My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 122 (MCL)


__ADS_3

Alex masih muram, tentu saja, tidak segampang itu menyingkirkan bayangan Hanna di balik sana tanpa busana!


Mengingat selama masa dewasanya, Alex tidak pernah memperhatikan bagaimana 'Seharusnya' keadaan terjadi, ia tidak tahu kenapa malam ini ia harus melakukannya. Kecuali karena tubuh istrinya, ia suka kata itu- istrinya, sekarang adalah miliknya, atas dasar pernikahan. Dan juga istrinya juga sangat dekat dengan tubuh Alex yang bergairah.


Alex membiarkan Hanna mendapatkan dua kali lipat waktu yang dibutuhkan wanita itu sebelum akhirnya bangkit dan masuk kembali ke kamar tidur Alex. Hanna tidak ada di sana. Pintu penghubung terbuka dan Alex pergi ke ruang pakaian istrinya, lalu masuk ke kamar tidur wanita itu. Hanna juga tidak ada di sana.


Jantung Alex mulai berdebar keras walaupun ia berkata pada diri sendiri, Hanna tidak mungkin, tidak akan, kabur darinya. Tentu Hanna percaya pada kata-kata Alex!


Dalam langkah cepat, Alex berjalan kembali ke kamar, berhenti dengan lega di ambang pintu. Hanna ada di ujung ruangan, berdiri di dekat panggung rendah, menatap tempat tidur besar bertiang empat di atasnya.


Di bawah cahaya lilin, Alex bisa melihat sosok Hanna yang tampak sangat cantik tapi penuh ketakutan. Alex masuk ke dalam ruangan dan bayangannya terpantul di dinding panjang.


Hanna menoleh, dan mengangguk pelan, senyumnya melebar bahagia. Dalam benaknya, Alex melihat seorang dewi yang menggoda dalam diri Hanna malam itu. Pada saat yang sama, Alex menatap Hanna yang berdiri dekat ranjang, dan tiba-tiba saja rasanya tidak penting jika ia akhirnya tidak bisa bercinta dengan istrinya malam ini. Yang penting adalah ia akhirnya menjadikan Hanna miliknya! Dia telah berhasil melakukannya - Hanna.. benar-benar menjadi isterinya!


Alex merasa sangat gembira dan penuh kemenangan. Istriku yang 'penurut'?" goda Alex, menekankan kata penurut. Semua masyarakat Holy Ville tahu Hanna bukan lah gadis yang bisa diperintah, well, sejak dia terbangun dari tidur panjangnya dulu.


Hanna hanya mengangguk menanggapi dan Alex nyaris melihat tawa dalam mata Hanna.


"Kalau begitu, kemarilah, istriku yang penurut," perintah Alex parau.


Bayangan kecemasan melintas di wajah Hanna, tetapi wanita itu berbalik ke arah Alex dan berjalan mendekati pria itu dengan gerakan alami dan halus. Saat itu lah Alex menyadari apa yang dikenakan Hanna, dan hal itu nyaris membuatnya mengerang keras.


Jubah tidur Hanna seluruhnya terbuat dari renda putih tipis, menampilkan bayangan kulit di lengan Hanna, payu*data, dan bahkan kaki jenjangnya, bahkan tampak tonjolan kulit mulus di atas kerah jubah wanita itu hingga Alex terserang gairah dan penyesalannya.


Hanna berhenti beberapa langkah dari Alex, menatap pria itu dengan takut dan bingung, seolah Hanna ingin berjalan lagi, tetapi tidak bisa. "Tentang.. tentang janjimu," kata Hanna ragu. "Ingat?"

__ADS_1


Apakah Alex ingat janjinya?! "Aku ingat, Sayang," jawab Alex lembut. Ia menghampiri Hanna dan memeluk wanita itu dengan lembut, mencoba mengabaikan sensasi luar biasa dari payu*dara Hanna yang nyaris telan*jang, yang menempel pada kemeja tipisnya.


Alex ingin mencium Hanna, tetapi wanita itu gemetar begitu hebat sampai Alex takut melakukannya, jadi Alex hanya memeluk Hanna seraya membelai wajah Hanna di dadanya. Perlahan membelai rambut Hanna yang panjang dan indah.


"Ketika aku masih kecil," bisik Hanna gemetar di dada Alex. "Berbaring di ranjang saat malam hari, aku sering membayangkan ada benda-benda... di lemari "


Hanna terdiam dan Alex mendesak wanita itu untuk terus bicara. "Ada patung mainan berbentuk prajurit di lemariku. Apa yang ada di lemarimu?" tanya Alex mencoba membuat Hanna lebih santai.


"Monster!" bisik Hanna. "Monster besar buruk rupa dengan kaki yang berbentuk cakar dan mata besar menonjol." Hanna menarik nafas gemetar dan berkata, "Aku tahu mungkin. sakit bagimu, tapi aku benar-benar belum siap."


Alex mengernyit. "Aku tahu. Tapi kau tidak perlu takut, aku tidak akan meminta apa pun dari mu malam ini. Aku sudah berjanji."


Hanna mundur sedikit dan mendongak menatap Alex. Wajah begitu cantik dan rapuh hingga Alex bertanya-tanya, apa yang sudah membayangi Hanna hingga takut melakukan hubungan intim.


Hanna mencoba mengatakan sesuatu, tapi gagal. Sebagai gantinya Hanna menyandarkan pipi ke dada Alex, memeluk pinggang pria itu.


Alex tersenyum dalam hati. Hanna memang seperti itu, bosan karena meringkuk ketakutan di balik selimut dan menghadapi kegelapan. Dia selalu bisa bersikap berani, dan tidak mau terintimidasi. Sosok gadis yang sangat Alex sukai.


Ketika berbicara lagi, suara Hanna begitu lirih hingga Alex harus berusaha keras untuk bisa mendengar. "Lemarinya kosong. Tidak ada monster... tidak ada yang perlu ditakutkan." Hanna menarik nafas gemetar. "Alex, aku tidak ingin menghabiskan malam pengantin kita dengan berbaring sendirian di tempat tidurmu, takut pada apa yang ada dibalik bayangan."


Tangan Alex membeku di udara, lalu memaksakan diri meneruskan tindakan menenangkan itu, memberi Hanna waktu untuk berpikir kembali. "Kau yakin?" tanya Alex lembut.


Hanna mengangguk dan berbisik "Ya."


Alex membungkuk dan menggendong Hanna, lalu membawa wanita itu ke tempat tidur bertiang empat, tempat Alex mengajari Hanna bahwa perbuatan itu tidak semenakutkan itu. Berjanji pada diri sendiri, seiring langkah, bahwa ini akan sangat sempurna bagi Hanna hingga ketakutan itu akan sirna.

__ADS_1


Alex menarik tangan dari lutut Hanna, dan kaki wanita itu yang meluncur di pahanya membuat tangan Alex gemetar saat melepaskan pita di dada Hanna, dengan lembut membuka gaun berbeda itu.


Bahu mulus dan payu*dara Hanna yang penuh puncak dada merah muda, berkilau di bawah cahaya api dari seberang ruangan. "Ya Tuhan, kau cantik," desah Alex, dan merasa tubuh Hanna bergetar hebat ketika tangan Alex meluncur menuruni lengannya, membuat gaun tipis berenda itu jatuh ke lantai.


Alex mem*gut bibir Hanna yang menggiurkan dalam ciuman yang panjang dan manis, lalu menyingkirkan selimut satin, dan mengangkat Hanna dengan lembut. Kemudian membaringkan wanita itu di atas seprai sejuk.


Hanna memejamkan mata dan memalingkan wajah, dan Alex melihat rona merah menjalari pipi lembut Hanna, menghiasi kulit putih berkilau wanita itu hingga ke akar rambut. Memikirkan rasa malu Hanna yang sangat kentara, Alex dengan enggan memadamkan lilin yang menyala di nakas.


Takut meninggalkan Hanna sendirian, Alex buru-buru kembali ke dekat Hanna, bahkan melepaskan pakaiannya di samping tempat tidur, lalu berbaring di samping Hanna dan dengan hati-hati menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


Hanna menegang. Alex bisa merasakan hal itu, maka dia memutuskan untuk membelai punggung telan*jang Hanna dengan gerakan yang menenangkan, dan tampaknya hal itu berhasil. Hanna sudah kembali tenang, namun sesaat karena sentuhan jemari Alex lambat laun justru membuatnya menegang.


Alex berhenti membelai punggung, lalu telentang agar kepala Hanna bisa berbaring di dadanya.


Selama beberapa saat berikutnya, Hanna berubah dari pelan menjadi pendek-pendek lalu mengencang kembali, padahal Alex bahkan tidak menyentuh wanita itu.


Agar Hanna tidak menyadari ketelan*jangan mereka, Alex mengulurkan tangan ke bawah dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka. "Aku ingin kita mengobrol dulu sebentar," terang Alex.


Ekspresi Hanna tampak lega, dan Alex terkekeh ketika Hanna terlihat seakan baru saja dibebaskan dari tiang gantungan pada detik terakhir.


"Kalau bisa, coba lah menghilangkan ketakutan dalam hatimu. Buang pikiran buruk yang ada di sini," Alex membelai pelipis gadis itu.


"Ya," bisik Hanna.


"Istilah seperti 'tunduk' atau menguasai seharusnya tidak pernah diucapkan dalam percintaan, tapi aku tahu pasti kau memikirkan hal itu. Istilah pertama menyatakan kewajiban. Yang kedua merupakan tindakan egois dan menyiratkan paksaan. Aku tidak akan menguasaimu, dan kau tidak akan tunduk padaku. Kau juga tidak akan merasakan sakit apa pun."

__ADS_1


Seraya tersenyum lembut ke wajah Hanna yang menengadah, Alex berkata, "Aku pastikan padamu, bahwa kau tidak memiliki kekurangan fisik. Kau tercipta dengan sempurna dan indah."


__ADS_2