
Ketiganya masih bersitegang dengan masalah yang sama. Julia masih memohon kesediaan Hanna untuk kembali menikah dengan Will, sementara Hanna meminta sebaliknya.
"Will, aku katakan padamu, gadis yang bisa membuatmu bahagia hanya Julia,"
"Hanna! Berhenti, aku mohon jangan teruskan ucapan mu itu!" salak Julia. Gadis itu sudah dibatas kesabaran. Rasa malu pada Will jelas terlihat di wajahnya, tapi Hanna tetap saja mengatakan dengan lantang perasaannya pada Will.
Sementara kedua gadis itu masih saling adu argumen, Will justru diam. Dia mendengar namun enggan untuk memberikan pendapatnya.
"Will, katakan sesuatu. Percayalah, aku lebih cocok jadi sahabat dari pada istrimu. Kau tidak akan mendapatkan istri yang ramah dan penurut, kau tidak akan mendapatkan istri yang melayani mu dengan baik. Berbeda kalau kau menikah dengan Julia. Percayalah, Julia adalah pilihan yang tepat, dia mencintaimu, dan jika kau pun tergoda untuk menciumnya tempo hari, artinya kau pun mencintainya," ucap Hanna panjang lebar.
Habis sudah! Julia pasrah. Wajahnya bersemu merah. Itu lah Hanna, bisa berbicara lantang, sekalipun yang dibahas adalah hal tabu dan tidak layak diperbincangkan.
"Will, tanggal pernikahan itu sudah ditetapkan. Tidak mungkin menarik undangan yang sudah disebar."
"Kau tahu mengatakan hal itu, oleh karena itu kau jangan mundur lagi, menikah lah dengan Will!" Julia kembali ke pokok awal.
"Julia, tolonglah kau mengerti. Aku tidak bisa menikah dengan Will, tapi kau bisa!"
"Apa maksud mu?" Julia semakin malu.
"Pernikahan itu tetap berlangsung, tapi bukan aku yang akan berdiri di samping Will sebagai pengantinnya, tapi kau, Julia!"
Wajah Will terangkat, menatap Hanna penuh makna. Seolah tiba-tiba saja dia tersadar dan menyetujui perkataan Hanna. Lalu pria itu menoleh pada Julia yang tidak berani mengangkat wajahnya. Terlalu malu dan tampak sangat tidak berdaya.
Dia kembali teringat pada ibunya. Wanita itu pasti akan pingsan kalau sampai diberitahukan pernikahan itu batal. Lady Kate adalah wanita baik, namun naif. Selalu mementingkan harkat dan martabat. Dia juga selalu mengukur harkat dan keberhasilan seseorang dari tenar atau tidaknya orang tersebut.
"Aku bahkan lupa memikirkan bagaimana mengatakannya pada ibuku!" serunya menegakkan tubuhnya. Wajah ibunya yang menangis karena malu, bahkan sudah bisa dia bayangkan sekarang ini.
"Justru karena itu Will, katakan pada lady Kate kalau kau akan tetap menikah, namun tidak dengan ku, tapi dengan Julia. Aku yakin ibu mu pasti senang. Tidak perlu menutupi dariku, kalau lady Kate kurang menyukaiku. Aku bahkan pernah mendengar beliau mengatakan lebih baik kau memilih Julia dari pada aku."
__ADS_1
Ucapan Hanna yang tegas tanpa canggung menampar wajah Will. Dia menatap Hanna dengan perasaan bersalah. Dia kira selama ini gadis itu tidak tahu mengenai perkataan ibunya kala itu.
"Julia, mau kah kau menikah dengan ku?"
Tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari bibir William Malory. Kalau tidak berpegangan tangan dengan Hanna, Julia pasti sudah jatuh pingsan.
Apakah pria ini tidak salah mengucapkan nama? dia pasti ingin menyebutkan nama Hanna, tapi tanpa sengaja yang keluar justru namaku!
"Julia, kenapa kau diam? ayo, jawab pertanyaan Will," ucap Hanna tersenyum gembira. Akhirnya pikiran Will terbuka juga.
"Hanna katakan padaku, kalau Will salah menyebutkan nama," ucapnya hampir menangis. Jantungnya sudah berdebar sangat kencang. Lututnya bahkan sudah lemas dan tidak sanggup menopang beban tubuhnya.
"Aku tidak salah menyebutkan nama, Julia. Aku serius ingin menikahi mu. Maafkan aku, sejujurnya, mungkin saat ini aku belum mencintaimu, tapi aku sudah menyentuh mu, aku ingin bertanggung jawab. Berilah aku kesempatan, seiring waktu aku yakin aku bisa membalas cintamu," ucap Will yakin.
Dia tidak pernah seyakin ini saat mengambil keputusan, bahkan dalam masalah pekerjaan penting sekali pun. Tapi kali ini, dorongan dalam hatinya begitu kuat untuk melamar Julia.
Hal yang sangat tidak lazim. Bahkan di Inggris, pelukan hanya ditunjukkan pada binatang peliharaan. Tapi Bagi Hanna, dia adalah gadis yang ingin menerobos tradisi masyarakat British itu!
***
Reaksi Lady Kate ternyata di luar dugaan Will. Awalnya penuh rasa takut, Will datang menghadap ibunya. Pria itu juga membawa Julia bersamanya.
"Jadi kau tidak jadi menikah dengan Miss Jhonson?" tanya Kate dingin. Wanita itu masih duduk dengan anggun di sofa menghadap kedua anak Adam dan Hawa itu.
"Benar, Bu. Aku minta maaf, tapi di menit terakhir aku menyadari bahwa Julia adalah wanita yang tepat untuk mendampingi ku, menjadi ibu bagi anak-anak ku," jawab Will tegas.
"Ibu setuju.." sambar lady Kate mengubah mimik wajahnya.
Dugaan Hanna tepat, Lady Kate tidak akan marah, justru akan merasa gembira. Will dan Julia begitu takjub melihat kemampuan Hanna dalam menganalisa reaksi ibunya. Keduanya saling berpandangan, lalu seolah diberi kode, keduanya saling melepas senyum.
__ADS_1
"Jadi, permasalahan selesai?" lanjut Lady Kate.
"Apa ibu tidak merasa kesal atau kecewa?" susul Will.
"Haruskah? aku pikir, justru melepaskan perak untuk mendapatkan mas," sahutnya tersenyum pada Julia dan menarik tangan gadis itu.
"Ini...," ucap Kate memasukan sebuah gelang ke tangan Julia. Ini adalah tanda pengikat, jangan mundur lagi," ucapnya. Perasaan Julia melambung tinggi. Dia begitu gembira disukai oleh calon mertuanya itu.
"Terima kasih, My Lady," ucapnya mengamati gelang itu.
Setelah selesai dengan lady Kate, Will mengantar Julia pulang sekaligus ingin bicara dengan orang tua Julia.
Reaksi pertama yang di Will adalah tawa meledak dari Sebastian. "Ada apa denganmu? bukan kah kau akan menikah dengan Hanna?"
"Hentikan, Tian. Hormati tuan Malory dengan niat baiknya," ucap tuan Clifford tegas.
"Aku hanya tidak habis pikir, Papa. Undangan yang diberikan keluarga Malory adalah pernikahan antara William Malory dengan Miss Hanna white Jhonson, lalu kenapa pengantin wanitanya berubah jadi Julia Clifford?"
"Aku minta maaf. Awalnya aku memang berencana menikah dengan Miss Jhonson, tapi di detik terakhir sebelum pernikahan itu, aku menyadari, kalau Julia lah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingku," ucapnya mengulang penjelasan pada keluarga Malory, alasan yang sama yang dia ucapkan pada ibunya tadi. Setidaknya hanya itu yang dia pikirkan sebagai alasan kenapa harus memilih Julia.
Tidak ada dari pasangan Clifford yang menolak. Ini seperti sebuah mimpi indah. Mendapatkan calon menantu seorang Earl ada sebuah kehormatan besar. Hanya keluarga bodoh yang akan menolaknya. Hanya saja tuan Clifford masih ragu, apakah benar Will mencintai putrinya. Selama ini sudah menjadi rahasia masyarakat Holy kalau sang Earl sangat tergila-gila pada putri sulung keluarga Jhonson.
"Bagaimana tuan, apakah lamaran ku diterima?" susul Will. Sejak tadi dia sudah tidak nyaman dengan keadaannya ini. Sebelum mendapatkan persetujuan dari keluarga Julia, dia tidak akan tenang.
Pernikahan tinggal seminggu lagi, jadi harus malam ini diputuskan, setuju atau tidak.
"Baiklah, My Lord. Kami setuju, asal kau janji akan membahagiakan putriku satu-satunya itu," ucap tuan Clifford tegas. Sehebat apa pun punya menantu Earl, bagi tuan Clifford kebahagiaan putrinya adalah yang paling utama.
"Aku berjanji, aku akan membahagiakan Julia, dan tidak akan pernah menyakiti dan mengecewakan nya."
__ADS_1