MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
INGIN MENIKAH


__ADS_3

Melihat Kris muncul, Ilham sedikit kaget dan bisa menebak jika putrinya sedang marah. Tatapan tajam Kris melihat ke arah Dwi berlalu pergi.


"Kenapa belum tidur Kris?"


"Kris tidak suka Dwi, ternyata dia sekarang janda?" Kris langsung duduk melihat Panda.


Ilham menggelengkan kepalanya, dia juga baru mengetahui jika Dwi sudah menjadi janda ditinggal meninggal suaminya.


"Panda jangan dekati dia?" Kris mengingatkan jika wanita yang mendekati lelaki jauh lebih tua dari dia pasti memiliki tujuan, dan tidak jauh dari harta


Kris tidak akan mengizinkan Papanya menikahi wanita seperti Dwi yang depannya baik, tidak tahu di belakang banyak kebusukan.


"Sayang, tidak baik menilai buruk seseorang. Dwi masih muda, dan tidak mungkin Panda menikahi wanita yang hampir seumuran kamu?" Senyuman Ilham terlihat, putrinya Kristal memang sangat cemburuan.


"Berapa usia dia?"


"Emh ... tidak tahu. Dia menikah usia 19 tahun, dan kamu hitung sendiri Kris."


Kristal menghitung usia Dwi yang baru dua puluh delapan tahun sedangkan Papanya empat puluh lima, jarak usia sangat jauh.


"Dia tidak mungkin mendekati Panda, tapi kak Han dan Tirta. Dasar wanita penggoda." Kris langsung melangkah pergi, meninggalkan Papanya langsung masuk kamar Tirta.


Ilham menatap punggung putrinya yang marah-marah tidak jelas, langsung tersenyum melihat sikap Kris yang curiga kepada semua orang.


Tanpa tahu kebenarannya menuduh dan menghakimi orang lain hanya, karena dia tidak menyukainya.


"Sikap curiga kamu berlebihan Kris, bisa membuat salah paham." Ilham langsung melangkah ke kamar tamu untuk beristirahat.


Di dalam kamarnya, Tirta kaget melihat Kris datang dengan ekspresi tidak suka dan marah.


Cepat Tirta menyembunyikan kertas yang dia tulis, Kris langsung melangkah dan mengambil kertas.


"Kristal." Kepala Tirta menunduk, tidak ingin menatap Kris yang membaca tulisannya.


"Kak Tirta bisa sembuh." Tangisan Kris langsung pecah, terduduk di lantai.


Melihat Kris menangis, Tirta juga meneteskan air matanya. Duduk mendekati Kris, mengusap pelan kepalanya agar menghapus air mata.

__ADS_1


Tirta tidak ingin ditangisi apalagi meninggalkan luka untuk Kristal. Harapan Tirta hanya satu, wanita yang dicintainya hidup bahagia.


"Kris, berjanjilah kepada kak Tirta jika kamu harus bahagia, mungkin saat itu kak Tirta tidak ada lagi." Pelukan Tirta lembut, meminta Kris tidak mengkhawatirkannya.


"Kenapa kalian jahat? saat Kris bertemu Muti kehilangan Bunda, bertemu Panda dan kehilangan anak Muti, sekarang kak Tirta juga memutuskan pergi meninggalkan Kris." Sekuat tenaga Kris menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh siapapun.


Tirta mengusap punggung Kris, dia juga tidak ingi meninggalkan Kristal. Jika ada pilihan Tirta ingin menikahi Kris dan hidup bahagia bersama.


Dari dalam lubuk hati paling dalam, Tirta ingin memperbaiki hubungan mereka yang melakukan kesalahan, tapi seperti harapan Tirta terlalu besar.


"Nanti kita bisa menikah setelah kak Tirta sembuh."


"Jangan Kris, aku tidak ingin menjadi beban dan kamu tahu harapan kita kecil." Suara Tirta terdengar pelan.


Suara Kristal teriak histeris terdengar, Tirta meminta Kris mengecilkan suaranya yang bisa membangunkan semua orang.


"Dulu kak Tirta memohon, sekarang menolak!" Kris mendorong Tirta menjauhinya.


"Beda cerita Kris, kamu tidak tahu betapa besarnya aku mencintai kamu. Aku juga ingin menikah, tapi tidak dengan dikasihani." Tirta meremas rambutnya.


Kris tidak mengerti dengan takdir, mengapa hanya menyisakan dirinya sendiri dan harus hidup dan merasakan sakitnya.


Pintu terbuka kuat, Alhan melihat Tirta dan Kristal menangis berjauhan. Muti juga muncul di samping Han, menutup tubuhnya menggunakan baju mandi.


Panda juga berlarian bersama Dwi yang kaget mendengar suara teriakan. Han langsung masuk dan mengerutkan keningnya melihat dua orang menangis.


"Apa lagi yang ini? kalian tahu ini jam berapa?" Han menendang kursi melihat Kris dan Tirta.


Kristal memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya menangis dengan membekap mulutnya.


Ilham langsung mendekati Kris, mengusap kepalanya. Kris berteriak meminta semua orang menjauhinya.


Tirta langsung berdiri, ingin melangkah pergi tapi ditahan oleh Han yang sudah terlihat marah.


"Jika kamu pergi dari rumah malam ini, aku yang akan membunuh kamu!" Tatapan mata Han merah, menunjukkan kemarahan.


Tirta langsung duduk di pinggir ranjang, Muti langsung mendekatinya merangkul Tirta dan mengusap air mata yang mengalir di pipi.

__ADS_1


"Sampai kapan ingin ribut terus seperti ini? aku capek Kris, capek Tirta. Kalian bisa tidak sekali saja merasakan diposisi aku." Han menggelengkan kepalanya, mengacak-acak rambutnya.


Alhan tahu Tirta berada di masa yang sulit, ada kematian di depan matanya. Han tahu sakitnya di posisi Tirta yang ingin hidup, dan bahagia bersama orang-orang yang dicintai.


Han juga mengerti posisi Kris, dia baru saja kehilangan dan berat bagi dia untuk kehilangan lagi dengan cara menyakitkan.


"Sakitnya kamu juga luka kak Han Tirta, dan kamu Kris. Kak Han mengerti kamu takut kehilangan, sama. Kita semua ingin Tirta hidup dan mencoba cara terbaik untuk mengatasinya. Menangis, bertengkar, ribut tidak menyelesaikan masalah, tapi menambah sakit dan beban pikir." Han berteriak membuat Muti memejamkan matanya takut.


Dwi memeluk Muti yang sudah menangis, Han terlihat menakutkan sama seperti saat pertama mereka bertemu.


Ilham memeluk Kristal erat karena takut dengan kemarahan Han yang keluar kamar sambil membanting pintu sangat kuat. Kunci pintu sampai rusak, Han meluapkan amarahnya di depan semua orang.


"Kris hanya ingin semua orang ada di sisi Kris, aku hanya ingin bisa bersama setidaknya sebentar saja." Kris mengeratkan pelukannya.


Dwi mengusap punggung Muti, menepuk pundak Tirta untuk menemui kakaknya. Han mungkin sedang menangis sendirian.


Kedua tangan Tirta mengusap air matanya, berjalan mendekati Kris yang masih menangis dalam pelukan Papanya.


"Kris maafkan aku, kita masih memiliki banyak waktu untuk bersama. Tidak peduli satu hari, bulan dan tahun. Aku akan selalu ada di sisi kamu, dan kita bisa bahagia bersama." Tirta tersenyum, berdiri ingin menemui kakaknya.


"Tirta, kami tidak akan tinggal diam. Kita lakukan segala cara agar kita bisa bahagia bersama."


"Terima kasih Panda." Tirta menyempatkan mengusap kepala Muti, menarik nafas panjang merasakan takut untuk menemui Han.


Senyuman Dwi terlihat, anaknya tidak seberuntung Tirta. Saat terberat bagi Tirta, dia memiliki kakak yang mencintainya, memiliki wanita yang mencintainya.


Bekali-kali Tirta menarik pintu, Muti yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya. Susah payah Tirta menarik pintu, tapi masih tidak bisa dibuka.


Suara tawa Mutiara langsung pecah, Kris juga langsung menutup wajahnya menahan tawa melihat Tirta yang tidak bisa membuka pintu.


"Kak Han, kita semua terkunci. Tolong." Tirta mengendor pintu memanggil bekali-kali.


Kristal dan Muti sudah tertawa, Ilham juga mencoba membuka pintu yang terkunci permanen.


Tatapan Dwi binggung melihat Muti sudah berguling-guling di ranjang memegang perutnya, Kris juga sudah tergeletak di lantai tertawa.


"Kak Han, buka." Tirta menggedor pintu.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2