
Tubuh Hanna yang kini sudah dibaringkan di ranjang terasa hancur, menyatu dengan Davlin yang memuja tubuhnya. Wanita muda itu sudah tersesat dan kehilangan arah. Tangannya meremas seprai, tak lama menahan rasa geli kala Davlin sedang bermain-main dengan perut ratanya. Mencium, menjilat bahkan pria itu berhasil membakarnya dengan menghisap kulit perutnya.
Dia semakin terseret arus, jantungnya berdetak kencang dan dadanya yang sudah polos naik turun seiring kecupan dan hisapan pria itu. Davlin kembali naik, ******* bibir gadis itu semakin dalam. Menyeruak masuk, memainkan lidahnya hingga ke dasar langit-langit mulutnya.
"Sayang, aku sudah tidak tahan, bolehkah aku meminta yang satu itu? aku ingin memiliki mu seutuhnya. Walau aku sadar kita tidak pantas melakukannya." Bisik Davlin menatap wajah Hanna. Penerangan dalam kamar itu hanya mengharapkan cahaya dari lampu balkon dan juga lampu kamar mandi.
"Aku ingin sekali menjadi milikmu. Aku juga ingin menyerahkan padamu, tapi.. tapi aku ingin kita melakukannya setelah menikah nanti. Tapi kalau memang kau menginginkannya, aku siap. Aku ikhlas memberikannya padamu," ucap Hanna menatap pada netra pria itu. Sorot mata itu cukup untuk menggambarkan betapa Davlin sudah sangat terbakar gairah.
Satu senyum melengkung di bibir Davlin. Menyatukan kening mereka hingga nafas keduanya saling beradu. "Maafkan aku sayang, harusnya aku tidak meminta hal itu. Maafkan aku. Kita akan melakukannya saat kau sudah sah menjadi istriku. Dan sampai hari itu datang, aku akan sabar menunggu. Aku mohon jangan berpikir kalau cintaku padamu hanya berlandaskan nafsu. Aku tulus mencintaimu," ucap Davlin mencium bibir itu sekali lagi.
Davlin membantu Hanna mencari pakaiannya yang tadi sempat dia lempar. Beruntung hanya atasan yang dia buka, kalau sempat celananya ikut dibuka, Davlin tidak yakin pertahanannya akan bisa membentenginya.
"Sini aku bantu," ucapnya menghadap punggung mulus gadis itu. Menggantikan jemari Hanna yang ingin mengaitkan tali b*a nya. Hanya dengan begitu saja jantung hanya kembali bertalu. Kulitnya terbakar saat Davlin mengecup punggungnya, tepat didekat pengaitnya. "Sudah."
"Terima kasih. Kau pandai membuka dan memasang pengait B*a, ya?" ucap Hanna tersenyum, memakai kembali piyamanya.
Davlin hanya tersenyum. Dia tahu kalau gadis itu sedang menyentil masa lalu Davlin. Ini suatu keajaiban dalam hidup pria itu. Bisa melewati malam dengan seorang gadis yang hampir dikuasai namun akhirnya tidak jadi. Gadis itu masih bisa mempertahankan kegadisannya dari singa kelaparan seperti Davlin.
"Sayang, kau tidur di sini aja, ya? aku janji, tidak akan ada yang terjadi. Kau sangat berharga bagiku, aku tidak akan merusak mu, tidak akan menyentuh yang satu ini sampai kau memberi izin," bisiknya memeluk Hanna yang sudah selesai berpakaian lengan dari belakang.
"Hah? nanti kalau papa tahu gimana?"
__ADS_1
"Gak akan tahu. Kau sudah mengunci pintu kamar mu, kan?" ucapnya mulai mengendus leher Hanna. Aroma wangi tubuhnya gadis itu begitu disukainya. Sangat sensual menusuk Indra penciumannya hingga mengirimkan gelegar halus dalam tubuhnya.
"Nanti ada yang gak tahan."
"Janji tahan, kok."
"Janji gak akan grepek-grepek?"
"Mmm... iya janji, tapi kalau cium boleh, ya?" ucap Davlin tersenyum malu, dan sialnya senyum itu begitu manis, membuat wajahnya semakin tampan dan parahnya, Hanna ingin mencium pria itu. Dan keinginannya yang terakhir itu dia laksanakan.
Kali ini tanpa ada rasa malu lagi. Toh, cinta mereka suci, tidak ada yang perlu dimalukan. Hanna menarik tengkuk Davlin, melingkarkan tangannya di leher pria itu, dan mulai menyapukan bibirnya. Dia ketagihan, dan ada rasa bangga di hatinya, karena bisa memiliki pria arogan ini. Dan satu hal yang membuat perasaan Hanna memuncah, Davlin, pria arogan yang tidak mengenal kata penolakan, justru bisa menahan dirinya, menahan hasratnya untuk meminta milik Hanna yang paling berharga.
Malam semakin larut, keduanya menyatu di bawah satu selimut. Saling berpelukan dan memberi kehangatan satu dengan yang lain. Hanna tertidur di dada Davlin, dengan tangan pria itu melingkar di perutnya.
Perjanjiannya adalah Hanna setuju tinggal, dan mereka menyetel alarm pukul enam pagi, karena takut pelayan Davlin yang pulang pergi akan melihat Hanna saat merangkak kembali. Tapi entah siapa yang mematikan alarm itu, hingga pukul tujuh keduanya belum bangun juga.
Sinar mentari begitu terang masuk dalam kamar, membuat silau pandangan Hanna yang baru mencoba membuka mata.
Melihat hari telah pagi, bahkan sangat terang, dia tersadar kalau sudah kesiangan. Ada kuliah pagi hari ini. Saat dia hendak bergerak untuk duduk, tangan besar menahan perutnya. Dahi gadis itu berkerut, lalu pandangannya menyapu sekeliling.
"Astaga, ini bukan kamar ku! Ke dunia mana lagi aku datang?" pekiknya menutup mulutnya.
__ADS_1
Tunggu dulu, ini.. semua yang ada di kamar ini sepertinya aku kenal. Ini kan di kamar..
Hanna menyingkapkan bedcover yang menutupi tubuhnya nya tadi dan melihat sesosok wajah tampan yang masih tertidur pulas. "Oh, Tuhan, aku ingat. Tadi malam aku menyelinap ke kamar Davlin. Bagaimana ini? bukannya alarm sudah di set pukul enam? kenapa gak bunyi dan ini sudah pukul tujuh? Astaga, kuliah Miss Larni!" pekiknya tertahan.
"Bangun, Dav..." Hanna menggoyangkan tubuhnya pria itu. Dia harus membantu Hanna kembali ke kamarnya tanpa diketahui siapa pun, apalagi ayahnya!
"Bangun, Dav. Kalau gak aku nangis, nih!" ucapnya panik. Dia belum mandi, dan harus kuliah pagi, tapi untuk kembali ke kamarnya pun dia tidak tahu caranya.
"Ada apa sayang?" ujar Davlin menarik perut Hanna untuk kembali tidur bersamanya. Kesal karena belum sadar, Hanna mencubit perut pria itu.
"Au.. sakit, Yang!"
"Rasain! Siapa suruh masih tidur. Bangun, aku harus segera kembali ke kamar. Aku harus segera mandi, ada kuliah pagi hari ini. Lagi pula, mama pasti udah dari tadi bangunin aku karena belum turun dari kamar." Wajah Hanna sudah memerah, matanya mulai sembab dan pasti sebentar lagi akan menangis.
Davlin tidak ingin bercanda lagi. Dia lemah akan air mata gadis itu, jadi segera menyibak selimutnya dan mulai berjalan ke arah balkon. Suasana jalan masih sepi. Belum ada orang, jadi aman untuk Hanna memanjat ke samping.
"Ayo, sayang. Aku bantu," Davlin menarik tangan Hanna menuntun keluar balkon. Tangga yang dia gunakan tadi malam masih ada si sana. Hanna bersiap untuk mulai menaiki ke atas namun, buru-buru turun lagi karena melihat papanya yang baru kembali dari lari paginya.
Hanna jongkok, bersandar di dinding balkon. "Papa, gimana, dong?" ujarnya panik. Hanna tidak mau papanya mengetahui kelakukan nya ini hingga membuat pria itu kecewa padanya. Selama ini Hanna lah yang menjadi putri kebanggaannya.
"Sudah masuk, Sayang. Ayo, kita coba lagi," ucap Davlin penuh kelembutan.
__ADS_1
Hanna mulai merangkak, dan berhasil naik. Setelah kakinya mendarat di lantai balkon rumahnya, baru lah Hanna bisa tenang.
"Aku gak akan mau nginap di tempatmu lagi!" ucapnya membuang muka dari Davlin dan berlalu masuk.