
"Dih! Apaan sih, senyum-senyum? ganjen banget," ucap Hanna melempar senyum pada adiknya. Dia ikut gembira karena Cathy kini punya seseorang yang mencintai dia dengan tulus.
"Kak, menurut kakak, Jimmy cowok yang baik gak, Kak?"
"Dia baik. Dan dia adalah jodohmu!"
Mata Cathy terbelalak, mendengar perkataan kakaknya. Dia bahkan berdiri dan duduk bersila di atas tempat tidur. "Kakak kok yakin begitu?" Cathy semakin bersemangat. Dia memang sudah jatuh cinta pada Jimmy. Bahkan kemarin, Jimmy juga ikut membelikan Cathy cincin, dan mengatakan ingin melamarnya.
"Yakin lah. Percaya aja!" Lanjut Hanna. Dia ingat kisah mereka yang sempat dibacanya di novel. Walau dalam novel belum sempat hingga bagian pernikahan Catherine dan James, tapi dengan hadirnya Jimmy di sini, itu sudah cukup meyakinkan Hanna kalau mereka berjodoh.
"Udah ah, aku mau ke kampus." Hanna berjalan, meninggalkan kamar. Hari ini dia hanya memiliki dua mata kuliah.
***
"Wajah lo kusut amat, ada apa?"
"Ra, lo datang ya, minggu depan gue nikah!"
Ara hampir saja menjatuhkan gelas teh manis yang ada di genggamannya. "Apa kata, Lo? nikah? becanda lo ya!"
"Gue serius. Gue memang mau nikah."
"Sama siapa? gue gak tahu lo udah punya pacar," ucap Ara menggeser piring dan gelas yang ada di hadapannya. Rasa laparnya hilang. Berita ini lebih penting dari apa pun, bahkan rasa laparnya.
"Ya, sama calon suami gue lah." Hanna terkikik melihat mimik wajah Ara.
"Dih. Gue tahu. Maksud gue, siapa pria itu? lo dijual bokap lo ya?"
Hanna menarik hidung Ara. Gemas dan pasti akan merindukan gadis itu. Pikirannya mengenai wanita yang sudah berumah tangga, pasti akan menjalani hidup yang sangat membosankan.
Pagi memberangkatkan suami, siang hingga sore mengurus rumah, suami pulang harus melayani suami makan malam, lalu setelahnya tidur karena kelelahan. Begitu terus berulang setiap harinya.
Hanna ingin menangis. Dia belum siap menjalani hari-hari kelabu seperti itu. Walau Davlin sudah janji dia boleh kuliah dan mengejar cita-citanya, tapi Hanna ragu, pria itu akan menepati janjinya.
"Jawab gue dong, Lo nikah sama siapa?" susul Ara masih penasaran. Tidak salah memang, soalnya selain dengan Nicho, Ara tidak tahu kalau sahabatnya itu punya kekasih lain. "Atau... jangan bilang, lo bakal nikah dengan Kai?" Ara tersentak. Wajah penasaran berubah menjadi pucat, ketakutan jelas bisa dibaca Hanna.
__ADS_1
"Kagak. Gue gak nikah dengan Kai.."
"Siapa yang mau gue nikahi?" timpal suara pria dari belakang mereka. Bahkan sudah menarik kursi di hadapan Hanna dan duduk dengan penuh senyuman.
"Lo udah tahu kalau dia bakal nikah?" tanya Ara menatap tajam Kai. Dia ingin lihat reaksi pria itu, kalau memang bukan Kai yang akan jadi calon mempelai pria, barulah Ara bisa tenang.
"Nikah? Hanna nikah?" tanyanya menatap Ara, tapi buru-buru mengalihkan pandangan pada Hanna. "Benar, Han?"
"Iya, Kai. Kalian datang, ya," ucapnya lemas, namun, masih berusaha menampilkan senyum cantiknya.
Kai diam. Wajahnya sama dengan Ara tadi, terkejut, tapi ini lebih ke rasa sedih mendengar berita itu. Terlambat sudah kah?
"Kenapa lo buru-buru nikah? kuliah lo?" cercal Kai. Dibawah meja, dia sudah mengepal tangannya, jelas dia sudah terlambat.
Gue juga gak pengen buru-buru, gue masih pengen kuliah, pengen cari kerja, mewujudkan impian gue. Tapi mau gimana lagi?" Tanpa sadar Hanna membuka beban hatinya.
"Lo nikah dengan siapa, sih? Kalau lo gak suka menikah, kenapa gak lo tolak?" tanya Kai penuh semangat. sepertinya masih ada kesempatan. Jalannya tidak sepenuhnya tertutup.
"Sama pacar gue, cowok tetangga gue itu," ucap Hanna pelan. Menunduk memandangi jus jeruknya yang es batunya sudah mulai mencair.
"Lo hamil?" Ara yang sejak tadi diam, kini ikut bicara. Sepertinya, masalah sahabatnya ini sedikit pelik.
***
Besok Hanna akan menikah. Dia sah jadi istri Davlin. Harusnya dia gembira, bukankah dia sangat mencintai pria itu? Tapi kenapa ada sesak di dadanya.
Layar ponsel yang menyala menyita perhatian Hanna yang sejak tadi memandang rinai hujan di luar jendela. "Sayang, aku rindu."
Sebaris kalimat yang hanya dipandanginya. Dia harus jawab apa? dia juga rindu pada pria itu, tapi malas untuk bertemu, Terlebih setelah mengingat penyebab mereka dipaksa menikah.
Pesan yang tidak berbalas, membuat Davlin menghubungi. Tidak ada alasan bagi Hanna untuk menghindar lagi.
"Lagi apa? kenapa tidak membalas pesan ku?" suara di seberang sana tampak menuntut.
"Tadi ke toilet," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Masih jutek aja calon istriku. Aku kan udah minta maaf. Semua ini aku lakukan karena gak mau kehilanganmu, Han," jawab Davlin penuh sabar. Dua Minggu bukan waktu yang sebentar bagi Davlin didiami, bahkan gadis itu menghindar dari nya.
"Iya, aku paham." Hanna juga kini sudah tidak terlalu kesal. Kegelisahannya muncul karena memikirkan cita-citanya yang nanti akan kandas.
"Aku mencintaimu,"
"Aku juga," balas Hanna tersenyum. Kalimat itu terdengar tulus, dan hal itu bisa dengan cepat mengembalikan moodnya.
Sudahlah tidak ada yang harus dikhawatirkan. Semua akan baik-baik saja. Baru akan meletakkan ponselnya, satu pesan masuk.
Kai.
'Kalau kau tidak ingin menikah, maka jangan lakukan. Ikut aku, kita pergi dari sini!'
***
Hari yang dinanti tiba. Hanna sudah dirias dan begitu memukau. Bidadari yang turun ke bumi, ucap Ema menjuluki putrinya. Mendengar pujian itu, Hanna hanya tersenyum.
Acara berlangsung hikmat. Tidak putusnya, Davlin menatap Hanna yang kini sudah sah menjadi istrinya. Duduk di pelaminan, menerima ucapan selamat dari semua tamu undangan.
Kecantikan Hanna memang membuat banyak orang memuji Davlin. Terutama saat memberi selamat, teman-temannya pasti memuji Davlin yang pintar memilih istri.
Semua orang tampak gembira. Acara yang digelar banyak dihadiri oleh rekan bisnis Davlin, pihak rumah sakit yang diundang Reta dan beberapa teman papanya.
"Apa kau bahagia?" bisik Davlin.
"Iya, aku bahagia," jawab Hanna memandang mata Davlin. Lalu mengalihkan pandangannya pada kerumunan tamu.
"Kenapa aku menebak kau tidak terlalu bahagia?"
"Aku bahagia, sangat.." ucapnya memegang pipi Davlin penuh kasih. Sejak pria itu mengucapkan janji suci atas dirinya, bersedia menjaga dan memberikan kebahagiaan padanya, segala keraguan dan kesedihan nya kini sirna. Dia terima pernikahan ini dengan ikhlas.
Rentetan acara masih berlangsung, tapi wajah Davlin sudah sangat lelah mengembangkan senyum dan menerima ucapan selamat dari orang-orang.
Tujuannya cuma satu, dia ingin membawa istrinya segera pergi dari sana, dan menguasai seorang diri.
__ADS_1
"Aku terkejut, kau memilih menikah! Apakah ini hanya kedok untuk mengelabui ibumu seperti dulu lagi?" ucap Seorang wanita yang datang ke pelaminan untuk memberi selamat bersama dua orang wanita lainnya yang menatap sinis ke arah Hanna.
**Dukung novel aku terus ya