My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 69


__ADS_3

Pukul 10 malam, baru lah Davlin tiba di rumahnya. Pria itu sudah 10 menit lebih mondar-mandir tidak di dalam kamarnya memikirkan cara untuk menemui Hanna.


Harusnya dia pulang saat jam makan siang, saat Haris yang ditugaskan nya memanggil Hanna membawa berita kalau gadis itu tidak masuk. Menurut kepala OB, Hanna tidak masuk karena alasan sakit.


"Sakit? sakit apa?" wajah Davlin tegang. Mendadak ketakutan hal buruk terjadi pada gadis itu.


"Mana gue tahu. Kenapa lo gak telepon dia aja?" saran Haris merasa aneh dengan reaksi Davlin yang berlebihan.


"Mana nomornya?"


"Lo ga punya?" sudut bibir Haris ketarik ke atas, menggeleng lemah, heran melihat cara pria itu menyukai seseorang.


Haris membantunya menghubungi gadis itu, namun belum sempat tersambung, Ponsel Davlin berbunyi dan mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus segera meeting dengan salah satu klien yang sudah diharapkan selama enam bulan terakhir ini.


Selama pertemuan itu pun, Davlin tidak bisa berkonsentrasi, walaupun dia bisa mengakhirinya dengan baik.


Saat pulang, Davlin lama berhenti didepan rumah Hanna. Berperang dengan hati dan pikirannya, apakah lebih baik langsung menemui Hanna saat itu juga. Tapi melihat dirinya yang belum mandi, Davlin memutuskan untuk mandi lebih dulu baru menemui gadis itu. Tapi kini setelah wangi, justru Davlin menjadi ragu, ini sudah pukul 10 malam. Bisa saja gadis itu sudah tidur, dan malah terganggu dengan kedatangannya.


Ini juga tidak benar. Kalau malam ini dia tidak bertemu dengan Hanna, hatinya tidak akan tenang.


Uhuk.. Uhuk..


Suara batuk itu dia kenali sebagai suara Hanna. Dia baru sadar kalau kamar mereka bersebelahan, bahkan dinding rumah juga menyatu. Davlin memutuskan untuk keluar, membuka pintu balkon kamarnya dan melihat ke arah samping. Satu senyum licik melengkung di bibirnya.


Penuh semangat Davlin turun ke bawah mengambil tangga lalu meletakkan mendatar hingga menyentuh dinding balkon rumah Hanna.


Pelan-pelan Davlin merayap hingga berhasil sampai disebelah. Alam sedang berbaik hati padanya, pintu balkon tidak terkunci dan Davlin bisa masuk dengan leluasa.


Gadis itu tidur miring menghadap ke arah pintu keluar, membelakangi balkon hingga tidak menyadari kalau Davlin sudah berada di kamarnya.


"Hei.." suara lembut itu mengganggu pendengaran Hanna. Gadis itu pikir saat ini dia bermimpi, mendengar suara Davlin yang hadir di mimpinya.

__ADS_1


"Han, Hanna..."


Gadis itu masih tidak mau membuka matanya. Masih menunggu sosok Davlin muncul.


"Han, bangun Han.." bisik nya duduk di tepi ranjang, membelai kepala Hanna. Gadis itu terkesiap, membuka bola matanya dan sapuan tangan itu masih bisa dia rasakan. Dia takut untuk berbalik. Mimpi ini terlalu nyata.


"Han..., kalau memang tidak ingin bangun, aku pulang, ya. Aku hanya ingin melihat mu. Memastikan kau baik-baik saja."


Ini bukan mimpi, Pria itu memang ada, dan untuk membuktikan Hanna hanya perlu berbalik.


"Dav - Lin?" ucapnya parau. Bingung dengan kehadiran pria itu yang tiba-tiba saja sudah berada di kamarnya. Hanna yang tampak gugup memilih duduk dengan kaki bersila.


"Kau di sini? dari mana kau bisa masuk?" ucapnya pelan. Bisa mati kalau sampai papa atau mamanya bahkan sekalipun itu Cathy sampai melihat Davlin di kamarnya, berdua, di jam segini!


"Tuh.." dengan santainya Davlin menunjuk pintu balkon.


"Memanjat?" Davlin mengangguk dua kali.


"Menjenguk? buah tangannya mana?" tanya Hanna tersenyum. Tersentuh dengan niat baik pria itu.


"Apa?" kening Davlin berkerut bingung.


"Orang tuh, ya kalau menjenguk orang sakit, bawa buah tangan. Buah, bunga atau apa lah. Dan, masuknya dari pintu, bukan jendela" ucapnya tersenyum geli dengan tingkah berani Davlin.


Bagaimana kalau semua karyawan PT HolyWings tahu kalau bos mereka masuk ke rumah orang dari jendela kamar, maka dijamin Davlin akan menjadi bahan olokan.


"Aku akan mengirimkannya besok. Kau mau sebanyak apa? akan aku berikan," ucapnya mengambil sejumput rambut yang menutupi mata Hanna dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu. Tentu saja hal itu membawa efek besar pada jantung Hanna. Berdebar semakin kencang.


"Kau datang saja, aku sudah senang," ujar gadis itu tersenyum malu.


"Apa kau sudah diperiksa dokter?" Hanna mengangguk. Keduanya tampak grogi duduk berhadapan bercerita pada jam sebelas malam.

__ADS_1


"Aku hanya demam. Besok sudah bisa masuk kerja."


"Jangan paksakan dirimu. Istirahat lah beberapa hari sampai kau benar-benar pulih," ucap Davlin sangat lembut. Setiap pria itu bicara padanya dengan kelembutan yang jarang dia temui dari pria itu, membuat perasaannya melambung.


"Aku baik-baik saja. Pasti besok sudah sembuh."


"Baiklah. Kalau kau bersikeras. Kita coba metode penyembuhan ku saja," ucap Davlin. Hanna tidak sempat bertanya metode apa yang dimaksud karena tidak lama dari itu, bibirnya sudah ditutup oleh Davlin. Kedua tangan pria itu menangkup wajah cantik Hanna agar bisa dengan leluasa menjelajah dalam mulut gadis itu. Mencium, membelai dengan lidah hingga membuat gadis itu menggelinjang hebat.


Nafas kedua saling beradu. Hanna yang masih diposisi duduk bersila, mengambil perannya. Mengungkap kedua tangannya di leher pria itu. Lum*tan nikmat yang menghadirkan erangan Hanna membuat Davlin memilih untuk mengakhiri pertunjukan.


Tampak dari wajah gadis itu merasa kesal. Ingin protes karena dia masih ingin digulung gelombang nikmat yang menghanyutkan kesadarannya.


"Suaramu akan membuat kita ketangkap basah," bisik Davlin menyatukan kening mereka. Berbicara sedekat itu membuat pikiran Hanna kosong, tidak bisa berpikir benar untuk menjawab perkataan Davlin.


"Kau harus beristirahat. Aku pulang dulu. Sekarang aku yakin besok kau pasti akan sembuh," ucapnya dengan kelembutan yang sejak tadi dia perlihatkan pada Hanna.


"Dari mana kau yakin?" pancing Hanna tersenyum. Dia tentu saja mengerti maksud pria itu, mereka sudah pernah mempraktikkan nya saat Davlin yang jatuh sakit kemarin. Tapi Hanna dengan bola mata yang berbinar memandang ke arah pria itu, ingin mendengar jawaban Davlin.


"Kau tahu sendiri, young Lady, karena kita sudah pernah mencobanya, dan itu berhasil." Kalimatnya ditutup dengan satu ciuman mesra penuh kasih sayang di puncak kepala Hanna. Davlin bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu balkon, namun, sebagai tuan rumah yang 'tahu sopan santun' Hanna merasa perlu mengantar tamu nya yang tidak diundang ini.


"Kau tidak perlu mengantarku," bisik Davlin, namun Hanna menggeleng dan tersenyum terus berjalan di belakang Davlin.


"Astaga, jadi kau memakai tangga ini?" cicit Hanna tergelitik melihat usah Davlin yang ingin bertemu dengannya.


"Apa aku punya cara lain. Sudah, kau masuk lah. Angin malam tidak baik untukmu. Kau bisa kena flu lagi," ucap Davlin membelai puncak kepala Hanna.


"Aku tidak takut, karena seperti yang kau tahu, kita punya metode penyembuhannya, kan?"


***


Hai semua, mampir yuk

__ADS_1



__ADS_2