
"Siapa sebenarnya dia? apa anak penguasa? dia punya backingan siapa?" tanya kepala Prodi saat rapat dadakan dengan Zainal dan Edi, kepala dan sekretaris jurusan yang sama biad*pnya. Mereka sudah mulai ketakutan, kala rekaman pembicaraan Zainal dengan Hanna sudah menyebar luas di semua jurusan di kampus ini.
"Saya sudah menyelidikinya, dia bukan siapa-siapa. Ayahnya keturunan Inggris yang bekerja sebagai kolektor barang-barang antik dan menjualnya kembali. Dia tidak punya power, hanya ada dua bersaudara, dan adik nya juga kuliah di sini," terang Zainal.
"Kalau begitu kita bisa menekannya. Meminta dia menarik kembali pernyataan, dan mengatakan kalau semua itu karangannya akibat sakit hati tidak terpilih beasiswa dan membenci teman-temannya yang mendapatkan beasiswa itu. Kalau dia tidak mau, kita ancam akan mempersulit dirinya tamat dari kampus ini dan begitu juga dengan adiknya!" sambar Edi memberi saran.
Botol, si Kaprodi hanya manggut-manggut setuju. "Baiklah. Kalian selesaikan dengan baik. Aku tidak mau aliran dana beasiswa dari PT. Excellent itu sampai diketahui oleh petinggi kampus masuk ke kantong kita," ujar Botol.
"Bapak tenang saja. Berita ini tidak akan sampai ke luar kampus, apa lagi sampai tahu awak media," imbuh Edi, si penjilat.
"Tapi kemarin saya sudah dipanggil rektor untuk menghadap. Saya hanya bilang belum mendengar dan akan segera mengusut," lanjut
Dari Senat dan juga BEM sudah meminta pertanggungjawaban berupa klarifikasi dari kepala prodi, tapi belum juga mendapat. Para petinggi mahasiswa itu mengancam akan menaikkan masalah ini ke Pembantu Dekan bahkan akan melapor ke rektor. Kepala prodi yang notabene adalah ipar Zainal mencoba melindungi perbuatan busuk Zainal dengan mengatakan anak menyelidiki kasus ini.
Banyak yang memberikan dukungan pada Hanna. Mahasiswi yang dulu pernah mengalami pelecahan seksual oleh orang-orang yang katanya berpendidikan itu, satu persatu muncul memberi suara dan pernyataan siap menjadi saksi.
Siang itu, Hanna yang mengikuti kuliah kemampuan interpersonal, diminta untuk menghadap kepala prodi bahasa dan sastra di kantornya.
Sejujurnya, nyali Hanna sedikit ciut. Selain banyak yang memberi dukungan, ada juga dari beberapa mahasiswa menyarankan agar dia mundur saja, karena perjuangannya akan sia-sia yang ada dia akan dipersulit lulus dari kampus itu.
Namun, hati kecil Hanna masih ingin berjuang. Kalau bukan sekarang dihentikan, para bandot tua itu pasti akan merajalela dan akan semakin banyak korban dikemudian hari lagi.
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Masuk!" suara tegas dari dalam yang memerintahkannya untuk masuk, sudah menjadi pertanda kalau dia akan mengalami masalah besar. Tapi sekuat tenaga, dia menguatkan hatinya. Tidak menunjukkan perasaan gentarnya.
"Selamat siang, Bapak memanggil saya?" tanya Hanna memasuki ruangan besar dan mewah itu. Di sana sudah ada dua orang lainnya yang menanti kedatangannya.
Botol menekan satu tombol di pesawat telepon, meminta seseorang datang ke ruangan itu yang sepertinya adalah sekretarisnya. "Geledah gadis itu!" perintahnya menunjuk Hanna dengan gerakan bibirnya.
Hanna ingin menolak, namun akhirnya dia mengalah. Wanita itu memeriksa kantong dan juga isi pakaiannya, setelah selesai dia pun berlalu.
"Sorry, untuk situasi yang kurang menyenangkan ini, tapi ini semua demi kenyamanan kita bersama. Saya tidak bisa membiarkan kejadian seperti tempo hari akan terulang lagi di sin," ujar Botol merujuk dirinya yang sudah dengan cerdiknya merekam pembicaraan mereka tempo hari yang kini jadi bumerang bagi mereka.
Dagu terangkat ke atas, Hanna tidak ingin menunjukkan dirinya yang ketakutan karena sikap mengintimidasi oleh ketiga pria dalam ruangan itu.
"Maksud bapak? saya mengatakan kebohongan? saya tidak mau!" tegas Hanna.
"Sebaiknya kau pikirkan matang-matang. Adik mu juga kuliah di sini kan?" Edi, kepala jurusan maju. Dia seolah sudah menunggu kapan melontar kalimat yang menjadi bagiannya.
Hanna terpojok, dia ingin marah sekali. Ingin menonjok wajah ketiga orang tua itu. Apa mereka sudah tidak punya hati? bagaimana kalau putri mereka yang mengalami hal yang sama dengan Hanna saat ini?
"Pikirkan lebih dulu, kami tunggu hingga lusa." Botol menutup pertemuan itu. Hanna menatap satu persatu wajah ketiga siluman serigala itu yang tersenyum licik padanya. Zainal bahkan mendekatinya seraya berbisik "Kamu salah telah berurusan dengan saya!"
__ADS_1
Sekuat tenaga, Hanna meremas jeansnya. Amarahnya sudah berkobar. Kalau hanya dirinya yang dihancurkan cecunguk iblis ini tidak jadi soal, ini mereka sudah menyeret Cathy.
***
"Ada apa? kenapa wajahmu murung?" tanya Davlin yang melihat gadis nya hanya memutar sendok di atas piring makanannya, tanpa berniat menyantapnya walau satu gigitan. Ini sebuah rekor bagi Hanna. Biasanya dia tidak tahan kalau melihat makanan, apa lagi ini dimsum!
Davlin menjemput gadis itu di kampus. Ia sudah tiba di sana setengah jam sebelum Hanna keluar mengikuti mata kuliah terakhirnya hari itu.
"Aku tidak berselera. Dav, bisa kah kita pulang?"
"Tidak. Aku tahu saat ini kau ada masalah. Bisakah kau menganggap mu bagian dari dirimu? ada apa? cerita padaku?" Davlin sudah meletakkan sendok nya, memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Hanna yang duduk di sampingnya.
"Maaf, tapi kepala ku sakit. Aku tidak mau membebani mu dengan masalah ku." Hanna menunduk. Dia benar-benar tidak tahu harus apa. Dia merasa sayapnya yang baru akan dia kembangkan menumpas kekejian di kampusnya kini sudah dipatahkan bahkan sebelum dia terbang.
"Hei..look at me!" Davlin menangkup dagu Hanan, memaksa gadis itu untuk mengangkat wajahnya dan mereka saling adu pandang. "Katakan padaku, jangan berjalan sendiri. Aku tahu kau adalah gadis hebat ku, tapi ada kalanya kau butuh tangan orang lain untuk menemanimu berjalan," ucap Davlin. Tepat saat itu juga air mata Hanna menetes di kedua pipinya.
Dengan jari telunjuknya, Davlin menghapus air mata itu. "Jangan menangis. Aku tidak mengizinkanmu menangis!"
"Aku mengikuti pengajuan mendapatkan beasiswa, ada salah satu donatur baru, sepertinya bukan BUMN, tapi perusahaan swasta, yang tahun ini menyediakan beasiswa bagi mahasiswa di kampus ku. Dan jurusan ku mendapat kuota untuk 20 orang. Aku sudah melengkapi berkas, bahkan sudah membuat karya ilmiah dan penelitian kecil, syarat dan ketentuan juga sudah aku lengkapi. Aku sangat yakin dari jurusan kami, terlebih angkatan ku, aku pasti dapat. Ternyata aku salah...,"
Untuk kesekian kalinya, Hanna menunduk. Dia begitu frustrasi. Ingin maju tapi wajah Cathy yang saat ini begitu bangga menjadi mahasiswa di kampus mereka membuat Hanna tidak sampai hati.
__ADS_1
Davlin mendengarkan dengan seksama. Sepertinya dia sudah mendapatkan titik terang akan permasalahan yang kini tengah dihadapi kekasih hatinya itu. "Apa beasiswa yang kau maksudkan itu dari PT Excellent?"