My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 32 (MCL)


__ADS_3

Lady Abigail Cambridge adalah seorang wanita yang masih muda, cantik dan penuh humor. Tutur katanya begitu santun jika bicara di depan banyak orang. Tapi siapa sangka itu hanya sebuah formalitas dikarenakan tuntutan aturan kerajaan.


Jika pada umumnya wanita dikalangan keluarga kerajaan akan tersipu malu bahkan menjauhkan diri dari pembahasan tabu, wanita itu justru senang bercerita hal romantis dan sedikit menyerempet perihal adegan ranjang.


Kereta berlogo keluarga Cambridge memasuki halaman mansion, para pelayan dan tentu saja Hanna dan Julia juga turut serta menyambut kedatangan Lady Abigail.


"Miss Jhonson, akhirnya kita bertemu," sapa Lady Cambridge tersenyum.


"Suatu kehormatan bagi saya, mendapat undangan dari anda, your Highness," jawab Hanna menekuk kakinya.


"Ini.."


"Oh, perkenalan my Lady, ini teman saya, Julia Clifford. Saya minta maaf, mengajak Julia menemani tanpa meminta persetujuan anda terlebih dahulu," jawab Hanna masih menunduk.


"Oh.. never mind. Lebih banyak gadis muda yang hadir dalam acara minum teh itu, pasti akan lebih seru. Kau tahu, aku bahkan meminta keponakan tersayang ku untuk kembali ke London," pekiknya kegirangan. Dari sorot matanya berbicara, Hanna menebak wanita itu sangat menyayangi pria yang saat ini tengah dibicarakannya.


"Corazon, apakah keponakan ku sudah tiba?" tanya Lady Abigail memutar tubuh melihat ke arah kepala pelayan itu.


"Sudah, my Lady. Maafkan saya my Lady, saya bekerja tidak becus." Corazon sudah menjatuhkan diri dihadapan Lady Abigail, menunduk bahkan bersujud didekat kaki majikannya.


"Ada apa? bangkit lah," ucap wanita itu.


Wajah Hanna seketika pucat, begitu pun dengan Julia yang duduk di sebelahnya. Bertanya-tanya apa yang akan disampaikan Corazon pada lady Abigail.


"Saya tidak tahu kapan pastinya His Grace tiba, karena kemarin malam, sebelum tidur His Grace belum ada. Tapi pagi tadi, terjadi insiden, His Grace masuk ke kamar yang biasa dia tempati, dan tidur menimpa tubuh Miss Jhonson," ucap Corazon benar-benar merasa bersalah.


Lady Abigail menatap Corazon dengan tatapan mengerikan, lalu ke Hanna dan juga Julia. Kedua gadis itu menunduk menunggu apa reaksi wanita itu.


Sebenarnya, kalau mau diusut, baik Hanna atau Alex, terlebih Corazon tidak salah dalam hal ini. Lady Abigail lah yang meminta Corazon memberikan kamar Alex untuk Hanna, wanita itu tahu kalau keduanya sempat punya kisah sebelum Alex patah hati dan pergi berkeliling dunia, dan ingin mencoba mendekatkan kembali.

__ADS_1


Kisah cinta mereka dia dengar dari ibunda Alex, Lady Margaret. Awalnya Abigail yang berkunjung ke rumah kakaknya itu bertanya dimana Alex saat ini, karena rumors yang beredar dikalangan istana, Alex batal menikah, dan justru pergi dengan kekasih lamanya, Iris Lancaster ke Paris.


Penuh semangat, Margaret bercerita tentang kesedihan hati Alex. Kali pertama pria itu jatuh cinta pada seorang gadis, namun gadis itu justru menolaknya.


Mendengar penuturan Lady Margaret, Abigail yang punya naluri cupid bermaksud membuat kisah cinta itu terjalin kembali.


Segera mengirim kabar pada Alex kalau dirinya sedang sakit, dan ingin pria itu pulang. ALex yang sangat menyayangi Abigail, karena sejak kecil, Alex selalu lengket dengan bibinya itu.


Mendapati balasan dari Alex yang mengatakan akan pulang, Lady Abigail langsung meminta Hanna datang, merancang pesta minum teh, yang sebenarnya dibuat untuk menyatukan mereka. Lebih gilanya lagi, Lady Abigail sebagai meminta Corazon menempatkan Hanna di kamar yang selalu menjadi milik Alex setiap dia datang ke mansion bibinya itu, berharap mereka akan mengalami malam yang indah.


Pemikiran nakal Lady Abigail ternyata gagal, dan dia harus menyelamatkan harga dirinya.


"Kamu keterlaluan sekali Corazon, mengapa sampai hal ini terjadi? aku minta maaf Miss Jhonson atas ketidaknyamanannya ini," ucapnya memasang wajah menyesal sekaligus bersedih.


Lady Abigail memang wanita yang pintar berakting. Awalnya dia ingin melihat bagaimana gadis yang bernama Hanna white Jhonson, hingga keponakan tampannya yang banyak digilai para bisa patah hati, dan setelah bertemu, Abigail kini paham.


"Tidak apa-apa, My Lady. Aku bisa memahaminya," ucap Hanna yang merasa kasihan melihat Corazon yang merasa bersalah. Bagiamana pun yang harus disalahkan adalah Alex, pria itu harusnya bisa melihat kalau di ranjang itu ada seseorang yang sedang tidur, walaupun tertutup selimut.


***


Acara pesta minum teh itu akan diadakan besok, dan sisa hari ini mereka habiskan dengan belanja pakaian, perhiasan dan semua yang berhubungan dengan kebutuhan wanita


Harusnya Hanna bisa menikmati perjalanan ini, tapi karena keikutsertaan Alex bersama mereka, gadis itu pun merasa risih dan tidak nyaman.


"Apakah ini bagus?" tanya Lady Abigail menunjukkan lipstik berwarna merah menyala.


"Warna kulit anda putih bersih, jadi pakai warna apa pun pasti bagus. Tapi untuk gaun yang anda tunjukkan tadi, akan lebih tepat dengan warna merah yang lebih soft ini," sahut Hanna.


Abigail pun tersenyum. Dia mengakui Hanna memiliki taste yang bagus. Selanjutnya semua benda yang dikatakan bagus oleh Hanna pasti dibeli oleh Lady Abigail.

__ADS_1


Mereka sampai di toko perhiasan. Beberapa barang sudah di lihat dan di beli oleh lady Abigail dan lagi-lagi atas rekomendasi dari Hanna.


Hanna melirik saat Lady Abigail berbicara dengan Alex dan mengambil kesempatan untuk menjauh dari sana. Di sudut ruangan, mata gadis itu menangkap sebuah benda yang terlihat bersinar. Hatinya tertarik dan mendekat untuk melihat keindahan liontin itu.


Sebuah kalung dengan mainan berbentuk bulat seperti bumi dan matahari yang berada dalam lingkaran yang berbeda. "Silakan, my lady," ucap salah satu pelayan yang berdiri di dekat perhiasan itu.


Sebuah senyuman anggukan yang diberikan Hanna, karena dia tahu, kalau dirinya tidak akan mampu membeli perhiasan itu.


"Tidak terima kasih, aku hanya memegangnya," ucap Hanna sekali lagi tersenyum.


"Coba saja dulu, My Lady. Kalau nantinya anda tidak suka, maka tinggal lepaskan saja. Walaupun saya yakin, kalung ini akan sangat indah di leher jenjang anda," kata si pelayan meyakinkan.


Sejujurnya, Hanna memang sangat menyukai kalung itu. Dia paling tidak suka dengan segala macam perhiasan, namun, entah mengapa kalung itu begitu menarik hatinya. Bumi dan juga matahari, dua benda langit yang sangat berperan penting dalam hidup manusia.


Pelayan itu sudah mengambil kalung itu, dan menawarkan diri untuk memasangkan di leher Hanna, tapi saat melihat Alex tengah melihat ke arahnya, gadis itu memutuskan menggeleng dan pergi ke tempat Julia.


Acara belanja sudah selesai. Mereka kembali dan akan beristirahat, agar besok kembali bugar saat acara itu berlangsung. Hanna akan bertanggung jawab mendandani Lady Abigail.


"Miss Jhonson, apakah kau akan beristirahat?" tanya Lady Abigail setelah Hanna pamit untuk kembali ke kamarnya bersama Julia.


"Maafkan aku my Lady, aku baru ingat, gaun yang akan kami kenakan besok belum selesai saya jahit, jadi kalau anda mengizinkan, saya ingin menyelesaikannya terlebih dahulu,"


"Oh, baik lah. Aku pun ingin melakukan sedikit perawatan pada rambutku. Ini untuk mu.." Lady Abigail menyerahkan satu kota berbahan beludru merah yang diikat dengan pita senada.


"Apa ini, My Lady?"


"Untuk mu, aku harap kau memakainya pada jamuan besok."


***Hai, mampir ya gaes 😁🙏

__ADS_1



__ADS_2