My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 45 (MCL)


__ADS_3

Hanna terbangun dari tidur pulas, pening karena mimpi yang belum tuntas, lalu berguling tidak ingin melepaskan mimpi itu. Ia membuka mata, seketika mengenali tempat itu bukan lah kamarnya.


Perlahan, ingatannya kembali. Kini dia tinggal di rumah Claymore di London. Rumah megah dan indah yang mungkin bisa membuatnya tersesat jika mengelilingi isi rumah itu keseluruhan.


Setelah peristiwa di kerajaan dengan Brigitta, Alex dengan arogan dan kekuasaan yang dimilikinya, menahan Hanna, tidak membiarkan gadis itu kembali ke holy Ville.


Alex mengutus seorang pelayan, untuk memberitahukan keluarga Jhonson mengenai keberadaan kedua putri mereka. Masalah pernikahan yang sudah ditetapkan bulan depan, sudah tidak bisa diganggu gugat lagi oleh Alex atas permintaan Hanna.


"Maaf, my Lady, majikan saya mondar-mandir di bawah sana selama satu jam, mengawasi tangga," ucap Lisa dengan aksen Irlandia nya. "Beliau menyuruh saya memberitahu Anda hari ini sangat hangat, dan beliau meminta Anda berpakaian kuda."


"Dasar pria congkak, dia pikir dia Raja Inggris!" gerutu Mery, masuk ke kamar tidur. Dia memutuskan untuk menikahi Anda, dan menyuruh orang menyeret ku turun dari tempat tidur pagi-pagi buta dan mengangkut ku ke sini bersama barang-barang mu. Pagi-pagi buta!" umpat Mery berwajah masam seolah menarik selimut Hanna. "Bahkan ketika orang baik-baik saja belum ada berkeliaran di jalan!"


Hanna tertawa, bergegas turun dari tempat tidur. "Oh, Mery, aku sangat menyayangimu!"


Dengan waktu yang cepat, Hanna bergegas mandi dan mengenakan pakaian berkuda berwarna coklat kekuningan yang dibawa Mery dalam kopernya. Hanna sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan perasaannya pada Alex. Dia begitu bersemangat bertemu dengan Alex. Hanna menarik rambut panjangnya ke belakang dan mengikatnya dengan pita, lalu melesat dari kamar tidur.


Ia berjalan melintasi balkon lebar dan berhenti. Alex sedang menunggu di kaki tangga, matahari musim dingin menyoroti rambut gelap Alex melalui langit-langit kaca tiga lantai di atas. Mengenakan kemeja biasa yang lembut dan halus dengan kerah berbentuk V dan celana berkuda ketat berwarna coklat kopi, Alex sangat maskulin, sangat mirip dengan dewa bertubuh jangkung dan berbahu bidang, hingga membuat denyut nadi Hanna berpacu liar.


Pria itu tersenyum mengamati Hanna menuruni anak tangga lebar berkedok mendekati dirinya. Dengan was-was Alex mengamati wajah cantik, Hanna, mencari tanda-tanda penyesalan atas penyerahan diri Hanna tadi malam.


Pada anak tangga terakhir, Hanna tersenyum malu ke arah Alex yang menatapnya. "Ini sangat memalukan," ujar Hanna lembut. "Mengetahui semua orang akan mengatakan mempelai pria jauh lebih mempesona dari pada membelai wanita."

__ADS_1


Alex tidak bisa menahan diri. Ia memeluk Hanna, mendekap Hanna dan membenamkan wajahnya di sela rambut Hanna yang harum. "Ya, Tuhan!" bisik Alex parau. "Bagaimana aku bisa menunggu empat Minggu lagi untuk menjadikan mu milikku?"


Hanya senyum yang bisa diberikan gadis itu. Pikirannya sudah melayang jauh pada hari pernikahannya nanti, bukan, sebenarnya pada malam pertama nya.


Jujur, ada rasa penasaran, ingin mengetahui gairah itu seperti apa. Tapi rasa takut juga tidak bisa dipungkiri terselip di hatinya.


Oh, Tuhan. *Bagaimana kalau mamaku mengetahui kalau aku akan menikah? apa saat aku kembali ke dunia ku nanti, masih tetap perawan?


Persetan dengan apa pun, aku tidak peduli. Lagi pula, aku mencintai Alex, jika harus memberikan milikku yang paling berharga, maka aku ikhlas*...


"Hei, cantik. Apa yang kau pikirkan? kau melamun?" bisik Alex lembut menyentuh pipinya dengan jari-jari tangan hangatnya.


"Aku hanya membayangkan pernikahan kita nanti," sahutnya tanpa ragu.


"Mau...," sahut gadis manis itu tersenyum.


Hari ini adalah salah satu hari musim dingin dengan langit berwarna biru dan matahari menghangatkan apa pun yang disinarinya. Bersama-sama mereka berjalan melewati taman yang tertata rapi dengan bedeng bunga yang diatur dalam pola geometris yang indah, pinggiran bedeng diatur tepat, dan terawat baik.


Tukang kebun dan pengurus tanah yang mengumpulkan ranting jatuh dan menumpukkannya di atas api kecil sama sekali tidak menyadari pasangan yang berjalan melintasi kebun. Tetapi ketika Hanna mengatakan sesuatu yang membuat tawa sang duke meledak lantas memeluk wanita muda itu dengan cepat, beberapa di antara mereka mendongak dan menatap kaget, lalu bertukar senyum paham sebelum kembali melanjutkan tugas mereka.


Tiba di paviliun, Alex menghentikan langkah, lalu menarik tangan Hanna masuk ke dalamnya. Ia tahu Alex membawanya ke sini karena paviliun itu akan memberikan sedikit privasi, namun Hanna ingin menggodanya dengan bergeming di tempatnya.

__ADS_1


"Tidak masalah bagiku, jika aku harus mencium mu di sini," ucap Alex mengulum senyum. Dia tahu, Hanna pasti akan masuk mendengar ucapannya dan terbukti.


Hanya mendengar ucapan Alex, bulu kuduk Hanna berinding. Dia membayangkan apa yang akan mereka lakukan sesaat lagi.


"Alex..."


"Aku suka mendengar mu menyebut namaku," bisik Alex, menarik tangan Hanna masuk ke dalam. Dan itu jadi kalimat terakhir Alex sebelum menyatukan bibir mereka. Mencium, mencecap dan mulai ******* bibir mungil itu. "Kau begitu nikmat, aku bahkan sudah tidak tahan ingin ******* mu."


Hanna menarik nafas dan menunduk, tetapi Alex sempat melihat binar mata hijau zamrud Hanna dan rona merah hangat yang menjalari pipi mulusnya. Alex tersenyum, kembali memeluk Hanna dan dengan santai mencium bibir yang menggoda itu.


Akhirnya keduanya menjalankan dengan benar tujuan mereka hari ini. Setelah memilih kuda yang ditunggangi, keduanya mulai menapaki jalan menuju bukit yang masih menjadi bagian lahan Claymore.


Pemandangan dari puncak bukit itu sangat luar biasa. Sementara Alex mengikat kuda mereka, Hanna berdiri memandang lembah yang dilingkupi hutan, mencoba membayangkan bagaimana rupa pemandangan itu dalam warna hijau saat musim panas atau warna merah keemasan saat musim gugur.


"Ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di sini selain pemandangan, My Lady," sebuah suara parau dan menyiratkan tawa berkata di belakang Hanna. Kemari lah, dan akan kutunjukkan padamu."


Hanna berbalik dan melihat Hanna duduk dengan satu lutut ditekuk, bahu pria itu disandarkan ke batang pohon di belakangnya. Hanna melihat sensualitas hangat dalam mata abu-abu Alex.


Tentu saja Hanna tahu tujuan pria itu. Jantungnya mulai berdebar kencang. Pria itu selalu berhasil membuatnya meleleh.


"Kemari lah, Han,"

__ADS_1


Gadis itu berjalan dengan menunduk. Dia merasa malu menggapai tangan itu. Seolah dirinya dengan suka rela menyerahkan diri. Oh, benar, dia memang suka rela. Pria itu sudah berhasil menawan Hanna dengan pesonanya!


__ADS_2