
"Turun!"
Tepat seperti dugaan Hanna, pria tidak punya hati itu menurunkannya di tengah jalan didekat kantor. Tempat sunyi yang tidak ada seorang pun melaluinya.
"Kok di sini sih, Dav... bos," ucapnya meringis. Ini sama saja tidak membantu dengan ikhlas. Dia masih harus berjalan kurang dari lima menit lagi untuk sampai di kantor.
"Menurut Lo, gue mesti turunin lo di depan kantor? Mimpi!"
Hanna malas mendebat. Toh, walaupun dia nangis darah, tidak akan ada bedanya buat pria kejam itu. Tanpa bicara Hanna membuka pintu mobil dan turun pelan-pelan. Mulai berjalan ke arah kantor dan Davlin dengan nyamannya mengintai dari balik kemudi.
***
"Kaki mu masih sakit?" tanya Aril saat berjalan memapah Hanna. Aril kembali menemuinya siang ini untuk mengajak makan siang bersama di kantin lagi.
"Iya, Bang. Tapi udah gak sesakit kemarin. Hanya belum bisa lasak aja," sahut nya girang. Tawa khasnya membuat orang yang mendengar ikut tertawa. Hanna sejak dulu, memiliki kharisma membuat siapa pun di dekatnya merasa nyaman. Hanya karena bertubuh gendut, Lusi dan teman yang lainnya seolah malu berteman dengannya.
Jauh di atas sana, seorang dari balkon ruangannya melihat kedua anak Adam Hawa itu berjalan menuju kantin kantor. Tinjunya terkepal dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
"Kita berangkat? udah gue pesan sesuai perintah Lo," ucap Haris yang masuk begitu saja ke dalam ruangan itu. Baginya ruang kerja Davlin sama saja dengan ruangan pribadinya. Tidak perlu mengetuk pintu.
"Lo bilang kantor kita punya kantin, kan? gue mau ngecek menu di sana. Higienis atau gak." Davlin menyambar jasnya, segera berjalan ke arah pintu, meninggalkan sahabatnya yang sempat terbengong.
Davlin takjub melihat tempat itu. Hanya sebesar ruang kerjanya, dipadati banyak karyawan yang tampak lahap dan bersemangat menyantap hidangan itu.
__ADS_1
Selama memegang perusahaan ini, Davlin baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. Beberapa karyawan yang melihat mereka tidak peduli, sibuk menyantap makanannya. Davlin tebak, mereka mungkin karyawan bagian marketing yang tidak mengenal wajah pemilik perusahaan itu.
Keduanya berjalan lebih ke dalam. Mengamati tiap meja dan hidangan yang tersaji. Matanya juga terus mencari seseorang yang menggangu pikirannya sejak tadi. "Siang, Pak. Bapak mau makan di sini?" tanya Sari sekretarisnya yang tengah makan bersama empat orang temannya.
"Iya, kenapa? Ada larangan?" tentu saja kalimat itu dikatakan dengan intonasi dingin dan tak bersahabat.
Mendengar jawaban Davlin, Sari mundur teratur dengan menganggukkan kepala. Tap! Dapat. Gadis yang dicarinya ada di sudut ruangan. Duduk berdua dengan Aril, menikmati hidangan dengan sesekali tergelak tawa bersama.
"Lo pesan makanan buat kita," ucap Davlin menoleh pada Haris yang masih saja belum habis pikir mengapa Davlin malah justru memilih makan siang di sini. Padahal sejak pagi dia sudah meminta Haris memesan restoran dengan menu steam boat yang enak.
"Gue?"
"Terus gue?" balas Davlin dengan sorot mata mematikan.
"Permisi, dengan terpaksa kita harus berbagi meja, kalian lihat sendiri sudah tidak ada meja yang kosong," ucapnya mengambil tempat di samping Hanna.
"Memangnya menu makan di sini cocok sama lidah si bos?" tanya Hanna yang akhirnya menyesali mulutnya yang tidak bisa dia jaga.
"Bukan urusanmu! Cepat habiskan makanan mu, biar segera kembali bekerja!" hardik Davlin dengan pelototan yang menembus jantungnya.
Hanna kembali menunduk. Milih untuk segera menghabiskan makanannya. Makanan Davlin datang. Keempatnya mulai makan dengan diam. Diam-diam Davlin mengakui masakan ibu kantin itu ternyata lumayan.
"Makan yang banyak," ucap Aril memberikan paha ayamnya ke piring Hanna. Mendadak ketiga manusia yang lain, diam mengunyah. Davlin menatap piring Hanna dan juga potongan daging ayam itu.
__ADS_1
"Makasih, Bang," ucap gadis itu gembira. Walau kikuk, Hanna yang menyukai makanan tentu saja sangat girang. Sebenarnya ini bukan pertama Aril memberikan jatah lauknya pada Hanna, sejak kali kedua mereka makan siang bersama.
Haris bergidik ngeri kala melihat sorot tajam mata Davlin pada Hanna dan Aril. Terlalu dini kah kalau pria itu menyimpulkan kalau sahabatnya itu menyukai Hanna? dan tidak menyukai kedekatan Aril dan Hanna?
"Habis... kenyang," ucap Hanna gembira kala menyelesaikan suapan terakhirnya. Aril menatap wajah gembira itu dengan senyuman, dan Davlin menatap kesal ekspresi Aril kala menatap Hanna, dan Haris mengalami pusing kala menilai satu persatu tingkah sikap ke tiga manusia itu.
"Cewek makan banyak bener. Udah kayak kuli, Lo," hardik Davlin masih dengan kekesalannya. Dia jengkel karena Hanna memakan daging ayam yang diberikan Aril padanya.
"Memangnya gak boleh?" bibir gadis itu mengerucut. Apa salahnya. Yang penting kan pulang kerja dia fitnes, olah raga yang teratur, makan pun gak perlu takut.
"Buat malu!" sambar Davlin kejam.
Bodoh, gue ngomong apa sih? kenapa lagi wajahnya harus sedih kayak gitu? gue kan asal ngomong. Jangan nangis dong, cengeng amat!
Hanna menunduk. Air matanya mengenang, sakit hati atas omongan Davlin. Tiba-tiba tangannya digenggam. Hanna mengangkat wajahnya. "Menurut aku, gak ada salahnya kalau cewek makan banyak. Kamu tetap cakep. Yang terpenting kamu sehat, dan tentu saja hatimu juga cantik dengan tutur katamu, dengan keriangan mu, semua orang pasti suka berteman dengan mu," ucap Aril.
Ucapan bijak itu begitu menyentuh hati Hanna. Gadis itu tidak mampu menahan gumpalan air matanya yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tertumpah, menetes di pipinya kala menatap mata Aril.
"Jangan nangis. Jangan biarkan siapa pun menyakiti perasaanmu. Kamu terlalu berharga untuk menangisi omongan tidak berguna dari orang lain. Siapa pun dia!" Davlin tidak ragu, Aril sengaja menghajarnya dengan perkataan seperti itu. Benar, pipi nya tertampar seketika. Dia terlihat jadi pecundang dihadapan Hanna, yang pasti akan membawa dampak besar pada gadis itu.
"Kita pergi?" tanya Aril berdiri, masih menggenggam tangan Hanna. Meninggalkan kedua pria berjabatan tinggi itu dengan penuh rasa malu di wajahnya.
"Lo kenapa sih? Lo kehilangan kendali diri lo saat bertemu dengan Hanna. Gue bisa lihat Lo begitu benci melihat kedekatan mereka. Sebenarnya ada apa ini, Dav?" ucap Haris melihat wajah memerah Davlin.
__ADS_1
Sisa hari itu dihabiskan Davlin dengan uring-uringan. Kesal pada kebodohannya dan lebih kesal lagi, karena harus Aril yang menghibur gadis itu.
"Sadar, Dav. Ngapain juga lo mikirin pendapat tu cewek terhadap lo. Siapa dia, ga penting!" umpatnya memukul pembatas balkon ruangannya.