
Mau tidak mau, Hanna harus menghabiskan minuman keras yang sudah dituang Kevin ke gelasnya. Sedikit saja menyentuh minuman itu di lidahnya, Hanna sudah bisa merasa rasa tidak enak yang menguap masuk ke dalam hidungnya.
"Teguk saja, Han. Nanti juga kau akan suka," tukas Kevin tertawa begitu pun karyawan yang lain. Tatapan Davlin penuh amarah. Ingin menarik tangan Hanna untuk segera pulang bersamanya, tapi itu hanya sebatas ada dalam pikirannya.
Dengan menutup hidung, Hanna menenggak isi gelas kristal ceper itu sekali teguk.
"Uek..," pekiknya menjulurkan lidahnya yang terasa seperti terbakar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aril memegang pundak nya, dan kembali sorot mata tidak suka terlihat pada wajah Davlin. Aril tentu saja tidak peduli!
Putaran berikutnya, Aril yang kena. Dia memilih jujur. "Pertanyaannya..." kali ini Stefani, sahabat dekatnya Sari yang membuat pertanyaan. "Apakah gadis yang kau sukai ada di sini?"
Aril melirik ke arah Hanna yang tengah menunduk. Kepalanya terasa berat, padahal hanya satu gelas minuman yang dia tenggak. Lama Aril menatap Hanna, mungkin ini saatnya dia mengatakan yang sebenarnya, tentang perasaannya di hadapan semua orang.
"Benar. Ada seorang gadis yang aku sukai di sini. Dia adalah Hanna," ucap Aril terus terang yang mendapatkan tepukan riuh dari karyawan lain.
Wajah Sari memerah. Dia pikir namanya lah yang akan disebutkan oleh Aril. Pertanyaannya itu sengaja dia siapkan untuk Aril, meminta pertolongan pada Stefani untuk mewakilinya bertanya pada Aril.
Kalau ditanya apa yang gadis itu inginkan, Sari ingin sekali menampar wajah polos Hanna karena merebut perhatian Aril darinya.
Setali tiga uang dengan Sari yang ingin menghajar orang, Davlin malah ingin mencekik leher Aril karena sudah berani memproklamirkan perasaan pada Hanna dihadapan banyak orang.
Putaran berikutnya, permainan di ubah, kalau ujung botol di ubah, maka dia harus minum satu teguk minuman beralkohol itu. Sialnya, Hanna mendapatkan giliran yang paling banyak.
Kepalanya kian terasa berat, hingga tidak bisa mendengarkan apa pun yang dikatakan orang lain lagi. Aril sudah menawarkan untuk menggantikannya minum, tapi karyawan lain tidak setuju dan menganggap itu tidak fair. "Sudah lah, aku akan meminumnya," sahut Hanna menengahi perdebatan mereka.
Davlin yang melihat keadaan Hanna sudah tidak tahan lagi, cukup sudah! Pria itu bangkit, lalu menarik tangan Hanna agar berdiri dari duduknya.
"Kalian lanjutkan, aku akan mengantarkannya pulang!"
__ADS_1
Tidak ada yang berani menjawab, semua diam. Hanya Iris yang menatap aneh pada Davlin. Tatapan penuh tanya yang dia ingin segera mendapatkan penjelasan.
"Lepaskan!" Hanna menyentak tangannya. Tidak sudi dipegang pria itu. Terus berjalan ke raja luar restoran dengan langkah sempoyongan.
"Mobilnya di sana." Tunjuk Davlin tapi gadis itu tetap pergi ke lain arah.
"Dasar gadis bodoh!"
Mendengar dia dikatai bodoh, Hanna menghentikan langkahnya, berdiri tegak dan menatap Davlin penuh kebencian.
"Kau benar, aku memang bodoh! Harusnya aku tidak mempercayai iblis seperti mu! Dasar brengsek!" umpat Hanna tiba-tiba membungkuk dan segera memuntahkan semua isi perutnya. Minuman yang tadi dibabatnya juga keluar semua.
"Benar-benar bodoh. Kau tidak bisa minum, tapi mau dibodohi mereka!" Seru Davlin yang tahu ini semua siasat Sari dan teman-temannya.
"Berhenti mengatakan aku bodoh. Satu-satunya kebodohan yang aku lakukan adalah mempercayaimu, kalau kau memang mencintai ku!" teriaknya di kegelapan malam. Setelah ya tubuhnya roboh, beruntung Davlin sigap dan menggendongnya ke dalam mobil.
Mereka telah tiba di depan rumah Hanna. Tampak gelap di ruang tamu seperti biasa. "Bangun, kita sudah sampai," bisik Davlin mengelus pipi Hanna yang lembut. Kepala gadis itu yang bersandar tegak, seolah menantang Davlin untuk menciumnya.
"Aku dimana?" Hanna menoleh ke samping, dia bisa mengenai wajah itu. Air matanya merebak. Bahkan di saat hatinya tengah terluka, mengapa dia masih melihat wajah pria yang sudah menjadi penyebab luka itu?"
Bergegas gadis itu membuka sabuk pengamannya. Ingin segera mendorong pintu, namun, tangan Davlin menahan. "Aku bisa jelaskan semuanya," ucapnya lembut. Biasanya ini akan berhasil saat pertengkaran mereka waktu lalu, tapi tidak untuk kali ini.
"Lepaskan!"
"Dengarkan aku dulu. Aku tahu, aku salah. Aku harusnya menceritakan tentang Iris, tapi jujur saat bersama mu, aku tidak mengingat siapa pun selain dirimu, dan aku punya alasan untuk... au.." Davlin menghapus tangannya yang tadi digigit Hanna. Menggunakan cara itu untuk bisa lepas dari Davlin.
Tidak ada yang bisa pria itu lakukan, selain melihat Hanna masuk ke dalam rumah.
Beruntung, orang tuanya sudah tidur, jadi Hanna tidak perlu menjelaskan keadaannya yang mabuk saat ini. Kamar mandi menjadi tempat pertama yang dia tuju setelah tiba di kamar. Menghidupkan shower dan menangis dibawahnya. Mengingat semua yang sudah dia lalui dengan Davlin, semua sudah berakhir tinggal kenangan.
__ADS_1
Satu jam Hanna berendam, tidak peduli jika habis ini dia akan masuk angin dan bisa jadi demam. Matanya sudah semakin sembab karena menangis terlalu lama. "Jangan menangis lagi, bodoh. Lupakan dia!" ucapnya pada dirinya melalui pantulan cermin. Benda yang terselip diantara kotak perhiasannya menarik perhatian Hanna. Ditariknya dan menghela nafas panjang. Novel itu yang mengenalkannya pada Alex, tapi itu hanya khayalannya, kembali menyelipkan novel itu ditempatnya semula.
***
Hanna terbangun pukul enam pagi, dia pikir dia sudah kembali ke dunia novel karena dia ingat, saat dia terlempar ke sana, dia juga tengah patah hati pada Nicholas.
Dia ingin sekali tidak masuk hari ini, tapi pasti akan dapat pertanyaan dari orang tuanya. Hanna membuka layar ponselnya, melihat kalender yang ada di sana, dan menghitung berapa lama lagi dia akan bekerja sebelum kembali kuliah. Ingin rasanya segera berhenti, tapi sayang, nanti gajinya tidak penuh dia terima.
"Pagi ma, pa, Cat," sapa nya mengambil kursi ditempatnya biasa duduk, di samping papanya.
"Pagi, Sayang. Wajahmu tampak kusut, apa kau sakit?" tanya Stuart menatap putrinya.
"Aku baik-baik saja papa. Percaya. Hanya tidur kemalaman, hingga mataku jadi bengkak," sahutnya beralibi.
"Han, mama dan papa hari ini akan ke Surabaya. Kau tidak apa-apa kan kami tinggal?" tanya Ema meletakkan nasi goreng di atas meja.
"Ke Surabaya? kerumah Om Mettew? aku ikut ya, Ma?" pinta nya berubah bersemangat. Om Mettew adalah adik sepupu papanya yang sangat baik pada Hanna.
"Ga bisa dong, kau kan kerja. Sudah, jadi anak yang baik, mama dan papa cuma tiga hari kok,"
"Baik lah, kita bisa saling jaga, Cat," sahutnya.
"Sorry, Kak. Aku juga ikut. Aku mau liburan, penat dengan ujian nasional selama beberapa hari ini."
"Jadi aku ditinggal sendiri, nih?"
"Baik-baik di rumah ya, Han!" tegas Ema yang tidak bisa dinego lagi.
***
__ADS_1
Hai, mampir ya kak