My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 50 (MCL)


__ADS_3

"Alex..!" ulang Hanna menatap tidak percaya. Manik matanya tidak satu inchi pun melepas wajah yang sudah sangat dia rindukan itu.


Sumpah demi apa pun, dia akan pingsan. Tangannya gemetar, dan tote bag yang dia pegang sejak tadi terlepas begitu saja dari jemarinya, seiring tubuhnya yang mengayun ke belakang.


Kalau si tetangga tampan itu tidak segera menangkapnya, percayalah, kepala gadis itu pasti sudah mendarat di ubin!


"Siapa, Bang?" seorang wanita memakai baju kaftan keluar menemui mereka. Wanita itu kebetulan mau keluar dan sempat mendengar suara pekikan seorang gadis.


"Gak tahu, Ma. Datang-datang udah pingsan aja di depan rumah orang," sahut pria itu kesal. Pasalnya tangannya juga sudah keberatan menahan tubuh gadis itu.


"Waduh, siapa, ya? udah bawa masuk aja dulu," ucap wanita yang masih terlihat cantik itu, walau sudah tidak muda lagi.


Sesuai arahan ibunya, pria yang kerap disapa Abang itu meletakkan Hanna di atas sofa. "Ini apa, ya?" wanita itu tampak mulai membuka isi tote bag yang dibawa Hanna.


"Kue, Bang. Mungkin fans kamu, ya?" Reta sudah biasa menghadapi gadis-gadis pemuja putranya yang tampan. Bukan kali ini saja, sudah sering para gadis datang ke rumahnya membawa ini itu guna mengambil hati nya.


"Gak tahu, Ma. Aku juga belum pernah lihat wajahnya."


"Udah, pokoknya kamu urus gadis ini. Mama udah terlambat. Jaga, jangan diicipi."


"Apanya, Ma?"


"Dua-duanya!" Setelah terdengar pintu tertutup, tidak lama suara mesin mobil yang menyala, baru lah pria itu sadar ucapan mamanya.


"Apaan sih, Mama. Ya, kali gue mau nyicipin cewek ga jelas kayak gini," umpatnya berlalu pergi.

__ADS_1


Davlin harus buru-buru menyelesaikan mandinya, agar bisa segera melihat keadaan tamu tidak diundang nya itu. Setelah memakai stelan yang rapi, melingkarkan jam tangan mahal dipergelangan tangannya, pria itu turun.


Davlin more, pria 32 tahun yang masih betah melajang dan diwajibkan harus tinggal dengan ibunya. Selama ini dia berkeliaran dan hidup seenaknya di apartemen, dengan kehidupan malam yang bak di surga.


Semuanya kebebasan dan kesenangan itu harus hilang, menguap setelah kepergian papanya. Pria itu pergi dengan mewariskan dua perusahaan besar padanya, dan satu rumah sakit ternama untuk dikelola ibunya.


Dalam wasiat ayahnya, Davlin harus mengelola dengan baik perusahaan More, jika tidak, maka semua kekayaan itu akan jatuh ke tangan sepupunya, yang secara otomatis, semua kemegahan dan uang yang tidak ber seri ini akan lenyap juga, dan tentu saja Davlin tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Hari dimana wasiat itu dibacakan, Davlin yang masih dalam keadaan setengah sadar, menyetujui persyaratan utama, tinggal dengan ibunya. Saat itu pula, pria itu dengan cepat mengatakan bersedia, asal mereka tinggal di rumah megah yang ada di jantung kota Jakarta, peninggalan neneknya yang diwariskan atas namanya sejak dia masih di sekolah dasar.


Reta menolak. Dia ingin menempati rumah yang pertama kali mereka beli, namun selama ini disewakan pada orang lain. Rumah yang menjadi awal mula tempat tinggal mereka sejak berumah tangga.


Perdebatan terjadi antara ibu dan anak itu. Selain karena rumahnya jauh dari tempat hiburan, rumah itu juga tidak semegah rumah neneknya yang luas seperti istana. Alasan lainnya, rumah neneknya dekat dengan bar dimana dia sering menghabiskan malam dengan para wanita cantik.


Debat usai. Bisa ditebak, Davlin kalah. Reta tetap ingin tinggal di rumah yang mereka bangun dari nol. Rumah itu segera di renovasi, semua isi perabot juga dipesan keluaran terbaru, agar Davlin nyaman tinggal di sana.


Walau dia tidak mengambil spesialis, namun sebenarnya, Davlin jauh lebih pintar dari pada dokter yang ada di rumah sakit ibunya. Kadang kala, saat menjemput ibu direktur, Davlin akan ikut melihat kondisi pasien, sekedar untuk mengembangkan pengetahuannya.


"Papa mu sudah tidak ada, apa kau tidak mau mengambil sekolah kedokteran lagi?" tanya Reta suatu hari.


"Gak lah, Ma. Biar aja pengetahuan yang dulu aku dapat, hanya untuk diriku sendiri. Jika bisa membantu orang lain, ya boleh lah. Tapi tidak untuk menjadi profesi. Aku akan tetap mengurus perusahaan papa," sahutnya.


Langkah Davlin terhenti pada anak tangga kedua paling bawah. Gadis yang tadi pingsan dan dia baringkan di sofa, sudah tidak ada. Seketika Davlin meraba tengkuknya. Matanya memandang sekeliling untuk melihat apakah gadis itu ada disalah satu ruangan di rumah itu.


Davlin melanjutkan langkahnya dengan sangat pelan. Saat melewati sofa depan televisi, tangannya meraih tongkat baseball yang tergeletak di sana. Bersiap jika ada hal buruk yang terjadi. Sempat terpikir kalau mungkin gadis itu adalah pencuri, yang pura-pura pingsan lalu saat ada kesempatan, langsung menggasak isi rumah mereka.

__ADS_1


Ruang tamu sudah bersih dia sisir, gadis itu tidak ada di sana. Lalu menuju ruang tengah, hingga dapur, tetap juga tidak menemukan jejak. Davlin kembali ke ruang tamu, dahinya mengernyit. Bungkusan gadis itu masih tergeletak di atas meja, tempat mamanya meletakkan tadi sehabis di bongkar.


Dia masih ingin mencari di sekitar pekarangan rumah, namun ponselnya berdering, hingga Davlin memutuskan untuk pergi.


***


"Dari mana aja sih, Han? kok lama? udah dikasih kue nya?" cecar Ema saat melihat putrinya masuk. Gadis itu hampir setengah jam pergi. Ema tidak mencarinya karena wanita itu pikir Hanna pasti ngobrol dengan tetangga sebelah.


"Udah, Ma. Tapi kok aku bisa ketiduran di sana ya? Aduh," ucap Hanna menggeplak kepalanya pelan. Gara-gara mencintai Alex sedemikian besarnya hingga gadis itu berhalusinasi melihat Alex pada sosok orang lain.


"Kenapa kepalamu? Kau sakit?"


"Hah? oh, gak kok, Ma." Hanna sudah akan berjalan ke tangga, namun tidak jadi, berbalik berjalan ke arah ibunya. "Ma, tetangga samping, berapa orang sih?"


"Kenapa? setahu mama cuma dua orang. Wanita seumuran mama, dan satu orang lagi pelayannya. Tapi kayaknya kadang gak nginap di sana. Memangnya kenapa?"


"Hah? jadi gak ada cowok?"


"Pikiran mu itu ya, cowok melulu. Udah, mandi sana."


Kali ini Hanna tidak menuruti perintah ibunya untuk segera mandi. Justru melempar tubuhnya ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya sembari memikirkan apa yang baru terjadi.


Dia ingat kalau dia mengantar kue itu, lalu seorang pemuda, membukakan pintu untuknya. Wajah pria itu begitu jelas dalam ingatannya, terpahat indah dan begitu mirip dengan Alex, setelahnya dia sudah tidak ingat lagi.


Saat terbangun, Hanna menata heran, dirinya ada di ruang tamu rumah itu. Celingak-celinguk melihat sekitar dan mendapati rumah itu kosong. Takut dianggap pencuri, dia pun buru-buru keluar dari rumah itu.

__ADS_1


Aku ingat, wajah Alex lah yang aku lihat keluar dari balik pintu itu! Aku harus memastikannya. Tapi kalau ternyata hanya halusinasi saja? Alex, apakah kita akan bertemu lagi?


__ADS_2