untuk disembuhkan, karena semuanya akan sia-sia.


"Tirta, tidak seperti ini cara kamu memberontak." Han menahan pundak, meminta Tirta kembali ke kamarnya.


Dokter Ilham juga langsung berlari, menahan tangan Tirta yang sudah meneteskan darah. Meminta untuk tenang.


"Bagaimana caranya aku bisa tenang? lihatlah Mami yang marah dan menyalahkan keadaan." Kepala Tirta menggeleng menolak untuk diobati.


Alhan menganggukkan kepalanya, mengizinkan Tirta pulang tetapi harus tinggal bersamanya jika tidak maka Han tepaksa memasung Tirta agar tetap di rumah sakit.


Senyuman Tirta terlihat langsung melangkah keluar, Han menatap dokter Ilham meminta rekomendasi obat terbaik, jika sakitnya kambuh.


"Tirta, tunggu Mami." Langkah Cherly terhenti, Alhan menahan tangannya.


Cherly langsung menepis kuat, meminta Han tidak ikut campur dengan urusannya dan putranya.


"Cherly! apa kamu ingin melihat Tirta mati cepat? bisa tidak tutup mulut sebentar saja, saat ini prioritas utama kita dia harus diobati, tolong jangan memperburuk keadaan." Han mencengkram kuat tangan wanita egois yang selalu memaksa kehendaknya.


"Sejak kapan kamu peduli dengan Tirta? aku mengenal liciknya seorang Alhan. Kamu tidak pernah memperdulikan siapapun Han." Suara tangan Cherly memukul dada Han yang memiliki hati yang sangat dingin.


Han membenarkan ucapan Cherly, dia tidak pernah memperdulikan siapapun, tapi Han bukan orang yang lupa kebaikan orang lain.


Dirinya sangat membenci yang namanya hutang budi, apapun yang Han lakukan saat ini cara dirinya membalas pengorbanan Tirta.


"Jangan mengkritik aku, jika kamu saja tidak bisa menjadi ibu yang baik. Sekali saja hilangkan ego, dan biarkan Tirta memilih bahagianya."


Mata Han menatap sinis, langsung melangkah pergi setelah mendapatkan obat Tirta. Han juga tidak mengerti dirinya, mengapa dia mendadak peduli dengan adik tirinya.


Hubungan keduanya tidak baik sama sekali, tapi Han tidak tega melihat Tirta tersakiti.


"Masuk ke dalam mobil." Han membukakan pintu.


"Kak Han, lihat kucing itu berlari menggendong anaknya. Padahal anaknya sudah mati." Senyuman lembut terlihat, langsung melangkah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sepanjang jalan Han hanya diam, sesekali melihat Tirta yang bernyanyi kecil sambil merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.


"Kak, kenapa ingin membantu Tirta? padahal aku tahu kak Han tidak menyukai Tirta sejak dulu." Pandangan Tirta melihat kakaknya yang masih fokus menyetir.


"Baguslah jika kamu tahu diri, sebaiknya kamu cepat sembuh dan berhenti mengusik hidupku. Masalah aku tidak ada berkesudahan." Kening Han berkerut, Tirta hanya tertawa mendengar ocehan kakaknya.


"Jangan katakan apapun kepada Kris dan Muti, aku ingin tertawa tanpa melihat kesedihan dihadapan wanita yang aku cintai, dan wanita yang menghargai keberadaanku." Mata Tirta terpejam, memegang kepalanya yang merasakan sakit.


Han langsung mengusap punggung Tirta, meminta meminum obat jika ada yang sakit dan mendengarkan saran Han untuk berobat.


***


Pagi-pagi Muti sudah menyiapkan sarapan bersama Dwi yang tersenyum melihat Muti yang sangat ramah juga baik


Kristal hanya duduk diam menatap makanannya, nenek mengusap kepala Kris untuk sarapan.


"Kak Muti, ayo kita pulang kak." Air mata Kris mendadak mengalir.


"Ada apa sayang? perut kamu sakit lagi." Nenek langsung khawatir.


"Kristal harus pulang nek, Tirta sakit parah. Setidaknya Kris ingin menemani dan memberikan semangat." Kris memohon kepada neneknya untuk mengizinkannya pulang.


Mutiara menjatuhkan susu yang dia bawa, Muti tidak menyangka jika Kris juga tahu soal kondisi Tirta yang memprihatinkan.


"Kamu yakin ingin pulang, Panda belum menjemput." Muti meletakkan makanan untuk adiknya yang langsung makan sambil menangis.


Nenek memeluk Kris, mengizinkannya pulang agar tidak gelisah memikirkan soal pria yang Kris bicarakan.


"Sudah jangan menangis, nenek akan menyiapkan satu supir untuk mengantar kalian pulang. Nenek akan segera berkunjung, cucu Nenek tidak boleh sedih." Tanpa sadar, air mata Nenda juga menetes tidak tega melihat kesedihan cucunya.


"Terima kasih Nenda, Kristal sayang Nenda."


Muti langsung memeluk nenek dan adiknya, langsung bersiap-siap untuk pulang, karena Alhan dan Ilham tidak bisa dihubungi.


"Dwi, kamu juga ikut mengantar mereka. Jaga kedua cucuku."


"Baik nyonya, saya akan mengantar Nona Kris dan Muti kembali." Dwi tersenyum melihat Mutiara.


Kris langsung mengambil strawberry untuk dibawa pulang, Muti juga mengambil banyak buah untuk mereka.


"Nek, Muti boleh mengambilnya?"


"Boleh sayang, nanti saat Nenek berkunjung akan membawa lebih banyak lagi." Nenda langsung meminta perawat kebun untuk memanen buah-buahan.

__ADS_1


Dwi kebingungan melihat mobil penuh makanan, Kris dan Mutiara bahkan membagi tempat untuk meletakkan milik masing-masing.


Kening Dwi berkerut, rencana pulang karena merasakan khawatir, tetapi masih terpikirkan untuk membawa banyak buah-buahan.


"Nyonya, kita berangkat dulu." Dwi masih pusing melihat Kris memaksa pintu garasi mobil agar tertutup.


"Nenda, kita pulang. Terima kasih untuk buah dan makanannya. I love you."


"Sayang, ini uang jajan untuk kalian." Senyuman Nenda terlihat, menatap kedua cucunya yang sudah mengulurkan tangan.


Senyuman Muti dan Kris terlihat lebar, jika soal uang mata keduanya berubah hijau, biru, merah sesuai warna uang.


Nenda memberikan dua kartu, Muti mengerutkan keningnya. Mengembalikan kepada neneknya.


"Muti sudah punya banyak kartu, binggung ingin menggunakan yang mana?"


"Berapa isinya Nenda?" Kris menatap sangat penasaran.


"Tidak banyak sayang, tapi cukup untuk membeli rumah dan mobil."


Kristal langsung kaget, menyembunyikan kartunya dengan aman agar tidak diambil lagi.


"Nenda, Mutiara tidak jadi mengembalikan. Izin ambil lagi ya?" Senyuman Muti terlihat malu-malu, langsung cepat menyimpan kartunya.


Dwi yang melihatnya hanya menahan tawa, Kristal dan Muti memang mata duitan, tapi sangat menggemaskan dengan ekspresi mereka.


Akhirnya mobil berjalan, meninggalkan rumah mewah neneknya. Kristal dan Muti melihat kartu mereka yang memiliki banyak isinya.


"Kristal tidak harus bekerja lagi, sudah kaya." Tawa Kristal terdengar lupa tujuannya pulang.


"Dwi, berapa banyak kekayaan Nenda?" tanya Muti dengan wajah penasaran.


"Tidak tahu, tapi sangat kaya karena seluruh perkebunan, perumahan, dan sawah milik Nenda." Dwi menjelaskan dari ujung ke ujung.


Mutiara dan Kristal tepuk tangan, mereka bukan hanya putri pemilik rumah sakit, tetapi cucunya orang terkaya.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya

__ADS_1


__ADS_2