My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 72 (MCL)


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" terdengar suara dari dalam yang memerintahkannya masuk. Hanna penuh percaya diri masuk ke dalam membawa nampan di tangannya.


"Han...," desis Haris tertahan, terkejut Hanna lah yang membawa minuman untuk mereka. Padahal Haris sudah sengaja menyuruh orang lain untuk mengantarkan minuman mereka.


"Permisi pak, saya ini minumannya," ujar Hanna santai. Sedikit pun tidak tampak kegugupan walau hatinya saat ini menjerit pilu. Dengan tenang, Hanna meletakkan satu persatu gelas itu. "Silakan diminum, Pak, Nona."


Walau tidak melihat pun, Hanna tahu Davlin sedang mengamatinya, dan demi memuaskan rasa sakit hatinya, khayalan Hanna membayangkan dirinya tengah menyiram kopi panas itu ke wajah tampan Davlin, agar buaya itu tahu rasanya sakit!


"Aku suka riasan mu," celetuk Iris tiba-tiba. Hanna hanya melirik sekilas demi kesopanan, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Nona."


"Aku yakin, banyak pria yang menyukai mu," lanjutnya tampak menyukai Hanna.


"Tidak semua berjalan lancar, Nona. Bahkan ada buaya busuk yang sudah mempermainkan perasaan saya. Dan anda tahu, aku ingin sekali mencekiknya dan merebus tubuhnya di wajan masak mamaku," ujarnya melirik ke arah Davlin dengan ekor matanya.


"Pastinya dia tidak memiliki rasa yang benar. Kalau sampai melepaskan wanita secantik mu, dia pasti pria bodoh," ujar Iris membesarkan hati gadis itu. Hanna menjadi merasa bersalah, karena luka di hatinya, dia menjadi menilai buruk terhadap gadis itu.


"Terima kasih," gumam Hanna tersenyum. Sekarang harus bagaimana? Kalau tadi Iris adalah gadis yang jahat, Hanna pasti rela untuk berdebat. Tapi ini dia gadis yang sangat baik hati. Sama halnya dengan dia, mungkin saja Iris juga merupakan korban.


Berlandaskan pikiran itu, Hanna tidak bisa membenci wanita itu. 100 persen, Davlin lah yang bersalah. "Aku menyukaimu. Nanti malam, aku mengadakan jamuan atas kepulangan ku ke sini, kau harus ikut bersama kami," pinta Iris serius.


"Baik lah, Nona." Hanna tersenyum, lalu pamit undur diri.


Hati Hanna hancur. Dia bisa melihat bagaimana kedekatan gadis itu dengan Davlin. "Dasar brengsek!" umpat Hanna mengepal tinju.


"Aku antar pulang," pinta Aril. Hanna menolak, dia tidak ingin pria itu berpikiran kalau saat bermasalah dengan Davlin, dia baru berpaling pada pria itu. Hanna sudah cukup dikecewakan, dia tidak ingin menjadi orang yang mengecewakan orang lain.


Davlin yang baru keluar dari kantor melihat Hanna yang tengah bicara dengan Aril. Ingin sekali rasanya dia memukul pria itu karena berani memegang tangan Hanna, tapi dia tahu saat ini posisinya sedang tidak pas untuk marah.


Merasa ada yang melihat ke arah nya, Hanna menoleh dan saat itu lah mereka saling adu pandang. Sumpah demi apapun, tatapan tajam Hanna sanggup menghujam hati pria itu yang paling dalam.

__ADS_1


"Ayo, Sayang." Iris yang baru tiba di halaman parkir karena baru dari toilet lantas menggandeng tangan Davlin, menuju mobil.


"Hanna, kita berangkat bersama, yuk," ucapnya mendekat ke arah Hanna, memastikan gadis itu tidak akan menolak tawarannya.


"Gimana ya, Nona."


"Panggil aku Iris. Ayolah, aku menyukai mu. Lagi pula akan banyak juga karyawan yang akan hadir di sana. Davlin terlalu berlebihan, menyewa satu restoran hanya untuk mengadakan perayaan penyambutan kedatangan ku," ujarnya menoleh pada Davlin yang mengirim kecupan lewat udara.


Hanna ingin muntah melihat tingkah berlebihan Iris, tapi itu haknya. "Kami akan datang bersama, Bu," sambar Aril dan diangguk Iris.


Beberapa karyawan yang dipilih juga tampaknya menghadiri undangan itu. Mereka tampak antusias dan sangat bersemangat.


"Kita pergi. Jangan tunjukkan kelemahan mu dengan menghindari undangan itu," ujar Aril.


"Tapi masa aku pakai seragam OB gini, Bang?" Hanna memperhatikan beberapa karyawan wanita yang sudah berganti pakaian kerja. Susi kepala OB tampak nya juga di undang, karena dia melihat wanita itu pergi dengan rombongan Sari.


"Sebentar, Bang." Hanna berlari ke arah Tari yang baru keluar dari gedung kantor.


"Kemana? pestanya Iris? ogah gue."


"Terus, aku gimana, dong. Gak punya teman di sana nanti." Bagiamana pun, kehadiran Tari di sana pasti bisa membangun kepercayaan dirinya.


"Lo pergi aja. Noh, ada pak Aril. Lo manfaat kan. Buat si Raja setan cemburu!" saran Tari.


"Gak mau, ah. Kasihan bang Aril dimanfaatkan." Gadis itu menolak ide tidak berperasaan dari Tari. Dia tidak mau bermain api.


"Ya, terserah. Kalau gue jadi Lo, ini kesempatan buat balas dendam. Udah, yang Gue cabut!"


"Kita berangkat?" tanya Aril yang dengan mantap diangguk Hanna.


"Iris adalah kekasih Davlin kurang lebih satu tahun ini. Gadis itu enam bulan lalu pergi ke Italia mengejar ambisinya jadi model." Tanpa disuruh, Aril menceritakan siapa Iris. Hanna yang merasa tertarik mengunci mulutnya, dan menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"Tapi email yang beredar dari pak Haris hari ini menjelaskan, klien yang bekerja sama dengan PT HolyWings, mengutus putrinya yang kebetulan adalah Iris Touppe menjadi wakil kerja sama, mengawasi proyek kerja sama itu. Artinya bersiaplah untuk lebih sering melihatnya," ucap Aril diakhir ceritanya.


***


Semua karyawan yang diundang ada sekitar 30 orang termasuk Haris, Davlin dan juga Iris. Mereka melingkar di sebuah meja panjang duduk berhadapan. Suasana riuh dan karyawan yang berusaha menjilat pada Iris terlihat jelas di matanya.


"Udah kelar makan, gimana kalau kita mengadakan permainan?" Sari membuka pembicaraan. Usulnya tampak disambut gembira oleh yang lain.


"Jadi permainannya adalah jujur, atau pun berani. Nanti botol ini akan akan menunjukkan siapa yang mendapat tantangan, kalau jujur, maka harus menjawab pertanyaan dengan sejujurnya tapi kalau berani, menerima tantangan dari yang lain."


"Setuju... " jawab semuanya tampak kompak.


Permainan di mulai. Putaran pertama ditujukan pada Sari. Gadis itu memilih berani, yang artinya siap menerima tantangan dari yang lain. Bisa ditebak, gadis itu berhasil.


Lalu putaran kedua ada Johan, kepala personalia, dia memilih Jujur kali ini.


"Aku yang akan melempar pertanyaannya," sambar Sari. "Pak Johan, pernahkan kau selingkuh dari istri mu?"


Tentu saja pak kepala personalia harus menjaga wibawanya, dengan memilih untuk tidak menjawab yang akhirnya dihukum dengan meminum wine, Vodka atau pun bir.


Putaran ketiga, jatuh pada Hanna. Gadis itu memilih untuk jujur. Lagi-lagi Sari yang memberikan pertanyaan. Bagi gadis tengil itu, ini adalah kesempatan untuk membalaskan dendamnya pada Hanna.


"Hanna Jhonson, apakah kau menyukai pria yang ada di sini?" semua diam. Tentu saja ini adalah pertanyaan jebakan. Wajah Hanna memerah, tubuhnya berubah kaku. Rahang Davlin mengeras, ingin rasanya memukul Sari. Kemungkinan untuk memecat gadis itu tampaknya harus segera direalisasikan.


"Aku.. aku..."


"Kau tidak mau menjawab, maka harus di hukum, minum!" sambar Haris ingin menyelamatkan Davlin.


***


Hai kak mampir ya

__ADS_1



__ADS_2