
'Aku akan menjemput mu. Tunggu aku di parkiran. See you, Baby.'
Satu pesan yang dia terima, membuat Hanna tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajarannya. Pesan dari Davlin tentu saja.
"Ada apa? dari tadi pak Tohang selalu memperhatikan mu," bisik Ara yang jiwanya meronta ingin tahu apa yang menjadi penyebab Hanna tersenyum sejak awal masuk kelas tadi.
Belum sempat menjawab, ponsel Hanna bergetar lagi. Ingin sekali dia segera membaca pesan yang sudah di tebaknya pasti dari Davlin. Namun, perhatian dosen kalkulus nya masih tetap mengawasi gerak-gerik Hanna, membuat gadis itu harus menahan rasa ingin tahunya untuk sesaat.
Begitu dosen itu sudah kembali ke proyektor nya, Hanna segera membuka pesan itu.
'Kau sudah sangat banyak berhutang padaku. Aku harap kau sudah bisa mulai mencicilnya. Mulai dari menjadi gadis penurut, mungkin. Atau menemaniku tidur setiap malam.'
Wajah Hanna memerah, bahkan hanya untuk membacanya saja, dia seolah bisa merasakan suara Davlin lah yang berbisik di telinganya untuk mengatakan pesan itu.
"Aauu.." pekik Ara dengan suara lantang tidak sadar. Dia ikut membaca pesan itu diam-diam saat Hanna sedang membukanya, dan begitu terkejut karena hubungan sahabatnya dengan pria itu sudah sangat jauh.
"Saudara Ara Arandi, silakan ke luar kalau memang anda tidak menyukai mata kuliah saya!"
Dengan wajah mengenaskan, Ara terpaksa keluar dan menunggu di koridor jurusan hingga mata kuliah itu selesai.
***
"Ayolah, ceritakan padaku, sudah sejauh apa hubungan kalian?" Ara menyongsong kedatangan Hanna yang baru saja keluar dari ruang kelas setelah mata kuliah dosen killer itu selesai.
"Hubungan kami biasa aja," sahut Hanna tersenyum. Lucu melihat wajah Ara yang mengerucut, kesal karena rasa ingin tahunya masih belum terpuaskan.
"Han, aku memang belum pernah pacaran. Tapi aku jelas mengerti maksud pesan itu. Kau bahkan sudah tidur dengannya? Kau sudah.." Ara tidak melanjutkan omongannya. Matanya jatuh ke arah miliknya.
"Jauhkan pikiran nakal mu itu. Hingga saat ini aku masih perawan. Kami tidak melakukan hal yang melewati batas!" seru Hanna ikut memerah wajahnya. Pasalnya pertanyaan Ara membawa pikiran nakalnya kembali berkelana.
***
__ADS_1
Jantung Hanna berdebar, sangat kencang kala melihat pujaan hatinya sudah menunggunya di parkiran. Bersandar di mobilnya dengan tangan dimasukkan dalam saku celananya. Tampan sekali! Dan Hanna bangga memiliki pria itu.
"Hai, My Lady. Aku merindukanmu," ucapnya dengan gerakan bibir yang sensual. Hanna tersenyum malu. Pria itu selalu bisa membuatnya tersenyum.
Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka. Bagi yang mengenal Hanna, mereka akan memanggil nama gadis itu hanya untuk sekedar menyapa.
"Ayo, kita pulang. Aku tidak ingin membagi pesona mu dengan orang lain." Hanna mengikuti langkah Davlin yang sudah menarik tangannya. Saat akan membuka pintu, Davlin membungkuk dan mengeluarkan sebuah buket bunga. Tapi yang membuat bola mata Hanna membulat, bukan karena keindahan bunga nya, karena memang tidak ada bunga.
Buket itu berisi coklat yang disusun menyerupai bunga. "Aku tahu kau tidak suka dengan bunga, jadi aku menggantikannya dengan berbagai jenis coklat yang aku jamin pasti kau suka," ucapnya mencubit pipi Hanna.
Tahu kan bagaimana saat ini perasaan Hanna? Di saat pria di luar sana menyarankan kekasih mereka untuk diet, dan menakar makanan pacar mereka dengan sayuran, salad dan buah, Davlin malah membebaskan Hanna untuk memakan apa pun yang dia suka.
"Makasih..." cicitnya terbaru. "Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu. Mungkin kalau bukan karena mu, aku akan dikeluarkan karena sudah menentang kezaliman di kampus."
"Kau terharu? jangan menangis," ucap Davlin menangkup kedua pipi gadis itu. "Air mata mu terlalu berharga untukku. Simpan itu di hari pemakaman ku!"
"Kau ini! Pokoknya aku ingin mengucapkan terima kasih," ucapnya mengehentikan kecengengannya.
"Oh, itu tidak gratis. Aku hitung, setidaknya cicilannya untuk hari ini, ciuman lima kali dan malam ini menemaniku tidur," bisik Davlin yang semakin membuat pipinya merona.
"Untuk apa?" tanya Davlin tanpa menoleh ke sebelah.
"Tentu saja melihat papa," ucap Hanna mulai mengerutkan kening. Beranggapan Davlin kenapa bersikap tidak peduli dengan keadaan papanya.
"Om Stuart udah di rumah, Sayang."
"Hah? benar?" pekik Hanna girang. Tanpa sadar mencium pipi Davlin demi ungkapan bahagianya.
"Bibir juga, dong," ucap Davlin tersenyum, tapi Hanna cuma menyambut dengan tawa saja.
***
__ADS_1
"Papa, udah pulang?" Hanna memeluk Stuart yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Iya, sayang. Ini semua berkat Davlin. Menyediakan tim medis terbaik dan juga pengobatan yang paling baik juga."
Davlin yang sedang mereka bahas sedang diajak Ema bicara di bawah. "Apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikanmu, Dav? Tante tahu biaya rumah sakit bahkan sampai mendatangkan dokter dari Singapura bukan biaya yang sedikit," ucap Ema dengan suara bergetar.
"Tante bicara apa? aku ikhlas melakukannya," sahut Davlin menggenggam tangan Ema.
"Papa mencarimu," ucap Hanna.
"Kau gak ikut?" imbuh Davlin melihat Hanna yang tidak mengikuti langkahnya.
"Papa hanya ingin bicara padamu seorang."
Sepanjang menaiki tangga, Davlin terus menebak, apa yang akan disampaikan Stuart padanya. Kalau hanya ucapan terima kasih, maka itu tidak perlu. Dia ikhlas melakukannya. Toh, dia mencintai Hanna dengan setulus hatinya. Jadi orang tua Hanna juga adalah orang tuanya.
"Om, memanggil ku?"
"Kemarilah, Dav. Aku ingin bicara dengan mu."
Davlin mengikuti perkataan pria itu. Mulai mendengarkan apa yang ingin disampaikan ayah dari orang yang dia cintai.
"Aku sangat berterima kasih padamu, untuk semua kebaikanmu, bantuanmu pada keluargaku, terlebih padaku, saat di rumah sakit tempo hari," ujar Stuart memulai kalimatnya.
"Sama-sama, Om."
"Tapi walau kau sudah berbuat banyak untuk keluargaku, tidak menjadikan kau berhak atau berbuat sesukamu pada Hanna. Aku tahu kalian sedang menjalin hubungan. Aku tidak akan melarangnya." Stuart terdiam sesaat, menatap lekat wajah Davlin yang juga tengah menatapnya tanpa rasa takut dan canggung. Rahang tegas pria itu menandakan kalau dia pria yang tidak gentar dan pastinya bertanggung jawab.
"Hanna adalah putri kesayanganku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti hatinya. Jadi jika kau tidak serius padanya, jika hanya ingin bermain-main, maka aku persilakan kau menjauhinya! Perkara utang piutang, kau total saja, aku akan membayarnya. Tidak sekaligus tentu saja, tapi kau jangan khawatir, pasti aku lunasi."
"Aku mencintai Hanna, Om. Sangat. Aku bahkan tidak akan bisa hidup tanpanya. Om tidak perlu khawatir, aku tidak akan melukainya. Aku akan mencintai dan hanya kebahagiaan yang akan aku berikan padanya." Janji seorang pria adalah ukuran dari harga dirinya. Tidak ada satupun kebohongan di sana.
__ADS_1
"Lantas, apa bukti kesungguhan mu, Davlin More?" Tantang Stuart masih ingin menguji kesungguhan ucapan Davlin.
"Aku akan menikahinya, Om!"