
Davlin bukan pengecut, atau tidak mau menunjukkan perasaannya pada Hanna, tapi demi kebaikan gadis itu, Davlin menunggu di tempat perhentian yang biasa menurunkan Hanna. Dia akan sabar menunggu hingga gadis itu turun.
Namun dasar tidak piawai dalam urusan asmara, Davlin yang tidak mempunyai nomor Hanna kecolongan, karena dari tempatnya kini dia melihat gadis itu tengah dibonceng Aril.
"Sial!" makinya memukul setir mobil, dan segera mengikuti motor Aril. Namun karena macet, Davlin kehilangan jejak mereka dan memutuskan untuk menunggu di rumah saja.
"Makasih ya, Bang" ucapnya saat tiba di depan tempat olahraganya. Hari ini Hanna memang punya kelas sore untuk diikutinya.
"Aku tunggu sampai selesai, ya?" tawar Aril, tapi buru-buru di tolak Hanna. Dia gak enak hati kalau menerima kebaikan pria itu terlalu banyak. Sebodoh apa pun Hanna menilai pria, dia tahu kalau Aril menaruh hati padanya. Hanna sendiri tidak ingin Aril terjebak dengan sikapnya seolah memberikan kesempatan pada pria itu.
"Gak usah, Bang. Nanti aku naik ojek online aja." Tolak Hanna halus.
"Ini semua salah Davlin!" gumamnya dalam hati. Hanna kesal, dia pikir setelah adegan ciuman itu, pria itu akan menunjukkan perhatiannya, dengan mengajaknya pulang bersama, tapi kekecewaan yang Hanna dapat kala melihat mobil Davlin keluar parkiran lebih dulu.
Dua jam Hanna habiskan untuk berolahraga. Trainer bahkan sampai heran melihat Hanna yang begitu bersemangat memukul samsak sekuat tenaganya, menganggap itu adalah Davlin yang membuatnya kesal hari ini.
Tubuh Hanna lelah, namun juga merasa segar sehabis berolahraga dan mandi di sana. Saat membenahi barang-barangnya, Hanna melihat Tote bag yang dia persiapkan untuk Davlin pagi tadi. Masih dengan mata yang terbuka setengah, Hanna bergulat di dapur, membuat menu makan siang untuk pria itu, tapi berakhir sia-sia.
"Apa sebenarnya Davlin memang gak punya perasaan sama aku? terus kenapa dia mencium ku?" ucap Hanna kesal. Menendang pintu loker.
"Apa aku mundur aja ya? mungkin memang kami selamanya di kehidupan mana pun tidak ditakdirkan bersama. Eh, tapi aku rugi dong, udah dicium, tapi gak ada kejelasan!" umpatnya berbicara sendiri.
"Makasih, Pak," ucap Hanna memberikan uang 25 ribu pada bapak supir ojek. Setelah supir Ify pergi, Hanna bersiap masuk, namun tiba-tiba leher bajunya ditarik dari belakang. Hampir saja jantung Hanna berhenti berdetak, ia pikir ada setan yang sudah mengganggunya. Pria itu masih saja memegang baju Hanna dan menarik mundur bak anak kucing yang habis kecebur got!
"Astaga, buat kaget aja tau, gak?" ucapnya memberi jarak pada Davlin yang memasang wajah masam.
__ADS_1
"Hebat banget lo, ya. Kelayapan sampai jam segini!" Davlin melepas pegangannya tiba-tiba hingga Hanna terjungkal ke belakang.
Dipisahkan jarak sejengkal Hanna melotot tajam ke arah pria itu. Kekesalan yang tadi sudah sempat hilang kini kembali lagi setelah melihat pria itu ada di hadapannya.
Hanna memilih untuk tidak menggubris Davlin, jadi meninggalkan pria, tanpa mengatakan apapun.
"Kemari!" Davlin mengulang menarik leher baju Hanna, menarik mundur gadis itu. Kesal karena diperlakukan bak anak kecil, Hanna memukul bagi Davlin dengan tas bekal yang sejak tadi dia pegang. Pria itu mengambilnya dan melihat isi tas itu yang penuh dengan wadah bekal. Bahkan ada dua tempat bekal yang masih berisi penuh.
"Kasihan, kenapa? bekalmu ini tidak sesuai selera pria berkacamata itu?" ucap Davlin merujuk Aril. Pria itu menduga kalau bekal itu Hanna bawa untuk Aril, alih-alih untuk dirinya sendiri.
"Dasar brengsek!" maki Hanna hampir menangis. Dia pikir setelah melihat bekal itu Davlin akan merasa tersentuh.
"Sini dulu," ucap Davlin menarik lengan Hanna hingga bisa melihat wajah gadis itu.
"Kenapa kau menangis?" ucapnya lembut.
"Aku akan menghajarnya jika itu bisa membalaskan sakit hati mu."
"Dasar brengsek. Aku tidak memberikan ini karena sekretaris mu mengusirku!" pekik Hanna disela tangisnya. Barulah Davlin tersadar, kalau bekal itu dibuat untuknya.
"Ini untuk ku?" Tidak ada jawaban dari mulut Hanna, hanya tatapan tajam lalu berbalik pergi. "Jangan menarik ku lagi!" umpatnya berbalik. Dia tahu Davlin yang belum puas akan jawabnya akan kembali menariknya bajunya.
Pria itu tersentak. Membatalkan rencananya itu lalu hanya bisa menghela nafas sembari menatap punggung gadis itu yang melangkah masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
"Pagi, Pak," sapa Sari dengan senyum manisnya. Berdiri dari kursinya saat melihat kedatangan Davlin dari jauh. Wajah pria itu tetap saja masam, ditekuk hingga berlapis-lapis.
Perubahan wajah Davlin ternyata Hanya sehari. Kini sudah kembali pada wajah kaku yang selalu menjadi ciri khasnya.
Kemurungan wajahnya dipicu dengan tidak bertemunya dia dengan Hanna di simpang rumah tempat gadis itu menunggu ojek. Davlin sudah menunggu setengah jam, namun gadis itu tidak tampak juga. Davlin menduga, gadis itu sudah pergi lebih pagi agar tidak bertemu dengannya.
Davlin terus melangkah, tanpa menjawab sapaan Sari. Tepat saat memegang hendel pintu, sesuatu melintas di benaknya lalu berbalik menghadap sekretaris itu.
"Kalau Hanna datang lagi mengantarkan sesuatu padaku, atau mau apapun di ruangan ku, kau harus membiarkannya masuk! Kalau sampai aku tahu kau mengusirnya lagi, maka kau yang akan angkat kaki dari sini!"
Wajah Sari pucat pasi. Dia tidak tahu akan mendapat teguran separah ini. Kenapa Hanna yang tukang bersih-bersih lebih berharga dari nya? Siapa Hanna Jhonson ini? Sari semakin benci dengan gadis itu karena sudah membuatnya kehilangan muka di hadapan bosnya. Aril juga memutuskan untuk tidak lagi mengejarnya juga karena kehadiran Hanna!
Sari hanya bisa menatap punggung Davlin yang tak lama menghilang dibalik pintu ruangannya.
"Ris, panggil Hanna kemari," ucap Davlin 10 menit menjelang jam makan siang. Haris yang masuk ke ruangan itu untuk mengajak sahabatnya makan siang, hanya mengerutkan kening.
"Masih di sini lo? Kenapa lo lihatin gue? panggil Hanna kemari."
"Buat apa lo nyariin Hanna?" walau Haris adalah sahabat Davlin, tapi pria itu tidak bisa membiarkan Davlin melampiaskan kekesalannya pada Hanna. Setiap berhadapan, ada saja cara yang dilakukan Davlin untuk menyakiti perasaan gadis itu.
"Bukan urusan Lo, cepat panggil dia, atau bonus lo gue potong!"
Itu bukan pepesan kosong. Davlin More adalah sosok manusia yang sanggup melakukannya. Demi menjaga pundi-pundinya terus menumpuk, Haris bergegas melaksanakan perintah.
***
__ADS_1
Hai kak, mampir