
Alex merasakan kekalahan pahit. Tenggorokannya tercekat, wajah Stuart jelas menggambarkan rasa penasaran, menunggu jawaban darinya. Terkutuklah Alex yang sudah menghancurkan harapan mertuanya untuk membahagiakan putrinya.
"Hanna baik-baik saja. Dia ingin aku datang untuk memberitahu kalian bahwa kamu akan mendapatkan buah hati," ucap Alex, berimprovisasi dengan cepat. Bagaimanapun, Stuart Jhonson pria yang baik, yang sangat menyayangi putri sulungnya itu. Itulah sebabnya, Alex tidak ingin membuatnya cemas dengan mengaku telah menyebabkan putrinya pergi dari sisinya gara-gara perlakuannya yang kasar. Mungkin jika bukan karena gelar dan kekuasaan Alex, Stuart pasti sudah menolaknya menjadi mantu.
"Benarkah? aku akan menjadi kakek?" pekik Stuart girang. Alex tidak ingin membuang banyak waktu, hanya mengangguk pelan pada Stuart sebagai jawaban atas pertanyaan Stuart, lalu segera pamit pergi dari sana.
Alex pulang dengan tangan kosong, kembali ke Claymore dengan perasaan hampa. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Alex keesokan harinya, Hanna tidak tinggal bersama keluarga sahabatnya, alih-alih menjadi sahabat baik Julia, dan memilih tinggal satu atas dengan William. Mengingat itu membuat amarah Alex kembali lagi.
Lalu, jika bukan dengan Julia, dimana Hanna tinggal? apa mungkin si brengsek Malory sudah menyediakan tempat untuk Hanna agar bisa leluasa memadu kasih? pemikiran itu berhasil membakar akal sehat Alex lagi.
Namun, setelah memasuki dua Minggu, Alex tidak marah lagi, tapi berganti dengan rasa cemas.
Sendirian tidur di kamar yang elegan setelah kembali ke Claymore dan mendapati istrinya telah menghilang berminggu-minggu, membuatnya seperti pria yang sudah kehilangan arah hidup.
Dengan resah, Alex bangkit dan keluar dari kamarnya yang kosong dan sepi. Kamar itu muram dan tidak tampak cantik tanpa Hanna.
Hanna sudah pergi, dan gairahnya untuk hidup juga sudah lenyap. Akhirnya satu yang disadarinya, Dialah yang menyebabkan Hanna pergi. Dia mengutuk kebodohannya. Apa yang dia dapat sekarang? kehilangan istri yan sangat dia cintai? Kemana dia harus mencari Hanna?
Dia hancur tanpa Hanna. Dia kalah pada cinta gadis itu. Satu demi satu kenangan indah yang mereka lalui muncul dalam benaknya. Tawa dan juga tangis gadis itu seperti cambuk yang berhasil melukai harga dirinya sebagai suami.
"Hanna... kemana aku harus mencarimu?" bisiknya pada angin malam yang menerpa wajahnya. Rasa rindu dibalut dengan rasa bersalah membawa Alex berjalan ke ruang pakaian dan membuka kotak kulit tempat manset kemejanya disimpan.
Ia mengeluarkan cincin delima yang diberikan Hanna dan memasangnya di jemari sehingga bisa melihat ukiran dibaliknya. Dalam ******* parau, Alex membaca dua kata yang sangat berarti itu. 'My Lord'.
Ia ragu sejenak, bimbang ingin menggunakannya atau menunggu sampai Hanna yang menyematkan di tangan Alex seperti yang dilakukan wanita itu pada malam pengantin mereka.
Dia juga ingat cara gadis itu menyematkan cincin itu, setelahnya mencium tangan Alex dan menempelkannya di pipinya. Terbakar rasa mendamba yang bergelora, Alex memutuskan untuk memakai kembali cincin itu, tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Kini Alex merasa lebih baik setelah cincin Hanna melingkar di jarinya, tempat cincin itu seharusnya berada, lalu menjulurkan kakinya yang panjang, perlahan menyesap brendi sembari menatap tempat tidur bertiang empat yang mereka tempati bersama.
Alex tahu ia harus menerima pengkhianatan Hanna sekarang, sebelum menemukan Hanna. Kalau tidak, ketika ia melihat gadis itu, amarahnya akan mengambil alih sehingga kembali menghancurkan mereka berdua.
Baiklah, Hanna telah menyerahkan diri pada pria lain, anggaplah dulu begitu. Kalau dia tidak mengungkit masalah ini lagi, maka segala sesuatu akan lebih mudah dihadapi.
Katakanlah, Hanna sudah selingkuh, dia sudah mencoba untuk menyingkirkan gadis itu, tapi tidak mampu hidup tanpanya. Dia akan mengalah. Memaafkan Hanna dan mengajaknya pulang.
Alex mendesah, menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata. Dan itu sudah berjalan dengan lama, tiba pada satu kesimpulan, dia tidak bisa hidup tanpa Hanna!
__ADS_1
Keesokannya, dengan gelisah Alex berkuda berkilo-kilo meter. Ia menunggangi kuda Hanna. Akhirnya pria itu tiba di punggung bukit tempat ia membawa Hanna pada hari pertama gadis itu datang ke Claymore. Ia duduk dan menyandarkan bahu di pohon yang sama saat ia duduk pada hari itu bersama Hanna di pangkuannya. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat. Setelah kehilangan, setelah orangnya sudah pergi dari sisi, baru menyadari kalau dirinya tidak ada artinya tanpa Hanna di sampingnya.
Alex memandang ke arah lembah tempat cahaya matahari menari-nari dan menyinari sungai lebar yang meliuk di tengah lembah.
Dengan satu lutut ditekuk, Alex dengan sambil lalu memukul-mukul sepatu botnya dengan cambuk pendek, mengenang bagaimana Hanna berkuda ke arah lembah karena takut Alex berusaha bercinta dengannya.
Ya Tuhan, itu hampir delapan bulan lalu. Delapan bulan lalu! Delapan bulan paling indah, luar biasa menyiksa dan merana dalam hidup Alex. Semua kenangan tentang Hanna membawa Alex mengurut kembali kejadian demi kejadian.
Satu keyakinan dan kesadaran muncul. "Hanna tidak mungkin mengandung anak pria lain, tepatnya dia tidak mungkin berselingkuh dengan Malory keparat itu!" gumamnya seakan kini mendapat kesadarannya. "Aku harus cari tahu!"
***
Dua jam kemudian, Alex yang mempunya janji dengan Cliffton sudah berada di depan rumah keluarga itu. Harusnya pertemuan itu sudah dilakukan berminggu-minggu lalu, tetapi karena Alex sedang tidak dalam mood yang bagus... yang lagi-lagi karena masalah istrinya yang kabur entah kemana, akhirnya baru hari inilah Alex mau datang. Itu pun, karena sekalian dia ingin bertemu dengan Malory sesudah ini.
"Your Highness," sapa dua orang gadis yang kebetulan berpapasan dengannya. Julia baru saja keluar dari rumah itu, bersama Miranda.
Alex hanya mengangguk dengan tampilan wajah kakunya.
"Papaku, telah menunggu anda, My Lord," ucap Miranda mempersilakan Alex masuk. Lagi-lagi Alex hanya mengangguk, dan bersiap berjalan memasuki mansion mewah itu, namun terhenti di langkah kedua, mengingat sesuatu muncul dalam pikirannya.
Miranda tahu betul kalau saat itu Alex hanya ingin ditinggal berdua saja dengan Julia. Lagi pula, Miranda bisa pingsan hanya dengan berada di dekat pria maskulin yang punya kharisma setinggi dewa Yunani itu. Hanya berbagi atmosfir yang sama saja sudah membuat Miranda lebih memilih untuk pingsan saja. "Aku akan masuk ke dalam lagi.." kata Miranda gugup.
Tidak jauh berbeda dengan Miranda, Julia pun sebenarnya ketakutan. Tapi dia mencoba berani, lagi pula ini adalah suami sahabatnya sendiri, tidak mungkin raja iblis ini akan mencekiknya.
"Anda ingin mengatakan sesuatu pada saya, My Lord?' Semakin cepat masalah ini berlalu semakin baik bagi kesehatan jantung Julia.
Alex berjalan, lebih ke taman samping, memilih tempat jauh dari pendengaran siapa pun. "Apakah kau bertemu dengan istriku?"
"Hanna?"
"Apakah kau pernah dengar aku memiliki istri selain dia? tentu saja!" Julia meremas sisi gaunnya. Pria itu begitu menakutkan. "Bagaimana mungkin Hanna bisa tahan dengan monster ini," batin Julia dalam hati.
"Tentu saja kami bertemu di pesta orang tua Miranda beberapa pekan lalu, My Lord."
"Selain itu?" satu alis Alex naik ke atas, memberi penekanan pada kalimatnya.
"Tidak pernah, My Lord."
__ADS_1
"Jangan bohong! Aku tahu, kau mengetahui keberadaan istrimu. Kalau sampai terjadi hal buruk pada calon anakku, maka kau, suamimu, keluargamu, dan semua sanak keluarga kalian, akan aku perintahkan untuk di buang ke Skotlandia!" salak Alex. Dia sudah putus asa, apa pun akan dia lakukan untuk menemukan Hanna. "Jangan lupa hubungan ku dengan raja Jhon!"
Julia gentar. Apa yang harus dia katakan. Dia sudah bersumpah pada Hanna, di hari sahabatnya itu datang padanya dengan bersimbah air mata. Rasa takut Julia berganti menjadi amarah demi membela sahabatnya dari pria brengsek seperti Alex.
"Jadi Anda masih menganggap itu anak Anda? yang ada dikandungan Hanna?" Julia mulai berani, walau jantungnya berdebar kencang dan tangannya keringat dingin.
"Kau berani sekali ya.. apa kau..".
"Anda ingin menghukum saya? keluarga saya? silahkan. Hanna memang lebih baik meninggalkan Anda, My Lord. Disaat dia sebegitu menderita, tersiksa batin dan juga perasaannya, Anda baru datang sekarang dan menanyakan keberadaan Hanna? mengakui anak itu sebagai anak Anda, My Lord?"
Bola mata Alex membulat. Menatap tajam wajah julia yang sudah seputih kapas. "Kenapa pikiran Anda bisa berubah? bukankah Anda menuduh anak yang dikandung Hanna adalah anak Will, suami saya?"
Alex semakin terkejut. Lebih tidak menyangka kalau selama ini Julia bahkan tahu kalau Hanna dan suaminya berhubungan. "Kau tahu mereka punya hubungan, dan kau diam saja?"
"Jelas aku tahu. Kami bertiga adalah sahabat dari kecil, tidak ada yang kamu rahasiakan." Julia kini sudah lebih tenang, bisa menguasai diri dan bahkan lebih bersemangat untuk memarahi Alex, hitung-hitung ganti Hanna memaki suaminya ini.
"Kau tahu mereka bertemu di penginapan?"
"Ya My Lord, akulah yang patut disalah atas hal itu. Aku bertengkar dengan suamiku, dan mendatangi Hanna untuk meminta pertolongannya agar berbicara dengan Will yang saat itu sudah keluar dari rumah dan tinggal di penginapan. Hanna mendatangi untuk berbicara. Aku bersumpah, mereka tidak memiliki hubungan sepertinya Anda tuduhkan."
Tubuh Alex membeku. Penjelasan Julia seperti sebuah pukulan keras yang menjatuhkannya. Menyadarkan dirinya betapa selama ini dia sudah bersikap tidak adil pada Hanna. Seolah belum cukup, Julia masih ingin memukul Alex tepat di jantungnya. "Dan mengenai surat itu, Hanna memang menuliskan untuk diberikan pada Wil di penginapan, seolah itu adalah dariku, tapi surat itu tinggal dan terpaksa Hanna harus masuk ke penginapan itu. Hanna benar-benar tidak bersalah, dia tidak mengkhianati Anda, My Lord. Bagaimana mungkin Hanna berkhianat dengan Will, sementara saya sedang mengandung anak William!"
Duar!
Meledak sudah. Alex kalah. Semua hal yang dilakukannya pada Hanna, seolah kembali menamparnya. Tidak ada yang bisa menjelaskan perasaan Alex saat ini. Dia tidak mengatakan apa pun lagi.
"Kalau Anda tanya dimana Hanna saat ini, saya benar-benar tidak tahu, My Lord," tutup Julia. Dan Alex percaya akan hal itu. Dia tidak perlu menunggu lama lagi. Dia berbalik menuju keretanya, bahkan panggilan Viscount Cliffton tidak lagi dia pedulikan.
"Ada apa dengan duke of Claymore?" tanya ayah Miranda memandangi kereta Alex yang menjauh.
"Sesuatu yang sangat mendesak harus beliau lakukan, My Lord," gumam Julia ikut menatap kereta megah itu.
****
Hai, maaf kalau bosan dan lama. Ini pasti bab yang kalian tunggu. Ayo ngaku, siapa yang langsung lega pas udah baca bab ini?😆😆😁🤭 Lunas ya hutang eike. Jangan dimarahi lagi dong author nya🙏😔😔
but anyway, jangan lupa dukung aku ya, Makasih semuanya
__ADS_1