MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
SAKIT PERUT


__ADS_3

Beberapa mobil dari kantor pusat tiba di pabrik, Mutiara langsung melangkah masuk ke dalam pabrik. Beberapa orang yang berpengaruh di pabrik berkumpul menyambut kedatangan Muti.


Seseorang yang tidak Muti sukai juga terlihat, Jenny cukup kecewa karena Han tidak datang secara langsung untuk melihat kondisi pabrik.


Muti masuk ke dalam ruangan, melihat rekaman CCTV yang sedang memperlihatkan pabrik beroperasi.


Jenny berdiri bersama Mutiara, keduanya hanya diam fokus melihat ke arah layar besar yang memperlihatkan seluruh area pabrik.


"Aku tahu kamu sengaja melakukan ini agar Han datang, tapi maaf saja dia sibuk." Muti tersenyum melihat Jenny yang tertawa kecil.


Jenny menatap tajam Muti yang melangkah pergi, banyak para agen yang berada di depan kantor melakukan demo meminta uang mereka dikembalikan, karena apa yang mereka terima tidak sesuai dengan kualitas pabrik.


Tanpa pengawal Mutiara berdiri di depan banyak orang yang berpanas-panasan untuk meminta hak, secara lantang Muti akan meminta pihak pabrik mengembalikan setengah dari dana yang dikeluarkan.


Tim juga akan mengambil kembali produk yang tidak pantas dipasarkan, karena tidak layak jual.


"Berapa lama kami menunggu?"


"Berikan aku waktu tiga hari, kalian bisa menemukan staf untuk mendapatkan uang. Sedangkan untuk mendapatkan produk dibutuhkan waktu." Muti memastikan perusahaan bertanggung jawab sepenuhnya demi kerja sama juga kepuasan pelanggan.


Banyak orang bertepuk tangan, mengagumi cara bicara Muti yang terlihat bersahabat juga sangat mudah dipahami.


Muti tidak memandang status, dia bisa berbaur dengan mudah sehingga bisa cepat mengetahui apa masalah yang terjadi.


Sebelum Mutiara kembali ke kantor dia sempat memperingati Jenny untuk berhenti, jika sampai Alhan tahu dia pasti sangat kecewa.


Muti tidak peduli apa tujuan Jenny membuat kacau pabrik, intinya Jenny harus mengingat kebaikan Han juga Bundanya.


"Aku masih memperingati kamu, tapi jika sampai hal ini terjadi lagi jangan salahkan jika kamu akan aku buat menyesal." Muti langsung masuk ke dalam mobil meminta supir segera kembali ke kantor.


Jenny menggenggam tangannya, dia sangat mengenal siapa Kristal. Meksipun Kris sangat pintar, dia takut berbicara di depan banyak orang, tapi sekarang Jenny melihat secara langsung Kris yang sangat ramah juga disegani banyak orang.


Bahkan tanpa memperkenalkan status, semua orang tahu jika Kristal istrinya Alhan.


Sesampainya di perusahaan Muti langsung menuju ruangan Han, di dalam lift dia bertemu Tirta yang hidup segan mati tak mau.


"Dari mana kamu Kris?"


"Bekerja, kamu kenapa tidak punya semangat hidup? Tirta belajar dewasa, kamu jangan mirip ayam yang sudah putus uratnya antara hidup dan mati." Mutiara menggelengkan kepalanya, ada rasa kasihan juga melihat kondisi Tirta.


Pintu lift terbuka, Muti menahan sebentar sambil melihat Tirta yang masih menunduk.

__ADS_1


"Jangan jadikan patah hati alasan kamu hancur, buktikan kepada diri sendiri apa pontensi kamu. Semangat Tirta." Muti langsung berjalan ke ruangan suaminya.


Langkah Muti terhenti, dari luar ruangan sudah terdengar suara Alhan sedang marah-marah. Muti menjadi ragu untuk masuk, bisa saja dia yang disembur oleh Alhan.


Pintu ruangan Alhan terbuka, Apri meminta Kris segera masuk dan menemui Alhan.


"Dia sedang marah, lebih baik aku pulang." Muti menatap April yang mengerutkan keningnya.


"Kemarin kamu pulang tanpa izin sudah membuat dia marah, sebaiknya masuk jangan membuat Tuan Han semakin murka." Apri langsung melangkah meninggalkan Muti yang masih ragu untuk masuk.


Suara Han memanggil terdengar, Muti menunjukkan kepalanya. Melihat tatapan tajam Han Muti langsung mundur, tapi balik lagi masuk ke dalam ruangan yang terasa panas.


"Aku pulang." Muti tersenyum melihat tatapan Han yang tajam.


Suara panggilan masuk Han langsung memutar kursinya membelakangi Muti sambil menjawab panggilan. Pembicaraan Han cukup lama, membuat Muti memilih duduk di sofa.


Selesai melakukan panggilan Han melihat ke arah Mutiara yang wajahnya sangat pucat, Han langsung berdiri menggunakan tongkatnya mendekati Muti.


"Ada apa? pekerjaan kamu hari ini sangat baik." Han duduk di samping Mutiara yang meringis menahan sakit perutnya.


Alhan langsung panik, merangkul Muti yang meremas perutnya yang sangat sakit.


"Kristal, kamu kenapa?" Han mengambil ponselnya ingin menghubungi dokter.


Apri langsung masuk juga terlihat panik, ingin menggendong Muti, tapi takut dengan Alhan.


"Apri apa yang kamu lakukan?" Han berteriak kuat.


Muti meminta obat yang biasanya dia minum, Alhan ingin melarang minum obat murahan, tapi tidak tega melihat istrinya mengeluh sakit sambil berderai air mata.


Selesai minum obat, Muti terkulai lemas. Sudah lama penyakitnya tidak kambuh, karena sibuk bekerja sampai lupa jika belum makan dan minum.


Tangan Han menyentuh perut Muti, mengusapnya pelan. Apri muncul membawakan makanan dan air hangat.


Rayan hanya memberikan solusi lewat panggilan, Han tidak perlu panik karena sakit perut istrinya disebabkan terlambat makan.


"Kenapa tidak makan? apa kamu ingin mati kelaparan?" Han menatap Muti yang menutup telinganya meminta Han diam.


Tubuhnya lemas, tidak punya tenaga mendengar ocehan Han yang memarahi sesuatu yang sudah terjadi.


Setelah sakitnya berkurang, Muti tersenyum mengambil makanan dan mengunyahnya. Han hanya diam saja memperhatikan Muti makan.

__ADS_1


Tangan Han menyentuh rambut Mutiara, merapikan ke arah telinganya agar tidak menutupi wajah dan menganggu makan.


"Kamu sudah makan?" Muti melihat Alhan yang hanya diam menatapnya.


"Ini sudah hampir jam pulang kerja, tidak mungkin aku belum makan." Tatapan Alhan tajam, meminta Apri menyiapkan mobil untuk mereka pulang.


"Maaf, aku merepotkan." Muti tersenyum melihat Han memintanya duduk di kursi roda.


Mutiara langsung tertawa sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit, tapi merasa lucu dengan ucapan Han.


"Kamu duduk di mana? haruskah aku duduk dipangkuan kamu?" Muti tersenyum melihat Han yang geleng-geleng.


"Jangan harap." Alhan meminta Muti menyelesaikan makanannya.


Alhan hanya berjalan menggunakan tongkatnya, sedangkan Apri mendorong kursi roda yang diduduki oleh Muti.


Satu tangan Muti menggenggam tangan Han, tersenyum merasa lucu duduk di kursi roda seperti nenek-nenek.


"Kenapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu?" Han menghela nafas melihat Mutiara yang tertawa.


Apri menundukkan kepalanya merasa lucu juga melihat Kristal yang konyol, dia mengatai dirinya sendiri seperti nenek-nenek.


"Diam." Han menatap tajam.


Muti menutup mulutnya, tersenyum melihat Han yang kesulitan berjalan. Muti masih memegang tangan suaminya yang mulai belajar berjalan.


"Suatu hari nanti, kamu pasti bisa pulih." Batin Muti dalam hati melihat Alhan yang berusaha menahan sakit kakinya.


Sesampainya di mobil Han memegang kakinya yang terasa sakit, Muti juga khawatir melihat ekspresi Han.


"Maaf, nanti aku obati jika terasa sakit." Muti mengusap kaki Han agar sakitnya berkurang.


"Aku baik-baik saja Kris." Han meminta supir jalan.


Senyuman Mutiara terlihat, apapun yang dia lakukan tetap nama Kris yang dikenal. Mutiara takut sekali jika Han tahu dia Muti bukan Kristal.


***


Follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2