My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 23 (MCL)


__ADS_3

Malam itu akan menjadi malam yang tidak akan pernah Hanna lupakan. Dia yang selama ini tidak dianggap, bahkan dianggap aib bagi keluarga kini justru mendapatkan banyak perhatian dari semua orang.


Para kaum Adam mendekati ingin merebut perhatiannya, jika beruntung bisa menjadi kekasih hatinya. Sedangkan kaum hawa ingin menjadi sahabat.


"Kau terlihat sangat cantik, Han. Aku ingat kau tidak seperti ini dulu, bahkan kau sangat penakut. Namun, sekarang kau mempesona penuh percaya diri," ucap gadis yang mengenalkan namanya Victoria.


"Terima kasih, Victoria," sahutnya melepas senyum.


"Dari mana kau mendapatkan gaun itu? sangat indah. Aku sering ke toko pakaian terbesar di London, tapi belum pernah melihat model gaun seperti itu," ucap Amber yang memiliki bola mata berwarna abu-abu.


"Oh, aku membuatnya sendiri," ucap Hanna tersenyum bangga. Setidaknya di dunia novel ini, kemampuannya masih bisa di hargai bahkan dipuji.


Satu persatu para gadis mengelilingi Hanna. Gadis itu bahkan tidak bisa mengingat nama mereka. Beruntung Julia yang selalu setia di sampingnya, membisikkan nama mereka saat Hanna terdiam sesaat.


"Kau melihat Will?" bisik Hanna pada Julia. Sejak tadi pria itu belum tampak. Tidak mungkin kalau dia sampai tidak datang.


"Lady Kate menahannya dengan mengenalkan pada salah satu putri Duke," balas Julia dengan bisikan.


Wajah Hanna berubah murung. Padahal dia berharap, kalau malam ini setidaknya sekali saja dia akan berdansa dengan Will. Berangan menjadi istri Earl of Malory, Hanna justru mendapat berita yang tidak mengenakan.


"Lihat arah jarum jam 12," bisik Julia kemudian. Hanna mengikuti instruksi itu dan tepat saat itu matanya melihat Alex tengah berdiri berhadapan dengan seorang gadis sangat cantik. Mungkin dalam hidup Hanna, itu adalah gadis tercantik yang pernah dia lihat.


"Lihat, itu Iris Lancaster," pekik salah satu gadis yang mengelilingi Hanna. Kehebohan terjadi. Harusnya Hanna tidak peduli, karena toh, pria itu tidak berarti, tapi nyatanya kenapa perasannya jadi panas? hatinya terusik.


Dialihkannya pandangan mencari Catherine. Gadis itu bersama teman-temannya juga sedang berkerumun. Tatapan Catherine kalah seram pada Alex. Orang akan berasumsi kalau Catherine sedang merencanakan pembunuhan pada Alex.


"Aku sudah bilang, pria itu brengsek, cabul dan tidak bisa dipercaya!" umpatnya dalam hati, meremas sisi gaunnya penuh kesal.


"Hai, maaf kalau aku terlambat menghampirimu. Aku ada sedikit keperluan tadi," ucap Will yang kini telah berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Tertahan oleh gadis cantik, heh?" tanya Hanna terdengar sinis.


"Aku minta maaf. Ibu hanya ingin mengenalkan saja, tidak lebih. Dia tidak penting buatku," bisik Will memohon maaf setulus hati.


Pria yang dia sukai sudah ada di hadapannya, sudah memberikan penjelasan, tapi kenapa hatinya masih saja panas? terlebih matanya saat ini masih dengan leluasa bisa melihat Alex tampak tersenyum pada gadis bernama Iris itu.


Baru lima menit bersama Hanna, Will kembali dipanggil oleh seseorang. "Aku ke sana dulu," bisiknya. Hanna hanya mengangguk lemah.


"Siapa wanita itu, Julia?" bisik Hanna terus menatap kedua orang yang juga menjadi pusat perhatian malam ini.


Bisikan Hanna ternyata didengar Amber. Gadis itu sigap menjelaskan pada Hanna. "Dia itu kekasih Duke of Claymore. Mereka pasangan kekasih yang fenomenal. Sudah sejak lama berhubungan, bahkan rumor yang beredar, His Grace selalu memanjakan wanita itu, menuruti apa pun keinginannya. Hanya wanita itu yang benar-benar bisa menguasai dan menjinakkan sang Duke," terang Amber menggebu-gebu.


"Apa wanita itu tahu kalau His Grace akan menikah dengan Catherine?"


"Kalau itu aku tidak tahu. Tapi walau pun nona Iris tahu, dia tidak akan perduli. Sudah hal biasa kalau para suami bangsawan memiliki simpanan setelah menikah," sambung Victoria ikut dalam cerita.


"Apa?" pekik Hanna tidak menyangka. Di zaman ini sudah ada poligami. Mengetahui sifat Alex semakin menambah citra buruk di mata Hanna.


Di bawah Kosen melengkung pintu masuk ruang pesta, Will berhenti dari langkahnya menuju tempat Hanna, dan mulai mengangguk ke arah pemusik di ujung sana, agar alunan musik kembali terdengar.


Pria itu ingin mengukuhkan perasaannya terhadap Hanna di depan banyak orang. Tanpa ragu, pria itu meminta tangan Hanna untuk mengajak gadis itu berdansa. Gemuruh tepuk tangan mengiringi mereka turun ke lantai dansa.


Alunan musik mengantar mereka pada dunia yang hanya ada mereka saja. Tatapan orang tidak lagi diperdulikan Hanna. Malah larut dalam suasana, beberapa pasangan justru ikut turun berdansa bersama mereka.


"Apakah aku sudah mengatakan kalau kau sangat cantik sekali malam ini?" bisik Will di tengah dansa mereka.


"Kau terlalu sibuk dengan perkenalan mu dengan putri Duke itu, hingga melewatkan kesempatan mu mengatakannya," jawab Hanna tersenyum simpul. Itu yang disukai Will dari Hanna. Gadis itu selalu bisa menjawab setiap perkataan padanya, dan justru membalikkan hingga lawannya bertekuk lutut.


"Apakah kau merindukanku? sepertinya kau cemburu," goda Will tertawa renyah.

__ADS_1


"Ya, aku sangat merindukanmu,"


"Seberapa besar?" susul Will tidak memberi celah pada Hanna untuk mengarang.


"Sampai aku benar-benar merasa putus asa,"goda Hanna tertawa.


Tawa Hanna begitu lepas. Dia bergembira, Will menceritakan hal lucu yang berhasil menggelitik hatinya, mengenai putri sang Duke yang terlalu ingin menunjukkan statusnya.


Seketika matanya bersitatap dengan Alex yang sudah turun bersama Iris.


Tidak usah pedulikan dia, Hanna. Anggap saja buaya itu tidak terlihat, sudah jadi setan!


Namun, sepertinya setan itu masih terus saja mengawasinya. Bahkan setiap Will berbisik di telinga Hanna, Alex akan mengerutkan kening tanda tidak suka. Wajah nya kusut seperti pakaian yang belum disetrika.


Putaran musik pertama sudah selesai, Hanna dan Will kembali ke tempat mereka, di mana Julia sejak tadi sudah di sana memperhatikan mereka dengan tatapan nanar.


Hanna ingat kalau tidak satu orang pun pria yang mengajak Julia berdansa malam ini, sementara Hanna bahkan sudah meninggalkan angka dua puluh.


"Will, aku ingin kau mengajak Julia berdansa," ucapnya serius.


"Kenapa?" tanya Will heran. Tentu saja Hanna tidak mungkin menjelaskan pada Will, bahwa suatu kebanggan bagi seorang gadis jika dia diajak berdansa oleh pria.


"Lakukan saja, Will. Aku ingin kalian berdua berdansa. Oh, ayolah, Will. Tidak usah banyak tanya, ajak dia."


Will melihat sekilas mata Hanna, ada keseriusan yang di tunjukkan gadis itu, hingga Will pun melakukannya.


Lima menit kemudian, Julia dan Will sudah berdansa di bawah cahaya lampu. Hanna melihat betapa wajah Julia sangat bahagia. Ada yang aneh dari cara dia menatap Will. Tatapan yang tidak biasa yang Julia perlihatkan saat melihat dirinya.


***

__ADS_1


Hai genks, mampir yuk, 😁



__ADS_2