
"Sumpah demi apa, lo datang ke kampus?" pekik Ara berlari di koridor kala melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Iya, Beb. Gue kan mau ngurus berkas, mau masuk lagi," sahutnya ikut senang bertemu Ara, keduanya saling berpelukan erat, seperti dia Teletubbies.
Waktu berlalu, masa kerja Hanna akan berakhir bulan ini, dan hari ini, dia tidak masuk kerja karena harus mengurus berkasnya ke kampus.
Awal ajaran baru nanti, semester depan, dia akan mulai kuliah lagi. Semoga saja indeks prestasi kumulatif nya tinggi nanti, agar bisa mengambil banyak mata kuliah, mengejar ketinggalannya yang selama enam bulan ini.
"Sumpah demi apa, lo kok udah bisa langsing begini? gila, body lo udah kayak gitar spanyol, minder gue!" ucap Ara bingung harus memulai pembahasan dari mana. Banyak yang ingin dia ceritakan pada Hanna, tapi semua itu seketika terlupakan ketika melihat perubahan diri Hanna.
"Dan wajah lo, kenapa bisa berubah mulus Cantik kayak gini?"
Hanna hanya tersenyum melihat keriuhan teman kentalnya itu. Dia tidak mungkin mengatakan ada ramuan yang hingga kini dia konsumsi yang dia bawa dari dunia novel.
"Urusan lo udah kelar?" tanya Ara tidak sabar. Mereka harus segera mencari tempat yang pas untuk mengobrol. Pekikan Ara tadi sudah membuat mereka jadi pusat perhatian di sepanjang koridor jurusan mereka.
"Udah. Kita ke kantin, yuk. Gue udah kangen batagor kang Ucup," ujar Hanna bersemangat.
Sudah lama dia nantikan masa ini. Hampir empat bulan bekerja di perusahaan Davlin membuatnya kehilangan waktu untuk bersenang-senanglah. Mungkin masuk kuliah lagi menjadi jalan yang tepat, dengan begitu dia bisa menjaga jarak dengan Davlin untuk saat ini setidaknya sampai masalahnya dengan Iris selesai.
Kisah mereka sudah seperti cinta segitiga, dan Hanna tidak ingin masuk lebih jauh dalam lingkaran itu.
"Gue kangen banget sama, lo," ucap Ara setelah mendapat tempat duduk di kantin jurusan.
__ADS_1
"Sama, gue juga." Hanna serius dengan perkataannya. Dia rindu dengan Ara, satu-satunya sahabat yang dia punya. Tulus mau berteman dengannya. "Gimana kampus?"
"Nah, itu yang mau gue ceritain. Lo tahu, Nico udah putus sama Lusi. Dia ketahuan selingkuh sama Edo!" ucap Ara penuh semangat, seolah itu adalah berita terbaik yang dia kemas dan persiapkan hingga Hanna kembali ke kampus untuk dia beritahu.
"Oh..," sahut Hanna pendek.
"Hanya Oh?" Ara tidak percaya atas apa yang dia dengar. Gadis itu pikir Hanna akan kegirangan mendengar kabar menggembirakan itu hingga membuatnya menangis karena saking gembiranya. Tapi ini hanya reaksi biasa? bahkan dibawah biasa, reaksi yang tidak diprediksi oleh Ara sama sekali.
"Jadi gue harus bilang apa, dong?"
Ara kembali menutup mulutnya. Tidak melanjutkan pembahasan itu karena di ujung sana, Lusi dan sisil terlihat memasuki kantin.
"Sial!" pekiknya buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke meja dan menunduk. Hanna yang penasaran justru memilih untuk menoleh ke arah tadi dan tepat dia berlaga pandang dengan Luis. Gadis itu tetap saja cantik dengan pakaian seksinya.
"Well.. well.. well.. coba lihat, siapa yang kita temui di sini, Sil. Hanna Jhonson. Lo menghilang selama satu semester, dan balik udah berubah drastis? operasi dimana Lo?" ucap Lusi berdiri dihadapan Hanna dengan melipat tangan di dada, seperti biasa penuh aura negatif, arogan dan juga sini!
"Gila, sedot lemak lo berhasil, ya? habis berapa, lo? gue dengar orang tua lo kan gak kaya-kaya amat, kok bisa biayai operasi ratusan kali sih?" lanjut Lusi dengan isi otaknya yang hanya setengah saja yang berfungsi baik, sisanya hanya sampah kebusukan yang menghasilkan jiwa jahat pada hatinya.
"Hai Lusi, senang bisa bertemu dengan mu," sahut Hanna tenang. Dia penuh percaya diri dan demi Neptunus, ini menyenangkan! Hanna begitu tenang menghadapi kedua manusia itu. Perubahan penampilannya saat ini membuat rasa percaya dirinya bertambah. Kini siapa pun yang mencoba mengganggu nya pasti akan dia hadapi.
"Kau sudah mulai kembali kuliah? dengan penampilanmu seperti ini, aku tidak keberatan kalau kau mau berteman denganku. Kita bertiga bisa menjadi teman dekat," ucap Lusi penuh percaya diri. "Tapi tetap, aku yang akan menjadi leader di sini!"
Ara hanya tertunduk. Dia tahu dengan penampilan Hanna yang baru, pasti banyak yang mau berteman dengannya. Sangat berbeda dengan dirinya yang tampak cupu.
__ADS_1
"Sorry Lusi, aku bisa menilai sendiri teman seperti apa yang aku inginkan. Kebetulan aku sudah punya sahabat terbaik, Ara."
Wajah Lusi pucat pasi. Memerah menahan malu. Diliriknya Ara yang sudah berani mengangkat wajahnya kala mendengar kalimat Hanna. Dia begitu tersentuh dengan sikap Hanna yang masih mau berteman dengannya.
"Kau yakin? kau tahu, berteman dengan kami, membuatmu dikenal banyak pria tampan dan berkelas, tapi kalau kau hanya punya circle dengan gadis yang tidak berguna seperti ini, siapa pun tidak akan ada yang mau melirik mu!" sambar Sisil yang ingin menyelamatkan muka Lusi.
"Sangat yakin. Aku tidak takut jika tidak ada seorang pria pun melirikku." Hanna tersenyum penuh kemenangan, mengambil air jeruknya lalu menyedotnya. "Kalian mau minum?"
Tentu saja Lusi dan Sisil tidak sudi menjawabnya, keduanya pergi setelah Lusi menghentakkan kakinya penuh kesal ke lantai.
"Thanks, Beb. Gue pikir setelah Lo berubah jadi cantik, lo akan milih ajakan Lusi. Tapi dia ada benarnya, kalau lo berteman dengan gue, yang ada lo bakal sama kayak gue, jadi jomblowati abadi," timpal Ara.
Hanya senyum yang Hanna berikan sebagai jawaban. Untuk saat ini dia tidak ingin menceritakan apa pun dulu pada Ara mengenai Davlin dan kisah kasih mereka. Dia bukan tidak percaya atau tidak menganggap Ara sahabat, tapi ya, karena Hanna tidak ingin membahas pria itu saat ini.
Urusan Hanna di kampus sudah selesai, begitupun dengan Ara. Keduanya ingin merayakan kebersamaan mereka kembali dengan menonton film Dokter stranger di bioskop.
"Kenapa gak film KKN di desa Penari aja, Han?" tanya Ara yang masih fokus melihat poster film tersebut di wall studio. Sekilas Hanna melirik poster itu, lalu menggeleng.
"Next time deh, aku masih trauma nonton yang horor," ucapnya mengingat peristiwa mati lampu itu. Horor diawal menegangkan dan asik di akhir. Mengingat malam itu, Hanna jadi ingat Davlin. Dari pagi pergi, tidak sekalipun memberi kabar lewat sebuah pesan. Diraihnya ponsel dalam tas, dan matanya terbuka dengan sempurna melihat notifikasi panggilan dan pesan yang begitu banyak dan hanya dari satu orang yang sama. Davlin More!
***
Aku rekomendasi novel kerena, mampir ya
__ADS_1