My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 144 ( MCL)


__ADS_3

Suara ketukan di pintu yang berulang, kembali terdengar entah untuk keberapa. Tapi Hanna yang masih enggan membuka matanya coba mengabaikan suara itu demi merajut mimpi yang indah dan memenangkan.


Bukan... itu bukan mimpi. Bukan dimensi lain membawa hati dan jiwanya ke tempat lain. Untuk menyelesaikan kisah yang sempat ada dan ingin diperlihatkan padanya. Entah apa yang direncanakan Alam, tapi seperti ingin membuat Hanna mengerti, ada hal yang memang menjadi ketetapan setelah disetujui.


Kembali berdengung suara pintu yang diketuk, membuatnya mengakhiri masa tenang jiwanya.


"Kau baik-baik saja? kenapa kau ada di sini? mana Davlin?" cerca Ema menarik tangan Hanna agar kesadaran Hanna kembali.


Malam memberi jawaban, Hanna berlalu masuk. Kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan bermaksud menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun niatan itu hanya akan menguap, ibunya menahan dengan paksa. Hanna mengalah, kembali duduk dengan kaki dilipat.


Apa yang akan dibahas ibunya, tentu saja Hanna sudah tahu. Tapi dia masih belum punya keinginan, bisa jadi memang sama sekali tidak punya keinginan untuk menjelaskan duduk perkaranya.


"Jawab Mama, Han. Davlin mana? kenapa kau ada di sini?" ulang Ema masih sarat akan kepanikan.


Pagi ini, Ema dan keluarga Jhonson serta besannya, bangun dan berkumpul di lobi hotel, menanti pengantin baru untuk turun. Lama ditunggu, sang pengantin tidak kunjung datang, hingga Ema meminta Cathy dan Jim naik ke atas untuk memanggil mereka.


Seperti yang diwartakan Cathy pada semuanya, bahwa kamar pengantin sudah kosong, bahkan tidak terjamah sama sekali hiasan dan taburan kelopak mawar yang berada di lantai dan juga di atas ranjang, menandakan kamar itu sama sekali belum dimasuki.


Semua yang mendengar tentu saja tercengang. Kemana kedua manusia itu menghabiskan malam pengantin mereka?


Setengah jam menghubungi nomor keduanya, tidak ada satupun yang menjawab. Bergegas mereka pulang ke rumah dengan rasa khawatir yang setiap detik menggulung hingga menjadi bongkahan es.


Tempat pertama yang mereka cek adalah rumah keluarga More tentu saja. Dengan langkah seribu, Reta naik ke atas, masuk ke kamar Davlin yang tidak terkunci, dan mendapati kamar itu kosong.


Lemas sudah kaki Reta. Dia takut hal buruk menimpa anak dan mantunya. Jim yang melihat Tantenya turun dengan lemas, segera memapah wanita itu untuk duduk di kursi, di hadapan Stuart dan Ema. "Kosong Jumat, Em."


Tanpa mengatakan apa pun, Ema keluar dan setelah berlari kecil menuju rumahnya. Mendapati pintu kamar Hanna yang terkunci, sedikit membuat perasaannya menjadi lega, yang artinya, ada orang di dalam kamar itu yang kemungkinan adalah anak mantunya.


Tok.. tok.. Ema memberanikan diri mengetuk. Namun, tidak ada sahutan. Kembali mengulang hingga dua kali, tetap tidak ada suara. Bahkan setelah menempelkan telinga di pintu, Ema juga tidak mendengar suara apa pun pergerakan di sana.


Habis sudah kesabaran Ema. Dia takut terjadi hal buruk pada Hanna. Dia yakin ada orang di dalam sana. Tapi nalurinya sebagai ibu mengatakan kalau hanya satu orang di dalam.


"Hanna... buka..." ucapnya sembari menggedor pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu. Tapi tidak ada reaksi.

__ADS_1


Percobaan ketujuh kali, barulah pintu itu dibuka dari dalam.


"Han, katakan pada mama, ada apa, Nak?"


"Mama, aku ngantuk. Kepalaku sakit, biarkan aku tidur dulu." ucap Hanna menopang dagu dengan tangan, tidak berminat untuk membahas pria itu. Dia ingat semua yang terjadi semalam, walaupun mimpinya tadi malam seolah dia sudah meninggalkan kota ini begitu lama.


"Tidak bisa! Apa kau pikir kami tidak khawatir dengan keadaan kalian? kau gak kasihan pada Tante Reta?"


"Mama.. Please.."


"Ayo, kita temui Tante Reta!"


"Nanti saja, Ma. Aku benar-benar gak siap untuk bicara apa pun." Hanna tidak peduli, dia menjatuhkan tubuhnya ke belakang, memejamkan mata.


"Han.. cerita sama mama. Ada apa sebenarnya?" Kali ini suara Ema terdengar begitu lembut, bahkan sudah hampir menangis.


Hanna tidak tahan, mendengar suara pilu itu. "Ma," ucapnya kembali duduk. "Aku minta maaf kalau ini harus terjadi. Maaf kalau Mama dan papa jadi malu. Tadi malam... Aku dan Davlin bertengkar, dia pergi Ma, meninggalkan aku di rumahnya, sendiri.." air mata Hanna mengalir seketika. Perih, dan sakit.


Dia sudah berusaha membujuk Davlin untuk kembali tapi Davlin bersikeras menganggap nya bersalah dan memilih pergi. Isak Hanna menggetarkan hati Ema, dia merengkuh tubuh putrinya yang terisak.


"Tapi kenapa tiba-tiba ingin pisah? dalam waktu beberapa jam, kebahagiaan yang kalian tunjukkan berubah menjadi kesedihan. Surga yang ingin mereka bangun berubah menjadi neraka dalam semalam.


Hanna tidak bisa menyembunyikan lagi dari orang tuanya, terlebih dari Ema. Dia pun memutuskan untuk mengatakan semuanya. Hanna salah, benar.. Ema juga mengakui hal itu, tapi tidak serta-merta menjadi alasan Davlin untuk memutuskan pernikahan mereka dalam semalam.


Ema merasa terhina dan menganggap tindakan Davlin ini memandang remeh keluarga mereka. "Sudah, jangan menangis lagi. Mama ada di pihakmu. Kalau memang itu mau dia, kita akan layani. Mama juga tidak sudi punya mantu sombong dan sesukanya seperti dia!"


Hanna merasa mendapat angin segar. Dia butuh ini. Sebenarnya, kalau diikuti alur yang dia jalani di dunia novel hingga akhir semalam, seharusnya mereka juga berjodoh di dunia ini. Seperti kata Alex, mungkin saja di kehidupan ini mereka memang berjodoh. Tapi terlambat, harga diri Hanna terluka. Hatinya tercabik karena tindakan Davlin yang membentak, mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya, dan paling menyakitkan mencurigai dia memiliki hubungan dengan Kai. Dasar pria sableng!


Ema meminta Hanna untuk mandi. Tampangnya begitu kusut dan awut-awutan. "Kau mandi dulu, mama tunggu di bawah, baru kita temui Tante Reta."


***


Hanna turun, terkesiap sedikit kaget di anak tangga kedua paling akhir. Di ruang tamu sudah terdengar suara beberapa orang yang sedang bicara dengan sedikit kegaduhan. Sempat terpikir untuk kembali ke kamarnya, namun setelah dipikir lagi, untuk apa dia menghindari masalah ini? dia tidak salah!

__ADS_1


Berlandaskan pemikiran itu, Hanna maju, menghadapi tatapan penuh tanya semua orang yang ada di rumah tamu itu. "Hanna.." gumam Reta dengan suara sendu.


Bagaimana mungkin Hanna bisa membenci wanita itu walau kenyataannya, anaknya lah yang sudah menghancurkan perasaan Hanna.


"Sini, Sayang.." panggil Ema yang ikut menoleh ke arah Hanna. Sorot mata Stuart yang terluka membuat hati Hanna kembali sakit. Ayahnya harus menahan rasa malu karena ini.


"Hanna.. apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Reta pelan.


"Ma.." gumamnya pelan.


"Mama sudah menjelaskan semuanya. Jadi, sekarang Tante Reta ingin mendengar keputusan mu atas permintaan Davlin padamu.. tentang perpisahan itu," ucap Ema memberi kode pada Stuart, agar suaminya ikut mendukung keputusan Hanna dan dirinya.


"Maafkan aku, Tante. Sepertinya aku akan memenuhi keinginan Davlin. Aku ingin menyudahi pernikahan ini."


"Tapi Han, tidak bisakah kau memberikan satu kesempatan? Dia mungkin hanya salah bicara.."


"Salah bicara apa, Mbak? jelas-jelas Davlin memang tidak sungguh-sungguh menginginkan pernikahan ini. Baginya hanya lelucon untuk kesenangan saja. Dan saya sebagai ayah Hanna, dengan ini memutuskan tidak akan membiarkan putri saya tetap bersama Davlin. Dia tidak pantas untuk putri saya," tegas Stuart.


"Mas, saya mohon.. setidaknya kita harus menunggu Davlin kembali, kita dengarkan pendapat darinya. Siapa tahu semalam dia hanya sedang marah, dan saat ini sudah tenang, dan ingin menarik omongannya, ingin tetap bersama Hanna. Aku yakin Davlin sangat mencintai Hanna," Reta memohon dengan menyatukan telapak tangan di dada. Dia tidak ingin pernikahan ini berakhir begitu saja.


"Walaupun hari ini atau lusa dia datang dan ingin kembali pada Hanna, saya selaku papanya tidak akan setuju. Maaf, Mbak.. keluarga Jhonson tidak bisa lagi menerima Davlin," kata Stuart dengan rahang tegas. Cukup menyatakan kalau keputusannya tidak terbantahkan lagi.


***


Kala semua orang panik mencari dan memutuskan akhir dari pernikahan Hanna dan Davlin, di salah ranjang, disalah satu klinik di pinggir kota, Davlin terbaring belum sadarkan diri. Kecelakaan lalu lintas pagi buta tadi sudah membuat bagian depan mobilnya hancur. Beruntung pria itu tidak terluka terlalu parah. Hanya keningnya yang luka, dan pengaruh minuman itu membuat kepalanya terasa berputar.


Sebenarnya Davlin tadi sudah sempat sadar, tapi pusing itu menghantam lagi, hingga dia jatuh pingsan lagi.


Pukul lima sore, barulah Davlin benar-benar bangun dengan kesadaran penuh. Dia mengamati sekeliling, dia sadar saat ini dirinya ada di rumah sakit atau tidak di klinik. Entah siapa yang membawanya kemari. Samar, dia ingat apa yang terjadi padanya subuh tadi. Suster.." panggilnya pada gadis berpakaian putih yang tengah memeriksa pasien yang ada di ranjang depannya.


"Bapak sudah siuman?" perawat itu mendekat. Memeriksa nadi Davlin. Semua tampak normal. Dia juga sudah mencek penglihatan Davlin, tidak ada masalah serius.


"Tolong, lepaskan ini, saya mau pulang," ucap Davlin berusaha menarik jarum infus di tangannya kasar. Kaget atas apa yang dilakukan Davlin, suster itu pun segera menuruti keinginan pria itu. Toh, keadaannya memang sudah membaik.

__ADS_1


"Sebaiknya anda tenang dulu, jangan tergesa-gesa. Apa anda sudah yakin bisa pulang? apa tidak sebaiknya menghubungi keluarga, Anda?"


Davlin tidak memperdulikan apa pun perkataan sang suster, dia turun dari ranjang, berjalan terseok menuju pintu keluar klinik itu penuh tekad. Dia harus secepatnya menemui seseorang!


__ADS_2