
"Hai, kau pasti Hanna," tegur sebuah suara pria dari arah belakang Hanna dan Tari yang berjalan beriringan menuju kantin kantor. Mereka harus bergegas kalau tidak mau kehabisan. Ini sudah telat 15 menit dari jam istirahat, pasti karyawan sudah memadati kantin itu.
Kedua gadis itu berbalik, lalu Hanna yang merasa tidak mengenal pria itu memicingkan mata. "Aku Aril, kakaknya Ara," ucap pria itu seolah tahu kebingungan dalam hati Hanna. Detik berlalu, bola mata Hanna membulat, seiring wajahnya berubah ceria.
"Bang Aril. Iya, aku Hanna. Makasih ya, udah bantuin aku diterima kerja di sini," sahutnya menjabat tangan Aril.
"Gue duluan ya, Han. Mari, Pak," ucap Tari berlalu pergi.
"Kau mau makan siang? bareng?" Hanna hanya mengangguk lembut. Ara memang cantik, tapi Hanna tidak menyangka kalau abang sahabatnya itu setampan Joe Taslim.
Hanna yang periang dan suka cerita membuat mereka jadi cepat akrab. Aril bahkan tertawa terbahak kala Hanna menceritakan hal lucu yang dia alami saat mulai bekerja.
Begitulah kau sudah bertemu dengan orang yang nyaman, membuat waktu tidak terasa bergulir. Jam makan siang usah begitu pun hidangan di atas meja mereka. Beberapa karyawan juga sudah kembali bekerja hanya ada beberapa yang masih menunggu menghabiskan minuman mereka.
"Kita c'mon?" ucap Aril dan hanya diangguk Hanna. "Makasih udah ditraktir," sahut Hanna tersenyum.
Pembicaraan yang menyisipkan tawa pun berlanjut sembari mereka berjalan. Baru akan memasuki pintu sayap kiri, Davlin dan harus yang baru kembali dari makan siang menatap sini ke arah Hanna dan Aril.
Davlin sejenak melirik arah asal mereka tadi. "Sebelah sana tempat apa?"
"Itu kantin kantor. Astaga, jangan bilang lo ga tahu di kantor ini ada kantin untuk karyawan makan siang?" tanya Haris menggelengkan kepala. Terus mengikuti langkah bosnya itu. Hanna dan Aril sudah masuk lebih dulu ke dalam lift dan reflek Davlin mengejar hingga bisa masuk ke dalam.
Untuk persekian detik keduanya sempat saling tatap, lalu Hanna mengalah dengan membuang pandangan ke tempat lain. Hanna dan Aris yang ada di baris belakang, terus mendengarkan cerita Haris. Namun, jantung Hanna sudah bergemuruh bertemu tiba-tiba dengan Davlin. Ini adalah kali pertama pertemuan mereka setelah Hanna kerja di sana.
"Hai, Hanna. Aku tidak melihat mu tadi," sapa Haris.
"Eh, iya, Pak"
"Selamat siang pak Davlin, pak Haris," sapa Aril tersenyum hormat. Dan wajah Davlin yang tanpa reaksi atas sapaan tulus Aril membuat Hanna ingin sekali menjitak kepala pria itu. Benar-benar buka pemimpin yang layak jadi panutan.
"Siang, Ril." Untungnya Haris masih membalas hingga masih bisa menyelamatkan wajah Aril di depan Hanna.
__ADS_1
"Kalian saling kenal? makan siang bersama?" tanya Haris yang lebih banyak berbicara dalam lift itu.
"Iya, Pak. Hanna kebetulan teman kuliah adik saya," jelasnya. Hening seketika. Hanna Hanna bisa menunduk, berharap dalam hati pintu lift akan segera terbuka.
"Oh... jadi kau mahasiswa? gak kuliah?" tanya Haris sok akrab.
"Saya cuti, Pak."
Ting!
Lantai tiga. Hanna memilih untuk turun walau sebenarnya tujuannya adalah lantai empat. Lebih baik turun di lantai ini, agar jantungnya bisa aman. Begitu pintu terbuka, Hanna memiringkan tubuhnya untuk bisa keluar dari sana, namun karena gugupnya, justru menginjak kaki Davlin.
"So- sorry, Pak. Saya gak sengaja," ucapnya menatap takut pada Davlin.
Geeertttt...Hanna bahkan masih bisa mendengar gigi gemeretak milik Davlin. "Kamu punya mata, gak?"
"Maaf, Pak. Saya benar-benar gak sengaja."
"Kau gak papa, Han?" tanya Aril memegang tangan gadis itu agar mampu berdiri tegak.
Aril memutuskan untuk membantu. Mereka keluar dan hingga pintu lift tertutup, Davlin masih menatap punggung mereka dengan penuh amarah.
"Gila, gue aja belum sempat ngedeketin Hanna, udah ada aja si Aril," umpat Haris. "Eh, bukannya dia pacaran sama Sari, sekretaris, Lo?"
"Dav," ulangnya saat sahabatnya tidak menyahut.
"Berisik, Lo! Itu bukan urusan gue!"
***
Ojek yang mengantar Hanna hampir saja masuk parit karena oleng setelah mendapatkan klakson dari mobil Tesla merah dari belakang, pertanda agar motor itu menyingkir. Hanna menatap geram ke arah mobil itu, yang tidak lama berhenti di rumah tetangganya. Siapa lagi pengendaranya kalau bukan Davlin si bos sombong, pangeran kegelapan!
__ADS_1
"Makasih, Pak." Hanna menyerahkan uang 25 ribu. Gadis itu masih di sana hingga bapak ojek itu pergi, pun pengendara mobil itu masih tetap berada di dalam, tidak keluar dari sana. Hanna mendengus menatap ke arah mobil lalu masuk ke rumah.
***
Kaki gadis itu masih terasa sakit, namun dia tidak punya pilihan lain selain tetap masuk kerja. Ema sudah memanggil tukang urut kemarin, namun tetap saja Hanna belum bisa berjalan baik.
Kali kedua Hanna melirik jam tangannya, pesanan ojeknya belum juga muncul hingga dia memutuskan untuk berjalan lebih ke depan. Setelah lima menit berjalan terseok, sebuah mobil yang berjalan lambat berhenti di sampingnya. Hanna yang mencari sosok bapak ojeknya tidak terlalu memperhatikan ke samping, hingga membuat pengemudi mobil mewah itu membunyikan klakson dengan nyaringnya.
"Auuu...," pekik Hanna kaget. Jantungnya hampir copot mendengar suara yang memekakkan telinga. Dia menoleh dan mendapati wajah sangar Davlin duduk di belakang kemudi.
"Heh?" Hanna merendahkan tubuhnya agar bisa melihat wajah pria tampan penguasa hatinya itu, mungkin ada yang ingin pria itu sampaikan padanya.
"Masuk, Lo!"
"Hah?" Hanna menajamkan pendengarannya. Tidak ingin salah tanggap apalagi salah menjawab, bisa berabe.
"Gue bilang, lo masuk! Udah jam berapa ini? mau jam berapa lo sampe kantor? Lo pikir itu kantor nenek moyang Lo?" hardik Davlin dingin.
Kadang Hanna tidak habis pikir, kenapa pria setampan itu bisa memiliki bibir berbisa yang setiap detik bisa menyemburkan bisa nya untuk menyakiti orang.
"Lo punya telinga, kan? gue bilang masuk!"
"Ke mobil?"
"Menurut, Lo?"
"Eh. Tapi..." Hanna tidak jadi meneruskan ucapannya, segera bergerak dengan perlahan membuka pintu belakang.
"Lo pikir gue sopir? duduk di depan!"
Tidak berani mendebat, Hanna memilih mengikuti perkataan pria itu. Hal itu pasti lebih baik untuk dirinya. Hanna bahkan belum sempat memasang sabuk pengamannya, pria bengis itu sudah melajukan mobil secepat yang dia mau. Beruntung Hanna berhasil walau masih sempat kesusahan.
__ADS_1
"Ingat, lo jangan bilang ke siapa pun di kantor, kalau gue kasih tumpangan. Lo juga jangan berpikir macam-macam karena gue ngasih tebengan sama lo. Gue cuma gak ingin menggaji karyawan dengan penuh yang datang terlambat!"
Hanna hanya bisa diam. Meremas jemarinya karena perasaannya bercampur aduk. Dia ingin sekali memukul wajah Davlin saat ini. Pria yang tidak punya hati itu pantas untuk menerimanya. Siapa tahu dengan begitu kesadarannya akan kembali mengingat Hanna.