My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 123 (MCL)


__ADS_3

Alex membelai pipi Hanna dengan jari telunjuknya. "Yang terjadi di antara kita adalah berbagi yang terlahir dari gairahku untuk sedekat mungkin denganmu, untuk benar-benar menjadi bagian dari dirimu. Cantik, ketika aku berada di dalam dirimu, aku tidak menguasai, aku memberi. Aku memberikan tubuhku padamu, seperti aku memberikan cintaku padamu, dan cincinku hari ini. Ketika aku berada dalam dirimu, aku akan menempatkan benih kehidupanku dalam dirimu dan meninggalkannya di sana supaya bisa kau jaga dan kau lindungi, lambang cinta dan kebutuhan akan dirimu."


Di bawah cahaya jingga yang berayun di perapian yang ada di seberang ruangan, Alex melihat kebimbangan Hanna, lalu diam-diam wanita itu mendongakkan wajah, menawarkan bibirnya untuk dicium Alex.


Dengan sangat pelan dan lembut, Alex menunduk dan mencium istrinya. Ia mencium Hanna dengan panjang dan lama, dengan segala kelembutan yang menyiksa dalam hati Alex.


Lalu, setelah beberapa saat diam dan tegang, Hanna menempelkan jemari lentiknya di pipi Alex dan membalas ciumannya dengan segenap getaran cinta dan rasa malu yang Alex tahu saat ini dirasakan Hanna.


Bibir lembut Hanna terbuka hanya dengan desakan ringan lidah Alex, dan lengannya melingkari leher pria itu saat menyambut lidah Alex.


Alex menggodanya, menyiksa, menawarkan diri, merayu Hanna dengan ciuman bergairah hingga Hanna menempel pada Alex. Bibir Hanna bergerak maju dan mundur di bawah penyerahan Alex yang penuh gairah akibat ciuman mesra itu.


Pria itu membelai rambut Hanna, mengelus lehernya, lalu ke dada wanita itu, membelai puncak payu*dara Hanna yang merah muda hingga wanita itu menegang.


Hanna bergetar senang dan menempelkan diri ke tubuh Alex yang liat... lalu tersentak menjauh seakan terbakar.


Alex tahu apa yang membuat Hanna takut, dan walaupun Hanna menolak, Alex menggerakkan lengan untuk menahan agar pinggul Hanna tetap menempel di pinggul Alex. "Tidak," kata Alex lembut ketika Hanna mencoba menarik tubuh menjauh dari bukti gairah Alex. "Tidak akan ada yang menyakitimu."

__ADS_1


Bulu mata Hanna yang lentik terangkat dan wanita itu menatap ragu dengan sorot menuduh ke arah Alex hingga pria itu nyaris tersenyum. "Letakkan tanganmu di dadaku," ujar Alex lembut. "Hanya di dadaku," tegasnya ketika Hanna mengangkat sebelah tangan untuk mematuhi, lalu ragu.


Begitu Hanna menggerakkan jemarinya di kulit Alex yang hangat, otot Alex refleks berkedut. Lihat bagaimana tubuhku, merespon sentuhanmu?" tanya Alex lirih. "Bagian diriku yang kau takuti hanya merespons kedekatanmu, menginginkanmu." Alex mendekap Hanna lebih dekat ke paha dan pinggulnya, tetapi Hanna tetap kaku dan tegang. "Kau masih takut aku akan menyakitimu, meskipun aku berjanji tidak akan menyakitimu, bukan?"


Hanna menelan ludah dengan susah payah, lalu menggeleng. Jika Alex berkata ini tidak akan menyakitkan, ia akan percaya pada pria itu. Dengan ragu-ragu Hanna menggerakkan jemari di sela rambut gelap di dada Alex, dan merasakan debar jantung pria itu yang semakin cepat, begitu pun dengan gerakan otot pada dadanya.


Alex merasakan sensasi panas menjalari pembuluh darahnya dengan liar. "Oh, Sayang," Alex setengah tertawa, setengah mengerang. "Silakan merasa bangga karena apa yang sanggup kau lakukan atas diriku. Aku merasa rendah diri karena kau bisa membuat tubuh ku merespons sentuhanmu yang paling ringan sekalipun, bahkan jika aku menahan diri. Aku merasa lebih rendah diri lagi mengatakan padamu, tapi aku tidak punya pilihan lain, aku akan mengatakannya yang sebenarnya padamu, kalau sentuhan kecil saja darimu sudah buatku begitu tergoda."


Hanna menarik napas panjang dan gemetar dan sambil merangkul leher Alex, menekankan tubuhnya di sepanjang tubuh Alex yang sudah mengeras, dan mulai mencium pria itu. Hanna mencium kening, mata dan bibir Alex, merasakan kehalusannya, dan Alex mengerang, bibirnya terbuka penuh gairah di atas bibir Hanna. Dan ketika Alex menggulingkan Hanna hingga telentang, lalu mencondongkan tubuh di atasnya, mencium Hanna, membelai dengan tangannya yang lembut dan lihai, Hanna tidak tahu apakah yang dirasakannya ini adalah rasa bangga, tetapi apapun itu, perasaan itu membius dan menggiurkan, serta luar biasa.


"Aku menginginkanmu," bisik Alex di bibir Hanna yang terbuka. "Aku sangat menginginkan mu sampai rasanya tersiksa." Ia menjauhkan bibirnya dari bibir Hanna, dan tangannya gemetar ketika menangkup wajah Hanna.


Jawaban Hanna membuat tenggorokan Alex nyeri. "Aku tahu kau tidak akan menyakitiku," bisik Hanna. "Tapi tidak penting jika kau menyakitiku setiap malam... selama kau selalu mengatakan hal itu... tentang ingin menjadi bagian dari diriku."


Alex tidak bisa menahan diri, ia melu*mat bibir Hanna dengan bibirnya dan menyerang wanita itu dengan keliaran lembut. Alex membelai payu*dara Hanna dan menggoda puncaknya, dan wanita itu mengerang lembut ketika bibir Alex mengikuti jejak tangan pria itu.


Setiap gerakan kecil tubuh Hanna yang bergairah terasa menggelitik di bawah serangan lembut Alex. Setiap suara yang dilontarkan Hanna berpacu di pembuluh darah Alex bak obat bius.

__ADS_1


Alex tidak percaya betapa besar gairah yang disembunyikan Hanna, juga betapa besar tubuhnya menginginkan Hanna, Alex benar-benar tergila-gila pada wanita itu.


Tangan Hanna mencengkeram rambut Alex, membelai bahu dan punggungnya, kuku Hanna menusuk kulit suaminya. Tetapi ketika Alex menggerakkan tangan mendekati sela paha Hanna, wanita itu tersentak takut merasakan sentuhan mesra, lalu merapatkan kakinya.


"Jangan sayang," gumam Alex penuh gairah seraya menangkup bibir Hanna dalam ciuman dalam dan luar biasa sementara ia dengan perlahan merenggangkan paha Hanna, jemarinya menggoda dan menjelajah dengan lembut hingga Hanna siap menyambut suaminya.


Tetap ketika Alex bergerak ke atas tubuh Hanna, wanita itu tersentak dari putaran gairah yang menerjangnya, menuju kehampaan. Takut hal itu tidak bisa disingkirkan, Hanna merasakan Alex membuka kakinya, merasakan pinggulnya diangkat untuk menerima Alex.


Hanna menahan teriakan panik saat merasakan pria itu akan menyatukan tubuh mereka. Walaupun Alex telah berjanji, tubuh Hanna refleks menguatkan diri menghadapi rasa sakit, tetapi hanya terasa sensasi menyenangkan ketika Alex menyatukan tubuh mereka. Awalnya memang, sakit namun hanya sekian detik, berganti dengan rasa yang sulit digambarkannya.


Secara naluriah, Hanna berubah santai dan membuka diri untuk Alex, lalu terkesiap nikmat ketika pria itu menyatukan tubuh mereka dengan sempurna.


Hanna merangkul Alex, tersesat dalam rasa mendamba yang aneh karena ingin pria itu tetap berada dalam dirinya selamanya, sangat mendambakan Alex.


Dia mengira inilah akhirnya, dan ia pasti menangis karena sangat menginginkan ini terus berlanjut. Dan ketika Alex mulai bereaksi, Hanna berhenti berpikir sama sekali. Sensasi ringan terurai di perutnya, lalu menjalar bagai api, perlahan semakin besar dan kuat, hingga sensasi itu berpacu liar dalam sarafnya. Seraya menggerakkan kepala dengan resah di bantal, Hanna mulai melengkungkan tubuh untuk menyambut Alex. "Ku mohon," pinta Hanna pada Alex dalam bisikan, tetapi wanita itu tidak tahu apa yang dimintanya.


Alex tahu. Dan pria itu sangat ingin Hanna merasakannya, sehingga gai*rah nya sendiri, yang meledak-ledak, menepati urutan kedua. "Segera, Sayang," janji Alex dan terus beraksi.

__ADS_1


Gunung berapi yang mengancam akan meledak dalam diri Hanna akhirnya meledak dengan begitu kuat hingga wanita itu mengerang rendah. Alex langsung membungkam erangan itu dengan bibirnya. Ketika getaran Hanna mereda, Alex mencium bibir Hanna lama-lama dan menjalarkan kehangatan di sekujur tubuh wanita itu.


__ADS_2