My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 124 (MCL)


__ADS_3

Takut berat tubuhnya akan meremukkan Hanna, Alex memeluk gadis yang kini sudah tidak gadis itu, dan berbaring menyamping, membawa wanita itu bersamanya. Berbaring di sana, dengan Hanna dalam pelukan, dan tubuh mereka yang masih menyatu.


Alex merasakan kebahagiaan yang memuaskan, kedamaian indah, berbeda dari semua yang pernah diketahuinya.


Ia setengah berharap Hanna tertidur dalam pelukannya, tetapi setelah beberapa saat, Hanna mendongak dan mengarahkan mata hijaunya ke mata Alex.


Alex menyapukan sejumput rambut dari pipi Hanna. "Apakah kau bahagia, sayang?"


Hanna tersenyum, senyum puas dan bahagia dari wanita yang mencintai.. dan yang tahu dirinya dicintai. "Ya," bisiknya.


Alex mengecup kening Hanna dan wanita itu meringkuk lebih dekat ke tubuh Alex, sementara Alex membelai punggung dan pinggul indah Hanna, menunggu wanita itu terlelap. Hanna hanya terdiam, membelai dada Alex, tetapi sepertinya tidak ingin tidur. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alex akhirnya.


Hanna menatap Alex, lalu membenamkan wajah di dada pria itu. " Tidak ada," gumamnya tidak meyakinkan.


Alex mengangkat dagu Hanna, memaksa wanita itu menatapnya. Alex tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Hanna, tetapi setelah menyingkirkan penghalang terakhir di antara mereka, karena tidak ingin ada penghalang di antara mereka. "Apa?" desak Alex lembut.


Hanna menggigit bibir karena malu geli, lalu mengaku, "Aku sedang berpikir jika keadaannya seperti ini, dan terasa sangat nikmat, aku pasti sudah sejak awal memaksamu untuk melakukannya dan menuntut agar kau secepatnya menikahiku!"


Hanna terlihat cantik sampah Alex ingin tertawa atau mencium wanita ini. Jadi Alex melakukan keduanya. Rasanya bagai di surga, memeluk Hanna seperti ini, bisa berbicara pada wanita itu dalam kegelapan, dan merasakan lengan telanj*ng Hanna merangkulnya.


Ketika menunduk menatap Hanna beberapa saat kemudian dan mendapati wanita itu masih terjaga, menatap perapian, Alex bertanya, "Apakah kau ingin tidur?"


"Ku rasa aku tidak bisa tidur. Aku tidak mengantuk."


"Bagus, aku juga." Alex tersenyum lebar. "Apakah kau bisa menyalakan tiga lilin di meja di sampingmu?"


"Keinginanmu adalah perintah bagiku," jawab istri Alex yang 'Penurut' seraya menyangga tubuh dengan siku dan mencium bibir Alex, tetapi sebelum berbalik untuk menyalakan lilin, Hanna menarik selimut ke atas dengan hati-hati.

__ADS_1


Bibir Alex melengkung tertawa ketika Hanna dengan tersipu mencengangkan selimut itu di dadanya yang indah, yang sesaat lalu dibelai dan dicium Alex.


Pria itu menumpukkan bantal sehingga mereka bisa duduk bersandar di sana, lalu pria itu bersandar dan menyenangkan diri dengan memandangi Hanna.


Ketika Hanna berbalik setelah menyalakan lilin dan melihat Alex menatapnya, wanita itu dengan tersipu merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan jemari dan mengguncangnya dengan kuat sampai tergerai di punggung. "Madam," Alex menyapa sambil tersenyum geli, "Kau sangat cantik en dishabille, kalau selimut yang coba kau kenakan itu membuat mu tampak modis dalam gaya setengah telanj*ang.


"Ku rasa tidak," ujar Hanna. Aku ingin segera memakai pakaianku, tapi kau tidak mengizinkannya, My Lord!" ucap Hanna sedikit menarik sudut bibirnya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya saat ini.


Kebiasaan yang terjadi di masyarakat Eropa saat ini, seorang pria berstatus suami pun sudah biasa memiliki seorang simpanan.


Semua orang tahu Alex pernah memiliki wanita simpanan, dan pria yang sudah menikah juga sering memiliki wanita simpanan. Hanna sedih memikirkan Alex akan melakukan hal yang baru saja dilakukan pria itu padanya, dengan wanita lain.


Berkat keberanian akibat cemas dan malu karena bersikap lancang, Hanna berkata ragu, "Alex, kurasa aku akan sulit berpura-pura tidak menyadari... tidak menerima... menerima.."


"Menerima apa?" bisik Alex, dengan bibir menempel di pelipis Hanna.


Kepala Alex tersentak. Sejenak ia menatap kosong ke arah Hanna, lalu memeluk wanita itu dan tertawa. Tetapi karena Alex tahu Hanna benar-benar tertekan, pria itu menjaga ekspresinya tetap serius, seperti yang sesuai dengan penolakan seumur hidup yang akan diputuskan.


Kemudian seraya menatap mata indah Hanna, Alex berkata dengan lembut dan bersungguh-sungguh. "Aku tidak akan mencari wanita simpanan."


"Terima kasih," bisik Hanna. "Kurasa aku akan menentang keras hal itu."


"Aku yakin begitu," kata Alex, berusaha menjaga ekspresinya tetap datar.


Beberapa menit kemudian, Alex teringat pada kotak beledu yang disimpan di nakas. Dengan enggan, ia melepaskan pelukannya di bahu Hanna, lalu menjelaskan. "Aku punya hadiah untukmu."


Hanna teringat ia juga memiliki hadiah untuk Alex, lalu ia turun dari tempat tidur memamerkan kaki jenjangnya dan tubuh mulusnya. "Aku meminta Mery menyimpan hadiahmu di kamarku," Hanna menjelaskan seraya berjalan menjauh dari tempat tidur.

__ADS_1


Alex bersukaria menatap tubuh Hanna yang telan*jang ketika wanita itu menyadari tatapan Alex, buru-buru Hanna berlari meraih jubah tidur berendanya.


Alex memberikan kalung bertakhta zamrud persegi, masing-masing dikelilingi deretan berlian berkilau dan gelang serta anting-anting senada "Cocok untuk seorang duchess," bisik Alex dan mencium sang istri.


Hanna tertawa sambil menyerahkan hadiah untuk Alex. "Cocok untuk seorang duke," ujar Hanna seraya duduk di samping Alex dengan kaki dilipat di bawah tubuh, mengamati Alex membuka hadiah. Alex membuka tutup kotak, lalu mendongak dan tertawa keras melihat kacamata indah yang terbuat dari emas, yang diberikan Hanna padanya. Dengan nada yang sama seperti yang digunakannya saat pesta debutnya kala itu. " Quizzing glass merupakan lambang kebangsawanan yang tidak bisa dihilangkan," ucap Hanna lalu mengulurkan tangan ke belakang dan mengeluarkan hadiah lain dalam kotak beledu kecil.


Ketika menyerahkannya kepada Alex, tawa Hanna memudar dan ekspresinya berubah.


Alex menatap Hanna beberapa saat sebelum membuka kotak itu, bertanya-tanya kenapa Hanna terlihat malu. Dengan penasaran, Alex membuka tutup kotak dan menatap batu delima indah yang terdapat pada cincin emas yang berat. Alex mengeluarkan cincin itu dari bantal beledu, benda itu berkilau di bawah keremangan cahaya.


Alex mendekatkan cincin itu ke lilin untuk mengaguminya. Lalu ia hendak bertanya pada Hanna dengan sentimentil apakah Hanna ingin menyematkan cincin itu di jarinya, seperti Alex telah menyematkan cincin kawin Hanna di jari wanita itu. Tetapi Alex melihat ukiran kecil di bagian dalam cincin tersebut. Ada dua kata yang ditulis dengan indah, kata pertama digarisbawahi. 'My Lord.'


Alex mengerang dan menarik Hanna , dengan nyaris kasar, ke dadanya. "Ya Tuhan, aku sangat mencintaimu!" bisik Alex parau sementara bibirnya menangkup bibir Hanna.


Ketika ciuman berakhir, Hanna tetap berada dalam pelukan Alex, dan jemari lentiknya membelai ringan rambut di pelipis Alex. Di sela sentuhan tangan dan payud*ara yang menempel di dada telanja*ngnya sementara wanita itu berbaring di atas tubuhnya, Alex sangat menyadari tubuhnya serasa hidup dengan cepat.


Indar Alex hidup karena setia jengkal tubuh Hanna berbaring di atas tubuhnya, tetapi dia tidak ingin mengambil risiko menakuti Hanna dengan percintaan yang terlalu sering pada malam pertama mereka. Alex bergerak dan Hanna menyangga tubuh dengan lengan, menopangkannya di dada Alex, memamerkan payu*daranya kepada Alex yang membuat gai*rah pria itu meluap bagai lava panas di pembuluh darah Alex.


"Apakah aku terlalu berat?" tanya Hanna pada Alex dengan lembut.


"Tidak, tapi kukira kau harus tidur, cintaku," Alex menyarankan dengan nada menyesal.


"Aku sama sekali tidak mengantuk," bantah istrinya.


Hanna terlihat bagai Dewi lugu yang berbaring di atas tubuh Alex, rambut Hanna yang berantakan tergerai di bahu Alex. "Kau yakin tidak mau tidur?" tanya Alex sambil lalu, membelai pipi mulus Hanna dengan buku jarinya, terpana menatap kecantikan wanita itu. "Kalau begitu apa yang ingin kau lakukan?"


Sebagai jawaban, Hanna menatap Alex, dan wajah wanita itu memerah, lalu Hanna cepat-cepat menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di bahu Alex.

__ADS_1


Alex terkekeh seraya mendudukkan tubuh Hanna ke atas tubuh bergairahnya bagai pemain rodeo, lalu memeluk wanita itu. "Ku rasa kita bisa melakukannya," ucap Alex tertawa parau.


__ADS_2