
Perjalanan selama satu setengah jam ditempuh dalam keheningan, tetapi Hanna menghibur diri dengan membayangkan reaksi Alex nanti ketika melihat payu*daranya yang menonjol indah karena bagian depan gaun sangat rendah dan berani.
Jika dalam suasana hati seperti sekarang, Alex tidak menyukai gaun hijau zamrud Hanna, pria itu pasti juga tidak akan menyukai gaun yang kini melekat indah di tubuh Hanna.
"Kita tidak bertolak belakang," komentar Hanna ketika mereka tiba di tempat tujuan dan Alex membantu wanita itu turun dari kereta beratap tertutup.
"Apa maksudmu?" kata Alex dingin.
"Maksudku, warna pakaian yang kita kenakan," Hanna menjelaskan dengan lugu. Dengan gerakan pura-pura santai, Hanna menarik lepas selendang emas itu dan membiarkannya meluncur dari jemari ketika melangkah di samping Alex menuju rumah Archibald.
"Aku tidak tahu apa bedanya..." Alex mendadak berhenti, sorot mata sedingin es ketika terpaku pada tonjolan kulit mengilap di atas bagian depan gaun yang berkilau.
Dalam suara rendah dan penuh amarah, Alex bertanya, "Apakah kau mencoba melihat seberapa jauh kau bisa membuatku marah?"
"Tidak, My Lord," sahut Hanna sopan, menyadari tatapan heran tamu yang berdatangan. "Bagaimana mungkin aku membuat lebih marah daripada yang sudah kulakukan dengan memberimu seorang anak."
"Kalau kau mau menerima nasihatku," bentak Alex, kentara sekali berusaha mengendalikan amarahnya. "Kau harus mengingat kondisimu dan bersikap pantas malam ini."
Hanna menyunggingkan senyum riang, menyadari tatapan Alex yang berapi-api terpaku pada dadanya. "Tentu saja," jawab Hanna ringan. "Aku berniat melakukannya, tapi benang sulamku tidak muat di dalam dompet kainku!" Dengan kocak, Hanna mengacungkan tas manik-manik kecilnya. Bagi masyarakat London, pekerjaan anggun dan beretika bagi kaum wanita bangsawan, dilambangkan dengan kemampuannya menyulam.
Alex paham, saat ini Hanna ingin mengolok-oloknya atas ucapannya tentang kesopanan, hingga tidak tahan lagi, mendekati istrinya, yang kemudian terkesiap kaget dan kesakitan ketika Alex mencengkeram lengannya, jemari pria itu menusuk kulitnya.
"Jangan menahan di untuk bersenang-senang di pesta malam ini, karena ini pesta terakhir yang kau hadiri. Kau akan berada di Claymore sampai anak itu lahir, dan aku akan pindah ke rumah di kota."
Semua harapan dan tekad menguap dari diri Hanna, membuatnya merasa mati rasa dan hampa. Ia mencoba menarik lepas lengannya, tetapi cengkeraman Alex bertahan. "Kalau begitu tolong jangan permalukan kita malam ini dengan meninggalkan bekas kebencianmu di lenganku."
__ADS_1
Cengkeraman Alex melonggar begitu tiba-tiba, sampai rasanya seakan Alex tidak sadar telah menyentuh Hanna. "Rasa sakit, seperti cinta, merupakan sesuatu yang harus dibagi," bentak Alex sementara mereka melewati kepala pelayan.
Sejak memasuki ruang duduk, Hanna samar-samar merasa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak tahu apa. Hanya saja semua orang terlihat begitu... normal.
Tidak, bahkan ini amat sangat normal.. seolah mereka sengaja berusaha terlihat normal.
Hampir satu jam kemudian, Hanna mendongak dan melihat Peter Pattigrew Hanna tersenyum dan mengangguk serta membungkuk, tetapi ketika sang Lord berjalan menghampiri Hanna, dia pura-pura sibuk berbicara dengan kelompok yang mengelilinginya.
Hanna tidak percaya, Peter Pattigrew akan mengatakan hal yang baik. Dia terkenal sebagai pria yang suka menghina, berlidah tajam, sehingga Hanna selalu berusaha menjaga jarak dari pria itu.
Untunglah mata Hanna menangkap kedatangan Julia dan suaminya. Keduanya datang, penuh senyum mendekati dirinya. Hanna balas tersenyum. Setidaknya ada hal yang bisa membuatnya tersenyum di saat kepedihan yang dialaminya.
"Senang bisa melihat kalian berdua di sini," sapa Hanna menerima pelukan dari Julia. Wajah gadis itu sudah tampak sangat bahagia. Sepertinya keduanya sudah bisa keluar dari masalah rumah tangga yang mereka hadapi baru-baru ini.
Ketiganya mengobrol dengan gembira, seolah di sekeliling mereka tidak ada orang. Hanna bisa tertawa dengan tulus.
"Kasihan sekali kau Lady Malory, kau diperdaya oleh teman dan juga suamimu!" kembali Alex memaki dalam hati.
Miranda, yang datang ikut bergabung dengan mereka bertiga, langsung memberi jawaban atas suasana ganjil yang menyelubungi malam itu. "Oh, demi Tuhan," katanya seraya menarik Hanna ke sisinya dan berbisik sambil melirik ke sekeliling. "Papaku sangat aneh dalam beberapa hal. Aku tidak bisa mempercayai telingaku ketika dia memberitahuku lima menit lalu tentang upaya besar yang dilakukannya untuk membujuk wanita itu datang ke sini sebagai kejutan bagi ibuku yang memang sangat menyukainya."
"Apa yang kau bicarakan?" Hanna balas berbisik sementara firasat buruk mulai menyentak di otaknya.
"Iris Lancaster. Dia ada di sini! Papaku menghubungi teman dari temannya yang lain untuk membujuk wanita itu datang ke sini dan menyanyi malam ini. Dia tamu di istana tempat dia akan tampil besok malam, dan..."
Hanna tidak mendengar sisanya. Kaki dan lengannya mulai gemetar sejak Miranda menyebut nama mantan simpanan suaminya yang cantik dan paling terkenal.
__ADS_1
Iris Lancaster ada di London, di rumah ini bersama Alex. Dan kurang dari satu jam lalu, Alex memberitahukan niatnya untuk pindah ke rumah pria itu di London. Hanna tidak ingat apa yang dikatakannya kepada Miranda atau bagaimana ia berhasil kembali ke kelompok kenalan yang tadi ditinggalkan Hanna karena pasangan suami-istri Malory juga sudah pamit pulang, perut Julia keram.
Dengan ngeri, Hanna menunggu momen ketika Iris Lancaster berjalan masuk ke ruangan.
Ruang duduk luas itu penuh sesak. Dari sudut mata, Hanna melihat Alex memasuki ruangan tepat ketika pemain piano duduk di depan piano besarnya, dan pemain musik mengambil instrumen masing-masing.
Ketegangan menggantung di udara, dan Hanna tidak tahu apakah itu karena penampilan wanita yang suara dan kecantikannya melegenda dan kehadirannya di tunggu-tunggu di seluruh ibukota di Eropa, atau karena semua orang diam-diam menyaksikan Alex bertemu muka dengan wanita itu lagi.
Alex yang berhenti sejenak untuk berbicara dengan seseorang, akhirnya menghampiri Hanna. Rasanya seolah kerumunan orang membukakan jalan sehingga mereka berdua bisa berjalan ke barisan depan yang mengitari piano.
Hanna berdiri dengan tangan menggandeng lengan Alex. Ia tahu pria itu tidak menginginkan perlakuan itu, tetapi Hanna merasa mual dan membutuhkan sesuatu untuk dipegang. "Tidak ada suara di dunia yang seperti suara Miss Lancaster, kalau kau bertanya padaku," ucap pria tua di samping Alex.
Di bawah jemari Hanna, wanita itu merasakan otot lengan Alex menegang lalu perlahan berubah santai. Alex gugup, itu tebakan Hanna.
Ya Tuhan, kenapa Alex harus terlihat begitu tampan malam ini, begitu tampak menggairahkan?
Irish Lancaster memasuki ruangan dengan anggun, rambut pirangnya begitu indah, dan Hanna harus mengakui wanita itu sangat cantik, menggiurkan dan menggoda. Mata Hanna sudah mulai berkaca-kaca, tidak bisa mengalihkan tatapan iri dari wanita itu.
Dia memiliki tubuh seramping Venus dan data tarik seorang wanita yang yakin pada kecantikannya yang luar biasa tanpa terobsesi pada hal itu.
Dan ketika Irish mulai bernyanyi, Hanna merasa ruangan itu berputar. Wanita itu memiliki suara merdu yang bisa terdengar lembut di telinga atau berubah lantang sampai terdengar serak dan sensual.
Ada binar tawa di mata itu ketika menyanyi, seolah ia merasakan pujaan diam-diam yang diarahkan kepadanya oleh ratusan orang yang mendengarkan dan menontonnya. Dia Dewi malam ini, yang berhasil menghipnotis ratusan mata yang tertuju padanya.
Dibandingkan dengan wanita itu, Hanna merasa kekanak-kanakan, lugu, dan kuno. Dan sangat mual. Karena sekarang Hanna tahu persis apa artinya menjadi wanita simpanan Alex.
__ADS_1
Pikiran Hanna sudah mulai tergoncang dengan pikiran-pikiran yang berhasil membuatnya lemah. Irish dengan mata biru berbinar, mengenal ciuman Alex yang memabukkan, pernah berbaring tela*njang dalam pelukan Alex dan merasakan kenikmatan luar biasa ketika Alex menyatukan tubuh mereka.
***Dukung novel aku terus ya Makasih 🙏♥️