My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 102 ( MCL)


__ADS_3

Glek!


Berat Hanna menelan salivanya. Dipandanginya seragam yang harus dia kenakan itu. Masih sempat terpikir untuk pergi saja, masih belum terlambat, tapi kembali wajah ayahnya terbayang, hingga Hanna memantapkan hatinya untuk segera mengganti pakaiannya.


Sore itu belum terlalu ramai. Tugasnya hanya mengantarkan minuman pada pelanggan. "Kau belum bisa aku percayai menemani pelanggan, takut kau akan buat masalah, jadi untuk permulaan, kau hanya akan menyajikan minuman," ucap bang Roy, penanggung jawab di klub itu.


"Kenapa roknya pendek sekali?" cicitnya yang masih dapat di dengar salah satu teman seprofesinya, yang dipanggil Sinta.


"Ya gak mungkin kalau pakai baju kaftan, Han. Sudah, santai saja. Dulu pertama kali nyoba juga aku kayak begitu, risih, dan tidak nyaman. Sebulan berlalu, udah nyaman aja. Malah kalau pakai yang ketutup panjang, malah gak nyaman," jawab Sinta cekikikan.


Waktu berjalan, pelanggan semakin banyak yang berdatangan. Hanna semakin gugup. Semoga saja riasannya bisa menyamarkan wajahnya saat bekerja dari orang-orang yang kemari dan kebetulan mengenalnya.


"Noh, ruangan 15, Lo antar minuman. Dia itu bos besar, pengusaha besar di kota ini. Kalau lo bisa ngambil hatinya, dia gak segan-segan ngasih lo tips gede," ucap Dinda, salah satu karyawan yang sama dengannya.


Hanna hanya mengangguk. Dia hanya ingin bekerja dengan benar, terima gaji dan setelahnya, keluar dari sini. Saat dia masuk, ruangan itu hanya disinari lampu kelap-kelip beraneka warna. Berusaha menenangkan debar jantungnya, Hanna mulai masuk, menyeret langkahnya mendekat ke meja.


"Kau orang baru?" suara pria itu tampak tegas, menyapa Hanna dengan menoleh ke arahnya.


"Benar.. pak.."


"Jangan pak. Panggil Om aja atau mas." ucapnya tersenyum. Meletakkan satu tangannya di pundak Hanna, dan sedikit meraba kulitnya di sana.


"Maaf, ini minumannya. Saya permisi dulu, Om."


"Sini dulu," Pria itu menarik tangan Hanna yang sudah bangkit dan bersiap pergi, hingga tidak sengaja jatuh terduduk ke pangkuannya.


"Lepaskan, saya, Om. Saya cuma bekerja sebagai pengantar minuman," pekik Hanna mulai gelisah. Tangannya sudah berkeringat, menolak wajah pria itu yang terus saja menyosor ke leher Hanna. Biasanya Hanna tidak takut pada pria mana pun, tapi kali ini dia sangat takut. Biasa saja dia memukul pria itu, tapi pasti akan mendatangkan masalah, sementara dia masih membutuhkan pekerjaan ini.


Pria tua itu semakin tidak tahu diri, dengan santainya tangan kanannya kini meremas salah satu payud*ranya.

__ADS_1


Panik akan intimidasi dan pelecehan yang dia dapat, Hanna mengambil botol, dan segera memukulkan pada kepala bandot tua itu.


Seketika si pria hidung belang mengadu kesakitan. Dari keningnya mengucur tetesan darah segar. Hanna panik, mundur dengan perlahan, lalu berlari keluar.


"Ada apa?" kenapa kau panik? tanya Roy yang ada di depan pintu keluar, tengah menyambut kedatangan pelanggannya yang lain.


"Maafkan aku, Bang. Aku gak bisa kerja di sini lagi. Abang bilang tugasku hanya mengantar minuman, tapi om genit yang ada di ruangan itu sudah melecehkan aku," pekiknya sambil berurai air mata. Roy pun tidak kalah paniknya. Dia tahu siapa yang Hanna maksud, salah satu pelanggan VIP nya yang punya pengaruh besar di kota ini.


"Lantas kau apakan?"


"Maaf, Bang.. Aku.. "


Belum sempat menjelaskan, dua orang pengawal pria itu datang mencari Hanna. Tepat melihat gadis itu, tanpa buang waktu menyergap tangannya.


"Wanita ini sudah mencelakai bos Tora. Sini kau, dasar jal*ng!" pekik salah satu pengawal itu.


Satu pengawal lainnya bahkan sudah menjambak rambut Hanna, bersiap menyeret kembali ke dalam. "Dasar pela*cur, kau pikir bisa kabur dengan mudah!"


Wajah Hanna siap menjadi landasan tangannya, jika saja seorang pria tidak datang tepat waktu. Pria itu menendang pinggang pria itu hingga mengadu kesakitan dan melepaskan rambut Hanna. "Siapa lo? jangan ikut campur! lo gak tahu siapa bos Tora?"


"Gue gak peduli siapa bos lo, yang gue tahu, lo gak boleh memperlakukan wanita seperti itu. Ayo, bangun," ucapnya menarik Hanna untuk bangkit. Sakit di kepalanya masih terasa bekas jambak dari si pengawal, tapi Hanna masih bisa mengenali di detik itu, siapa pria yang sudah menolongnya ini.


"Ayo, pergi dari sini!" Pria itu bahkan sudah menarik tangan Hanna, diikuti kejaran dari anak buah Tora.


Tidak mungkin sampai dengan selamat hingga parkiran, pria itu memilih untuk menghadang mereka lebih dulu. Baru kali ini Hanna menyaksikan aksi pukul di depan matanya. Dua lawan satu, tapi pria yang menolongnya itu masih bisa bertahan, bahkan bisa di bilang sebagai pemenang.


Kini kedua pengawal Tora sudah tergeletak di tanah. "Ayo, kita pergi dari sini," ucap pria itu, mengulurkan tangannya. Hanna sigap menerimanya dan segera pergi dari sana. "Pakai ini," pria itu memberikan jaket nya pada Hanna, menutupi tubuhnya yang terekspos jelas.


"Terima kasih," jawabnya malu. Entah siapa pria ini, tapi yang jelas sudah dua kali dia menolong Hanna.

__ADS_1


"Ini." Kali ini dia menyodorkan helm pada Hanna.


Tanpa menyebutkan arah yang akan mereka tuju, keduanya berkendara membelah jalanan malam itu. Malam Minggu yang penuh hirup pikuk, dan kemacetan.


Motor itu berhenti di depan pedagang sate keliling, tepat di samping gerobaknya. "Kita makan dulu, ya, aku lapar."


Hanna menurut. Turun dengan susah payah dari motor sport tinggi pria itu. Rasa segan terbuang, karena memang dia harus memegang pundak pria itu untuk dapat turun.


"Aku Kai, siapa namamu?"


"Aku Hanna. Kau tidak mengingatku? kita sudah pernah bertemu. Kau sudah dua kali menolongku," sahut Hanna bersemangat. Dia yakin, kalau pria ini adalah pria baik.


"Oh, ya? dimana?"


"Di bus kemarin. Waktu ada yang mau copet isi tas ku," terang Hanna.


Dua piring sate tersaji di kursi yang dijadikan meja yang ada di hadapan mereka sementara mereka duduk di pinggiran pembatas jalan.


Satu jam bercerita, Hanna memutuskan kalau Kai adalah pria baik dan sangat menyenangkan. Banyak cerita seru dari pria itu tentang kehidupan malam di klub itu.


"Kau ngapain ke sana? eh, maaf. Harusnya aku tidak bertanya," ucap Hanna buru-buru meralat kalimatnya. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan pribadi pria itu.


"Aku ke sana mengantar teman ku yang juga kebetulan bekerja di sana."


"Teman? wanita?" Lagi-lagi Hanna mengutuk lidahnya yang selalu berucap tanpa menjilat terlebih dahulu.


"Bukan, dia keamanan. Kau sendiri, kenapa bekerja di sana? aku belum pernah melihatmu ada di sana sebelumnya," Kai menghentikan tangannya yang ingin menyuap satu sendok lontong, tapi tidak jadi dan malah menoleh ke arah Hanna.


"Ceritanya panjang. Terlalu naif jika aku bilang aku terpaksa, tapi nyatanya, memang aku tidak punya pilihan lain."

__ADS_1


__ADS_2