My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 33 (MCL)


__ADS_3

Taman dan pekarangan luas kediaman Cambridge dipenuhi oleh banyak muda mudi yang datang dari penjuru Inggris, walaupun kebanyakan didominasi oleh kalangan masyarakat London.


Lady Abigail membuat acara itu super mewah dan sangat ramai. Dalam sejarahnya setiap Lady Cambridge membuat acara apapun itu, maka banyak masyarakat yang antusias ingin menghadirinya. Beruntung bagi mereka yang diundang.


"Kau sudah siap, Hanna?" tanya Julia yang lebih dulu didandani oleh gadis itu.


"Almost," sahutnya dari balik kamar mandi. Hanna harus bangun lebih awal. Memastikan gaun mereka sudah selesai dijahit atas instruksi darinya.


Walau acaranya akan dimulai sore hari sekitar jam tiga, tapi ada dua orang yang harus dia rias sebelum dirinya. Lady Abigail dan tentu saja Julia.


Pukul satu siang, Julia sudah selesai dengan riasannya, gadis itu pangling melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.


"Oh, Hanna, apa yang sudah kau lakukan pada wajahku? Benarkah ini aku? Julia Clifford?" desisnya masih tidak percaya.


Hanya sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya Hanna, ikut gembira melihat Julia puas dengan hasil dandanannya.


"Baik, lah. Aku harus segera bersiap-siap. Lady Abigail sudah menungguku," ucapnya keluar dari kamar itu.


Beban terberat baginya adalah merias tuan rumah. Hanna takut kalau hasil karyanya pada wajah lady Abigail tidak sesuai selera wanita itu.


Perlahan, Hanna menyemprotkan air mawar di sekitar wajah sang Lady, lalu memulai membuat fondasi bedaknya.


Penuh kesabaran Hanna mengerjakan penuh totalitas, tanpa bantuan siapa pun. Hanya mereka berdua dalam kamar Lady Abigail.


"Miss Jhonson, apakah kau mengenal Iris Lancaster?" Lady Abigail memulai percakapan. Ini momen yang dia tunggu untuk menilai langkah selanjutnya.


Tangan Hanna yang sedang menepuk pelan wajah Lady Abigail mendadak diam. Pertanyaan yang menurutnya tidak ada hubungan dengannya. Dia bukan dari kalangan sosialita London hingga harus mengenal gadis itu.


"Maaf my Lady, pengetahuan saya tentang Miss Lancaster sangat terbatas. Maaf jika tidak memuaskan anda," sahutnya mengoper bola. Hanna bukan tidak tahu, kalau Abigail adalah bibi Alex, dan gadis itu tebak, Lady Abigail seharusnya tahu kalau dulu keponakan tersayangnya itu adalah calon tunangan dari putri keluarga Jhonson, bukan hanya satu, tapi keduanya!


"Aku ingi tahu apa yang kau tahu."

__ADS_1


Tampaknya lady Abigail tandingan yang kuat jika berhadapan dengan kepintaran seorang Hanna White Jhonson.


"Well, setahu saya, Miss Lancaster gadis yang pintar cantik tentu saja, dan banyak disukai oleh banyak orang, terlebih pria," sahut Hanna blak-blakan. Itu lah yang ditunggu Abigail sejak tadi. Benar kan, dugaannya, kini wanita itu melepas senyum.


"Aku akan menambahi satu lagi, dia juga kekasih keponakan ku, Alex."


"Saya juga tahu itu," sahut Hanna pelan. Sesuatu di dalam sana, tepat di hatinya, ada rasa sakit akan kenyataan itu.


"Miss Jhonson, kau wanita pintar, itu sebabnya aku senang bicara dengan mu. Kau tahu, Alex adalah ahli waris kekayaan Claymore, dia juga tampan. Sayang sekali tidak jadi dengan putri keluarga Jhonson," gumam Lady Abigail semakin memprovokasi pikiran Hanna.


"Bagaimana dengan mu? apa kau menyukai seseorang?" serang Lady Abigail, yang membuat Hanan kikuk untuk menjawab.


Dia ingin menjawab, kalau dia menyukai Will, namun, belakangan ini hubungan mereka terasa renggang karena penundaan acara lamaran yang sudah di janjikan Will padanya.


"Benar, My lady, aku menyukai seorang pria. Yang begitu tulus dan baik pada ku," sahutnya berimprovisasi. Dia ingin menyudahi pembicaraan ini, seolah mereka adalah teman dekat yang selalu berbagi rahasia.


"Menarik sekali. Apakah aku mengenalnya? pria mana yang beruntung mendapatkan mu, Miss Jhonson?" tanya nya antusias, walau dia tidak bisa menyembunyikan guratan kekecewaan di wajahnya.


"Ouh, aku mengenal keluarga Malory, Lady Kate wanita yang menyenangkan. Sayang aku belum pernah bertemu anak mereka."


Pembicaraan berikutnya beralih pada hobi mereka masing-masing. Ternyata kedua wanita itu punya kesamaan, diantaranya, suka makan manis dan membaca buku romansa.


"Sudah, My Lady. Apakah anda menyukainya, atau saya harus mengulanginya?" tanya Hanna memutus topik pembicaraan mereka.


"Oh, demi janggut Merlin, ini sangat keren. Kau mengubah ku menjadi lebih cantik dan lebih muda," ucapnya begitu gembira, masih belum mempercayai tampilan dirinya.


"Kemarikan tanganmu." Lanjutkan menengadahkan tangan, Hanna mengulurkan tangannya walau tidak mengerti untuk apa sang lady.


"Tangan mu ini memiliki kekuatan, bisa menciptakan keajaiban," ujar Lady Abigail menatap telapak tangan Hanna.


"Bergegas lah, sayang.. kita akan segera bergabung dengan para tamu undangan," sambungnya lagi tersenyum mani.

__ADS_1


"Hanna, apakah aku boleh menunggu mu di luar saja?" tanya Julia yang ingin mencari segelas air jeruk, tenggorokannya terasa kering.


"Baiklah, Julia."


***


Para tamu undangan sudah hampir semua tiba, mulai menempati kursi masing-masing dan menikmati pertunjukan musik dan lantunan lagi dari penyanyi bersuara emas, yang juga kerap menyanyi di istana.


Duke of Cambridge tidak bisa datang saat ini, karena sedang berada di Prancis. Sang Raja menugaskannya sebagai utusan kerajaan Inggris untuk asosiasi kerja sama yang akan kedua negara itu lakukan.


Baik Lady Abigail dan juga Julia menunggu Hanna turun, agar bersama pergi ke kebun yang sudah di hias menjadi tempat bak negeri dongeng, begitu indah.


"Apakah dia perlu waktu semalaman untuk bersiap, Bibi?" Alex yang sejak tadi dipaksa untuk menjadi pendamping mereka masuk ke dalam sana, merasakan kebosanan.


Sebenarnya bukan kebosanan, dia hanya merasa gugup, rasa penasaran di hatinya sangat menggangu, akan kah Hanna mengenakan kalung yang dia hadiahkan untuk nya.


Saat di toko itu, setelah pada wanita keluar dari toko perhiasan, Alex yang sempat melihat kalung yang lama diamati Hanna, membelinya untuk gadis itu, dah meminta bibinya yang menyerahkan pada gadis itu, karena jika dia yang menyerahkannya, gadis itu pasti akan menolaknya.


Entah apa yang singgah dalam pikirannya, mengapa dia harus bersusah payah mencari perhatian gadis itu dengan membelikan benda yang dia sukai. Dia masih belum lupa, bagaimana Hanna menolaknya, mempermainkannya bahkan nama baik nya di desa Holy Ville itu sempat ditertawakan banyak orang.


Namun, keinginan untuk melihat wajah gadis itu gembira, keinginan untuk membuat Hanna Jhonson bahagia begitu kuat mendorong hatinya, melupakan rasa sakit dan kecewanya pada gadis itu.


Tidak berselang lama setelah gerutu Alex tadi, Hanna muncul dianak tangga paling atas, bersiap untuk menuruni anak tangga.


"Malaikat.."


"Angel.." Seru Lady Abigail dan Julia bersamaan. Alex mungkin tidak berkata apa-apa, tidak ada yang keluar dari mulutnya yang terkatup rapat, namun debar jantung yang begitu kencang, bahkan nafasnya yang seolah tercekat, sudah menjadi jawaban dari semua yang diperlukan untuk menjelaskan kekaguman nya pada Lady Hanna White Jhonson.


***


__ADS_1


Mampir gaes


__ADS_2