
Suasana riuh di kelas, tidak serta-merta membuat Hanna kembali bersemangat, yang ada dia justru memilih untuk tidur. Dosen jurusan rapat, hingga ada dua SKS kosong. "Kantin aja, yok?"
"Sorry, Ra. Gue malas banget," sahut Hanna kembali membenamkan wajahnya di atas meja.
Hanna bosan. Uang untuk ayahnya juga belum terkumpul, dan tenggang waktunya semakin habis. Keluarga Jhonson seolah sedang berlari dengan bom waktu.
"Mau kemana?" susul Ara yang melihat Hanna sudah menyandang tasnya.
"Pulang. Kepala gue mau pecah. Gue duluan ya," sahutnya pendek. Harusnya masih ada satu mata kuliah lagi habis ini, tapi dipaksakan pun tidak ada gunanya, dia tetap tidak akan bisa fokus, jadi lebih baik dia pergi saja dari sini.
Perlahan dan dengan menunduk, Hanna berjalan menyelusuri trotoar dekat kampusnya, menuju halte bus. Dia sendiri juga tidak tahu harus kemana membawa langkahnya. Lelah, Hanna memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di sana. Sendiri, hanya ada beberapa mahasiswa yang berjalan, melaluinya yang Hanna tebak kosan mereka ada di belakang dan sekitar kampus ini.
"Hei, lo anaknya Stuart Jhonson, kan?" hardik suara tegas di sampingnya. Lamunan Hanna terpecah dan menoleh pada si pemilik suara itu. Kaget hingga memundurkan dadanya ke belakang. Ada tiga orang, dengan tatto dimana-mana.
"Ka - kalian siapa?" memikirkan mereka bukan orang baik, Hanna mengeratkan pegangannya pada tasnya. Jalanan sepi. Jam segini memang anak-anak pasti sedang berada di kelas. Lagi pula siapa yang mau keluar di siang terik seperti ini?
"Ikut kami!" Salah satu pria tatto-an itu maju, menarik tangan Hanna hingga berdiri.
"Lepaskan! Kalian siapa? jangan macam-macam atau aku teriak!"
"Teriak aja. Silakan. Biar semua orang tahu bapakmu seorang pembohong, punya hutang tapi ingkar mengembalikan!" hardik salah satu dari yang lain. Dia pasti ketuanya, karena memakai pakaian yang lebih bersih dan rapi, bahkan pria itu memakai jas, tapi tetap saja di leher hingga batas rahang nya banyak tato.
Sesaat Hanna terdiam. Berarti mereka adalah suruhan lintah darat itu. Kenapa mendatangi Hanna sekarang? bukannya jatuh temponya masih seminggu lagi?
"Ayo.." kembali Hanna ditarik paksa. Sekuat tenaga Hanna menarik tangannya, terlepas dan mundur perlahan, lalu lari sekencang-kencangnya. Tentu saja mereka mengejar, terlalu naif untuk mengharapkan mereka akan membiarkannya pergi begitu saja.
"Balik lo, atau bokap lo kita habisi!"
__ADS_1
Hanna tidak memperdulikan ancaman mereka, dia hanya fokus untuk terus berjalan hingga jauh. Saat seperti itu, Hanna bahkan masih sempat mengagumi luasnya pekarangan kampus. Seingatnya dia sudah jauh berlari, tapi tetap saja masih melihat tembok kampusnya membatas jalan raya.
Langkah Hanna dihadang oleh sebuah motor gede berwarna merah. "Naik..."
Suara itu sepertinya pernah dia dengar, mencoba menilik wajah si pengendara motor, tapi tertutup helm penuh. "Naik, gue Kai!"
"Oh, iya."
***
"Nih, minum." Kai menyerahkan botol berisi air mineral pada Hanna. Keduanya duduk di warung yang mereka temui di jalan. Kai pun merasa bingung harus kemana, terpaksa belok memasuki gang di salah satu perumahan yang mereka lalui.
"Makasih," sahutnya malu menerima minuman itu. Bahkan begitu perhatiannya Kai sudah membuka tutup botolnya.
"Siapa mereka?" Rasa penasaran mulai muncul di hatinya. Dari penampilan mereka saja, dapat di tebak kalau mereka adalah suruhan seseorang.
"Emang berapa sih hutang bokap lo, sampe di kejar-kejar preman, gini?" Kai semakin penasaran. Tempo hari dia sudah menawarkan tabungannya untuk dipakai Hanna, tapi dengan tegas gadis itu menolak.
"Banyak. Udah, Ah. Gue mau pulang."
"Han.." Kai menarik tangan Hanna yang melintas dari dekatnya hingga langkah gadis itu terhenti. "Gue serius mau nolongin Lo. Gue memang gak punya banyak uang, tapi pakailah dulu, hitung-hitung mempermudah cari sisanya."
Hanna tidak bisa menghiraukan tatapan itu. Dia pun ingin menatap wajah pria yang begitu baik ingin menolongnya, padahal mereka baru saja kenal.
"Hutang bokap gue 700, dan saat ini, masih kurang 200 juta lagi." Tatapan lembut Kai mampu menembus pertahanannya. Sinar mata itu menegaskan kalau dia memang serius ingin membantu, tanpa ada hinaan atau memandangnya sebelah mata. Pada siapa pun dia tidak menceritakan masalah ini, tidak pada Ara, apa lagi Davlin.
Ngomong-ngomong soal Davlin, Hanna baru tersadar kalau hari ini dia tidak menghubungi Hanna sama sekali. Bahkan satu pesan pun tidak dia terima.
__ADS_1
Masih berharap? Bukan kah mereka sudah putus? Tentu saja masih berharap, mana mungkin Hanna bisa putus dari pria yang begitu dia cintai. Namun, tidak bisa dipungkiri, kalau perkataan Davlin sangat menyakiti hatinya.
Dia memang salah tidak cerita pada pria itu, tapi Hanna punya alasan sendiri. Sedari dulu, sifatnya tidak ingin membebani orang dan tidak ingin dikasihani. Hanna tahu, Davlin punya uang, mungkin juga kalau dia minta akan diberikan pria itu dengan senang hati, tapi dimana letak harga diri Hanna nantinya? dia gak mau ada omongan orang yang mengatakan kalau dia memanfaatkan statusnya sebagai pacar, demi bisa menguras uang pria itu. Jadi benalu sangat jauh dari kampusnya!
Mungkin Davlin sudah menerima kata putus ini, dan menganggap mereka kini sudah tidak punya hubungan lagi. Ada sakit di relung hatinya, menjalar hingga sesak dan susah meraup udara. Tanpa sadar Hanna meremas bagian dadanya.
"Lo baik-baik aja?"
Hanya anggukan halus yang Kai dapat. "Makasih untuk niat baik lo, gue tersentuh, tapi maaf, gue gak bisa terima. Gue percaya, akan ada jalannya, kok," tukas Hanna penuh percaya diri.
***
"Makasih udah diantarin lagi," ucapnya tersenyum tipis.
"Sama-sama."
"Mmm.. Mau langsung masuk atau singgah dulu?"
"Emang boleh?"
"Boleh apa?" Hanna mengernyitkan kening. Mereka udah kayak ikutan kuis main tebak kata.
"Singgah."
"Oh, iya boleh." Kembali senyum tipis Hanna mengembang.
"Mama, aku pulang.." teriak Hanna seperti biasa. Paras cantik Ema muncul dari arah dapur.
__ADS_1
"Eh, ada tamu? siapa, Han? pacar baru? udah putus dari Davlin?"