My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 88 ( MCL)


__ADS_3

Semua mata kini menatap ke arah Davlin. Pasalnya penampilan pria itu sangat mencolok dengan pakaian mewah dan wajah tampannya yang dingin seperti bos mafia.


Hanna masih belum kembali dari rasa shock nya karena kemunculan pria itu. Dari mana dia tahu kalau Hanna kuliah di sini? tapi lupakanlah, apa yang tidak dia ketahui!


"Kita pulang..." lanjut Davlin mengunci pandangan mata Hanna. Sejak bertemu dengan gadis itu, mata Davlin hanya tertuju pada Hanna seorang. Bahkan Lusi yang mencoba mencari perhatian tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Hanna.


"Siapa lo enak aja main ngajak anak orang pergi," hardik Nico tidak terima. Tapi Davlin hanya menganggap Nico sebagai angin, tidak berwujud.


"Kita pulang, ya?" ucap Davlin penuh kelembutan. Dia tidak ingin semua rencananya untuk berbaikan dengan Hanna hancur karena tempramen nya.


"Han, ini siapa sih? datang-datang main ngajak pergi aja!" Nico maju, berdiri di samping Hanna. Keduanya menatap ke arah Davlin yang bahkan sejak tadi tidak berkedip memandang Hanna. Dia rindu, mata teduh gadis itu mampu menyenangkannya, seolah kini dia tahu jalan pulang.


"Nico, Aku.. Dia.." Hanna terbata. Dia kehilangan lidahnya. Matanya terbius oleh sosok berkuasa dalam diri Davlin.


"Mungkin Hanna ini sebenarnya jualan, ya? si om ini pelanggannya?" tanya Lusi mendekat. Mengamati lebih lanjut sosok Davlin. Dalam hatinya mengumpat kesal, kenapa Hanna bisa mengenal pria setampan itu.


Ingin sekali Davlin menampar wajah Lusi kala berani mengatakan pikiran joroknya tentang Hanna. Merasakan tidak akan baik jika Davin tetap ada di sini, Hanna memilih untuk mengikuti pria itu, lagi pula ini bisa jadi satu alasan untuk membatalkan kepergiannya dengan Nico.


"Kita pulang, ya. Aku mohon.." ucap Davlin.


"Ini siapa sih, Han? usir aja deh!" ucap Nico panik. Rencananya bisa hancur kalau sampai pria itu membawa Hanna saat ini. Sudah banyak orang yang mendengar kalau dia akan pergi berkencan dengan Hanna. Ini akan menjadi aib baru baginya, diolok-olok karena sebelum berhasil membawa Hanna, justru sudah ditikung pria lain.


Tidak mendapat tanggapan, Nico maju ke depan Hanna. Berdiri di depan Hanna, dengan jantan menghadap Davlin. "Lo siapa? kenapa berani-beraninya ngajak Hanna pulang?"


"Gue gak punya urusan sama lo! Gue pacarnya, dan kalau sampai sekali lagi gue tahu lo mendekati Hanna, lo bakal nyesal pernah ada di dunia ini!" ucap Davlin, hingga rahang tegasnya tampak jelas.


"Apa? pacar?" Nico seakan tidak percaya. Wajar kalau Hanna banyak yang suka apa lagi setelah penampilan berubah cantik seperti ini, tapi mendapatkan pria sesempurna ini rasanya sulit di percaya.

__ADS_1


"Pacar katanya?" cicit Lusi terperanjat. Bertanya dalam hati dimana Hanna bisa mengenal pria itu.


"Han.." desak Nico ingin mendapat kepastian.


"Sorry, Nic. Aku pulang duluan." Hanna meninggalkan mereka menuju pintu gerbang. Dia mengenali mobil yang terparkir di depan sana. Davlin memakai kaca mata hitamnya alu menyusul langkah Hanna. Davlin membukakan pintu mobil untuk Hanna, merasa gembira karena Hanna memilihnya.


Dan di sini lah mereka. Terjebak kembali, tidak tahu harus berkata apa untuk memulai. Hanna sudah mengamati jalan, kalau sampai pria itu membawanya singgah, maka dia akan minta untuk diturunkan saja.


Melintasi sebuah cafe, Davlin berniat untuk masuk ke sana, tapi Hanna segera menghardik. "Aku mau pulang, gak mau kemana-mana!" ucapnya dengan wajah cemberut.


"Sayang..." Pelototan dari Hanna membuat Davlin menutup kembali mulutnya. Menelan salivanya dengan susah payah. Tampaknya Hanna masih tidak ingin dipanggil 'sayang'!


Suasana kembali mencekam Hanna memiringkan tubuhnya membelakangi Davin. 15 menit berpikir keras caranya memancing gadis itu untuk bicara, jadi Davlin memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggul jalan di dekat taman kota.


Merasakan mobil yang sudah berhenti, Hanna membuka mata, dan ingin protes. "Kita harus bicara. Han, aku tahu aku salah. Apa yang sudah aku perbuat sudah menyakiti hatimu, dan tidak pantas untuk dimaafkan, tapi aku di sini, ada dihadapan mu mengharap permohonan maaf dan mengharap kau mau memberikan satu kesempatan lagi padaku," ucap Davlin.


Davlin memutar otak. Bagaimana pun dia harus lebih sabar lagi menghadapi gadis ini kalau mau mendapat maaf darinya.


Ia memilih turun dari mobil, memutari mobil hingga berdiri di pintu mobil bagian Hanna, tanpa berkata membuka pintu yang membuat Hanna yang bersandar hampir jatuh.


"Kau...!"


"Sorry, Sayang.."


"Jangan panggil aku sayang!" umpat Hanna menggeser duduknya lebih ke dalam.


"Kau memang sayangku. Selamanya. Dengarkan aku, Han. Aku dan Iris sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku milikmu seutuhnya."

__ADS_1


"Dih!" cibir Hanna mengerucutkan bibirnya.


"Aku sudah mengatakan padanya kalau aku tidak bisa bersama dia lagi, karena sudah ada kau di hatiku. Selama Iris sakit aku akan selalu ada, dan itu hanya sebagai teman, tidak lebih!"


Tubuh Hanna bergetar. Dia mengikuti tangan Davlin yang mengangkat dagunya naik ke atas agar bisa melihatnya.


"Gelang ini Sepasang, aku letakkan di meja kerjaku dan menuliskan ini." Davlin yang sejak tadi berjongkok di hadapan Hanna bangkit berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Ragu-ragu, Hanna menerima secarik kertas yang disodorkan Davlin padanya. Dibuka dan dibaca. Seketika tertegun, membaca isinya. Pandangannya mengabur oleh cairan bening. Sungguh itu tulisan yang sangat indah.


"Iris menemukan lebih dulu, dan mengambil gelang itu. Maaf, sayang. Aku ingin sekali memakaikan padamu," bisik Davlin menghapus jejak air mata di pipinya.


"Soal penamparan itu, aku salah. Aku janji, seumur hidupku, tidak akan pernah melakukannya lagi," ucap Davlin bersungguh-sungguh. Hanna menunduk dengan mendekap kertas itu di dadanya. Tangisnya pecah. Bentuk penyesalan dan juga kebahagiaan.


Davlin menarik kepala itu untuk masuk dan merebahkan di dadanya. Membelai lembut kepala gadis itu. "Maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku," bisiknya yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang.


"Benar kau sudah tidak menjadi kekasih mbak Iris? aku gak mau dituduh sebagai orang ketiga."


"Benar. Aku malah berencana mengajak mu untuk menemuinya. Kau mau?"


Hanna hanya mengangguk. Dia ingin bertemu Bella. Menanyakan perihal hubungan mereka dan terlebih lagi meminta gelang yang sejak awal adalah miliknya.


Sebelum pulang, keduanya menikmati hidangan sate di pinggir jalan. Pedagang sate yang menjadi langganan keluarga Hanna sejak dulu.


"Makan yang banyak," ucap Davlin meletakkan beberapa tusuk sate miliknya di piring Hanna.


"Terima kasih," ucap Hanna malu-malu.

__ADS_1


"Kembali kasih, Sayang. Kau perlu tenaga, karena sebentar lagi, mungkin tenaga mu akan terkuras."


__ADS_2