My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 52 (MCL)


__ADS_3

"Alex...,"pekikan tertahan keluar dari mulut Hanna.


"Dasar gadis gila, aku bukan Alex! Bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini? kau pasti perampok, kan. Tunggu aku akan menghubungi polisi!" seru Davlin garang. Hanna panik, mencoba mendekat. Bukan, dia tidak panik karena akan dilapor polisi, namun wajah terkejutnya karena wajah dan suara Davlin benar-benar mirip dengan Alex.


"Dasar gadis gila. Bukannya takut dilaporkan malah senyum-senyum gak jelas," lanjut nya membatalkan niat melaporkan pada polisi. Justru bergidik ngeri menatap Hanna. Pikirannya jelas menganggap Hanna gadis psycho. Penuh kesal, membuka ikatan dasi di lehernya, dan melempar dengan sembarangan.


Tidak peduli apa yang dikatakan pria itu tentang dirinya, Hanna hanya ingin memuaskan telinganya mendengarkan pria itu bicara, setidaknya bisa mengobati rasa rindunya pada Alex.


Kesal melihat wajah Hanna yang tampak bloom, pelangak-pelongok menatapnya dengan wajah bodoh dan tatapan terpesona pada dirinya, Davlin kehilangan kesabaran, menyeret gadis itu menuju pintu, setelah membukanya segera melempar gadis itu.


"Jangan pernah kau datang lagi ke rumah ini, atau aku akan benar-benar melaporkan mu ke polisi!" salak Davlin dengan wajah mematikan.


"Alex, kau ga ingat padaku? Aku Hanna, wanita yang kau cintai, istrimu," ucap Hanna memelas. Seketika kerongkongannya tercekat hanya untuk meneruskan bicaranya karena melihat bola mata Davlin yang sedingin bongkahan es.


"Tidak diragukan lagi, kau memang sudah gila!" Davlin menutup pintu, namun tangan Hanna menahan keras hingga tubuhnya terjepit.


"Sakit, Lex. Kau kok gitu sih, dulu aja bilang cinta, bilang sayang. Sekarang, cuek dan kasar lagi," ringis Hanna karena pria itu semakin getol menarik pintu. Kaki dan tangan Hanna yang sebagian di dalam rumah, mengalami penyiksaan oleh pria itu, dicubit dan ditendang oleh Davlin.


"Huaaaa...suami durhakim, menzolimi istrinya yang cantik ini. Awas nanti dilaknat Allah," ucap Hanna menahan rasa sakit, kala pria itu semakin keras mencubit lengannya.


"Davlin, kamu lagi ngapain, Hanna mana?"


Kalau saja Reta datang lebih lama lagi, kulit Hanna pasti sudah terlepas dari tubuhnya. Wanita itu mendekati Davlin dan terpekik kaget karena mendapati Hanna yang berada diambang dua sisi, dalam dan luar.


Reta menarik Davlin hingga bisa membantu Hanna masuk kembali ke dalam. "Kamu apakan anak gadis orang? lihat kulitnya sampai merah. Kakinya kamu tunjang juga?" Reta menatap marah pada putranya. Tapi seolah tidak merasa bersalah, Davlin justru masuk dengan cueknya.


"Jangan pergi, kamu harus minta maaf pada Hanna," seru Reta yang sudah duduk dengan Hanna di sofa. Langkah Davlin yang sudah ada di anak tangga pertama, terpaksa memutar tubuhnya, mendengus dan berjalan mendekati mereka.


"Duduk!" perintah Reta. Kali ini wanita itu menganggap perlakuan putranya sudah sangat keterlaluan pada Hanna. "Minta maaf!"


"Sebenarnya dia siapa sih, Ma? ngapain di rumah ini?"

__ADS_1


"Hanna anak mbak Ema, tinggal di sebelah. Dia kesini mau bilang maaf soal tempo hari, sekaligus ngucapin terima kasih juga." Reta membelai rambut panjang Hanna yang diikat ekor kuda.


"Bukannya anaknya tante Ema bukan yang ini?"


"Maksudmu pasti Cathy, adikku. Kami dua bersaudara," ucap Hanna tersenyum. Seolah memar di kulitnya tidak menyisakan rasa sakit.


Niat baik Hanna yang ingin mengajak Davlin bicara tidak ditanggapi dengan oleh pria itu, tatapannya tidak sedetikpun mau menatap Hanna.


"Tapi kayaknya dia udah gila, Ma. Semua tang dia katakan membuatku tidak nyaman. Aku tidak ingin dia datang lagi ke rumah ini."


"Maksud mu apa?" tanya Reta bingung. Menatap wajah Davlin lalu berganti ke wajah cantik Hanna.


"Dia selalu manggil aku Alex dan parahnya dia bilang aku ini suaminya!"


Bola mata Reta terbelalak. Memandang tidak percaya pada wajah Davlin. "Serius, Ma. Makanya aku bilang, gadis ini sudah kena gangguan mental. Suruh aja pulang."


"Hanna, apa Davlin sudah menodai mu? maksud Tante, apa dulu pria brengsek ini pernah mengambil keuntungan dari mu? katakan pada Tante sayang, jangan takut," ucap Reta ingin melindungi hak Hanna yang mungkin saja sudah direbut putranya.


"Mama apa-apa an sih? Ma, aku ini anak mama. Segitu buruknya menilai ku?" sahut Davlin tidak percaya. Mata memutar dengan sempurna. Sungguh kesolidan keluarga yang luar biasa.


"Lantas, kenapa Hanna mengatakan kau adalah suaminya? apa dulu dia mengajakmu nikah sirih agar bisa merenggut kesucian mu?" desak Reta yang membuat Davlin tersenyum sinis, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia pikir mama nya akan sepihak dengannya mengusir Hanna karena ucapan halu nya.


"Hah?" Hanna menjadi terpojok, menatap mata Davlin yang melotot menatapnya. Percayalah, tajamnya tatapan itu bisa membunuh Hanna seketika.


"Maaf Tante, bukan begitu. Alex.. maksudku Davlin hanya salah dengar. Aku gak bilang suami kok," ucapnya dengan sudut bibir naik ke atas.


Davlin muak dengan tingkah gadis itu dan juga mamanya yang menganggapnya seolah menjadi penjahat kelamin yang tidak pantas dipercaya, memilih untuk naik ke atas dan selama mendengar suara Hanna masih dibawah, Davlin tidak akan sudi untuk turun.


***


"Bisa gak bos, wajah lo gak usah ditekuk? udah kayak ****** keriput karena terlalu lama berendam," ejek Haris sekaligus sapaan di pagi hari pada bosnya.

__ADS_1


Ken adalah sahabat dekat sekaligus asisten dan tangan kanan Davlin di kantor menatap aneh pada bosnya. Biasanya kalau disinggung, Davlin akan mengancam memotong bonus Ken.


"Ngapa lo?" Ken semakin penasaran melihat reaksi murung Davlin. Baru akan mengeluarkan jurus memprovokasi untuk menarik perhatian Davlin, pria itu sudah melempar kesal ponselnya di atas meja.


Dari tempat duduknya, Ken sempat melirik, sang CEO dingin itu baru saja membaca portal berita online mengenai kekasihnya Irish yang saat ini sedang berada di Paris mengikuti fashion week dan akan tinggal selama satu bulan ini di sana. Pemberitaan tentang gadis itu dengan pengusaha besar sudah seminggu ini bergulir panas di media sosial dan cetak.


"Gak usah dipikirin bos. Ini hanya trik media dan orang tertentu yang ingin menjatuhkan karir Irish."


"Lo udah tugaskan orang untuk mengikutinya? gue gak mau kecolongan lagi. Cukup sekali dia mengkhianati gue. Kalau sampai kesempatan yang udah gue kasih disia-siakan gue yang akan habisi gadis itu!"


***


"Thanks ya, Ra, udah kasih info buat lowongan ini," ucap Hanna melalui sambungan telepon.


"Sama-sama. Kalau ada apa-apa, lo jumpai aja abang gue. Dia kerja di bagian personalia. Syukur-syukur dia yang wawancara," sahut Ara yang baru saja memasuki ruang kelas. "Lo kapan sih habis cutinya? gue kangen tau ga!"


"Paling empat bulan lagi. Sabar ya, Sayang." Hanna tersenyum membayangkan wajah Ara yang memonyongkan bibirnya kalau lagi kesal.


"Jadi lo udah dimana?"


"Di sini. Ruang HRD. Doain ya."


Hanna tersenyum puas. Interview berjalan lancar dan dia pun diterima bekerja di perusahaan Mega raksasa. Ya, walaupun hanya sebagai cleaning service. Tapi tidak mengapa. Hanna tetap bangga akan pekerjaan barunya. Setidaknya masa cutinya yang tinggal beberapa bulan lagi akan terisi dengan baik, dan dia akan dapat uang untuk ditabung demi mewujudkan mimpinya.


Ting!


Pintu lift terbuka, dan Hanna masuk. Pintu lift seketika ditahan, dan dua orang pria tampan dengan tubuh dibalut stelan mahal masuk bergabung dengan Hanna.


Seketika jantung Hanna berdetak cepat, melihat pria yang masuk itu adalah Davlin.


"Kau lagi? ngapain kau di sini, Gadis gila?" umpatnya kesal, melotot menatap Hanna penuh kesal.

__ADS_1


"Yang pasti bukan merampok," ucap Hanna kesal sembari menunjukkan tanda pengenal karyawan miliknya yang baru dia dapatkan tadi.


__ADS_2