My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 37 (MCL)


__ADS_3

Kedatangan Hanna disambut gembira oleh kedua orang tua dan juga adiknya, Catherine. Terlebih Ema, senyum wanita itu tidak henti-hentinya berkembang di wajah kala Hanna memberikan kantong uang dan sejumlah hadiah dari lady Abigail untuk mereka.


"Wow, kalung emas, buat aku?" tanya Catherine takjub. Itu hadiah terindah sepanjang hidupnya yang dia terima.


Hanya Stuart yang bersikap biasanya saja menerima berbagai hadiah yang juga dia dapatkan.


Masih merasakan penat akibat perjalanannya, Hanna pamit ke kamarnya. Meninggalkan hiruk pikuk di bawah oleh suara ibu dan adiknya.


"Akhirnya nona kembali," sambut Mery setelah sampai di kamarnya.


"Apa kau merindukanku?" Hanna mengedipkan sebelah matanya. Merasa sedikit berharga karena kepulangannya dinantikan.


"Oh, sangat. Kalau tidak mengingat batasan, aku pasti sudah menghambur ke pelukan mu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Hanna tidak tahan melihat wajah Mery yang tampak ingin menangis hingga terlebih dahulu mendekat dan memeluk gadis itu. "Dasar gadis bodoh, kau dan aku sahabat. Kau bahkan satu-satunya orang yang paling aku percaya, jadi jangan ada sungkan diantara kita," ucap Hanna mengelus punggung Mery.

__ADS_1


***


Kabar kepulangan Hanna juga sudah sampai di telinga William. Bergegas pria itu datang menemuinya pagi itu. "Kau sudah pulang, tapi tidak mengabari ku?" protes pria itu saat sudah berhadapan dengan Hanna.


"Maafkan aku. Aku pikir kita masih punya banyak waktu untuk bertemu. Lagi pula, hari ini aku sedang tidak enak badan, mungkin karena baru menempuh perjalanan jauh," ujarnya tersenyum lemah.


Will akan menyambut ucapan Hanna, tapi terhenti kala Mery masuk membawakan minuman untuk pria itu. Setelah pelayan itu pergi, barulah Will kembali mengatakan kalimatnya yang sempat tertunda.


"Hanna, aku sudah mengatakan pada ibuku perihal pernikahan kita. Dan dia sudah setuju kita menikah bulan depan," ucap Will penuh semangat. Senyumnya menghiasi wajah tampannya dan dada naik turun seiring adrenalin yang terpompa. Bagi Will bisa mengatakan hal itu pada Hanna adalah sesuatu yang sangat hebat, akhirnya impiannya untuk menikahi gadis itu tercapai.


"Be- benarkah? baik sekali Lady Kate," sahut Hanna merasa kaget hingga mengeluarkan tanggapan aneh seperti itu. Seolah bukan pernikahannya yang sedang mereka bahas.


"Hah?Oh.. tentu saja.. ya, aku gembira," sahutnya terbata, dengan tampang semakin tampak bodoh.


"Dan kau tahu, selama kau di London, aku sudah menyiapkan cincin pernikahan kita. Besok, ibuku akan datang untuk melamar mu," pekik Will gembira. Dia berharap reaksi Hanna lebih dari sekedar senyum kikuk seperti itu.

__ADS_1


***


Apa yang dikatakan Will ternyata bukan pepesan kosong. Dia benar-benar datang keesokan harinya bersama Lady Kate untuk melamar Hanna.


Bisa ditebak, Ema pasti menyambut gembira lamaran itu. Bayangan bisa mengendorkan sedikit korsetnya membuatnya tersenyum.


"Silahkan masuk, My Lady," sambut Ema yang hari ini memakai pakaian hadiah dari lady Abigail.


"Terima kasih sudah mau menerima kedatangan kami," jawab Lady Kate tersenyum, memilih duduk di dekat jendela. Matanya menatap liar pada seisi ruangan itu, berharap ada yang bisa dia temukan guna menarik perhatiannya.


Sudah jadi rahasia umum di Holy Ville kalau keluarga Jhonson sudah bangkrut, tidak ada yang tersisa selain nama baik dan juga darah bangsawan mereka.


"Jadi, seperti yang sudah disampaikan Will padaku, kami ke sini untuk melamar putri sulung keluarga Jhonson, Lady Hanna White Jhonson," ucap Lady Kate to the points.


"Kami sangat senang dan merasa terhormat dengan niat keluarga Malory terhadap putri kami," sahut Stuart masih menunjukkan wibawanya. Awalnya dia juga merasa kalau Hanna memang menyukai Will, dan jika memang mereka sudah memutuskan untuk menikah, maka dia sebagai ayah, pasti menyetujui.

__ADS_1


"Kalau begitu kita sudah sepakat, acaranya akan kita adakan bulan depan, Minggu pertama," ucap Kate.


"Bulan depan? bukankah terlalu cepat?" tanya Ema kaget. Apa pun belum dipersiapkan. Wanita itu takut tidak terkejar hingga pesta pernikahan itu tidak sempurna.


__ADS_2