
"Satu detik saja kau tidak keluar, aku bersumpah akan mendobrak pintu ini!" seru Davlin yang baru saja menggulung tangan bajunya. Hanna hanya melawati nya, menganggap pria itu makhluk astral tidak kasat mata.
Satu lagi tugasnya sebelum meninggalkan ruangan itu, membersihkan lantai. Baru akan memulai, Davlin sudah menarik gagang vacuum cleaner dari tangan Hanna dan melempar dengan sembarangan.
"Kau sama sekali tidak menghargai aku? sejak tadi aku mengajakmu bicara!" suara Davlin naik satu oktaf. Biasanya kalau sudah bicara dengan nada seperti itu, karyawan atau siapa saja akan takut, tapi tidak dengan Hanna. Matanya menatap pria itu, menantang tidak peduli.
"Maaf, Pak. Tugas saya di sini sebagai ruang bersih-bersih, jadi saya hanya melakukan tugas saya," ucap Hanna ingin mengambil alat pembersih itu namun sigap disingkirkan Davlin dengan menendangnya.
Keduanya mulai berperang lewat laga mata. Hanna ingin sekali memukul pria itu dengan alatnya. Lama saling menatap, bulu kuduk Davlin sedikit meremang, nyalinya ciut melihat amarah dari wajah Hanna penuh amarah. Habis lah dia kalau gadis itu sampai marah padanya!
Hanna melepas kontak matanya, memungut untuk kedua kali gagang pembersih itu. Kali ini Davlin tidak berani lagi menendangnya. Berniat menyeretnya, Davlin menghentikan langkah gadis itu dengan menahan tangannya.
"Bukannya aku yang seharusnya marah padamu? satu Minggu kita jauh, kau bukannya memelukku, malah bermesraan dengan si kaku itu!"
"Siapa yang bermesraan? Jangan Fitnah!" Hanna menyentak tangannya dan berlalu. Tapi langkahnya kembali terhenti, tapi kali ini dia merasa tidak dipegang oleh Davlin. Ketika menoleh, kain pel yang dibawanya diinjak oleh Davlin.
"Lepasin!
"Kita ngomong dulu."
"Ngomong apa? Kenapa baru sekarang kita perlu ngomong, selama di sana kau ada mengingatku? tidak!" Hanna menyentak kain pel tapi masih ditahan bosnya, merasa kesal, Hanna menjatuhkan tangkainya ke lantai.
Gelagapan rencananya tidak berhasil, Davlin kembali mengejar. "Kau kenapa, sih? bersikap cuek padaku. Aku pikir saat melihat ku pagi ini kau akan berlari memelukku. Kau tahu, aku sengaja langsung ke kantor agar bisa bertemu denganmu pertama kali. Aku sudah berdiri di depan lift itu selama dua jam!"
"Kau menungguku di sana selama dua jam? aku menunggumu selama lima hari tanpa kabar!" salak Hanna. Jiwa bar-bar nya meronta. Dia kesal, harusnya pria itu memberi penjelasan padanya, bukan justru menuduhnya bermesraan dengan Aril!
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, Aku kerja siang malam biar bisa segera menyelesaikan semua urusan, hingga bisa pulang ke sini, menemuimu," ucapnya menarik tangan Hanna dan menggenggamnya.
"Pagi... kalian?" hanyut dalam melo drama seri minta maaf ini, kedua pasangan itu tidak mendengar suara pintu dibuka dan kini dihadapan mereka sudah berdiri Iris yang melihat keduanya berpegangan tangan. Kesadaran Hanna segera kembali, menarik tangannya dengan tampang gelagapan seperti pasangan yang baru kepergok berselingkuh.
"Mbak I- ris," suara Hanna tercekat.
Glek. Sulit sekali hanya untuk menelan salivanya. Berbanding terbalik dengan Davlin yang cuek. Bahkan bagi pria itu ini merupakan satu jalan agar semua masalahnya dengan Iris bisa selesai.
"Kalian sedang apa? kenapa Davlin memegang tanganmu?"
"Oh, dia memintaku untuk membersihkan mejanya sebelum pergi. Aku lupa, ternyata mejanya belum aku lap," ujar Hanna berimprovisasi. Untung otak encernya cepat mendapatkan ide untuk menjawab kecurigaan Iris. Hanna segera berbalik dan mulai membersihkan meja Davlin dengan kain bersih.
"Sudah. Saya permisi dulu, Mbak," ucapnya seraya buru-buru keluar. Baru membuka pintu, langkah Hanna terhenti oleh perintah Iris.
"Han, tolong bawakan kopi untuk Davlin dan teh untuk ku, ya." Hanna mengangguk dan segera berlalu. Sebenarnya sudah biasa dia diperintahkan oleh Iris untuk membuatkan minuman, tapi entah mengapa kali ini hati Hanna merasa sedih. Dia memang OB, dan itulah tugasnya. Jadi, tidak akan cocok berdiri di samping Davlin, pengusaha muda, CEO sukses dan bujangan yang paling diminati di kota ini.
Apa dia lupa saat keluar tadi untuk menutup pintu atau memang ada orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu dan lupa menutup kembali pintunya?, Hanna masuk saja tanpa mengetuk pintu dan berjalan pelan.
Langkahnya terhenti dan wajahnya terkesiap kala melihat pemandangan di hadapannya. Iris duduk di paha Davlin, saling memiringkan wajah seperti orang yang sedang berciuman. Hanna memutar tubuhnya. Enggan melihat hal itu. Namun, saat berputar, sendok di tapak cangkir, terjatuh ke dasar nampan hingga menimbulkan bunyi.
"Hanna..." ucap Davlin menyingkirkan tubuh Iris. Begitu pun dengan Iris, merasa sedikit malu bangkit dan menghadap Hanna.
"Eh, ada Hanna. Berputar lah, Han. Sini."
Ini tidak benar, kenapa kakinya terasa berat? kenapa dia enggan untuk melihat kedua manusia itu lagi? lalu kenapa hatinya begitu sedih? lalu kenapa matanya ingin menangis? jantungnya berdetak seiring aliran darah nya yang terasa panas membakar hatinya? lalu kenapa dia benci sekali harus menjadi dirinya?
__ADS_1
Masih banyak 'kenapa-kenapa' yang lainnya yang terus saja bermunculan di kepalanya. Tapi dia harus profesional. Penuh perjuangan, Hanna menyeret langkahnya. Menatap lekat pada nampan coklat saat meletakkan minuman mereka tanpa sudi untuk melihat ke arah siapa pun.
"Makasih, ya, Han. Ini, Sayang. Bibir kamu kering banget itu jadinya," ucap Iris yang membuat dada Hanna bergemuruh hingga menutup matanya. Davlin melihat raut terluka di wajah Hanna. Dia mengutuk kebodohannya atas apa yang disaksikan gadis itu. Mati lah dia!
"Saya permisi dulu, Mbak, Pak."
Riak air mata sudah mengembang di matanya, tapi Hanna tidak mau kalah, dia tidak mau menangis. Cinta Davlin tidak pantas untuk ditangisi. Hanna bekerja seperti biasa.
Bersabarlah, ini pasti berlalu, hanya tinggal dua hari lagi! Lupakan semua yang ada di sini!
Sekuat apapun dia bertahan, nyatanya dia tidak sanggup untuk menyembunyikan sedihnya. Dia naik ke roof top, namun Aril juga ada di sana, telah duduk untuk makan siang.
"Hanna... Jangan pergi. Kemarilah," panggil Aril saat melihat gadis itu berputar untuk turun.
Setapak demi setapak, Hanna mendekat. Matanya hanya fokus pada tali sepatu sneaker nya.
"Duduk...," pinta Aril menepuk tempat di sebelahnya. Dia tahu gadis itu sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan hanya dengan sekali melihat tatapan matanya yang melukiskan kecewa dan kesedihan.
"Abang di sini? lagi apa?" pertanyaan yang beralasan karena Aril kemari sendiri dan ini jam istirahat makan siang, kenapa justru tidak pergi ke kantin? jawaban dari pertanyaan Hanna telah terjawab kala Aril menunjukkan kotak makan siangnya. "Masakan Ara."
Satu senyum terbit di bibirnya. Tapi bulir dari matanya siap menerjang keluar.
"Menangis lah jika ingin, jangan ditahan." Seketika tangis yang menyayat hati itu pecah.
***
__ADS_1
Hai mampir yuk