My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 120 (MCL)


__ADS_3

"Apakah kau ingin beristirahat, Sayang?" tanya Alex ketika menyerahkan segelas sampanye kepada Hanna.


Hanna melirik jam. Saat itu pukul tujuh dan perayaan akan dimulai pukul delapan. Saat ini, Mery menyetrika gaun Hanna, yang berarti Hanna tidak sempat menghabiskan sampanye. Dengan enggan, Hanna mengangguk dan meletakkan gelas.


Alex menangkap lirikan muram Hanna ke arah gelas anggur, dan sambil tersenyum mengejek, Alex mengambil kedua gelas mereka, lalu menuntun Hanna menaiki anak tangga lebar melengkung ke arah kamar tidur mereka.


Di kamar yang menyatu dengan kamar tidur Alex, dan yang akan ditempati Hanna mulai hari ini. Alex berhenti, membukakan pintu untu Hanna dan menyerahkan sampanye pada wanita itu. "Apakah aku harus menyuruh seseorang membawakan satu botol penuh, My Lady?" goda Alex, dan sebelum Hanna sempat memberikan jawaban yang sama beraninya, Alex menunduk, dengan ringan bibirnya bergerak di bibir Hanna dalam ciuman yang manis dan berlangsung singkat.


***


Karpet merah gelap terbentang dari jalan depan sampai ke tangga serambi yang terang benderang. Tamu terus berdatangan, berjalan menaiki tangga utama, tempat tiga puluh pelayan pria berbaris tegak dalam seragam keluarga Claymore yang berwarna merah gelap dan emas.


Di bawah kandelir bertingkat enam, di ruang pesta, Hanna berdiri di samping Alex, sementara kepala pelayan mengumumkan " Lord dan Lady.... Sir.. Mister.. Miss.."


Sementara setiap orang berjalan melewati portal marmer ke dalam ruangan yang dipenuhi bunga.


"Lady Brigitta ," Hanna mendengar kepala pelayan berkata. Hanna refleks menegang ketika keponakan raja yang dulu sempat bertikai dengannya, gadis kasar dan membenci Hanna itu berjalan ke arah mereka dengan turban hijau dan gaun satin senada.


"Aku yakin, My Lady," gurau Alex sambil tersenyum lebar kepada wanita itu." Aku tidak akan melihat ada kericuhan di pesta ini. Dan niat baik mu untuk menghadirinya, adalah pembuktian kalau kau sudah menerima Hanna menjadi duchess of Claymore."

__ADS_1


Lady Brigitta tertawa keras, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Alex. "Aku selalu ingin bertanya kepadamu, kenapa kau memilih wanita ini. Tapi melihat dia berdiri di sisimu saat ini, Well, aku rasa pantas."


"Tepat," sambar Alex sambil memiringkan kepala ke arah Hanna. "Seperti yang kau ucapkan."


"Aku sudah tahu!" seru Lady Brigitta sambil terkekeh. "Tapi aku butuh waktu berminggu-minggu untuk meyakinkan diriku." Lalu pamit dari hadapan keduanya mencari seseorang yang bisa dia jadikan hiburan.


Makan malam menjadi acara luar biasa yang dimulai dengan bersulang sampanye, sulangan pertama diajukan oleh Stephen. "Untuk Duchess of Claymore," ujarnya.


Hanna menoleh ke arah ibu Alex, tersenyum senang dan mengangkat gelas, siap-siap bersulang untuk wanita itu. "Aku yakin maksud Stephen adalah kau, Sayang," bisik Alex sambil terkekeh.


"Aku? Oh ya, tentu saja," sahut Hanna, cepat-cepat menurunkan tangannya untuk menutupi kesalahannya. Terapi terlambat, karena para tamu melihatnya dan tertawa terbahak-bahak. Hanna menoleh pada kedua orang tuanya yang juga ikut tertawa. Julia, dan Will, Catherine dan juga James ikut dengan larut dalam hiburan itu.


Alex bangkit dari kursinya, dan Hanna merasa sangat bangga ketika melihat Alex berdiri di sana, dikelilingi aura kekuasaan yang menjadi bagian dari diri Alex.


Alex berbicara dan suaranya yang dalam terdengar sampai ke sudut ruangan yang hening itu. "Beberapa bulan lalu, untuk pertama kali aku bertemu dengannya dengan lebih jelas," ujar Alex, seraya menatap Hanna dengan lembut. "Seorang wanita muda yang cantik, menyadarkan ku bahwa sebesar apa pun kuasa seorang pria, jika sudah jatuh cinta pada seorang gadis, maka semua kuasa dan juga atribut kemewahan padamu tidak akan ada artinya. Awalnya dia pun menolak ku, bahkan gelar Duke yang melekat padaku tidak bisa membuatnya terpesona.


"Aku tidak malu mengakuinya, tapi aku percaya cintaku bisa meluluhkan nya. Sejak saat itu aku memutuskan hanya ada satu gelar lain yang mu inginkan, menjadi suaminya."


Alex menggeleng muram, walau tawa berkilat di mata abu-abunya. "Percayalah padaku, gelar pertamaku jauh lebih mudah didapatkan dari yang kedua." Ketika tawa mereda, Alex melanjutkan dengan sungguh-sungguh, "dan lebih tidak ternilai. Terima kasih sayang, kau sudah mau menikah dengan ku," ucapnya menyudahi pidato singkatnya sembari mengedipkan sebelah matanya pada Hanna.

__ADS_1


***


Ketika pemusik melainkan waltz, pertama, Alex menuntun Hanna ke lantai dansa. Alex merangkul Hanna dan memutarnya di depan semua orang, tetapi ketika para tamu bergabung dengan mereka di lantai dansa, Alex berubah santai dan berdansa dengan lebih perlahan bersama Hanna.


Indra Alex menajam karena aroma samar parfum Hanna, karena sentuhan ringan ujung jemari Hanna. Alex memikirkan besok malam, atau lusa, saat dia menjadikan Hanna sebagai miliknya seutuhnya, dan darah Alex berdesir hangat hingga ia harus menyingkirkan gagasan itu dengan paksa.


Ia mencoba berkonsentrasi pada hal lain, dan dalam waktu beberapa detik, dalam hati Alex membayangkan telah mene*lanjangi dan mencium Hanna, membelai wanita itu dengan tangan dan bibirnya hingga Hanna berubah liar demi Alex.


Stuart meminta haknya untuk berdansa dengan Hanna dan. Alex berdansa dengan ibunya sendiri, dan itu lah yang terjadi selama berjam-jam kemudian. Hari telah melewati tengah malam ketika Alex dan Hanna meninggalkan lantai dansa untuk berjalan bersama, bergandengan tangan, tertawa dan berbicara kepada para tamu.


Hanna jelas-jelas sedang bersenang-senang dan Alex jelas tidak terburu-buru membawa wanita itu pergi dari pesta. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa dinantikan Alex malam ini, kecuali tidur sendirian di ranjang. Ini sesuai dengan perjanjian mereka, bukan tepatnya lebih permintaan kecil Hanna pada suaminya sebelum mereka mengucap janji suci kemarin.


"Aku ingin kita menundanya dulu. Kau tahu, aku masih belum siap, dan ada rasa takut. Aku ingin menyerahkan diriku setelah aku pantas dan tahu caranya. Aku phobia, takut untuk melakukan hal yang satu itu, aku yakin kau tahu maksudku," ucap Hanna saat itu di bukit belakang tanah milik keluarga Claymore.


Apakah Alex punya pilihan? Asalkan Hanna mau menikah dengannya, syarat apa pun itu pasti dia sanggupi. Lagi pula, dia hanya minta waktu beberapa hari hingga dia merasa siap. Bukan menolaknya selamanya. "Baiklah sayang, apa pun keinginanmu, aku akan ikuti."


Jam hampir menunjukkan hampir pukul satu dini hari, Alex merasa para tamu 'berharap' mereka segera pergi beristirahat, kecurigaan yang ditegaskan ketika Lord Marcus Rutherford berkomentar kepada Alex dalam suara rendah berhias tawa. "Astaga, Man, kalau kau bertanya kapan kau bisa pergi tanpa menjadi bahan perbincangan, kau sudah terlambat dua jam," ledek Lord Marcus yang membuat wajah Alex memerah menahan malu, belum lagi tawa dari para tamu undangan mendengar perkataan pria tua itu.


*Hai..Dukung novel aku terus ya🙏😘

__ADS_1


__ADS_2