
Di luar ruangan Tirta duduk sendirian, menatap layar ponselnya memperlihatkan foto dirinya bersama Kristal, memeluk perut besar Kris.
Tetesan air mata membasahi layar, tangan Tirta mengusap. Tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
Setiap hari harus ada foto bersama, agar Kris bisa tahu pertumbuhan janinnya. Tirta juga bahagia, selama kehamilan Kris sangat manja.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari memiliki seorang anak, pernah gagal memiliki buah hati, membuat Tirta selalu khawatir.
"Minun dulu Tirta, jangan menderita sendiri." Apri duduk si samping Tirta yang langsung minum.
Tangisannya langsung pecah, Apri juga mengusap air matanya. Menepuk punggung Tirta menguatkan, tetapi jika ada di posisi Tirta tidak mungkin kuat.
Menunggu dengan rasa takut, berharap keajaiban datang memberikan kebahagiaan. Menanti anak selama sembilan bulan, tapi detik-detik terakhir berada dalam kehancuran.
Suara tangisan bayi beradu, terdengar sangat besar. Tirta langsung berdiri bersama Apri, tangisan Tirta menyayat hati.
Apri langsung memeluk, pertama kalinya melihat seorang Tirta terlihat hancur. Tangisan bayi cukup lama.
Alhan berlari setelah istrinya dinyatakan baik-baik saja, langsung melihat Tirta yang gemetaran memanggil nama Kristal.
"Dek, kenapa kamu menangis begitu menyedihkan?" Han langsung memeluk erat.
Di dalam ruangan Kris, Rani berjuang menyelamatkan bayi yang tidak menangis. Satu bayi diletakkan di dada Kris, tangisan terdengar sangat kuat, satu bayi lagi menyambut sambil menangis sangat kuat.
Kondisi darah Kris sudah normal, air matanya mengalir mendengar suara bayi. Mata Kris tidak bisa dibuka, hanya tangisan yang terdengar.
"Kristal sayang, bangun Nak. Dengarkan tangisan anak kamu, mereka membutuhkan kamu Kris." Tangisan Panda terdengar.
Mata Kristal terbuka, bisa merasakan bayi yang tidur di menangis di dadanya, satu lagi bayi ada di samping.
"Dokter Rani, Kristal sadar."
"Saya tahu, kamu pasti bangun Kris." Rani mengusap air matanya.
"Kenapa kamu pucat? seperti ayam kehabisan darah." Kris belum kuat mengangkat tangannya.
Rani tertawa, meminta beristirahat dan tidak mengkhawatirkan anaknya. Rani tersenyum melihat bayi laki-laki dan perempuan yang terlihat sangat mirip anak Muti.
Kondisi bayi Kris prematur, meskipun sudah delapan bulan lebih, berat badan normal, hanya saja masih harus dipantau.
Asisten dokter mengambil dua bayi untuk dibersihkan dan bertemu Ayahnya, Dwi menatap Dokter Ilham, mengucapkan terima kasih sudah memberikan dirinya kepercayaan.
Dokter yang menangani Kris sebelumnya meminta maaf, dia hanya fokus untuk menghentikan pendarahan, karena keselamatan ibu jauh lebih penting.
Tamparan Rani menghantam wajah, alasan yang tidak logis dan masuk akal. Seorang Dokter kandungan bukan hanya betugas menyelamatkan ibu, tapi juga anaknya.
__ADS_1
Jika tidak mampu, seharusnya bicara dari awal, banyak dokter lain. Tidak ada yang tahu betapa Kris menginginkan anaknya agar bisa memiliki keluarga.
"Maafkan saya Dokter Ilham, anggap aku Rani bukan seorang dokter. Aku lepas kendali sampai menampar, karena aku saksi betapa panjang perjuangan Kris." Rani mengusap air matanya.
Merasa dikecewakan, Ilham memaafkan Rani. Ilham akan memberikan sangsi kepada dokter yang membahayakan nyawa anaknya.
Rani langsung pamit keluar, membuka pintu melihat Tirta matanya bengkak, menunggu Rani bicara.
"Selamat Tirta, bayinya laki-laki dan perempuan. Sementara mereka akan melakukan perawatan, karena belum cukup bulan. Kristal sudah stabil, nanti dipindahkan ke ruangan, baru temui Kris." Dokter Rani tersenyum, tapi langsung jatuh pingsan.
Teriakan Tirta terdengar, tidak percaya jika dirinya menjadi Ayah. Tirta memeluk Han, langsung melakukan sujud syukur bersama.
"Tir, anak kak Han juga kembar pengantin."
"Alhamdulillah kak, Doa kita dikabulkan."
Apri terdiam, menahan tubuh dokter yang pingsan, tapi Han dan Tirta sibuk berdua. Orang yang pingsan tidak dianggap.
"Pak, kenapa dokter yang pingsan? ini bagaimana?" Apri menatap wajah Rani yang pucat.
Tirta langsung kaget, Rani sedang sakit. Dia memaksa diri untuk membantu persalinan Muti, lanjut operasi Kris yang menegangkan.
"Bawa ke ruang perawatan." Han meminta Apri menggendong Rani.
Apri berteriak kuat, baru pertama kali dia melihat dokter pingsan, setelah membantu persalinan.
Alhan lupa mengadzani anaknya, langsung lari kembali lagi meninggalkan Apri, sedangkan Tirta juga masuk ke dalam ruangan.
"Pak Han, Tirta. Ini dokter harus aku apakan?"
Dokter Ilham meminta Apri membawa Rani untuk ke ruangan rawat, kondisi Rani memang sedang tidak baik.
"Sebenernya apa perkejaan aku? sudah seperti buruh serabutan. Sekarang mengangkat wanita, sungguh luar biasa." Kepala Apri gelang-gelang.
Tubuh Rani diletakkan di atas ranjang, Dokter Ilham langsung memasang infus. Menyuntikkan obat agar Rani beristirahat.
"Kamu temani Rani,"
Mulut Apri menganga, langsung duduk lemas di kursi. Sungguh kasihan dengan dirinya yang menjadi pekerja serabutan.
Ilham berjalan cepat, langsung mengecek kondisi Muti yang sudah tidur. Han tersenyum baru selesai mengadzani anaknya.
"Bagaimana kondisi Muti Han?"
"Baik Pa, cucunya laki-laki dan perempuan." Han tersenyum menunjukkan dua anaknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, langsung dapat sepasang. Wajahnya mirip anaknya Tirta." Panda mencium kedua cucunya.
Ilham langsung pamitan untuk melihat kondisi Lily, Han mempersilakan. Han akan menemui Lily setelah Muti bangun.
Dokter Ilham langsung berjalan cepat lagi, ketiga Putrinya sedang terbaring di rumah sakit semua. Kondisi semuanya dalam keadaan tidak baik.
Pintu kamar Lily terbuka, Dwi masih menangis sambil menyusui Putranya yang susah tidur.
"Kak, bagaimana keadaan Kristal?"
Senyuman Panda terlihat, mencium kening istrinya. Meminta berhenti menangis, Kristal sudah melahirkan kembar pengantin, kondisi Kris juga stabil.
Dwi melepaskan Putranya, langsung mengucap Alhamdulillah, bersyukur doanya dikabulkan. Kristal dan anaknya selamat.
"Mutiara juga sudah melahirkan? bahkan lebih dulu dari Kris. Anaknya kembar pengantin juga." Ilham memeluk istrinya yang terlihat menangis bahagia.
"Alhamdulillah, kabar baik semua." Dwi mengusap wajahnya.
"Bagaimana kondisi Lily?" Ilham mengecek kepala Putrinya yang sudah dibalut, tangannya juga luka.
Tega sekali Shena menyakiti Lily yang masih kecil, dan tidak mengerti apapun. Dia harus dirawat dalam keadaan trauma.
Ilham membaca keterangan kondisi Lily, menggenggam tangan kecilnya, mengusap wajahnya yang tidur pulas.
"Cepat sembuh Putri kecil Panda, maafkan Panda lalai menjaga."
Ilham meminta perawat menyediakan kamar untuk ketiga putrinya, dan keempat cucunya.
Hati Ilham sakit melihat kondisi Lily, mengangkatnya sebagai putri menjadi tanggung jawab, tapi sekarang Putrinya terbaring menahan sakit.
Dwi mengusap punggung suaminya, meminta maaf karena dirinya yang tidak memahami sebuah perasaan, sehingga ketiga Putrinya terluka.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, syukuri apa yang terjadi. Semoga saja ada hikmahnya." Ilham memeluk istrinya, memintanya untuk bersiap pindah ruangan.
Suara Lily mengigau terdengar, memanggil nama kedua kakaknya. Meminta Kris dan Muti menemaninya.
"Sabar sayang, nanti kita bahagia lagi."
***
follow Ig Vhiaazaira
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya
__ADS_1
***