My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 53 (MCL)


__ADS_3

"Siapa gadis tadi? manis juga. Gila, lo sekarang mainnya sama dedek-gemes?" goda Haris. Sesuatu yang patut dipertanyakan karena dia tahu karakter Davlin yang tidak suka bermain-main dengan gadis polos. Alasannya karen dia tidak ingin buang-buang energi dan waktu untuk mengajari memuaskannya. Beda cerita kalau yang sudah pro.


"Bukan siapa-siapa, cewek sarap!" sahut Davlin cuek. Dia mendengus kesal. Harinya semakin bertambah buruk hari ini. Tidak hanya karena berita Irish, kini harus bertemu tetangga yang setiap hari datang ke rumahnya tanpa rasa malu.


"Kau benar gak ingat padaku? sedikit pun? holy Ville? saat kita berkuda? lamaran dan pernikahan kita?" tanya Hanna kemarin setengah berbisik agar tidak didengar Reta yang tengah menyirami koleksi tanamannya. Gadis itu hampir setiap hari datang ke rumahnya hanya untuk mengganggunya. Davlin sudah protes pada mamanya, agar tidak mengizinkan gadis itu masuk ke rumah lagi, tapi tentu saja pelototan Reta yang dia dapat.


Tentu saja pertanyaan Hanna hanya mendapat pelototan marah dari Davlin, lalu pria itu masuk kamar mengunci diri.


"Cewek sarap? tapi kok tampak normal aja. Lagi pula dia kayaknya baru melamar di sini, udah dapat id card artinya udah keterima dong?" tanya Haris antusias.


Davlin berpikir sejenak. Benar juga, kalau nanti dia bekerja di sini, bisa mengganggunya, membuatnya tidak nyaman. Bagaimana kalau pas meeting atau ada pertemuan penting, dia datang dan dihadapan semua ngaku-ngaku sebagai istrinya? oh, tidak... lebih baik dia segera memecat gadis itu! "Lo hubungi HRD, bilang batalkan kontrak kerja dengan dia! jangan diterima!"


"Eh, gak bisa gitu dong. Kasihan anak orang. Biarin aja. Lagi pula, udah kontrak, Lo mau kena pinalti pemutusan kontrak sepihak? gede loh yang harus lo bayar," potong Haris tidak setuju dengan rencana Davlin.


"Gue bayar!"


"Terus kalau nanti diliput media? nama perusahan kita bakal hancur, dianggap sewenang-wenang sama karyawan, bisa-bisa kena somasi, udah gitu harga saham anjlok lagi."


"Alah, mikir lo kejauhan!"


"Udah deh, dari pada nambah masalah, biarin aja. Lagi pula hanya OB biasa. Gak bakal ketemu sama lo juga," saran Haris semakin penasaran dengan sosok Hanna yang mampu membuat Davlin seperti kebakaran jenggot melihatnya.


"Terserah!"


***


Hari pertama masuk kerja, Hanna penuh semangat. Dia ingin mengumpulkan yang banyak, untuk membuktikan kalau holy Ville itu benar ada di Inggris.

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Hanna dengan senyum manisnya pada gadis yang dia tebak seumuran dengannya.


"Pagi. Lo anak baru ya? mbak Yuyun udah kasih tahu dan minta gue yang buat ngasih tahu tugas lo hari ini apa," terang gadis itu. "Gue Tari."


"Hai Tari, gue Hanna. Mohon bimbingannya."


"Hari ini, buat tugas pertama, lo bersihin ruangan ini dulu," ucap Tari setelah mereka tiba di lantai atas. Masuk ke sebuah ruangan besar yang lengkap dengan furnitur mewah dan semuanya serba hitam.


Bola mata Hanna membulat saat membaca papan nama di atas meja itu. "Ini ruangan..."


"Ini big bos. Penguasa kegelapan, eh.. maksud gue ini bos kita yang punya perusahaan," terang Tari.


"Jadi tugas gue bersihin ruangan ini?"


"Iya, tiap pagi, lo harus bersihin ini dulu baru lantai dua dan terakhir di dekat kamar mandi. Saran gue, lo kelarin sebelum big bos datang. Kalau bisa jangan sampai ketemu sama dia," terang Tari sebelum meninggalkan Hanna di ruangan itu sendiri guna memulai pekerjaannya.


"Dia pria sombong dan pemarah. Pria perfeksionis yang tidak segan memakai bahkan memecat seseorang jika moodnya tidak baik. Lo jauh-jauh dari dia. Pria titisan Dajjal itu baru kemarin mecat cowok gue, cuma gara-gara telat mengambil tanda khusu parkiran dia. Gila, kan?"


Gadis itu hanya manggut-manggut. Sikapnya benar-benar mirip dengan Alex. Apa mereka memang orang yang sama? lantas kenapa Davlin tidak mengingatnya?


Tampaknya jalannya untuk membuat pria itu ingat dan kembali mencintainya akan sangat sulit. Apa sebaiknya dia menyerah saja? tapi hatinya seolah tidak ikhlas. Memintanya untuk berjuang sekali lagi sebelum benar-benar melambaikan bendera putih ke kamera. Ya, sebaiknya dicoba sekali lagi.


Hanna tahu ini adalah perusahaan milik Davlin, jadi dia akan menjaga sikapnya, sebisa mungkin akan menjaga sikapnya. Secepat mungkin Hanna membersihkan tempat itu agar bisa segera keluar dari sana, dia tidak ingin bertemu dengan Davlin, yang bisa ditebak pasti pria itu tidak akan suka dengan keberadaannya.


"Hei, sini," panggil Haris saat melihat Hanna yang akan mengangkat ember bekas mengepel. Hanna tidak mengenal pria itu dan ini juga pertama kali mereka bertemu, tapi dia yakin pria itu juga orang penting di tempat ini. "Ada apa pak?"


"Namamu siapa?" tanya Haris mengulum senyum.

__ADS_1


"Hanna, Pak," jawabnya singkat.


"Oh, kamu karyawan baru, kan?"


"Iya, Pak."


"Saya Haris. Semoga kita bisa berteman baik," ucap Haris mengedipkan mata sembari tersenyum. Hanna hanya kembali tersenyum sembari menganggukkan kepalanya lalu pergi dari sana.


"Dari mana aja lo? jam berapa mulai meeting?" tanya Davlin yang menyadari Haris yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengalihkan tatapannya dari laptopnya.


"Siang, jam 2 kan, lo minta. Coba tebak, gue ketemu siapa di lantai dua, Hanna si OB kita yang baru," ucap Haris tersenyum dan mengambil tempat di depan Davlin. "Dia cantik, dan coba tebak, gue bakal ngincar dia."


Seketika Davlin menengadah, mantap malas ke arah Haris, dan melihat sahabatnya itu masih tersenyum, dia ingin sekali menonjok wajahnya, tapi dia juga bingung apa alasannya, jadi dia memilih bersikap cuek.


***


"Tante Reta, ini pesanannya," ucap Hanna yang baru menginjakkan kaki di ruang depan. Mbok Narsih yang membukakan pintu untuknya.


"Tante... Tante..." panggil Hanna mengulangi karena tidak melihat wanita itu. Dia diminta untuk membelikan rujak dari tempat dia fitnes tadi.


"Berisik banget sih, Lo! Nyokap gue di kamarnya. Mau apa lo kemari?" hardik Davlin muncul dari belakangnya.


"Aku cuma mau ngantar ini." Hanna mengangkat bungkus plastik yang dia bawa tepat di depan wajah Davlin. "Titipan Tante Reta."


"Gue peringatkan, kalau lo mau kerja di tempat gue, jaga etika lo. Kerja yang benar, ga usah kecentilan!" ucapnya berlalu pergi. Tinggal lah Hanna yang bingung dengan ucapan Davlin.


Memangnya sikapnya yang mana menyalahi aturan? kecentilan? pria mana yang dia goda? Hanna mendengus kesal, melipat tangan di dada.

__ADS_1


"Dasar pria sombong! Gak di dunia novel, gak di dunia nyata, tetap aja kelakuannya sombong!" gumamnya menghentakkan kaki.


__ADS_2